syaifuddin.com

Information

This article was written on 25 Nov 2013, and is filled under Event.

Current post is tagged

[Terios7Wonders] 7 Blogger Menyibak Surga yang Tersembunyi

7 Menguak Surga yang Tersembunyi (foto: Harrismaul)

7 Menguak Surga yang Tersembunyi (foto: Harrismaul)


Bermula dari ajang Indonesia International Motor Show 2013 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Bersama 49 blogger saya hadir memenuhi undangan interview sekaligus blogger gathering dalam rangka event Daihatsu Terios 7 Wonders. Saat itu 5 orang blogger ditetapkan sebagai juara dan berhak berpetualang bareng Daihatsu Terios ke 7 destinasi unik, mulai dari Sawarna Banten di ujung Barat pulau Jawa hingga ke pulau Komodo di NTT.

Kecewa lantaran tak terpilih sebagai anggota tim, sayapun mengikuti perjalanan para blogger sejak hari pertama. Itung-itung mengobati kekecewaan… Tapi yang terjadi adalah…saya makin dibuat iri dengan reportase para blogger selama 14 hari perjalanan tersebut. Dan ini adalah review saya mengenai perjalanan ke-7 orang blogger, ke 7 destinasi yang tergolong surga tersembunyi di sepanjang Jawa dan Nusa Tenggara.

Hidden Paradise, Surga yang Tersembunyi

Hidden Paradise (foto: Lucia Nancy)

Hidden Paradise (foto: Lucia Nancy)

Jika setahun silam petualangan Terios 7 Wonders mengusung tema Sumatera Coffee Paradise, maka tahun ini petualangannya menggunakan tagline Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Bukan mengada-ada jika 7 Wonders kali ini bertema demikian. Lihat saja semua destinasi yang dikunjungi selama 14 hari bak sebuah surga yang tersembunyi di tanah katulistiwa. Indah saja rasanya tidak cukup untuk melukiskan kekaguman saya terhadap destinasi wisata yang dijejak para blogger.

Oya jangan kaget melihat jumlah blogger yang mengikuti petualangan ini jadi 7 orang. Karena selain 5 blogger pria yang terpilih melalui lomba blog (Harrismaul, Bambang Priyadi, Puput Ariyanto, Giri Satrio dan Wira Nurmansyah), ada pula 2 blogger perempuan yang kemudian bergabung ke dalam tim, yakni Mumun dan Lucia Nancy. Keduanya yang dikenal sebagai traveller blogger mendapat jatah untuk ikut kedalam tim sebagai undangan. Hmm…enak ya jadi blogger kondang….

Soal penyebutan hidden paradise (surga yang tersembunyi) terhadap destinasi yang dikunjungi barangkali tak terlalu berlebihan. Kesemua destinasi yang dijelajahi para blogger adalah lokasi terbaik dengan alamnya yang elok, budaya yang luhur dan berada di lokasi yang beberapa sulit dijangkau. Tengok saja pantai Sawarna di Bayah, Banten yang sejak lama dikenal sebagai ‘surga tersembunyi’ bagi penikmat wisata alami.

Adalagi desa Kinahrejo di kaki Gunung Merapi, yang menjadi desa tersohor selepas meletusnya gunung Merapi tahun 2010. Di desa itulah kuncen Merapi, Mbah Maridjan yang melegenda tinggal hingga ditemukan tewas saat lahar panas melintasi gunung tersebut.

Atau taman nasional Baluran di Banyuwangi yang dijuluki sebagai Afrika di timur pulau jawa itu. Itu adalah lokasi-lokasi eksotik yang didatangi 7 blogger. Untuk mencapai lokasi-lokasi tersebut tak mudah, butuh usaha ekstra keras, lantaran medannya yang berada di jalur tak biasa, dengan jalan yang kadang tak mulus, kelokan tajam, maupun tanjakan curam. Kendati termasuk destinasi wisata yang tak mudah digapai, keelokan alamnya patut harus diacungi dua jempol.

Dan saya (lagi-lagi) hanya bisa menelan ludah karena iri melihat keelokan alam dan budaya 7 destinasi di jawa dan Nusa Tenggara yang dijelajahi tim Terios 7 Wonders. Iri tingkat dewa!

7 Petualang dan Mobil yang Tangguh

7 Blogger 7 Wonders

7 Blogger 7 Wonders

Petualangan Terios 7 Wonders ini bukanlah ajang jalan-jalan biasa. Karena sejak awal para peserta dituntut memiliki stamina yang tinggi, mampu bertahan berada di dalam perjalanan darat dengan mobil selama berjam-jam. Membayangkannya saja pasti melelahkan. Kendati demikian, bagi saya perjalanan darat yang panjang menggunakan mobil bukan sebuah hal yang asing. Dua tahun silam saya juga sempat melakoni perjalanan darat yang cukup melelahkan bersama keluarga dari Jakarta hingga Kediri, Jawa Timur.

Dalam melakoni perjalanan darat, ada satu syarat penting yang tak bisa ditawar, yakni membutuhkan kesiapan stamina tubuh yang tinggi. Sebab melakukan perjalanan darat dengan rentang jarak yang jauh dari ujung barat pulau Jawa hingga ke Nusa Tengga Timur bukan perkara gampang. Jika fisik kita tidak cukup baik maka akan sulit mengikuti trip hingga selesai di hari ke-14.

Begitu pula untuk kendaraan. Melihat destinasi wisata yang dikunjungi, rasanya tak mungkin jika menggunakan kendaraan sembarangan untuk menempuh rute jauh dengan kontur jalan dan medan yang berat. Daihatsu Terios memang dirancang bagi petualang sejati. Suspensi maupun akselerasinya sudah dirancang secara khusus untuk menjejaki rute-rute sulit.

Pantai Sawarna nan Memesona

Dari laporan perjalanan para blogger Terios 7 Wonders sejak dihari pertama tergambar jelas kerasnya rute yang dilalui rombongan ini. Harris Maulana, salah seorang blogger menuliskan catatannya berjudul “Hari Pertama: Menuju Sawarna”. Saat perjalanan baru dimulai dari Sentul, Bogor menuju pantai Sawarna Banten, ternyata para peserta sudah harus berhadapan dengan ‘ujian’ di jalan.

Jalanan yang dilalui ternyata lumayan curam dan berliku. Bahkan mereka kerap menemukan tanjakan yang super terjal hingga 45 derajat atau tikungan tajam hampir 180 derajat. Menghadapi medan semacam ini diperlukan kegesitan pengemudi dan tentu saja performa kendaraan yang prima. Karena menggunakan Terios, semua tanjakan curam, tikungan tajam maupun jalanan rusak bisa dilibas dengan sempurna.

Harris yang saya temui selepas petualangan mengatakan, dirinya tak menyangka ujian itu langsung dihadapi di hari pertama petualangan. “Benar-benar menguras tenaga. Untuk sampai di Sawarna butuh 6 jam perjalanan yang diselingi jeda makan siang sejenak. Tapi kelelahan sepanjang perjalanan terbayar dengan keelokan sunset di pantai Sawarna,” ujar Harris.

Keindahan Sawarna (foto: Harrismaul)

Keindahan Sawarna (foto: Harrismaul)

Begitu pula saat tim menuju destinasi kedua di desa Kinahrejo, di lereng gunung Merapi, Jawa Tengah. Ketangguhan Terios kembali diuji. Giri Satrio dalam tulisannya berjudul “Kekompakan Tim Terios 7 Wonders menuju etape ke 2 : rute Sawarna – Kinahrejo” melukiskan perjalanan menuju lereng Merapi tidak mudah.

Jalanan yang sempit berpasir tebal, harus berbagi dengan kendaraan truk-truk besar pengangkut pasir. Karenanya, perjalanan disini menjadi tersendat. Jalanan di sini sejatinya hanya diperuntukkan untuk satu kendaraan, namun lalu lalang truk pasir dari Merapi membuatnya terpaksa dibagi dua dengan kendaraan wisatawan Merapi.

Namun kesulitan tersebut tak sebanding dengan keindahan Kinahrejo yang merupakan saksi bisu letusan gunung Merapi. Di desa ini kita disuguhi situs desa pasca bencana, termasuk rumah yang ditinggali kuncen Merapi, mbah Maridjan. Kondisi rumah hancur, menyisakan puing-puing, onggokan bangkai kendaraan serta peralatan rumah tangga.

Kinahrejo, Keindahan Merapi (foto: Giri Satrio)

Kinahrejo, Keindahan Merapi (foto: Giri Satrio)

Kesaksian akan ketangguhan Terios juga ditunjukkan Bambang Priyadi lewat postingannya berjudul “Perjalanan (Paling) Ajaib Menuju Ranu Pani”. Meski postingan ini lebih banyak menyentuh hal yang sedikit mistis saat rombongan memasuki areal Semeru, namun Bambang tak lupa melaporkan kesaksiannya soal ketangguhan Terios.

Menurutnya, sejak awal memasuki jalan hutan menuju Ranu Pane di Gunung Semeru yang kemudian rusak parah, mereka tak merasakan lagi kekhawatiran seperti halnya pada 2 hari pertama permulaan perjalanan ke Desa Sawarna, Banten. Sejak mereka menempuh jalur Lava Tour Merapi di Kinahrejo, ketangguhan mesin bertipe 3SZ-VE DOHCVVT-I Daihatsu Terios yang mereka tumpangi seolah memberikan pembuktian .

Berapa pun parahnya jalur yang mereka lalui, selama masih termasuk dalam kategori offroad ringan, menurut Bambang menjadi mudah mereka taklukkan. Tentunya ia mensyaratkan pula pada skill mengemudi yang apik, yang membuat berkendara dalam medan yang sulit menjadi ciamik.

Di tepi danau Ranu Pane tim Terios 7 Wonders sempat berkemah ditemani jutaan bintang di angkasa. Duh, romantisnya…

Menuju Ranu Pane (foto: Bambang P)

Menuju Ranu Pane (foto: Bambang P)

Menjejak Africa Van Java

Dari sejumlah destinasi yang menjadi tujuan para petualang Terios 7 Wonders, Taman Nasional Baluran adalah tempat impian saya sejak lama. Mungkin ini adalah taman nasional kita yang paling cantik dari sekian banyak taman nasional tropis di Indonesia.

Alamnya mengingatkan kita pada sepotong pemandangan alam liar Afrika. Di Baluran ada Bekol, padang Sabana terbesar di pulau Jawa, yang konon luasnya -menurut Wira Nurmansyah setara dengan 250 kali luas lapangan bola. Dalam postingan berjudul “Cepat pulih, Baluran!” Wira mengajak saya menikmati Afrika di tanah Jawa. Sebutan Africa Van Java memang tak sembarangan, sebab melihat pemandangan di Baluran di musim kemarau dan kontur yang kering kerontang memang sedikit banyak mirip tanah di benua Afrika.

Di siang hari padang Sabana berumput menguning. Sedangkan di malam hari, Baluran berubah menjadi tempat nan romantis, penuh bintang bertaburan. Ahay..

Satu hal yang menarik dari postingan Wira mengenai Baluran adalah kepeduliannya terhadap ‘nasib’ Sabana di taman nasional ini. Menurut Wira, Sabana semakin sulit dijumpai. Ribuan hektar padang rumput meranggas di musim kemarau, berganti menjadi semak belukar dan akasia. Hmm…butuh upaya keras mengembalikan Sabana yang merupakan habitat sejumlah binatang khas Baluran.

Saya berharap dengan banyaknya postingan mengenai kondisi terkini taman nasional Baluran yang terletak di Jawa Timur ini akan mengetuk kepedulian banyak pihak agar Baluran kembali seperti dulu lagi. Tahun 70-an adalah masa kejayaan taman nasional ini. Sejumlah pangeran dan pemimpin negara dari sejumlah negara kerap menyambangi tempat ini lantaran keasrian dan keunikannya.

Sebagai surga yang tersembunyi, Baluran sudah saatnya diketahui banyak kalangan. Keindahan Sabana, aneka hewan liar yang menghuninya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Jika Baluran rusak, hewan yang ada di dalamnya pun terancam kehidupannya.

Baluran, Africa Van Java (foto: Wira Nurmansyah)

Baluran, Africa Van Java (foto: Wira Nurmansyah)

Menemukan the Hidden Beach

Menemukan sebuah surga yang tersembunyi ternyata menjadi keasyikan tersendiri yang ditemui blogger peserta petualangan Terios 7 Wonders kali ini. Begitu pula yang terjadi pada Lucia Nancy, traveller blogger yang ikut ekspedisi dengan fasilitas wild card. Dalam postingan berjudul “2 Pantai Tersembunyi di Lombok”, Luci begitu girangnya saat mendapati dua pantai cantik yang belum banyak pengunjungnya di Lombok.

Yang pertama bernama Pantai Tangsi, terletak di Desa Temeak, Kabupaten Jerowaru, Lombok Timur, jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari Mataram. Sedangkan yang kedua adalah Pantai Selong Belanak, di Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Kedua pantai berlokasi di tempat tersembunyi, dengan pasirnya yang bersih dan asri.

Lupakan sejenak Kuta di Bali yang sudah massal dan kotor. Di kedua tempat ini alam seperti membingkai diri. Tiap sudut adalah spot terindah untuk diabadikan dalam foto. Dua Pantai ini memberi saya ilham untuk menyepi suatu hari kelak.

The Hidden Beach, Lombok (foto: Lucia Nancy)

The Hidden Beach, Lombok (foto: Lucia Nancy)

Suku Sasak, Budaya Tersembunyi di Desa Sade Rambitan

Jika di 5 destinasi lain surga yang tersembunyi dan dikunjungi para blogger berbentuk keelokan alam, lain halnya dengan yang ada di Desa Sade Rambitan, Lombok NTB. Di sini para blogger menemukan surga yang lain, berbeda dari surga-surga sebelumnya. Kearifan dan keluhuran budaya suku Sasak adalah surga itu sendiri.

Puput Aryanto dalam postingannya yang berjudul “Belajar dari Kearifan Suku Sasak di Desa Sade Rambitan” menulis kekagumannya pada budaya suku Sasak yang masih lestari di era serba instan sekarang ini. Mengunjungi desa budaya ini, kita jadi tahu Lombok ternyata sangat kaya, bukan hanya kaya akan keelokan pantainya. Namun juga memiliki seni budaya yang eksotis, seperti kesenian Gendang Beleq, tari Paresehan yang sarat unsur bela diri, serta tradisi-tradisi unik yang hanya ada di suku Sasak.

Dari postingan di desa Sade ini saya baru tahu ternyata jumlah warga Sasak di desa Sade selalu tetap. Jika ada keluarga baru yang merupakan buah perkawinan, dia harus keluar dari desa agar jumlah warga Sasak tetap, yakni sekitar 700 orang. Para peserta Terios 7 Wonders umumnya juga terkesan dengan kebersahajaan suku Sasak dalam menyikapi hidup. Mereka begitu sederhana dan masih memegang teguh tradisi turun temurun di tengah gempuran budaya dari berbagai daerah yang masuk ke Lombok. Benar-benar sebuah surga yang tersembunyi.

Eksotisme Suku Sasak (foto: Puput Aryanto)

Eksotisme Suku Sasak (foto: Puput Aryanto)

Pulau Komodo, Pemuncak Surgawi Tersembunyi

Pulau Komodo adalah alasan terbesar saya saat mengikuti kontes blog Terios 7 Wonders Hidden Paradise tahun ini. Selain karena ingin melihat langsung hewan purba Komodo, pink beach atau pantai merah muda menjadi alasan lainnya. Keduanya dibingkai pesona alam yang luar biasa. Selama ini saya hanya bisa mengagumi keindahan surga yang tersembunyi ini melalui artikel di majalah, blog para traveller maupun liputan travelling di televisi.

Postingan Mumum Indohoy berjudul “Falling in Love Again in Komodo Island” seolah mewakili hasrat saya mengunjungi kawasan surga nun di Provinsi Nusa Tenggara Timur sana. Alamnya yang relatif masih perawan, langitnya yang biru dan reptil purba Komodo menjadi daya tarik terbesar.

Sepertinya belum jadi orang Indonesia nih jika belum mengunjungi destinasi unik dan satu-satunya di tanah air bahkan satu-satunya di dunia ini. Apalagi liputan media internasional makin banyak setelah Pulau Komodo masuk dalam list 7 keajaiban dunia yang baru.

Pulau Komodo adalah destinasi terakhir yang dijadikan pemuncak dari perjalanan panjang ekspedisi darat Terios 7 Wonders: Hidden Paradise. Sebagai pemuncak, Pulau Komodo cocok ditempatkan di ujung petualangan. Di sini para blogger dengan sisa tenaga yang ada memanfaatkannya dengan mengeksplor situs purbakala yang keberadaannya dilindungi dunia. Mumun dan blogger lain juga sempat menyelam di lokasi ini.

Sejak Sawarna di Banten hingga Pulau Komodo NTT berarti para blogger petualang telah menempuh total jarak sejauh lebih dari 2500 kilometer. Perjalanan panjang nan jauh, berat dan melelahkan secara fisik, namun fun dan berisi pengalaman yang tak bakal dilupakan oleh semua peserta.

Pulau Komodo, Keindahan Surgawi (foto: Mumun Indohoy)

Pulau Komodo, Keindahan Surgawi (foto: Mumun Indohoy)

CSR Mengasah Kepekaan Sosial Blogger

Satu yang membedakan jelajah Terios 7 Wonders dengan kegiatan lain adalah momen dilibatkannya para blogger dalam kegiatan CSR (Corporate Social Responsbility) alias kepedulian sosial perusahaan yang dilakukan PT.Daihatsu Indonesia, produsen Daihatsu Terios. Menurut saya pelibatan para blogger dalam CSR memberi makna lebih pada petualangan yang mereka lakukan. Di sini mereka diasah kepeduliannya terhadap kondisi masyarakat sekitar. Tercatat sedikitnya ada 5 kegiatan CSR dilakukan dalam petualangan Terios 7 Wonders Hidden Paradise, mulai dari memberikan sumbangan peralatan kebersihan, beasiswa hingga pemberian 7 hewan qurban.

CSR Daihatsu, Mengasah Peduli (foto: harrismaul + Puput)

CSR Daihatsu, Mengasah Peduli (foto: harrismaul + Puput)

Momen CSR ini makin mengukuhkan peran PT.Daihatsu Indonesia sebagai Agen Tunggal Pemegang Merk yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Daihatsu bukan hanya dikenal sebagai produsen kendaraan yang fungsional namun juga peduli pada keberadaan dan masa depan masyarakat sebagai pemakai produk-produknya.

Secara umum Event Terios 7 Wonders berjalan lancar tanpa kendala berarti. Sejak start dari Sentul hingga finish di Pulau Komodo, performa 7 mobil Daihatsu Terios yang digunakan menjelajah tetap prima. Fakta ini menurut saya makin memperkokoh positioning Daihatsu Terios sebagai kendaraan penjelajah, sahabat petualang sejati. Dengan diajak menjelajah jalan darat berbeda kontur dan medan, Terios tak main-main memperlihatkan kehandalannya.

Di masa datang, positioning semacam ini perlu terus dipertegas agar menjadi pembeda dengan jenis kendaraan lain. Melibatkan blogger dalam kampanye-kampanye seperti ini menurut hemat saya memberikan image positif terhadap brand. Masyarakat umum jadi mengetahui sepak terjang Terios sebagai kendaraan yang nyaman dibawa berkendara jarak jauh. Apalagi para blogger adalah representasi masyarakat konsumen Terios secara tidak langsung. Di era 2.0 keterlibatan terhadap brand tidak bisa hanya dilakukan dari jauh. Brand harus mendekatkan diri pada segmen pasarnya sedekat mungkin.

Memberi pengalaman konsumen untuk merasakan langsung kehandalan produk jauh lebih mengena dan membentuk imaji positif ketimbang hanya ‘membuang uang’ sesaat dalam angka Milyaran rupiah melalui iklan di media massa. Namun iklan tetap diperlukan sebagai sarana pembentuk awareness masyarakat, namun di era sekarang mesti dikombinasikan dengan cara lain untuk makin membentuk imaji terhadap brand secara simultan.

viva

TwitLog

*Tulisan ini masuk 50 besar Lomba Blog Terios 7 Wonders

1,112 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

2 Comments

  1. dewi
    14 Februari, 2015

    Halo Admin / Blogger 🙂

    Saya sangat suka dengan postingan foto-fotonya 🙂
    Perkenalkan, saya Dewi dari tim kumpulbagi. saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi foto-foto,video,menggunakan disk online yang lain dengan tujuan berbagi informasi ? 🙂
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini http://www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Anda bisa dengan bebas mengupload foto-foto,video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis 🙂

    Terima kasih.

    Salam.

  2. diah
    9 Juni, 2014

    Datang ya, ke acara kumpul blogger pada hari rabu 11 juni 2014, jam 15:00-16:30 tempat pada kantor vivanews area pulogadung. untuk informasi yang akan di dapat pada acara tersebut cek fanpage vivalog ya.. atau facebooknya vivalog.Salah satunya dapatkan tiket vip opening world cup di antv secara gratis.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: