Traveling Eksis ke Destinasi Digital

By | 7 November, 2018

Traveling ke destinasi digital? Kenapa enggak. Ini beberapa tempat yang saya datangi dan kemudian menjadi destinasi digital di tanah air yang viral dan membuat banyak orang berdatangan ke tempat tersebut.

Ibadah Selfie di Tebing Karaton

Suatu pagi selepas subuh di kawasan Dago, Bandung.  Kendati mentari belum memperlihatkan wajahnya, namun suasana hiruk mulai terasa di sini. Kabut tipis masih memayungi sebagian dataran yang jadi pijakan kami. Hawa dingin menusuk hingga ke pipi chubby saya.

Saya dan semua pengunjung bukan sedang menaiki sebuah puncak gunung atau sebuah lembah. Kami juga bukan sedang berada di sebuah destinasi wisata yang letaknya jauh dari pusat kota. 

Lansekap Bandung nan Cantik dari Tebing Karaton (foto dokpri)

Tempat kami berdiri dikenal sebagai Tebing Karaton, (ada pula yang menyebut sebagai Tebing Keraton). Jangan bayangkan itu adalah sebuah tebing berukuran luas, karena tempat kami berbagi ruang untuk berdiri ini hanya sepetak tanah yang tak seberapa besar. Tapi jangan tanya soal popularitas tempat ini.

Tebing Karaton boleh jadi adalah destinasi digital yang cukup populer di kota Bandung. Destinasi ini populer di kalangan traveler berkat unggahan berbagai foto di media sosial yang kemudian membuat destinasi ini viral dan menjadi impian para traveler lokal maupun mancanegara.

Eksis di Destinasi Digital adalah Keharusan (foto dokpri)

Sejak tahun 2014 Tebing Karaton menjadi destinasi digital yang membuat banyak orang ingin berada di situ, setidaknya cuma ai sekedar berfoto dengan latar hutan pinus di kejauhan. Berfoto di sini dianggap sebagai ‘ibadah’ bagi para traveler, belum sah ke Bandung waktu itu jika belum datang ke tempat ini. 

Sejak saat itu tempat ini mulai dijadikan destinasi digital oleh warga yang datang dari berbagai tempat. Berdasarkan sejarah yang dituliskan di lokasi, tempat ini dinamakan Tebing Karaton karena mengacu pada sebuah tebing dengan pemandangan yang kaya. Jadi, Karaton di sini bukan mengacu pada bangunan istana atau keraton dalam konteks budaya. Namun lebih pada kekayaan pemandangan yang bisa di lihat dari sebidang tebing.

Sepetak Tanah di Ketinggian yang Viral (foto dokpri)

Saat saya datangi di tahun 2016, Tebing Karaton bisa jadi masih lumayan ‘perawan’, kondisinya masih jauh dari teratur. Tebing yang jadi tempat berswafoto belum tertata, pagar pembatas masih seadanya. Jalan menuju ke tebing inipun masih tanah yang becek di kala hujan.

Untuk mencapai tebing Karaton sendiri butuh perjuangan yang tak mudah. Jalan berkelok-kelok, sempit dan hanya cukup satu mobil. Belum lagi jalanan menanjak yang cukup menguras tenaga sebelum sampai di tebing itu sendiri.

Namun perjuangan itu terbayarkan dengan pemandangan indah dari Tebing Karaton. Tebing ini berada di ketinggian yang dikelilingi hutan pinus di bawahnya. Saat mentari mulai muncul dari peraduan, kabut tipis menjadi pemandangan yang magis. Indahnya tak terkatakan. Apalagi jika ke sini dalam kondisi kabut tebal, kita seperti berada di negeri atas awan.

Farmhouse, Destinasi Digital Yang Bikin Penasaran

Selain Tebing Keraton, Bandung sebenarnya menyimpan kekayaan alam yang juga menjadi destinasi digital. Sebut saja The Lodge Maribaya, Taman Bunga Begonia atau di kawasan Cikole Lembang. Selain wisata alam, ada pula destinasi lain seperti Farmhouse yang juga menjadi destinasi digital ala Bandung.

Noni Belanda di tanah Pasundan (foto dokpri)

Saya termasuk yang penasaran dengan Farmhouse lantaran banyak yang sudah memposting di media sosial spot-spot keren di kawasan wisata yang letaknya di Lembang, kabupaten Bandung ini.

Tempat ini sesungguhnya adalah sebuah peternakan dan tempat pemerahan susu sapi. Oleh pemiliknya kemudian tempat ini disulap menjadi destinasi wisata yang belum pernah ada sebelumnya di Bandung. Dengan mengusung konsep peternakan ala pedesaan di Eropa, Farmhouse kemudian sukses menarik banyak pengunjung setelah banyak fotonya menghiasi timeline media sosial. 

Farmhouse sukses menjadi destinasi digital karena mengusung konsep. Di sini ada mini zoo, rumah hobbit, gembok cinta, rumah bergaya pedesaan Eropa, hingga memberi experience pengunjung untuk jadi nona-nona Belanda dengan penyewaan kostum yang unik. Ini semua ditunjang dengan udara segar kawasan Lembang seolah menguatkan kesan sebuah pengalaman wisata lokal dengan citarasa Eropa.

Kampung Warna Warni Jodipan di Malang

Kalauyang ini bukan di Bandung tapi di Malang, Jawa Timur. Saya mengunjungi destinasiini saat Lebaran 2018 lalu.  Berkunjung ke kampung warna warni Jodipan di Malang adalah sebuah pengalaman wisata destinasi digital yang paripurna. Jauh hari saya tahu kampung ini ya dari jejak digital. Di banyak time line media sosial, tulisan di blog, atau status di twitter, kampung ini kerap dibincangkan. Fotonya wira-wiri nyaris tiap hari di time line.

Kampung Jodipan, Malang (foto dokpri)

Konsep kampungnya yang berbeda, dicat warna warni di hampir semua bagian kampung membuat Jodipan terlihat lebih mencrang dibanding kampung manapun di kota Malang atau bahkan di Indonesia sekalipun.

Padahal Jodipan sebenarnya adalah sebuah kampung padat penduduk, yang di kota besar seperti Jakarta dikenal kumuh, sumpek dan tak ada daya tariknya. Namun setelah campur tangan mahasiswa sebuah PTS, kampung Jodipan akhirnya menjelma menjadi destinasi wisata yang menarik pengunjung.

Karena keunikannya, netizen dari berbagai daerah pun rela membagikan pengalaman inderawi mereka ke timeline media sosial. Dan seperti yang kita tahu kawasan ini hingga kini menjadi destinasi digital yang terus dieksplor.

Kunci Sukses: Konsep dan Kebaruan

Kesuksesan sebuah lokasi wisata menjadi destinasi digital sebenarnya tidak begitu saja terjadi. Kebaruan dan konsep yang berbeda dengan destinasi wisata yang sudah ada akan menjadikan sebuah lokasi wisata menjadi destinasi digital yang banyak diunggah foto atau videonya di ranah digital.

Apa sebenarnya syarat sebuah lokasi wisata agar menjadi destinasi digital yang keren? Sebenarnya cukup simpel, namun tidak sembarang tempat bisa dijadikan destinasi digital jika tidak dibarengi konsep yang kuat dan tentunya upaya menarik pengunjung dengan tepat.

Pertama, lokasi wisata harus bisa menunjukkan kelebihannya. Tidak harus dari fasilitas yang serba ada. Karena mengacu pada apa yang terjadi pada tebing Karaton hal tersebut tidaklah berlaku. Tempat itu menjadi destinasi digital dengan menawarkan panorama atau pemandangan alam yang berbeda, hutan pinus yang bisa dilihat dan dijadikan latar belakang foto. 

Kedua, lokasi wisata harus ditata atau punya  konsep yang kuat. Jika tak memiliki pemandangan alam, maka lokasi wisata harus membuat sesuatu agar pengunjung punya rasa penasaran untuk datang ke lokasi tersebut. Misalnya, spot foto dari ketinggian seperti yang ada di The Lodge Maribaya di Bandung atau di kampung warna-warni di kota Malang. 

Ketiga, libatkan netizen dari berbagai latar belakang untuk mengekspos lokasi wisata tersebut. Karena dari merekalah akan mengalir konten-konten digital yang memiliki kans viral. Jika sudah viral maka tinggal menunggu waktu saja lokasi tersebut akan menjadi destinasi digital. Orang akan dengan sukarela mengunggah foto lokasi wisata tersebut di berbagai platform.  

Ke depan, saya prediksi kunjungan ke destinasi digital akan terus meningkat seiring dengan mudahnya akses ke tempat wisata serta cepat menyebarnya konten destinasi digital di kalangan netizen. Ini adalah anugerah sekaligus tantangan bagi pengelola wisata, termasuk pengambil kebijakan untuk bisa merawat dan menata destinasi digital agar tetap seindah postingan di media sosial.

288 kali dilihat, 24 kali dilihat hari ini

5 thoughts on “Traveling Eksis ke Destinasi Digital

  1. Dayu Anggoro

    Lembang memang terkenal banget untuk tempat wisatanya, selain pemandangannya yang bagus, hawa sejuknya bikin betah buat berlama-lama di sana.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.