syaifuddin.com

Information

This article was written on 28 Agu 2010, and is filled under sosial.

Current post is tagged

,

Waspada Penipuan Voucher Pulsa

Percakapan di suatu pagi antara seorang asisten rumah tangga dengan seorang lelaki.

“Halo, benar ini rumah pak Bambang? Ini siapa ya?”

“Benar. Saya Inah (bukan nama sebenarnya), pembantunya pak Bambang.”

“Ibunya ada?”

“Ibu lagi pengajian, pulangnya jam 11-an”

“Begini mbak, saya anak buahnya pak Bambang. Bapak minta tolong dibelikan pulsa seratus ribu. Nanti setelah bapak rapat uangnya diantar ke rumah”

Sepenggal percakapan lewat telepon ini terjadi dua pekan silam. Dan Inah adalah asisten RT kakak saya. Percakapan itu menjadi pengantar kejahatan yang belakangan marak menjelang Lebaran. Asisten rumah tangganya yang masih belia dan polos terpedaya. Ia ‘dipaksa’ membeli pulsa untuk sang majikan hingga mencapai 2,5 juta rupiah. Jumlah yang aduhai tak sedikit, apalagi menjelang Lebaran seperti ini.

Modus yang digunakan sepele, pengisian pulsa. Sepertinya mereka mencari nomor telepon calon korban melalui buku telepon. Dengan mengandalkan halaman kuning atau yellow pages, komplotan penjahat ini diduga sudah berhasil menguras pulsa puluhan juta rupiah dari para korban.

Sasaran mereka adalah ibu-ibu yang awam, pembantu rumah tangga dan anak di bawah umur yang belum memiliki kesadaran melakukan pengecekan informasi. Saya tak tahu apakah metode yang mereka gunakan dalam menjalankan aksinya bisa dikategorikan sebagai hipnotis melalui suara. Karena korban yang saya ketahui, tidak bisa melepaskan diri dari perintah penelepon hingga uang jutaan rupiah pun lenyap seketika.

Dalam kasus yang menimpa asisten RT kakak saya, aksi penjahat ini baru terputus setelah kakak saya datang ke penjual voucher dan meminta dihentikan pembelian voucher pulsa tersebut. Menurut pengakuan Inah, ia tak kuasa menolak perintah “anak buah” majikannya tersebut karena takut dengan sang majikan. Ia menganggap telepon itu adalah perintah raja yang mesti dilaksanakan. Mekanisme cek and recheck tak pernah terpikirkan di benak Inah yang hanya sempat sekolah SD itu.

Oya, dalam kasus ini, sang penjahat selain menelpon asisten RT juga menghubungi penjual voucher pulsa. Penjual juga dibuat tak berdaya sehingga dengan mudahnya mengeluarkan koleksi vouchernya untuk digosok dan dikirimkan. Ia bahkan sempat meminjam ke pedagang lain mengingat stok jualannya terbatas.

Modus penipuan pulsa ini memang bukan satu-satunya jenis kejahatan menjelang Lebaran. Dalam waktu yang nyaris bersamaan seorang staf di sebuah kampus swasta di Jakarta nyaris menjadi korban komplotan penjahat. Modusnya cara lama melalui pesan pendek telepon seluler. Korban dinyatakan mendapat hadiah THR Lebaran dari salah satu operator telepon terkenal sebesar 20 juta rupiah. Korban yang terkejut karena tak pernah mengikuti satupun undian berhadiah pun kegirangan. Tak bisa berpikir jernih, ia lantas mengontak nomor telepon yang disebut dalam sms.

Nomor rekening pun kadung disebar pada komplotan penjahat. Untungnya ada kawan sekantor yang langsung mengecek ke call centre operator telepon. Korban kemudian diminta memblokir rekeningnya karena dikhawatirkan bakal dikuras para penjahat.

Ramadhan menjelang Lebaran adalah saat kebutuhan hidup melonjak. Peredaran uang pun konon meningkat drastis. Fakta ini digunakan para penjahat untuk mengeruk keuntungan secara cepat dengan cara kriminal. Saran saya, berhati-hatilah. Bukan tidak mungkin modus serupa menimpa anggota keluarga atau asisten RT kita di rumah.

Maka, waspadalah! Bijaklah menyerap informasi dari berbagai sumber. Informasi rejeki nomplok yang kadang kita dapat akan lebih baik jika diverifikasi terlebih dulu, agar kita tak menyesal kemudian. Salam waspada!

1,291 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

2 Comments

  1. syaifuddin
    29 Agustus, 2010

    @solihin: penipu sekarang sudah makin canggih mas. sebagai orang yang waras akalnya, mestinya bisa menyudahi aksi kejahatan semacam ini. jika tidak, korban akan terus berjatuhan. thx ya mas solihin sudi mampir kemari.

  2. Solihin
    29 Agustus, 2010

    Kakak saya pernah mengalaminya, pada saat itu kakak saya sedang menjaga konter HPnya, sang PRT sambil menelepon, meminta kakak saya untuk memberikannya 10 buah voucer fisik nominal @100.000, modusnya sang penelepon mengatakan sang prt memperoleh hadiah Rp 50 juta asal mengirimkan 10 buah voucer @100rb, setelah membeli pulsa ke-2 @100rb, PRT tsb kehabisan uang sehingga Kakak saya menolak memberikan voucer berikutnya. sebab dalam bayangan sang PRT tsb uang Rp 50 juta sdh ditangannya. Sang PRT bahkan mengaku ia sdg ditelepon saudaranya yang meminta kiriman pulsa,kemudian sang penelepon tsb minta bicara dg kakak saya dengan membujuk bahwa ia akan datang sebentar lagi untuk membayar pulsanya asal kakak saya mau memberikan voucer lagi pada PRT tsb yang diakui sebagai adiknya.Beruntung kakak saya tidak mau karena melihat ada yang tidak beres.Akhirnya penelepon tersebut menutup teleponnya sambil ngomel-ngomel krn tak berhasil membujuk kakak saya.Setelah itu kakak saya bertanya lagi: “Apa benar tadi kakak mba…dengan lemas dia jawab “Bukan…Saya dapat sms dapat hadiah Rp 50 jt,lalu saya telepon dia kemudian saya disuruh untuk mengirim 10 voucer @100rb jika ingin hadiah itu” tutur Sang PRT dengan penuh penyesalan.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: