syaifuddin.com

Information

This article was written on 16 Mei 2014, and is filled under Review, TV.

Current post is tagged

,

Wakuwaku Japan : Indahnya Persaudaraan Jepang – Pulau Tsis

Keluarga James dan Hitoshi Berbelanja (Capturing image from WakuwakuJapan by Syaifuddin)

Keluarga James dan Hitoshi Berbelanja (Capturing image from WakuwakuJapan by Syaifuddin)

Ini adalah review program TV WAKUWAKU JAPAN “Discover the Life” yang menurut saya paling emosional. Dalam program yang ditayangkan 11 Mei 2014 tergambar pertemuan budaya yang sarat makna, di mana budaya maju yang diwakili Jepang bersentuhan dengan budaya tradisional yang masih dilakoni oleh warga pulau Tsis dari kepulauan Micronesia di Pasifik.

Keluarga James dari Pulau Tsis di Pasifik berkunjung ke Jepang. Mereka menginap di keluarga Hiroshi dan Chiemi.
Pasangan Hiroshi – Chiemi tinggal bersama 2 anak perempuan dan ibunya di Okonomiyaki. Sementara James membawa Felicia istrinya, serta 2 anak Jenny dan Jake.

Ini adalah kunjungan James sekeluarga yang pertama ke negeri Jepang, sebuah negara yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka di kepulauan Micronesia. Karenanya banyak sekali kelucuan dan benturan budaya yang mereka alami selama tinggal sepekan di Jepang.

Berkegiatan di Alam Bebas Bersama (Capturing by Syaifuddin)

Berkegiatan di Alam Bebas Bersama (Capturing image from Wakuwaku Japan by Syaifuddin)


Dalam program ini diceritakan tentang kecanggungan keluarga James saat berhadapan dengan budaya Jepang yang jauh lebih maju dari budaya tempat James berasal. Kepulauan tempat tinggal James sekeluarga sangat sederhana dan bersahaja. Hari-hari mereka dilalui dengan aktivitas di pantai. Jake putra James punya kegemaran memanjat pohon kelapa. Dan ini merupakan ketrampilan standar yang lazim dimiliki anak laki-laki di Pulau Tsis.

Berasal dari pulau yang sederhana juga ditunjukkan oleh James sekeluarga. Penampilan mereka sangat bersahaja. Felicia hanya mengenakan daster, sementara James mengenakan celana pendek dan bersandal jepit. Mereka memang berlibur tanpa membawa banyak bekal pakaian. Alhasil sempat terekam adegan lucu saat mereka diajak ke departemen store untuk membeli pakaian.

Mandi Bersama di Onsen (Capturing image from Wakuwakujapan by Syaifuddin)

Mandi Bersama di Onsen (Capturing image from Wakuwakujapan by Syaifuddin)


Kelucuan lain adalah saat mereka naik kereta api. Bagi James sekeluarga, naik kereta api adalah pengalaman penting yang selama ini belum pernah mereka lakukan. Maklum di pulau tempat mereka tinggal tak ada fasilitas Kereta Api.

Meski memperlihatkan ‘kenorakan’ keluarga James, namun yang saya salut keuarga Hiroshi tak sekalipun menjadikannya lelucon. Bahkan mereka tetap respek pada tamunya. Mereka saling belajar budaya. James memperkenalkan beberapa kebiasaan di Pulau Tsis yang warganya umumnya ceria. Sebaliknya Hiroshi juga memperkenalkan berbagai kemajuan Jepang di bidang teknologi dan kehidupan dengan mengajak keluarga James travelling ke sejumlah tempat. Seperti ke Tokyo Skytree yang terkenal, menginap di Izu, melihat Mito Sea Paradise hingga mandi bareng di onsen. Pengalaman pertama yang mengesankan bagi James sekeluarga.

Dinner Meneguhkan Kebersamaan (Capturing image from Wakuwakujapan by Syaifuddin)

Dinner Meneguhkan Kebersamaan (Capturing image from Wakuwakujapan by Syaifuddin)


Menurut saya moral tayangan ini ada pada sikap saling menghargai yang ditunjukkan kedua keluarga. Keluguan dan kelucuan keluarga James yang mewarnai tayangan ini bukanlah sebuah hal yang mesti ditertawakan apalagi dicemooh.

Sebaliknya, modernitas yang lebih dulu dinikmati keluarga Hitoshi bukan pula sebuah kesombongan yang mesti ditonjolkan secara berlebihan. Mereka saling memahami, saling mengisi dan menyayangi. Sebuah nilai-nilai luhur manusia yang mungkin sudah makin jarang didapati di era modern sekarang ini.

James - Felicia Memasak Makanan Tsis (Capturing image from Wakuwakujapan by Syaifuddin)

James – Felicia Memasak Makanan Tsis (Capturing image from Wakuwakujapan by Syaifuddin)


Bagian terbaik dari tayangan ini ada pada hari terakhir kunjungan keluarga James di Jepang. Saat itu kedua keluarga sudah melebur menjadi keluarga baru. Keluarga Hitoshi memberika cindera mata berupa foto aktivitas kedua keluarga selama di Jepang. Dan perpisahan adalah hal yang sangat berat mereka lalui. Kedua keluarga menunjukkan sikap emosional yang kental.

James tenggelam Dalam Tangis haru (capturing image from Wakuwakujapan by syaifuddin)

James tenggelam Dalam Tangis haru (capturing image from Wakuwakujapan by syaifuddin)


Anak-anak keluarga Hoitoshi menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh sang ibu, Chiemi. Begitu pula seluruh anggota keluarga James larut dalam irama tangis yang senada. Semua anggota keluarga menangis, enggan dipisahkan satu sama lain. Namun perpisahan harus terjadi dan keluarga James mesti kembali ke tempat tinggalnya di Pulau Tsis.

Saat momen perpisahan ini berlangsung, ada satu hal yang mengejutkan tatkala keluarga James menyanyikan lagu “Nona Manis” dengan iringan ukulele. Rupanya lagu Nona Manis yang terkenal di Indonesia juga dikenal di negeri kepulauan Tsis. Betapa sempitnya dunia. Jangan-jangan James punya leluhur yang sama dengan kita di Indonesia.

Who knows???

berpartisipasi dalam WAKUWAKU JAPAN[6]

434 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: