Tag Archives: Syaifuddin Sayuti

Sistem Zonasi Murid Baru, Memudahkan Atau Membingungkan?

Ada yang berbeda dalam proses penerimaan siswa baru (PSB) di tingkat SMP dan SMA Negeri di Jakarta. Tahun ini Pemda DKI menerapkan aturan baru berupa pembagian zona berdasarkan kecamatan sesuai domisili calon siswa. Sebagai orangtua murid yang tahun ini akan memasukkan dua orang anak ke SMP dan SMA jelas keputusan ini membingungkan. Tidak adanya sosialisasi yang memadai sehingga banyak ortu yang bertanya-tanya, makhluk apakah gerangan zonasi ini?

Pihak sekolah asal sendiri tidak semua satu suara. Banyak yang belum mengetahui ketentuan ini dengan gamblang. Mengharapkan informasi dari situs http://www.simdik.info tidak cukup membantu. Dalam situs tersebut banyak hal yang belum dijelaskan.

Menurut informasi di media, PSB kali ini memberi keuntungan bagi mereka yang tinggal dekat dengan sekolah untuk mendapatkan sekolah sesuai pilihan. Mereka yang tinggal di Kebon Jeruk Jakarta Barat misalnya, ‘dipaksa’ memilih sekolah yang ada di sekitarnya. Tak bisa memilih di lokasi lain, Kebayoran Baru, misalnya. Alasan Pemda menerapkan ketentuan baru ini, konon untuk mengurangi kemacetan di jalan raya akibat persebaran siswa sekolah yang lintas wilayah. Benarkah demikian?

Saya kurang tahu pasti data berapa jumlah siswa sekolah yang ‘terpaksa’ sekolah lintas wilayah di Jakarta. Tapi alasan Pemda yang menerapkan ketentuan zonasi demi mengurangi kemacetan saya pikir mengada-ada. Berapa banyak sebenarnya sumbangan kendaraan pribadi, antar jemput maupun kendaraan umum yang mengangkut anak sekolah lintas wilayah ini? Bukankah persoalan kemacetan yang akut di ibukota adalah akibat tidak adanya angkutan umum yang massal dg kondisi bagus dan terintegrasi. Warga kalangan berpunya akhirnya memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan naik angkutan massal.
Itu dari sisi kemacetan.

Sementara soal zonasi sendiri menurut saya akan menimbulkan persoalan baru banyak siswa yang tak mendapat sekolah negeri akibat kekurangan daya tampung. Karena dalam aturan ini warga sekitar mendapat peluang 45%, sedangkan dari kawasan lain hanya 5%. Betapa tak adilnya jika jatah 45% itu diisi siswa yg berkemampuan biasa saja, sementara yang berprestasi terkena aturan 5% tadi.

Dengan cara seperti ini dikhawatirkan bakal terjadi penumpukan calon siswa di sejumlah wilayah, sedangkan di zona lainnya cenderung kurang murid. Apakah ini sudah jadi hitung-hitungan pihak Dinas Pendidikan, ataukah ini bagian dari strategi menggiring calon siswa ke sekolah swasta yang ada di hampir semua wilayah?

Saya tak tahu apakah kebijakan ini akan mulus penerapannya. Kita lihat saja pekan depan untuk tingkat SMA akan mulai pendaftaran siswa secara online.

Hati-hati Penipuan Undian Telco Makin Canggih

Penampakan situs palsu Indosat

Penampakan situs palsu Indosat

“Slmat “No.Anda Men-dpt hadiah Dari pengundian ‘POIN PLUS PLUS’ PIN.Anda:(277fg49) u/info cek hadiah yang di menangkan di situs resmi www.indo-sat-poin.Webs.com”

Itu adalah sms yang masuk ke nomer HP saya kemarin. Sms macam ini memang baru kali ini saya dapat. Pengirimnya tak jelas, nomernya masih saya simpan 085720899781.

Di kontak list saya tak ada nomer tersebut. Anehnya lagi, saya jarang sekali memberikan nomer Indosat saya ke siapapun. Hanya ada keluarga dan beberapa kawan yang saya beri nomer ini. Karenanya agak surprise juga menerima pesan sms macam beginian. Hampir ge-er juga dapat sms menang undian.

Untungnya saya bukan termasuk orang yang mudah percaya dengan gaya penipuan seperti ini. Kalau memang saya menang undian, mengapa tak ada informasi saya dapat hadiah apa, dan kapan undian ini dilangsungkan. Bahkan yang lebih ajaib lagi, saya tak pernah sekalipun mengikuti undian macam ini.

Iseng saya telusuri website yang tercantum di sms tadi. Kesan pertama saya, si pelaku penipuan ini niat banget, dan dia atau tim di belakangnya adalah mereka yang paham seluk beluk pembuatan websites. Kejahatan mereka cukup rapi. Menipu dengan cara yang sangat halus. Mereka tak lagi menggunakan sms jebakan mama minta pulsa, tapi membangun websites “seolah-olah” adalah websites korporat.

Sekilas website indo-sat-poin sama dan sebangun dengan website indosat.com yang merupakan situs resmi korporat indosat. Bagi yang kurang jeli pasti menyangka website pertama adalah milik PT.Indosat, padahal bukan.

Ada beberapa keanehan yang saya lihat di website tiruan indosat ini. Pertama, di website ini tercantum beberapa nama yang tak ada kaitannya dengan persoalan undian berhadiah. Mulai dari gubernur DKI Jokowi, kapolri Jenderal Timur Pradopo, hingga ketua KPK Abraham Samad. Duh, si pembuat website ini maunya dianggap keren dengan memasang beragam foto para petinggi negara tersebut. Tapi dia lupa, foto-foto itu jadi tak punya makna lantaran tak ada keterkaitan para pejabat itu dengan undian berhadiah.

Kedua, alamat url websites ini tak mengesankan. Maunya terpercaya, padahal abal-abal. Selama ini untuk urusan komunikasi online berbasis website, tak sekalipun saya menemukan situs korporat yang alamat url-nya iseng seperti www.indo-sat-poin.Webs.com.

Ketiga, untuk pengambilan hadiah kendaraan situs ini ‘seolah-olah’ bekerja sama dengan Samsat Polda Metro Jaya. Situs sini seolah terhubung dengan situs Samsat untuk pengurusan bea balik nama kendaraan hadiah. Di sisi kanan situs tertera foto-foto kegiatan di gerai Samsat agar berkesan meyakinkan.

Ada yang lebih menggelikan lagi soal hadiah bagi pemenang diluar daerah. Hadiah kendaraan akan diantarkan melalui Jasa Penerbangan, dengan menggunakan Pesawat Kargo BOEING 737 GX dari bandara Halim Perdana Kusuma. Sepanjang pengetahuan saya tak pernah sekalipun pihak penyelenggara undian membuat keterangan sedetil ini. Mau dikirim menggunakan pesawat Casa atau Airbus sekalipun bukan urusan kita.

Lalu, apa yang harus dilakukan konsumen jika menemui hal sejenis ? Pertama, pastikan diri anda apakah benar pernah mengikuti undian berhadiah dari perusahaan telekomunikasi atau operator telepon? Jika tidak, abaikan. Anggap saja orang iseng.

Jika anda merasa pernah mengikuti undian berhadiah yang digelar sebuah operator telco, segera hubungi customer service resmi perusahaan telco tersebut. Tanyakan secara detil apa syarat pengambilan hadiah undian. Jangan terjebak menghubungi nomor kontak yang diberikan melalui sms. Bisa jadi itu nomor gerombolan penipu yang akan memperdaya kita saat lengah.

Masih kurang? Laporkan saja ke polisi, biar pelakunya jera. Toh untuk menelusuri siapa orang dibalik nomor tadi sangat mudah. Bahkan untuk menelusuri si empunya websites abal-abal pun bukan perkara sulit.

Harusnya perusahaan telco seperti Indosat atau yang lain segera mengajukan keberatan karena imej buruk tentu akan melekat ke citra korporat jika persoalan sejenis tidak ditangani secara cerdas. Ini juga berlaku bagi operator telco lainnya, karena belakangan saya juga menerim pesan sms dengan isi sejenis namun beda perusahaan telco.

Bagi konsumen telco kuncinya cuma satu: Waspada! Itu saja.

Lomba Blog Asean Blogger

Pasca festival Blogger Asean di Solo, ada beberapa Lomba blog yang digelar bagi peserta Asean Blogger. Simak lomba dan tenggat waktunya yang nyaris bersamaan. Cek link lombanya untuk melihat syarat dan ketentuan serta hadiahnya!

1. http://aseanblogger.com/lomba-blog-reportase-by-telkom-indonesia
Periode lomba : 12 Mei s/d 12 Juni 2013 paling lambat jam 24 : 00. Masa Penjurian : 12 – 19 Juni 2013. Pengumuman pemenang : 22 Juni 2013

2. http://aseanblogger.com/lomba-blog-reportase-by-wifi-id
Batas akhir pengiriman naskah : 20 Juni 2013 jam 24.00 WIB

3. http://aseanblogger.com/lomba-blog-reportase-by-pegipegi-com
Periode lomba : 12 Mei s/d 12 Juni 2013 paling lambat jam 24 : 00. Masa Penjurian : 12 – 19 Juni 2013. Pengumuman pemenang : 22 Juni 2013

4. http://aseanblogger.com/lomba-blog-resportase-keraton-kasunanan-solo
Periode lomba : 12 Mei s/d 12 Juni 2013 paling lambat jam 24 : 00. Masa Penjurian : 12 – 19 Juni 2013. Pengumuman pemenang : 22 Juni 2013

Jomblo Asean yang Bakal Hits!

Jomblo Asean

Jomblo Asean

Selain reportase, foto-foto, banyak cerita selepas Gelaran Asean Blogger Festival di Solo kemarin dulu itu. Tapi penggiat socmed yang juga alumni ABFI tentu sepakat dengan nama satu ini : @AseanJomblo. Akun twitter baru yang langsung riuh rendah jadi bahan omongan para alumnus ABFI.

Saya menduga akun ini diciptakan para galauers yang saling bermention selama ABFI. Pertemuan darat alias kopdar rasanya dianggap kurang jika tak mewujud menjadi forum galau bersama. Apalagi melihat banyak jombloers yang kinyis-kinyis, entah itu produk lokal maupun manca Asean. Klop lah keinginan itu.

Saya sendiri menjadi saksi hidup betapa banyak jombloers yang dengan sengaja mendaratkan radarnya di arena ABFi. Ada yang bersambut, tapi tak sedikit yang merana. Ups!!

Jomblo Asean karenanya jadi tempat pendaratan sempurna para jombloers, agak keren sedikitlah nama komunitas ini. Biar jomblo tapi ini kan Jomblo Asean, begitu kira-kira pembelaan para Jombloers.

Gerakan para Jomblo Asean ini termasuk serius. Mereka langsung tancap gas mencari jati diri. Sebuah logo yang cukup elegan sudah dipamerkan di akun twitternya. Bahkan logo itu nantinya bakal disablonkan di atas kaos atau backpack. Wow..

Tapi jangan salah, meski namanya Jomblo Asean tapi followernya tidak seratus persen dari kalangan high quality Jomblo. Lihat saja, ada nama seperti Babeh Helmi yang saya yakin seratus persen bukan Jomblo. Ada juga Mira Sahid yang gerombolan emak-emak yang tentunya juga bukan jomblo. Mereka ada diantara para jombloers bukan karena mengaku-ngaku jomblo atau mau jadi jomblo. Mungkin pengalaman tak menjomblo itu yang bakal diserap. Entah untuk apa dan mengapa ada penyerapan segala.

Tapi siapapun followernya, saya perkirakan Jomblo Asean bakal heits. Karena komplotan orang-orang nekat ini pasti seru dan saru!

Catatan Dari Asean Blogger Festival Indonesia

Selama 4 hari Solo menjadi tuan rumah Festival Blogger Asean / Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) yang digelar tanggal 9-12 Mei 2013. Beruntung saya menjadi salah satu peserta yang hadir di Solo. Saya dan sejumlah blogger Jakarta dan sekitarnya menempuh perjalanan darat menggunakan bis. Event kopdar terbesar ini diiikuti 230 blogger lokal dari seluruh Indonesia serta 20 orang blogger dari sejumlah negara Asean.

Para blogger lokal berasal dari komunitas blogger seperti Benteng Tangerang, BR_ID, kopdar Jakarta, Kompasiana, Blogor Bogor, Blogger Bekasi, Canting Yogya, Blogger Kalimantan, Palu, Medan, Aceh, Bali, NTB. Ada juga independen blogger seperti traveller blogger Agustinus Wijaya, Adam+ Susan dan beberapa nama lain.

Gala Dinner di Loji Gandrung

Gala Dinner di Loji Gandrung

Hari pertama tuan rumah Solo menggelar Gala Dinner, menyambut kehadiran para blogger di rumah dinas Walikota Hadi Rudyatmo, di Loji Gandrung. Di rumah yang indah, berarsitektur art deco, kami disambut tuan rumah dengan hangat. Yang unik among tamunya mengenakan pakaian ala carnival batik solo yang terkenal itu.

Selain blogger, hadir sejumlah tokoh seperti begawan marketing Hermawan Kertajaya, Direktur IT PT.Telkom Indra Utoyo, Dirjen Kerjasama Asean Kementrian Luar Negeri I Gusti Agung Wesaja Puja.

Tuan rumah memang pandai memikat undangan yang hadir dengan menyajikan makanan khas Solo seperti Selat Solo, Gudeg, dan bakmi godhog. Jelajah kuliner tahap pertama pun dimulai. Hehe… Like this yo…

Hermawan Kertajaya in Action

Hermawan Kertajaya in Action

Seminar New Asean (Hari Kedua)
Hari kedua diisi dengan sejumlah sesi seminar dan diskusi. Yang paling menarik adalah paparan begawan marketing dunia Hermawan Kertajaya mengenai the new Asean. Ia memaparkan betapa Asean sesungguhnya punya modal kuat sebagai komunitas yang bakal disegani di dunia. Kekuatan itu bisa dilihat dari kalangan youth, netizen dan women yang terus bertumbuh.

Menurut Hermawan tidak ada kawasan di dunia yang komunitas pengguna internetnya seatraktif Netizen Asean. Mereka tidak hanya menjadi pengguna pasif internet, namun ikut menentukan arah dunia dengan beragam aktivitas sosial berbasis internet. Di masa depan, kawasan ini akan makin maju dengan 3 pilar netizen, youth and women sebagai pemegang kendalinya.

Di sesi hari ini juga digelar lomba live tweet yang seru. Berkat dukungan Telkom dengan wifiID nya, lomba ini berjalan menarik. Bahakan kami berhasil membuat hajatan ABFI di Solo ini sebagai trending topic di twitter.

Fashion Show Blogger Batik

Fashion Show Blogger Batik

Blogger-tik

Ini sesi paling menarik di hari Jum’at, karena melibatkan perwakilan semua negara yang hadir di ABFI, fashion show batik yang dibawakan peragawan dan peragawati handal… Jangan salah, mereka semua adalah para blogger yang membawakan busana batik di atas catwalk dadakan di ruang seminar. Bagi saya tidak penting bagaimana mereka bergaya, tapi spirit kebersamaan dan kerja sama antar negara Asean lah yang patut diacungi jempol.

Mereka bisa menunjukkan bahwa Spirit Asean bisa terwakili dari kerjasama sederhana seperti ini. Dan untuk menuju Asean Community, kerjasama sederhana macam inilah yang diperlukan.

Meski hanya latihan sebentar, bahkan beberapa diantaranya mengaku tidak sempat latihan jalan sama sekali, para blogger tetap kelihatan pede. Apalagi yang mereka kenakan adalah busana yang memiliki nilai histori dan keagungan tinggi bagi bangsa Indonesia.

Satu pelajaran menarik dari fashion show batik ini adalah: Kalau para blogger dari negara luar Indonesia saja bangga berbatik, masak kita sendiri gak bangga juga?

Mangkunegara Performing Arts

Mangkunegara Performing Arts

Mangkunegaran Performing Art
Di malam harinya, kami peserta ABFI mendapat kesempatan menyaksikan Mangkunegaran Performing Arts di pendopo keraton Mangkunegaran. Festival tari tahunan ini merupakan salah satu event budaya unggulan pemkot Solo. Tahun ini digelar selama 2 hari dengan menghadirkan 8 tarian yang jarang dipentaskan kepada publik. Kesemua tari merupakan karya orisinal dari puri Mangkunegaran.

Saya bersama ribuan warga Solo serta turis mancanegara jadi saksi kebesaran budaya keraton Mangkunegaran yang merupakan asset budaya negeri ini. Salut dengan upaya keraton Mangkunegaran yang tetap memelihara kekayaan budaya ini di tengah gempuran budaya barat. Para penari anak-anak umumnya sudah belajar menari di kawasan keraton sejak usia 4-5 tahunan. Merekalah yang kemudian menjadi ujung tombak lestarinya seni adiluhung keraton.

Sesi Breakout

Di hari ketiga, Sabtu pagi para blogger Asean menyampaikan kegiatan di masing-masing negara. Kemudian diikuti breakout session yang bisa dipilih para blogger. Sesi yang dipilih mulai dari traveling blog, food blogging, freedom expression, photography blogging dan action plan blogger asean. Ada dua sesi yang saya ikuti mengenai kekayaan masakan asean serta travel blogging.

Asean food heritage disampaikan Arie Parikesit, pakar makanan anggota komunitas jalan sutra. Arie banyak memaparkan seputar kesamaan kekayaan masakan di kawasan Asean. Meski punya identitas masing-masing, ternyata banyak kesamaan jenis penganan, cara penyajian, serta rasa. Ia memberi contoh seperti Warteg yang populer di Indonesia. Ternyata di Thailand, Singapura, Vietnam maupun Kamboja konsep warteg juga dikenal. Bahkan beberapa masakan sangat kental ‘wartegnya’.

Sementara sesi travel blogging disampaikan blogger Philipina. Ia memaparkan tips dan triknya membangun blog bertema travelling. Bagaimana memaintain blog serta mendapat sokongan pihak lain untuk melancarkan hobbynya jakan-jalan.

Menjenguk Leluhur di Sangiran

Menjenguk Leluhur di Sangiran

Wisata
Siang hari, peserta ABFI dipecah dua kelompok untuk wisata ke candi Sukuh dan museum manusia purba di Sangiran. Saya memilih ikut ke Sangiran lantaran penasaran dengan situs purbakala yang mendunia itu.

Museum Sangiran bisa ditempuh dengan jalan darat sekitar satu jam dari kota Solo. Museum ini memiliki 3 ruang pamer, yang masing-masing berisi sejarah penemuan situs Sangiran, replika tulang-belulang manusia dan hewan masa lalu. Di sini bisa juga disaksikan video terbentuknya bumi.

Menurut saya museum ini adalah tempat yang penting dan berharga. Sayangnya, tampilan museum biasa saja. Kurang komunikatif. Meski ditunjang layar sentuh, namun beberapa sudah rusak. Sementara petugas yang ada di museum tidak semua mengerti isi koleksi museum. Ini pe-er bagi pengelola museum Sangiran di masa depan agar koleksi berharga yang mereka miliki bisa lebih “berbunyi”.

Blogger Tanam 1000 Pohon

Blogger Tanam 1000 Pohon

Sore hari, kami menghadiri kegiatan tanam seribu pohon yang digelar di sisi Bengawan Solo. Kawasan ini semula adalah pemukiman padat di sisi sungai yang kerap kebanjiran. Setelah dilakukan persuasi, akhirnya mereka berhasil dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Kawasan yang kami datangi adalah kawasan ketiga yang kini disulap menjadi urban forest. Di kawasan bekas pemukiman itu kini menjelma jadi taman bermain, tempat melepas penat dengan view Bengawan Solo.

Para blogger juga ikut menanam sejumlah pohon sebagai simbolisasi penghutanan kawasan ini. Meski dilakukan secara simbolik, namun kegiatan ini sarat makna akan perhatian para blogger pada keberlangsungan lingkungan hidup. Diharapkan sekitar 5 tahunan kawasan ini bakal menjelma menjadi hutan kota yang rindang.

Malamnya, sebagian peserta diajak panitia mencicipi asyiknya berwisata malam dengan menggunakan bis tingkat (double decker) bernama Werkudara. Sebuah tawaran menarik sebenarnya, karena membangkitkan nostalgia masa kecil dulu saat kerap bepergian dengan bis serupa di Jakarta. Sayangnya saya tak bisa bergabung lantaran kelelahan seharian beraktivitas.

Naik Kereta Uap Jaladara

Naik Kereta Uap Jaladara

Wisata Kereta uap dan keraton
D hari terakhir, pagi-pagi sekali saya ikut menyusuri kawasan jalan utama Slamet Riyadi mencicipi keriuhan hari tanpa kendaraan alias Car Free Day. Sembari berjalan kaki, saya bisa menyaksikan kegairahan warga kota batik ini meluapkan ekspresinya. Ada yang senam tai chi, senam eskaje, atraksi musik etnis, serta tentunya berjualan aneka jajanan khas Solo. Yummy….

Usai Jalan kaki di area CFD, saya ikut wisata kereta uap Jaladara bersama para blogger. Kesempatan langka nih, karena kereta uap hanya dioperasikan berdasarkan pesanan. Perjalanan dimulai dari stasiun Purwosari menuju stasiun Solo Kota. Jarak 6 km ini mestinya bisa ditempuh sekitar 15-an menit. Namun KA sempat terhambat dan berhenti di jalan Slamet Riyadi karena dibarengkan dengan kirab piala Wahana Tata Nugraha yang baru diterima pemkot Solo dari pemerintah pusat sebagai kota dengan pengelolaan transportasi kota yang baik.

Acara ABFI kemudian ditutup dengan kunjungan ke keraton Solo. GKR Koes Murtiyah menyambut rombongan blogger di pendopo keraton.

Usai sudah hajatan 3 hari di Solo. Terlepas dari berbagai kekurangan yang terlihat di sana-sini, saya mengapresiasi kerja panitia yang berupaya memberikan yang terbaik kepada blogger yang hadir. Bukan sebuah kerja yang mudah menyatukan kepala banyak komunitas dan negara dalam sebuah event yang padat seperti ABFI.

Bravo Bloggers Asean . See u in Brunei Darussalam.

Meneguhkan Sikap #AntiMiras

Ini adalah kisah yang saya alami langsung di masa kecil. Saat itu usia saya kalau tak salah ingat sekitar 11 atau 12 tahun. Saya tinggal di kawasan padat penduduk di Kebayoran Lama Jakarta Selatan, di mana banyak persoalan sosial yang tersaji langsung di hadapan saya dan teman-teman kecil saya secara langsung.

Dan minuman keras adalah salah satu persoalan yang kami hadapi saat itu. Sebagai anak-anak tidak banyak yang bisa kami lakukan. Mekanisme menolak kami masih dalam level yang sangat rendah. Begitu pula yang terjadi pada Teman-teman seusia saya saat itu pun tak punya daya tolak terhadap tawaran miras. Alasannya demi dianggap sudah gede, biar keren kayak artis hollywood mereka pun bertualang dengan minuman keras di usia yang sangat dini. Seingat saya, teman-teman mulai mengkonsumsi dari kelas anggur cap orang tua. Saya sendiri tak tahu pasti darimana teman-teman mendapat minuman yang mestinya untuk orang dewasa itu.

Saya akhirnya memilih menyingkir, tidak mau mencoba-coba, apalagi menyentuhnya. Bagi saya batasan yang dibuat agama saya dan diajarkan kedua ortu dan guru ngaji sudah begitu tegas dan tak bisa dilanggar. Saya akui pemahaman saya mengenai bahaya miras memang masih abstrak. Yang saya tahu miras itu dilarang agama, titik.

Memilih berkata “tidak” pada komunitas teman dekat tentu beresiko. Saya pelan-pelan menepi, keluar dari pergaulan teman-teman kecil saya. Berbagai ejekan bernada melecehkan kerap dilekatkan pada diri saya. Saya dibilang banci lah, gak macho lah. Pokoknya banyak atribut disematkan pada diri saya karena enggan bermiras ria.

Beruntung saya punya komunitas teman bermain lain yang tak kalah asyiknya saat itu yakni teman sekolah. Dengan teman-teman sekolah, saya kemudian menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan, mulai dari kepramukaan, Osis maupun baris-berbaris. Hasilnya, saya beberapa kali ikut berkontribusi mengharumkan nama sekolah dalam berbagai event kejuaraan antar sekolah di Jakarta.

Saat itu saya punya tekad kuat bakal membuktikan pada kawan-kawan tak perlu ikut-ikutan menenggak miras atau minol (minuman beralkohol) untuk bisa diakui dalam peer group kita. Saya memilih jalur prestasi untuk mendapat pengakuan itu.

Pilihan saya itu ternyata tak salah, karena teman-teman masa kecil saya kemudian satu persatu kacau kehidupannya. Pengaruh alkohol membuat minat belajar tak ada, mereka kemudian putus sekolah di usia muda. Jalan hidup mereka kemudian seperti bisa ditebak, banyak yang jadi pengangguran, lontang-lantung tak ada aktivitas berarti.

Kriminalitas akhirnya jadi sahabat mereka sehari-hari. Jika tak punya uang untuk ‘minum’ jalan pintasnya adalah mencuri. Kriminalitas jadi lekat pada mereka yang kerap mengkonsumsi miras.

Belakangan saya kurang tahu pasti bagaimana masa tua kawan-kawan saya tadi, sebab kami sekeluarga kemudian pindah rumah dari kampung tersebut. Bapak saya menilai lingkungan kampung itu sudah tidak sehat lagi untuk tumbuh kembang kami sekeluarga. Alhamdulillah keputusan itu saya nilai tepat di kemudian hari.

Kisah lain lagi juga pernah saya alami saat kuliah di kota Bandung. Saya sempat kost dalam satu rumah dengan seorang kawan yang sebelumnya sempat lama tinggal di Papua. Dia mengaku akrab dengan miras sejak tinggal di Papua. Bahkan menurut pengakuannya dia mengakrabi miras sejak Smp. Karena lingkungan bergaulnya peminum, iapun terbentuk menjadi seorang peminum pula. Meski seorang muslim, ia tak bisa lepas dari miras karena sudah menjadi bàgian dari gaya hidupnya.

Di Bandung ia memperlihatkan betapa alkohol telah menjadi berhala. Ia tak bisa konsentrasi belajar jika tak menenggak miras. Begitu pula saat ujian. Ia kerap membawa sebotol miras dalam tas dan menenggaknya di kantin sebelum ujian dimulai. Menurutnya, itu bisa menambah kepercayaan diri. Sebuah alasan yang menurut saya aneh! Logika berfikir yang sesat.

Karena sudah berteman dengan alkohol, teman saya pernah suatu kali ‘terpaksa’ mengutil sebotol miras dari sebuah swalayan. Ini ia lakukan lantaran tak punya uang, sementara keinginan ‘minumnya’ sudah diubun-ubun.

Apa yang saya utarakan diatas menunjukkan bahwa minuman keras jika dikonsumsi berkala akan membangun kesadaran di benak penggunanya secara terus menerus sehingga dapat menyebabkan kecanduan. Ia tak akan bisa melepaskan diri dari jerat miras karena alkohol mempengaruhi sirkulasi berfikir otak manusia.

Kalau mekanisme menolak cukup kuat seperti yang pernah saya lakukan, mungkin tidak akan banyak orang yang mabuk di luar sana. Tapi coba hitung berapa banyak abege yang mampu dan mau menolak dipinggirkan dari peer groupnya? Perasaan tersingkir dari kelompok adalah masalah besar bagi remaja. Dalam kasus yang saya alami, beruntung saya bisa mencari pelampiasan dan teman baru di sekolah untuk mengobati rasa tersisih dari pergaulan di lingkungan rumah. Tapi berapa banyak yang bisa seperti itu?

Karenanya, saya amat tidak setuju jika minuman keras dibiarkan secara terbuka peredarannya seperti yang kita lihat sekarang di ibukota. Begitu mudahnya anak-anak tanggung membeli miras tanpa ada ketentuan apapun soal batasan usia. Bagi produsen atau pihak toko yang hanya peduli soal keuntungan bisnis, mereka pasti acuh soal ini. Mungkin mereka berpendapat yang penting mereka bisa bayar, selesai!

Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Sikap ini jelas menunjukkan ada yang salah dari mindset masyarakat kita. Sama dengan persoalan yang kerap kita lihat di bioskop. Meski memutar film untuk dewasa namun pihak bioskop tak menyeleksi dengan ketat anak di bawah umur yang menonton film dewasa.

Contoh yang saya paparkan di atas juga sekaligus membuktikan masih rendahnya kesadaran masyarakat kita terhadap bahaya konsumsi miras. Masyarakat belum mempunyai action plan yang jelas terkait persoalan miras. Beda misalnya dengan persoalan narkoba yang jadi musuh bersama sehingga pemerintah pun perlu membuat badan tersendiri anti narkotiba (BNN).

Itu mengapa tak banyak warga masyarakat yang peduli dengan menjamurnya tempat-tempat nongkrong anak muda yang menjajakan miras secara bebas. Padahal justru dari tempat tersebut biasanya anak muda berkenalan dengan miras.

Oya, ada yang menuding gerakan anti miras sebagai persoalan yang khas bagi warga muslim saja. Padahal tidak sepenuhnya benar. Memang dalam Islam miras atau minuman beralkohol dikategorikan sebagai minuman yang dilarang (haram). Namun pengharaman jenis minuman ini karena ada dasarnya yang cukup kuat, yakni miras bisa memabukkan.

Dan persoalan mabuk tidak hanya dilihat dari kacamata satu agama Islam saja, namun semua agama dan keyakinan pastinya kontra dengan efek yang ditimbulkan miras. Efek merugikan orang lain, bahkan bisa menyebabkan kematian diri sendiri dan orang lain.

Ada beberapa fakta terkait miras yang mesti jadi perhatian kita bersama:
1. Miras menjadi salah satu penyebab terjadinya kasus kecelakaan di jalan raya? Biasanya kecelakaan terjadi akibat pengemudi mabuk usai minum minuman keras? Ingat kasus Afriani Susanti, yang menabrak 12 pejalan kaki dengan 9 diantaranya tewas di kawasan Gambir Jakarta Pusat. Kasus ini diduga terjadi setelah Afriani tak bisa mengendalikan mobilnya akibat pengaruh alkohol.

Kasus lain menimpa Novi Amelia, yang menabrak 7 orang sekaligus di kawasan Jakarta kota. Ini juga akibat menyetir dalam kondisi mabuk. Bahkan Novi saat menabrak para korbannya hanya mengenakan pakaian dalam saja tanpa risih sedikitpun. Pengaruh alkohol ternyata begitu menguasai Novi sehingga menghilangkan batas kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya.

3. Selain mabuk, miras menurut berbagai sumber juga menjadi penyebab munculnya penyakit di dalam tubuh manusia. Konsumsi alkohol yang banyak dapat menyebabkan korban mengalami sakit kepala, mual, muntah serta nyeri pada bagian tubuh tertentu.

4. Minuman beralkohol juga dapat menyebabkan berat badan penggunanya naik, karena pada umumnya minuman beralkohol memiliki kadar kalori dan gula yang tinggi. Mitos bahwa menggunakan miras bisa membuat badan langsing dengan sendirinya gugur. Tak benar tuh diet dengan miras!

5. Alkohol juga merupakan pemicu tekanan darah. Zat-zat yang terkandung di dalam alkohol jika dikonsumsi berlebihan bisa memicu naiknya tekanan darah penggunanya.

6. Minum miras juga dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun. Artinya, dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, maka tubuh anda akan mudah terserang penyakit.

7. Semakin sering dan banyak jumlah alkohol yang dikonsumsi, maka semakin besar pula resiko terjangkit kanker, penyakit jantung, gangguan pernafasan dan gangguan pada organ hati.

Masyarakat Abai

Selain bahaya bagi kesehatan, hal yang perlu diperketat adalah peredarannya. Peredaran miras (khususnya di kota besar) sudah sangat mengkhawatirkan. Jika tak ditata dan diperketat, pengguna miras akan makin muda usianya. Sekarang saja anak-anak muda makin mudah memeperoleh miras di tempat-tempat nongkrong ibukota yang letaknya dekat dengan perumahan. Tempat yang semula dijadikan meeting point anak muda itu kini identik dengan kemudahan akses terhadap miras.

Rak-rak di toko tersebut bahkan tak memberi batasan khusus antara minuman ringan dengan minuman keras. Semua terpajang (terdisplay) sejajar, nyaris tak ada beda. Bahkan beberapa merk miras saya perhatikan memiliki desain botol yang menarik dan membuat konsumen dibawah umur mudah menjangkaunya.

Sekedar usulan bagi pebisnis ritel, pisahkan konter minuman ringan dan minuman keras. Lebih baik konter miras berada di area kasir, sehingga jika ada anak dibawah umur yang membelinya bisa dicegah atau ditolak.

Pihak toko juga mesti membekali pengetahuan petugas penjaga toko terhadap bahaya miras, khususnya bahaya bagi anak di bawah umur. Ini perlu dilakukan agar mereka berani berargumen dengan pembeli anak-anak yang memaksa membeli miras. Ketegasan sikap ini menurut saya jauh lebih penting dari sekedar keuntungan bisnis.

Sebagai pebisnis memang hak mereka mengeruk keuntungan dari konsumen. Tapi apakah mereka tega jika salah satu konsumen miras itu adalah anak mereka sendiri?

Karena itu menolak miras diperdagangkan secara bebas bagi anak dibawah umur itu adalah sikap. Dan sikap ini akan menunjukkan sejauh mana kita peduli pada nasib bangsa ini. Tentunya kita tak ingin kehilangan satu generasi anak bangsa hanya lantaran mereka dijajah miras.

Butuh Ketegasan Pemerintah

Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah selaku pemangku kebijakan dalam hal ini? Berikut yang menurut saya penting dilakukan pemerintah:
1. Batasi peredaran miras.
Membatasi peredaran miras dengan hanya membolehkan penjualannya di kawasan tertentu saja, misalnya hanya bisa dijumpai di tempat hiburan malam, cafe, atau sejenisnya. Kalaupun peritel harus menjual miras, mesti ada syarat ketat, misalnya hanya boleh peritel kelas tertentu yang letaknya tudak berdekatan dengan pemukiman ataupun tempat nongkrong anak muda. Kalaupun di tempat retail umum, miras diletakkan di sebuah lemari kaca khusus yang hanya bisa diakses oleh pembeli dewasa saja. Meletakkan miras di rak sembarang akan mempermudah kalangan yang tak seharusnya menjangkaunya.

2. Perketat Syarat Pemilikan Miras
Selain membatasi peredaran, pembelian miras pun mesti dibatasi dengan syarat umur. Misalnya hanya mereka yang berusia dewasa, diatas 18 tahun keatas. Jika penjual meragukan usia pembeli, wajib bagi mereka meminta pembeli menunjukkan tanda pengenal resmi untuk melihat usia pembeli. Penjual tak perlu takut kehilangan rejeki. Toh pembeli anak/remaja sesungguhnya bukanlah kalangan yang potensial sebagai konsumen.

3. Naikkan Pajak Impor Miras
Untuk membatasi peredaran miras juga bisa dilakukan dengan menaikkan pajak impor miras sehingga nantinya berakibat tingginya harga sebotol miras. Tingginya harga miras bisa mencegah atau menyeleksi secara ketat penggunanya. Sehingga orang akan berfikir sekian kali untuk menenggak miras karena harganya yang sangat mahal.

4. Bentuk Lembaga Anti Miras
Sebuah lembaga independen yang mengawasi peredaran serta penyalahgunaan miras mendesak dibentuk mengingat peredaran miras makin merajalela. Efeknya pun sudah menyentuh ke banyak kalangan, bahkan mereka yang berusia muda. Lembaga semacam BNN di bidang pengawasan narkoba itu, nantinya diharapkan bisa efektif mengkampanyekan kehidupan yang bersih anti miras. Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana lembaga semacam ini nantinya efektif dan dihormati pihak-pihak terkait.

Lembaga ini nantinya juga harus secara rutin masuk ke kantong-kantong anak muda mengadvokasi bahaya konsumsi miras bagi kesehatan. Tentunya hal ini dilakukan dengan cara-cara anak muda yang menarik kegiatannya dalam balutan dinamika khas anak muda.

Advokasi juga tidak melulu ditujukan bagi anak muda, namun juga masyarakat secara luas untuk menyatukan pandangan bahwa miras itu berbahaya, bahwa peredaran miras itu perlu diatur, diperketat dan dijauhkan dari usia yang belum sepatutnya.

5. Publikasi Anti Miras
Ini juga yang selama ini masih kurang. Publikasi anti miras perlu lebih digalakkan, agar gerakan ini makin masif, makin menular ke semua kalangan. Gunakan semua media yang ada, entah itu media mainstream maupun media sosial. Kampanye komunikasi yang cerdas melalui media lintas platform bukan saja lebih mudah dan murah, namun hasilnya pun bisa dituai lebih cepat.

Konsep kampanye anti mirasnya bukan sekedar menggurui, melarang atau menolak. Namun berikan contoh-contoh nyata betapa ruginya menggunakan miras, bahayanya mengkonsumsi miras bagi kesehatan maupun bagi orang lain di sekitar kita. Tujuannya bukan menakut-nakuti namun lebih kepada penyadaran.

6. Ajak tokoh Publik
Melibatkan tokoh publik dalam gerakan ini juga dimungkinkan. Sebagai kalangan yang dikenal publik secara luas, diharapkan tujuan sosialisasi gerakan ini akan makin mudah sampai ke publik. Tentunya tokoh publik yang diajak dalam kampanye ini adalah mereka yang dikenal tak menggunakan miras dan concern pada pengembangan kemanusiaan.

Tidak mudah memang menjalankan sebuah amanah sosial semacam gerakan anti miras. Namun tak ada perjuangan yang tak membutuhkan keringat, dan tak ada keberhasilan tanpa sebuah perjuangan. Saya yakin dengan bahu-membahu, kita bisa menjadikan anti miras bukan lagi sebagai wacana namun gerakan nyata yang memiliki action plan yang jelas.

Bermimpi untuk Indonesia yang lebih baik bisa melalui pembenahan generasi anti miras. Mari kita teguhkan sikap anti miras dengan gerakan nyata yang damai. Dan ingat, jangan pernah lakukan gerakan sosial semacam ini dengan anarkis. Rangkul sebanyak mungkin kalangan demi terciptanya sebuah masyarakat anti miras.

Sudahkah anda #AntiMiras ?

Setelah Multiply Tutup, Bagaimana Nasib Online Store?

Logo Multiply, Tinggal kenangan

Logo Multiply, Tinggal kenangan

Manajemen Multiply, akhirnya mengeluarkan kebijakan mengejutkan, per 6 Mei mendatang akan menutup layanan Multiply marketplace alias lapak jualan online yang selama ini mereka operasikan di Indonesia dan Filipina. Ini adalah kali kedua manajemen MP melakukan revisi bisnisnya.

Sebelum ini mereka juga menutup layanan blog Multiply yang sudah melambungkan nama Multiply sebagai salah satu platform blog yang digemari di dunia. Saat itu reaksi para MP-ers beragam, namun intinya menyesalkan penutupan platform blognya.

Migrasi akhirnya jadi pilihan sulit mereka yang sudah ‘karatan’ di MP. Blog para MP-ers pun menyebar ke berbagai platform. Bagi beberapa orang yang punya ‘rumah’ baru mungkin jadi berasa aneh karena platform blog di luar MP sangat beda. Intensitas interaksi yang terjadi di rumah baru tak seasyik dan seguyup MP.

Saat itu saya termasuk yang sempat mempertanyakan alasan penutupan itu. Menurunnya kinerja MP dalam beberapa tahun terakhir adalah akibat strategi bisnis mereka manajemen MP yag kurang tanggap dengan dinamika dunia online yang cepat berubah. Masuknya pendatang baru seperti Facebook maupun twitter yang sangat agresif sepertinya ‘lupa’ mereka antisipasi. Tampilan Blog MP saat itu begitu konservatif dan seadanya. Padahal pemain lain seperti WordPress terus berbenah dan mempercantik tampilannya.

Diusirnya para blogger MP dari rumah mereka dan menggantikannya dengan marketplace atau lapak jualan online mereka canangkan sebagai upaya memperbaiki kinerja MP. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata pertumbuhan platform marketplace itu tak sesuai harapan manajemen. Bisa jadi manajemen MP salah mengantisipasi pasar Indonesia dan Filipina. Meski secara jumlah penduduk Indonesia merupakan negeri yang paling banyak penduduknya di asia pasifik, namun itu bukan jaminan bisnis online akan leading.

Stefan Magdalinski, CEO MP mengaku dalam satu tahun terakhir sejak mereka concern di marketplace mereka sudah berupaya membuat banyak terobosan untuk menjadi leader di kawasan ini. Sayangnya mereka harus menghadapi kenyataan kinerja MP lagi-lagi tak sesuai harapan. Dan puncaknya Mei ini adalah bulan terakhir keberadaan marketplace MP.

Meski terpuruk, Stefan meyakinkan bagi para penjual dan pembeli yang sudah bertransaksi melalui MP akan dijamin hak-haknya hingga selesai. Tampaknya keputusan ini diambil agar tak terjadi gejolak dan gugatan hukum di kemudian hari. Sebuah solusi win-win.

Menurut saya kesalahan terbesar MP adalah memasuki lahan yang bukan core bisnisnya. Mestinya, MP sebagai jejaring sosial dikembangkan atau dirombak, karena terbukti punya pengguna fanatik di Indonesia. Dan terbukti menutup blog MP ternyata adalah awal kejatuhan MP sendiri.

Jika mereka berniat menguasai pasar situs marketplace di Indonesia mengapa tak mengcreate situs baru karena resiko tentunya berbeda jika dibandingkan mengamputasi blog MP.

Meski gagal di Multiply, bukan berarti Naspers selaku pemilik saham ‘habis’. Kabarnya kepemilikan saham Naspers di tokobagus.com ditingkatkan karena konon lebih menguntungkan. Rontoknya MP bakal jadi mimpi buruk bagi para pemain di bisnis online.

Lalu apakah bisnis online masih cukup cerah di masa depan? Prediksi saya masih, karena media online terus tumbuh. Kejelian menggunakan platform ataupun media online akan jadi kunci sukses bermain di bisnis online.

Bagaimana, masih percaya bisnis online? Sundul gan….

Jangan Gamang Menuju Asean Community 2015

Hermawan Kertajaya in action/ foto: SS

Hermawan Kertajaya in action/ foto: SS


Komunitas Asean atau lebih dikenal sebagai Asean Community kurang dari 2 tahun lagi bakal diresmikan. Apa dan mengapa mengenai rumah bersama warga di kawasan Asia Tenggara ini sudah kerap didengungkan, namun sosialisasinya tampaknya perlu terus digenjot. Setidaknya ini yang menjadi concern sejumlah pembicara dalam pre event Asian Blogger Festival Indonesia, sabtu lalu di Jakarta (20 April 2013).

Suhu marketing Hermawan Kertajaya yang menjadi salah satu pembicara misalnya, menengarai masih ada kegamangan banyak pihak mengenai gagasan Asean Community yang bakal diterapkan di tahun 2015. Kegamangan itu terlihat dari suara sumbang yang mengkhawatirkan dimana posisi Indonesia pada saat pemberlakuan rumah bersama Asean itu. Apakah benar kita akan bisa memainkan peran strategis, ataukah kita hanya (lagi-lagi) menjadi penonton di pojokan?

Padahal menurut Hermawan tak ada yang perlu ditakutkan dengan Asean Community, karena sesungguhnya Indonesia memiliki ‘modal’ yang cukup kokoh untuk bisa ‘bermain’. Sembari memaparkan sejumlah hasil riset yang dilakukan MarkPlus, Hermawan mengatakan Indonesia harus optimis dengan era baru Asean tersebut. Karena di negeri ini punya modal besar generasi baru yang bisa memainkan peran cukup signifikan di dunia yang tengah berubah ini.

Hermawan menyebut Youth, women, and netizen sebagai 3 pilar perubahan di masa depan, khususnya di era baru Asean Community nantinya. Saat ini bertumbuhnya kalangan kelas menengah banyak disokong oleh mereka yang berusia muda, perempuan dan yang sangat peduli pada dunia maya. Perubahan cepat yang terjadi secara sosial ekonomi juga banyak disokong ketiga pilar tersebut. Seperti di bidang Usaha Kecil Menengah, perempuan termasuk kalangan yang tangguh dalam wirausaha.

Sehingga jika sebelumnya youth, women, dan netizen menjadi minoritas, kini seiring berkembangnya media sosial, ketiga pilar itu menjadi mayoritas.
Mereka membawa dampak positif bagi perkembangan demokrasi secara keseluruhan.

Ia juga meminta blogger dan para penggiat dunia maya untuk lebih aktif lagi mensosialisasikan keberadaan Asean Community. Karena Hermawan melihat posisi blogger lah yang paling memungkinkan masuk ke segala kalangan tanpa birokrasi. Blogger bisa masuk dengan pesan-pesan membangun yang positif agar Indonesia bisa memainkan peran strategisnya.

Blogger Indonesia menurut Hermawan adalah blogger yang jauh lebih beruntung dibandinkan blogger dari negara Asean lainnya. Karena iklim demokrasi yang ada di Indonesia memberinya kesempatan jauh lebih luas dan bebas menyuarakan pendapat. Ini berbeda dari negeri tetangga yang masih memagari kegiatan dunia maya.

Oleh karena itu Hermawan meminta tak perlu gamang menghadapi Asean Community karena bakal banyak keuntungan yang bakal didapat Indonesia. Lebih baik mengeliminir energi negatif dan memaksimalkan energi positif menuju era 2015 mendatang.

Pra event Asean Blogger Festival ini diikuti para blogger yang datang dari berbagai komunitas dan kota. Sementara menurut rencana ABFI akan digelar medio Mei di kota Solo, Jawa Tengah, yang akan diikuti oleh blogger dari sejumlah negara Asean.

[Harmoni Indonesiaku-tokoOn.com] From Taman Mini Menembus Dunia

banner

Rasanya di Indonesia tak ada yang tak mengenal nama Taman Mini Indonesia Indah, minimal pernah mendengar namanya lah. Sebagai wahana rekreasi, Taman Mini memang tak ada duanya. Selama 38 tahun keberadaannya, Taman Mini membuktikan makin mengukuhkan kehadirannya sebagai museum terbesar di negeri ini.

Tak ada satupun tempat rekreasi yang mampu menandingi keberagaman koleksi Taman Mini. Disini selain anjungan semua propinsi di tanah air, kita juga bisa temukan keong Emas yang merupakan teater Imax pertama di Indonesia, danau archipelago yang berisi replika pulau-pulau di indonesia, hingga aneka museum yang tersebar di seantero taman mini.

Beruntung saya bisa kembali mengunjungi Taman Mini hari ini. Kalau dulu hanya untuk berekreasi bersama keluarga, kali ini datang untuk merasakan langsung koneksi internet Indosat super wifi. Seperti diketahui Taman Mini adalah salah satu fasilitas publik yang dijadikan spot super wifi oleh Indosat. Dan ini sejalan dengan mimpi Taman Mini ke depan yang akan mengembangkan diri sebagai cyber park terbesar di Indonesia.

Namun rupanya selain kekayaan budaya yang tersimpan di anjungan-anjungan propinsi, Taman mini sesungguhnya menyimpan pula kekayaan potensi usaha kecil menengah (UKM) yang merupakan kebanggaan negeri ini. Kerajinan rakyat hasil produksi perusahaan level UKM itu bisa dijumpai hampir di semua anjungan propinsi.

Kerajinan Yogyakarta

Beragam Kerajinan Yogyakarta/Foto:SS

Di anjungan Yogyakarta misalnya, saya menemukan aneka kerajinan yang bisa digunakan sebagai buah tangan seperti miniatur kendaraan dari kayu, sandal lucu, bingkai foto, wayang, hingga boneka ‘barbie’ jawa.

Selain yang saya sebutkan, Yogyakarta sebenarnya juga memiliki banyak kerajinan khas lainnya, meski tak semua bisa ditampilkan di anjungannya. Seperti kerajinan perak Kotagede atau keramik Kasongan yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Belum lagi kekayaan warisan kulinernya seperti Gudeg, bakpia, hingga oleh-oleh seperti kembang gula.

Kerajinan Jawa Timur

Aneka Kerajinan Jawa Timur/ Foto:SS

Sementara di anjungan Jawa Timur, sejumlah kabupaten juga memamerkan aneka kerajinan khas yang jadi andalan. Seperti tas dari Gresik, sepatu dari Jombang, kerajinan keramik dari Malang. Di sini juga ada batik-batik keren dari Madura. Corak batiknya tak kalah bagus dari batik Solo, Yogya maupun Pekalongan.

Kerajinan Jawa Tengah

Kerajinan-kerajinan Jawa Tengah/foto: SS

Sedangkan di anjungan Jawa Tengah, selain replika candi Prambanan dan Borobudur, saya juga menemukan aneka kerajinan seperti miniatur perkusi, tas yang terbuat dari eceng gondok, batik-batik menawan dari Solo, Batang maupun Pekalongan, serta kerajinan berbahan dasar kayu. Keren-keren dan pastinya punya pasar tersendiri.

Apa yang ditampilkan di semua anjungan tadi adalah kekayaan Budaya yang mestinya bisa dinikmati lebih banyak kalangan. Sayangnya dari hasil penelusuran singkat tadi, saya mendapati adanya persoalan pemasaran yang dihadapi para pengrajin. Mereka mengaku sulit memasarkan hasil karyanya jika hanya mengandalkan penjualan lewat display di anjungan taman mini.

Karena sebagai tempat rekreasi Taman Mini memiliki keterbatasan dalam persoalan tempat usaha serta interaksi optimal antar penjaja dengan calon pembeli. Pembeli hanya bisa melakukan transaksi di saat-saat tertentu saja. Ada “gab” waktu dan tempat yang tak bisa mereka elakkan.

Para pelaku UKM di bidang kerajinan mestinya bisa melakukan terobosan marketing dengan mengoptimalkan teknologi informasi. Mereka harus meninggalkan cara berjualan gaya lama yang hanya memajang produk di toko, konvergensi menjadi kunci. Perpaduan online dan offline adalah cara berjualan yang jitu. Sebab berjualan itu butuh taktik.

Selain menjual di toko fisik, sudah seharusnya kalangan pelaku UKM juga memasarkan produknya lebih massal melalui internet. Karena penjualan online bisa menjangkau pasar lebih luas dan tidak membutuhkan biaya promosi yang besar. Asal kreatif, mereka dapat meningkatkan penjualan dengan low budget demi mendapat hasil maksimal.

Portal E-commerce TokoOn.com

Portal E-commerce TokoOn.com

Disinilah letak pentingnya keberadaan portal e-commerce seperti tokoOn.com. Di tokoOn, merchant bisa melakukan transaksi setiap saat, 24 jam sehari. Bahkan display barang-barangnya pun bisa dibuat lebih menarik dan tidak membosankan.

TokoOn menawarkan cara berbelanja yang nyaman dan aman. Nyaman karena merchant yang berjualan memberikan informasi yang detil mengenai produk yang dijual kepada calon pembeli. Sistem pembayaran transaksi beragam yang dijamin keamanannya. Dan yang lebih penting TokoOn memberi jaminan proses pengiriman barang terpantau dari awal hingga sampai ke tangan pembeli.

Karena menggunakan internet, daya jelajah tokoOn pastinya melebihi toko yang ada di anjungan Taman Mini. Produk kerajinan di anjungan Taman Mini yang semula hanya bisa dinikmati pengunjung saja, nantinya dengan bantuan TokoOn bakal mendunia dengan cepatnya.

Go Global, menjangkau dunia pastinya bukan lagi impian. Karena TokoOn, sesuai mottonya adalah Toko Online yang memberi kenyamanan serta keamanan bertransaksi.

Akun Twitter SBY Jadi Isu Nasional

Dua akun berbeda tapi senafas, akun twitter SBY dan Obama

Dua akun berbeda tapi senafas, akun twitter SBY dan Obama


Timeline twitter dan wall Facebook beberapa hari terakhir ini riuh dengan ‘ulah’ presiden SBY yang mengumumkan akun twitternya. Hingga malam ini, lebih dari 640 ribu follower SBY di twitter. Tidak ada yang salah memang dengan masuknya orang nomer satu di Indonesia itu ke ranah socmed berlambang burung berkicau twitter. Adalah hak SBY sebagai pribadi maupun sebagai kepala negara menggunakan saluran komunikasi apapun, mainstream media maupun social media.

SBY jelas bukan yang pertama di jajaran kabinet Indonesia Bersatu jilid dua yang bertwitter. Sebelumnya tercatat sejumlah nama menteri di bawah SBY sudah eksis lebih dulu di twitter, seperti @tifsembiring yang merupakan akun milik Menkominfo Tiffatul Sembiring. Bahkan pak Tif kerap jadi becandaan di twitterland karena sempat samgat aktif di ranah twitter.

SBY juga bukan kepala negara pertama yang bertwitter. Sebelumnya sudah ada Barack Obama, presiden Amerika Serikat. Obama bahkan punya 29.8 juta follower di twitter dengan jumlah 9 ribuan kicauan. Akun milik Obama dimaintain oleh staf kepresidenan di gedung putih sana. Dalam bio akun Obama dinyatakan, twit memang tidak semua datang dari Obama secara langsung. Namun kalau Obama langsung ‘berkicau’ akan ada tanda -bo yang merupakan kependekan nama Barack Obama.

Di Indonesia, SBY tampaknya sangat mengidolakan Obama. Lihat saja halaman profil akun @SBYudhoyono yang mirip dengan halaman profil Obama. Foto latar belakang pic profile SBY suka tidak suka adalah sama dan sebangun dengan angle foto di akun Obama yang sedang salaman dengan warga pendukungnya. Kesamaan lain ada pada Bio akun SBY. Di situ juga tertulis bahwa akun twitter itu dijalankan oleh staf kepresidenan, sementara twit yang berasalah dari RI-1 ditulis dengan kode ‘SBY’ diujung kicauan. Bukan hastag tapi kode yang mirip dengan -bo milik Obama.

Saya tak hendak membahas lebih dalam soal kemiripan akun twitter SBY dengan Obama. Toh kemiripan itu hanya sebatas tampilan yang tentunya berujuang pada pencitraan.

Saya hanya peduli pada apakah SBY akan konsisten bersocial media? Apakah ini bukan hanya gaya-gayaan semata. Atau bahasa kerennya biar dianggap gaul? Karena social media sangat berbeda habitatnya dengan media konvensional yang searah.

Di social media, sekalinya kita salah memposting kicauan, jangan kaget jika bakal menuai kecaman, cercaan, bahkan hinaan. Pendek kata bersiaplah dibully berjamaah oleh warga twitter. Kejam? Bukan. Tapi itulah sifat dari interaksi sekejap yang ada di social media. Tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapat reaksi.

Saya juga sempat berfikir apakah twitter akan digunakan oleh SBY untuk ‘memasarkan’ jagoannya dalam Pilpres mendatang. Ini menarik, karena selama ini twitter terlanjur dianggap sebagai sarana efektif yang murah dan cepat untuk berpromosi. Apakah SBY akan mempromosikan tokoh-tokoh terbaik di negeri ini sebagai penggantinya? Ataukah hanya ‘menjajakan’ besan, anak, atau anggota keluarganya yang lain? Semoga bukan yang terakhir.

Satu lagi, apakah SBY atau stafnya akan meladeni banyak berita miring yang dialamatkan kepadanya melalui twitter? Ini yang menarik. Jika hanya menampung kritik tanpa pernah menjawab kritik, publik twitter pasti akan kecewa karena akun ini tak dimanfaatkan dengan baik sebagai sarana berkomunikasi dua arah. Sepahit apapun serangan (kalau ada) dari lawan politik atau siapapin mesti disikapi dengan bijak. Jangan mudah terbawa arus untuk ‘nyampah’ di twitterland, tapi juga jangan diam seribu bahasa seolah tak menganggap penting twit dari follower.

Terakhir, kira-kira presiden ikutan galau juga gak ya di twitter? Hehehe…. Tapi apapun itu, sugeng rawuh pak Beye ning Twitter.

@syai_fuddin

*postingan ini jadi HL di Kompasiana dan dimuat di Kompasiana Freez, Kompas cetak edisi 17 April 2013