Musafir Guest House jadi pilihan tempat menginap saat saya berkunjung ke kota Solo, beberapa waktu lalu. Referensi seorang kawan membuat saya tertarik mencoba menginap di sini. Ada beberapa alasan kenapa hotel ini jadi pilihan.

Yang paling utama adalah soal lokasi. Ini selalu jadi pertimbangan pertama saat memilih hotel yang akan diinapi. Lokasi Musafir Guest House cukup strategis. Berada di Jalan Dewi Sartika, Danukusuman. Persis di tengah kota Solo. Untuk mencapainya cukup mudah. Dan dari sini pun akses ke pusat kota juga gak pakai ribet, dengan taksi online cuma butuh waktu sekitar 10 menitan.

Terasnya Njawani (foto dok pribadi)

Nah, alasan lainnya, lokasi Musafir dekat ke mana-mana. Yang paling menarik ya dekat dengan tempat kulineran. Persis di depan hotel misalnya, ada penjual cemilan yang buka selepas subuh. Di situ juga ada pedagang buah yang mangkal dengan sepedanya. Siang sedikit, si bapak pedagang sudah gulung tikar alias pulang.

Agak jalan dikit dari penginapan kita juga akan mendapati mbok-mbok penjual nasi liwet yang berjualan di pagi hari. Soal rasa bolehlah diadu dengan nasi liwet yang ada di lokasi lain di kota Solo.

Tempat kulineran lain yang bisa disambangi jika menginap di Musafir Guest House adalah kedai soto Gading. Silakan browsing sepopuler apa Soto Gading ini.

Guest House yang Homey

First impression saat sampai di depan Musafir Guest House, saya merasakan aura homey yang hangat. Bentuk bangunan awal masih dipertahankan, meski sudah beralih fungsi, dari rumah tinggal menjadi penginapan umum.

Welcome Drink di Kendi (foto dokpri)

Halaman depan penginapan tidak terlalu besar, namun cukup bisa menampung sekitar 3-4 mobil. Teras depan berukuran sedang jadi area yang menarik perhatian, karena bisa digunakan kongkow sore sambil ngeteh. Ada beberapa furnitur kayu etnik yang cukup simpel.

Masuk ke lobby, suasana etnik dan vintage terasa dari penggunaan perabotan seperti seperangkat meja kursi tamu dan juga meja resepsionis yang juga dari kayu. Focal point di sini ada pada lampu gantung yang ditempatkan di tengah ruang. Bentuk lobby tetap dipertahankan seperti aslinya, agar suasana rumah jadul tetap terjaga.

Ruang Makan (foto dokpri)

Selain lobby, di lantai bawah juga ada ruang makan yang berukuran lega. Ruang ini bisa digunakan pengunjung untuk makan atau ngeteh di sore hari. Ruangan ini jadi favorit saya. Di sini saya bisa berlama-lama duduk sambil membaca. Jendela-jendela berukuran besar membuat sirkulasi udara di sini menjadi lapang dan segar.

Di lantai ini ada pula pantry yang bisa digunakan pengunjung untuk menyeduh minuman. Pengelola menyediakan peralatan makan, minum, air mineral, teh, gula dan kopi secara gratis. Ada pula kulkas yang juga bisa digunakan menyimpan makanan atau buah agar tetap segar.

Yang membuat betah di area lantai satu ini adalah pembagian ruangannya yang cukup baik. Kita juga masih bisa merasakan udara segar karena ada ruang terbuka hijau diantara ruang makan dan kamar-kamar belakang.

Kamar yang Lega dan Nyaman

Musafir Guest House menyediakan 3 jenis kamar yang disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung, mulai dari 2 tipe kamar standar (tipe Lilac dan Rose) serta kamar deluxe (tipe Jasmine).

Kamar type Jasmine Nan Lega (foto Dokpri)

Kebetulan saya menginap di kamar Jasmine yang berukuran super lega. Kamar ini didesain bernuansa budaya Jawa dengan furnitur full kayu, mulai dari tempat tidur, meja, hingga lemari. Yang menjadi focal point di kamar yang saya tempati adalah jendela besar yang bisa dibuka dan mengarah ke taman kering di bagian belakang. Jika pagi atau sore hari biarkan udara segar masuk ke kamar. Inilah yang membedakan Musafir dari hotel pada umumnya yang 24 jam full berpendingin udara.

Untuk kamar mandi, lumayan bersih, lega dan kering. Sebuah bathtub berukuran sedang membuat kaget saya. Wow guest house ada bathtubnya. Mevvah ya…

Kamar mandi (foto dokpri)

Dan bagi saya yang paling haqiqi dari sebuah staycation adalah ranjang dan kasurnya. Kalau kedua komponen itu oke pastinya staycationnya penuh kesan. Di sini ranjangnya empuk banget dan ukurannya besar. Pokoknya bikin betah dan mendukung istirahat yang berkualitas.

Oiya room rate di Guest House Musafir ini mulai dari 200 ribuan untuk type kamar standar dan 300 ribuan untuk kamar deluxe yang saya tempati.

Itulah sedikit pengalaman saya menginap di Musafir Guest House. Sebuah kunjungan singkat namun penuh kesan. Kalau ke Solo yuk mampir ke Musafir.

Musafir Guest House Jl. Dewi Sartika No.8, Danukusuman, Kota Solo, Jawa Tengah

Website : www.musafirguesthouse.com/ Instagram : @musafirghsolo

By syaifuddin sayuti

Ex jurnalistik tv yang gemar makan dan travelling. social media addict, ex Kepsek Kelas Blogger, admin BRID.

One thought on “Musafir Guest House: Serasa Menginap di Rumah Sendiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *