Kedai Brambang Asem Bu Parni (foto dokpri)

Kedai Brambang Asem Bu Parni (foto dokpri)

Pasar Klewer. Long weekend datang lagi. Sudah punya rencana traveling kemana? Kalau anda merencanakan jalan-jalan ke kota Solo, jangan lupa mampir ke pasar Klewer. Klewer adalah pasar tempat pusat penjualan batik terbesar se-Indonesia. Sejak kebakaran di ujung tahun 2014, lokasi pasar ini memang tersebar di beberapa tempat. Paling banyak pedagang ditampung di alun-alun keraton Solo. Mereka mendiami kios darurat sambil menunggu pembangunan dan renovasi pasar Klewer selesai.

Kendati darurat namun jualan dari pedagang sudah beragam, persis seperti kondisi pasar sebelum terbakar. Dan bagi penyuka kuliner, pasar Klewer dari dulu dikenal sebagai surganya makanan enak. Tentunya jajanan khas kota Solo.

Dan di pasar darurat ada lapak khusus kuliner, letaknya dekat radio Gapura Klewer. Jadi bagi pengunjung yang bingung mencari gerai khusus kuliner, gampang saja tanya di mana radio Gapura berada, pasti sampai di situ.

Ada beberapa gerai makanan yang enak dan wajib coba jika jalan-jalan ke pasar Klewer. Ini diantaranya:

Brambang Asem Bu Suparni

Brambang asem mungkin asing bagi banyak orang. Tidak seperti pecel atau soto yang populer, brambang asem memang penganan langka. Saya juga baru mendapati makanan ini pada kunjungan terakhir saya akhir Januari 2016 setelah kerap bolak-balik ke Solo. Salah satu penjaja brambang asem yang legend adalah bu Suparni. Bu Parni sudah berjualan brambang asem lebih dari 40 tahun di pasar Klewer.

Sekilas tampilan makanan ini mirip dengan pecel tapi berbeda. Dalam satu pincuk (wadah dari daun pisang) brambang asem ini terdapat rebusan daun ubi jalar, kecambah, mie goreng, dan tempe gembus. Tempe gembus adalah ampas tahu yang rasanya perpaduan tahu dan oncom. Oiya, semua bahan makanan itu disajikan di atas pincuk dan diguyur kuah yang rasanya pedas dan asam.

Rasanya pedasnya nendang. Sambal hasil perpaduan bawang dan asem ini pedasnya luar biasa. Bu Parni mengaku membuat sambal ini dari 1 kilogram cabai yang dicampur bawang merah, garam, terasi dan jeruk nipis. Sensasi pedas, asem, gurih bercampur jadi satu di dalam mulut.

Keringat pun langsung mengucur begitu suapan demi suapan meluncur ke mulut. Meski pedas namun rasa sambal nya cukup membuat ‘segar’. Mata yang agak ngantuk langsung melotot. Satu porsi brambang asem dihargai IDR 2.500 saja. Di kedainya bu Parni tak hanya menyediakan brambang asem tapi ada juga sosis solo, pecel, dan tahu bakso.

Pecel Gendar

Makanan ini sebenarnya masih dalam rumpun pecel, bahkan bahan-bahan sayurannya pun sama. Yang membedakan ada pada penggunaan gendar. Gendar biasa dimakan sebagai krupuk. Untuk digoreng sebagai kerupuk adonan gendar dipotong tipis-tipis. Ada yang berukuran kecil dan adapula yang besar.

Pecel Gendar nan Menggoda (foto dokpri)

Pecel Gendar nan Menggoda (foto dokpri)

Namun khusus untuk Pecel gendar ini adonan gendar tadi setelah dikukus dipotong lebih tebal. Ukurannya sebesar potongan ketupat atau lontong.

Saat dimakan, pecel yang disiram sambal kacang akan berasa makin nikmat jika dimakan dengan beberapa potong gendar. Tekstur gendar yang kenyal menjadikan pecel gendar sebagai makanan yang unik. Fungsi gendar di sini memang pengganti nasi/ lontong/ ketupat. Meski hanya satu porsi pecel gendar yang saya makan namun cukup mengenyangkan. Mungkin lantaran gendarnya yang padet atau asesoris gorengan bakwan sayuran yang maknyus. Satu porsi pecel gendar cukup murah harganya, cuma IDR 3.500.

Selat Solo Sasmito

Depot Sasmito ini lumayan kondang dan ‘pecah’ di pasar Klewer. Kedai ini menjual beragam jenis makanan, mulai dari Selat Solo, Kupat Tahu hingga Sop Buntut. Sementara minuman favorit dari kedai ini adalah es Shanghai. Karena popularitasnya, tempat ini sudah dua kali diliput dan ditayangkan di stasiun tv Trans7. Menurut bu Sasmito, ia ikut berjualan dengan orang tuanya sejak SD dan kemudian meneruskan berjualan hingga punya 3 anak yang sudah dewasa.

Penampakan Selat Solo Sasmito (foto Dyah Kusuma)

Penampakan Selat Solo Sasmito (foto Dyah Kusuma)

Selat Solo menurut kawan saya rasanya juara. Racikan bumbunya pas, rasanya mantap. Selat Solo ini mirip dengan beef salad dalam ranah kuliner barat. Selain sayuran kukus seperti wortel, kentang, dan buncis, juga ada ketimun, daun selada, telur pindang, potongan bawang merah, dan mayonais. Dan jangan lupa ada sepotong bistik daging (bistik itu kata lain dari beefsteak) yang harus ada di seposi selat solo.

Bagaimana dengan rasanya? Kuahnya segar, agak manis yang berasal dari kecap. Sementara rasa gurih dari mayonais homemade. Untuk seporsi selat solo di kedai ini dihargai IDR 13K.

Menu lain yang jadi andalan kedai Sasmito dan saya coba adalah sop buntut. Daging buntutnya lembut, bumbunya meresap hingga ke tulang. Biasanya dalam satu porsi sop buntut juga dicampur dengan iga sapi yang menambah sedap sajian ini.

Tengkleng Bu Edi

Kedai tengkleng bu Edi ini ada di dekat gapura pasar Klewer. Kedainya tak cukup besar. Pedagangnya tak menyediakan meja untuk makan tengkleng, hanya disediakan bangku kayu panjang.

Tengkleng Bu Edi (foto dokpri)

Tengkleng Bu Edi (foto dokpri)

Semua pembeli makan sambil memegang wadah daun alias pincuk. Makanan ini sebenarnya sejenis gulai/ kari kambing khas Solo. Dalam satu porsi tengkleng pengunjung bakal diberikan daging dan jeroan.

Yang enak dari tengkleng bu Edi ini adalah dagingnya yang lembut, lepas dari tulang belulangnya. Kuahnya juga enak, bumbunya pas. Saya kurang tahu pasti apa saja bumbu yang digunakannya. Tapi yang pasti bu Edi sangat piawai mengolah daging kambingnya sehingga tak bau prengus dan sangat empuk.

Kedai bu Edi biasa buka jam 11 siang. Saat makan siang jangan harap bakal langsung dapat pesanan, karena antrian pengunjung bakal panjang di sini. Satu porsi kecil dijual IDR 25K, sementara yang besar IDR 50K.

So, mana pilihan makan siangmu di Solo?

7,068 kali dilihat, 13 kali dilihat hari ini