Publik pasti masih ingat dan tentunya tak bakalan lupa dengan lagu Udin Sedunia yang dinyanyikan anak Lombok bernama Sualudin. Hingga kini video klipnya di Youtube masih kerap didownload. Akibat lagu sederhana dan terkesan becanda itu Sualudin berubah nasibnya, dari seorang mahasiswa biasa dan penyiar radio lokal Lombok menjadi selebriti nasional. Ia kini kerap tampil di SCTV sebagai salah satu host acara musik Inbox.

Dan lagu Udin Sedunia masih wara-wiri di benak kita, terutama sejak mencuatnya skandal suap wisma atlet yang melibatkan sejumlah kader partai Demokrat, yang salah satu diantaranya adalah tokoh yang juga bernama Udin. Tapi yang ini beda, namanya Muhammad Nazarudin, yang sempat menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat, partainya SBY. Bisa jadi Nazarudin adalah Udin yang paling tenar saat ini. Namanya mengungguli pelantun Udin Sedunia. Udin yang satu ini memang fenomenal, banyak terlibat kasus namun tak pernah sekalipun tersentuh hukum.

Coba kita geser ingatan sejenak ke belakang. Ingat kasus dugaan pemerkosaan seorang sales promotion girl di hotel Aston Bandung Mei tahun 2010 silam oleh seorang kader partai? Nah, Nazarudin lah yang menjadi tertuduh. Tuduhan itu jelas disangkalnya. Akhirnya kasus ini tak pernah tuntas terungkap.

Lalu Nazarudin juga tersandung kasus penipuan dan penggelapan sebesar Rp. 7 Milyar terkait proyek perluasan bandara Sultan Hasanudin Makassar. Kasus ini pun menguap tanpa ada ujungnya.

Mungkin anda juga masih ingat dengan kasus penipuan yang membuat Daniel Sinambela, suami dari artis Joy Tobing dipenjara? Nah, Daniel adalah rekanan Nazarudin dalam bisnis batubara. Konon dalam kasus ini sebenarnya Nazar adalah pihak yang paling bertanggung jawab, namun lagi-lagi ia ‘aman’.

Kemudian yang membuat geger adalah Kasus suap wisma atlet di Palembang. Kasus ini menjadi entry point alias pintu masuk terkuaknya sepak terjang Nazarudin dalam berbagai kasus hukum. Nazar adalah pendiri dan pemilik PT.Anak Negri, broker proyek pembangunan wisma atlet. Konon Nazar mendapat fee sebagai broker senilai Rp. 25 M dari proyek dengan total anggaran mencapai Rp. 191 M ini.

Lagi-lagi, Nazar cuci tangan, ia mengaku sudah tidak berada di PT.Anak Negeri lagi. Selamatkah ia?

Nanti dulu. Terakhir adalah pernyataan mengejutkan yang datang dari Machfud MD, ketua MK. Dalam sebuah konpers bersama presiden SBY, Machfud mengungkapkan sepak terjang Nazar yang sempat memberikan uang pada Sekjen MK, Janedri dalam jumlah yang aduhai,Sin $ 120 ribu atau sekitar 800 juta rupiah. Uang tersebut kemudian dikembalikan ke Nazar tanpa alasan yang jelas mengapa Nazar memberikannya pada Janedri. Sejumlah kalangan menduga, uang tersebut untuk menghancurkan kredibilitas MK, dan ujung sasarannya adalah Machfud MD.

Kini si Udin yang suka berskandal aka Nazarudin itu sedang pelesir ke Singapura. Kepergiannya seolah tergesa-gesa. Tanpa membawa banyak perbekalan, Nazar sepertinya bisa bebas sejenak di negeri Singa. Tapi tunggu dulu, KPK tidak akan tinggal diam, waktu sepertinya akan membawa Nazar kembali ke Indonesia dan mempertangung jawabkan semua tuduhan hukum yang membelitnya.

Akankah episode Nazar akan tamat di kasus ini? Belum ada yang bisa memastikan. Kita pun tak bisa berandai-andai, apalagi kasus ini membuat jajaran partai Demokrat pening kepala. Sudah beberapa kali SBY Sang Ketua Dewan Pembina Demokrat mengumpulkan kadernya guna membicarakan tindak lanjut skandal ini.

Rumitnya skandal yang dilakukan oleh Nazarudin justru dimanfaatkan oleh para petinggi partai tersebut untuk saling serang. Rupanya kubu-kubu-an pasca kongres Bandung belum usai. Nazarudin yang dikenal sebagai ‘orangnya’ Anas Urbaningrum sang ketua umum, dijadikan bulan-bulanan oleh elit politik dari kubu Andi Mallarangeng.

Perkubuan atau faksi di tubuh demokrat jelas tidak menguntungkan bagi kinerja partai di saat semua partai politik berkonsolidasi menjelang Pemilu 2014. Keliatan sekali partai Demokrat sangat amatiran memanage konflik internalnya. Mestinya mereka satu suara ke publik dan media, sehingga tak makin memperuncing keadaan. Sebab yang terlihat di permukaan sangat mudah dibaca dan dijadikan bahan oleh para lawan politik Demokrat.

Kerapuhan manajemen partai harusnya tak diperlihatkan begitu gamblangnya, sehingga tak merugikan partai ini sendiri. Kita tinggal menunggu dimana ending kasus Nazarudin. Dan sementara ini kita cuma bisa bersenandung ……Udin yang suka skandal…namanya NAZARUDIN..

#tulisan 19 dari 365

2,164 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini