Tragedi Rebutan Ponsel Murah

Ngenes melihat kericuhan di plaza EX jalan Thamrin Jakarta Pusat kemarin. Ratusan orang berebutan untuk membeli telepon seluler murah Esia Gayaku yang ditawarkan operator ponsel Esia. Ponsel produksi Nexian yang harga normalnya 299 ribu rupiah itu, dibandrol cuma 99 ribu rupiah. Dengan harga semurah itu, bisa ditebak ratusan orang, bahkan ada yang memperkirakan sekitar seribu orang memadati EX.

Kalau hanya antri mungkin biasa. Namun yang terjadi kemarin adalah ratusan orang berebutan mendapat tempat terdepan agar bisa membeli ponsel di kesempatan pertama. Sejumlah orang pingsan karena tak kuat berdesakan. Yang membuat miris, seorang lelaki pingsan masih dengan kardus ponsel dipelukan. Tampaknya ia tak rela ponsel yang dibelinya melayang dari tangannya. Karenanya ia mencoba mempertahankan diri dan ponselnya. Sampai darah penghabisan? Bisa jadi.

Mengapa kasus semacam ini bisa terjadi? Apakah ini merupakan ‘keberhasilan’ promosi dari sang operator milik Bakrie? Ataukah justru kesalahan sang operator karena tak bisa memprediksi jumlah pengunjung yang datang. Sehingga antrian yang semula di dalam gedung terpaksa dipindahkan ke lapangan parkir?

Kalau dicermati, rebutan ponsel murah ini selain harganya yang benar-benar miring, juga terjadi akibat iming-iming ponsel ini bisa digunakan mengakses situs jejaring pertemanan Facebook. Suka tidak suka, faktor Facebook menjadi daya tarik tertinggi penjualan ponsel murah akhir-akhir ini.

Apalagi tagline promo iklannya benar-benar menggoda. Di harian Kompas iklannya cukup mengundang, “dengan 99 ribu sudah bisa facebook-an”. Siapa coba yang tak tergoda.

Saya melihat belakangan sejumlah operator berlomba-lomba meraih pelanggan dengan cara serupa. Selain Esia, sebelumnya XL, Telkomsel dan Indosat juga melakukan langkah serupa. Bedanya mereka masih menjual ponsel dengan harga lebih mahal dari Esia, sekitar 500 sampai 900 ribuan. Meski harganya lebih tinggi dibanding ponsel Esia, namun semuanya punya kesamaan ‘menjual’ nama besar Facebook.

Bisa jadi mereka yang menjadi korban pingsan dan berdesakan di EX adalah kalangan yang baru mulai sadar internet. Untuk berinternet dan membeli ponsel sekelas Black Berry tentu perlu merogoh kocek sangat  dalam. Saat ada tawaran ponsel Black Berry wanna Be buatan China, ya sutralah.

Sebuah ironi dari bangsa yang tengah bermasalah. Mereka dinina bobokkan oleh industri, dipaksa berfacebook-an dan melupakan realita kehidupan yang mereka hadapi.

3,710 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

24 thoughts on “Tragedi Rebutan Ponsel Murah

  1. @atics: mungkin saja itu bagian dari strategi marketing esia. tapi memang budaya kita untuk antri masih ketinggalan jauh. malu juga sudah lebih setengah abad merdeka tapi soal kecil antri belum menjadi budaya.

    thx sudah mampir bung.

  2. @omiyan: bener om iyan, saya juga sependapat. untuk hal konsumtif mengapa manusia sangat bernafsu sekali. sementara untuk urusan ‘masa depan’ sepertinya pelit banget manusia berusaha.

    thx sudah mampir kemari bung.

  3. ya sekarang kita terjebak dengan nafsu dunia, orang lebih relal ngantri panjang demi hal yang bersifat kesenangan duniawi sampai lupa masalah akhirat..coba ada ga yang ngantri buat akhirat dengan akta lain orang lain ngantri wudhu buat Shalat jarang sekali hehehe

  4. Inilah sebagian dari bangsa kita yang kadang kala dapat menjadi deskripsi karakter asli orang indonesia. Hidup di kota metropolitan tetapi tingkah laku seperti orang primitif

    @alyassar: padahal tidak semua warga ibukota sepaham juga dengan mereka yang datang ke Ex. prihatin juga, jangan2 sebenarnya mereka belum saatnya sampai ke era FB, karena untuk makan juga susah.

    tengkyu sudah mampir.

  5. Bukan hanya sekedar facebook, tapi karena memang masyarakat kita rela berkorban untuk sesuatu yang dibilang murah. Ingat beberapa waktu lalu saat ada obral sepatu merk terkenal, antrenya hingga 2KM. Denger-denger kebanyakan jamaah haji kita banyak yang ikut antri kalo kebetulan ada pembagian makanan gratis di area masjidil haram.
    @habibilah: mungkin itu naluriah sifatnya. mencari yang murah meski belum tentu berkwalitas. tp kalau soal haji, pemerintah kerajaan Arab Saudi tiap tahun memang menyediakan makanan (terutama buah dan kurma) gratis. jadi bukan karena gratisan sehingga mereka pada antri, tapi memang sudah disediakan sayang kalau tak dimanfaatkan. apalagi biaya haji kita kan paling mahal. jadi harus irit uang lah.

    tengkyu habibi sudah mampir kemari..

  6. Pingback: Tweets that mention Tragedi Rebutan Ponsel Murah « Syaifuddin’s Blog -- Topsy.com

  7. hahahaha, kalo gw sih hape masih punya, jadi buat apa beli hape lagi, satu aja ga habis2 mo beli lagi hahahaha, lucu nya…

    @iwan: itulah wan, produsen kita tahu banget orang indonesia paling senang dengan sesuatu yg murah, makanya mereka bikin porduk dg harga seperti itu. padahal belum tentu butuh-2 banget.

    thx ya sudah mampir.

  8. bener bos, fesbuk udah gak beda sama narkoba nih, bikin ketagihan, apapun dilakukan yang penting bisa mesbuk… tak ada rotan akar pun jadi, tak ada blackberry ponsel cina pun jadi…

    @aria: di satu sisi bagus juga orang mulai sadar IT, meski masuknya dari FB tak apalah. tapi rebutan dan jatuh korban itu yg bahaya. harusnya penyelenggara bisa mengukur kira-2 berapa jumlah peminat yg bakal hadir. mengingat miringnya harga ponselnya.

    tengkyu aria sudah mampir kemari..

  9. ngenes juga ngeliat yang di tengah berantem… terbukti kan budaya bangsa ini yang tidak mau antri? *sigh*

    @dhodie: bener dod. ini juga refleksi betapa disiplin belum menjadi kata bersama. tp ini juga bukti betapa orang kecil selalu jadi korban industri besar.

Komen Dong