Ceng Beng 2016 di Pangkalpinang (foto dokpri)

Ceng Beng 2016 di Pangkalpinang (foto dokpri)

Ceng Beng atau Qing Ming adalah sembahyang kubur dalam tradisi Tionghoa. Bagi saya yang muslim mungkin sama dengan ziarah kubur. Mereka yang mengikuti tradisi ini berziarah ke makam leluhur, bisa orang tua, kakek, buyut atau siapapun yang dituakan. Tujuannya adalah menghormati mereka yang sudah tiada, mengingatnya dan berharap mereka yang sudah tiada beroleh kelapangan di alam kubur.

Tahun ini saya hadir di Festival Ceng Beng 2016 yang diadakan di kota Pangkalpinang, Bangka Belitung. Sungguh sebuah pengalaman berkesan mempelajari budaya lain memperkaya khasanah pengetahuan, menghargai keragaman dan mencintai kehidupan.

Butuh stamina khusus dan mampu mengalahkan rasa kantuk untuk bisa melihat langsung puncak tradisi Cheng Beng. Minggu tengah malam (3/4) saya bersama beberapa kawan sudah tiba di kompleks Pekuburan Sentosa yang terletak di kota Pangkalpinang. Pekuburan ini berada di jalan Bukit Abadi di sisi Timur Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang, memanjang dari Utara ke arah Selatan. Luas keseluruhan areal pemakaman ini sekitar 19,9 hektar dengan jumlah makam sekitar 11.478 unit. Lumayan pegal juga jika harus mengelilingi seluruh lokasi pemakaman yang terluas di Asia Tenggara ini.

Panggung Ceng Beng Pangkalpinang (foto dokpri)

Panggung Ceng Beng Pangkalpinang (foto dokpri)

Karena semangatnya, kami tiba jauh lebih dulu daripada para peziarah yang umumnya berdatangan diatas pukul 03.00 dinihari. Kawasan pemakaman masih lengang. Hanya ada beberapa pemuda di gerbang yang berjaga di dekat lilin-lilin yang dipasang memanjang. Sementara sedikit keramaian terjadi di dalam areal pemakaman, tepatnya di bagian tengah dekat Paithin (tempat bersembahyang) yang tengah menyiapkan pernik festival seperti sound system, persembahan, panggung, hingga hiasan-hiasan.

Selepas pukul 03.00 arus kedatangan peziarah ke makam Sentosa meningkat. Satu persatu kendaraan memasuki areal pemakaman. Umumnya peziarah langsung menuju kuburan leluhurnya masing-masing yang lokasinya menyebar di sisi kiri dan kanan Paithin.  Meski secara umum lokasi pekuburan Sentosa berada di tanah datar, namun ada beberapa bagian makam yang berada di perbukitan.

Berawal dari Paithin

Pusat keramaian Ceng Beng berawal dari Paithin atau rumah tempat sembahyang yang berada di tengah komplek pemakaman. Rumah bercat kuning terang itu lebih menyerupai pendopo sebab tak ada ruang-ruang sebagaimana sebuah rumah. Di bagian luar terdapat semacam altar tempat berdoa.

Paithin, Tempat Sembahyang

Paithin, Tempat Sembahyang

Sementara di bagian dalam Paithin ada lagi altar tempat berdoa yang ukurannya lebih besar. Di sekitarnya terdapat persembahan atau sesaji yang ditata unik menyerupai piramid.  Sesaji yang ditata mengacu pada persembahan yang dibawa atau wajib dibawa oleh peziarah berupa Sam-sang (tiga jenis daging), Sam kuo (tiga macam buah-buahan) dan Cai choi (makanan vegetarian). Tiga jenis daging yang saya lihat di Paithin adalah daging babi, kambing, dan ayam. Sementara buah-buahan disediakan pear, jeruk, nanas dan apel. Sedangkan sesaji kue diantaranya kue mangkuk, kue ku dan kue lapis.

Sebagian Sesaji Cang Beng (foto dokpri)

Sebagian Sesaji Cang Beng (foto dokpri)

Uniknya, yang datang ke Paithin ini biasanya adalah peziarah yang leluhurnya tidak diketahui makamnya. Mereka sengaja berdoa di sini agar arwah leluhur mereka mendapat tempat terbaik di surga.

Altar Doa Bagi Leluhur

Altar Doa Bagi Leluhur

Di bagian belakang Paithin ada sebuah ruang yang berisi foto para leluhur dari berbagai generasi. Umumnya para leluhur yang telah wafat puluhan tahun silam. Foto mereka diletakkan di sini karena tak jelas siapa anggota keluarganya.

Foto Leluhur Yang Tak Memiliki Keluarga

Foto Leluhur Yang Tak Memiliki Keluarga

Memahami apa yang terlihat di ruangan ini bak menyelami kecintaan orang Tionghoa pada leluhur. Karena bagaimanapun mereka pernah ada, jadi bagian keluarga tertentu, meski banyak yang tak tahu lagi silsilah keluarganya.

DSCF0514

*Laporan Ceng Beng belum berakhir, ikuti laporan saya di postingan berikutnya.

Simpan

3,427 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Mercusuar Tanjung Kalian, Bangka (foto kang Arul)

Mercusuar Tanjung Kalian, Bangka (foto kang Arul)

Sudah sampai ke Gunung Menumbing, Muntok, Bangka Barat sayang rasanya jika tak sekalian ke Tanjung Kalian. Begitu ujar seorang kawan yang tahu saya mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di bukit Menumbing.Ya, untuk ke Tanjung Kalian tidak butuh waktu lama dari bukit Menumbing. Dengan berkendara mobil cuma butuh waktu kurang dari satu jam. Sementara jika dari kota Pangkalpinang mungkin sekitar 3-4 jam perjalanan darat.

Tanjung Kalian ini merupakan kawasan pantai, lebih tepatnya semenanjung karena letaknya yang menjorok ke dalam. Tanjung Kalian berada di kabupaten Bangka Barat, menghadap langsung ke daratan provinsi Sumatera Selatan.

Pintu masuk mercusuar Tanjung Kalian (foto dokpri)

Pintu masuk mercusuar Tanjung Kalian (foto dokpri)

Sebenarnya pantainya sendiri tidak sebagus pantai lain di pulau Bangka, namun pantai ini sangat terkenal. Banyak wisatawan yang mengunjungi Bangka pasti mampir kemari. Biasanya kunjungannya menjadi satu rangkaian dengan perjalanan ke rumah pengasingan Bung Karno di Bukit Menumbing.

Di kawasan ini juga terdapat pelabuhan laut tempat bersandarnya kapal fery yang mengangkut penumpang ke kawasan Sumatera Selatan.

Di Tanjung Kalian ada satu obyek wisata yang sangat terkenal dan membuat saya kepincut untuk mendakinya yaitu mercusuar. Buat yang belum tahu, mercusuar adalah bangunan menara tinggi yang menjadi pemandu kapal-kapal di laut. Lampu mercusuar akan menyala di malam hari dan sinar lampunya berfungsi memandu kapal agar tidak terjadi tabrakan di laut. Sinar lampu mercusuar ini konon bisa dilihat hingga radius jarak 5 kilometer di laut.

Mendaki Mercusuar Tanjung Kalian (foto dokpri)

Mendaki Mercusuar Tanjung Kalian (foto dokpri)

Dari pantai, bangunan mercusuar terlihat berdiri gagah, menyambut dan merayu setiap pengunjung pantai untuk mampir menjelajahi ketinggian bangunan mercusuar. Karena sudah lama penasaran ingin mengetahui ada apa di balik sebuah bangunan  mercusuar, sayapun langsung ikut rombongan teman-teman mendaki ke atas. Beberapa kawan lainnya tak ikut, entah karena takut ketinggian atau masih lelah sisa perjalanan dari Pangkalpinang ke Muntok.

Mercusuar Tanjung Kalian dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda tahun 1862. Meski usianya sudah melebihi satu abad, namun secara konstruksi masih terlihat kokoh. Mercusuar Tanjung Kalian ini tingginya sekitar 65 meter, dengan 18 lantai dan memiliki ratusan anak tangga.

Untuk mendaki ke atap mercusuar pengunjung diminta membayar IDR 5K oleh petugas jaga. Dan kita tidak akan didampingi petugas alias dibiarkan mendaki sendirian ke atas. Karena medannya sulit sebaiknya jangan mendaki sendirian, lebih asyik jika bergerombol dengan beberapa teman.

Mendaki mercusuar tidak ada trik khusus. Tapi saya punya sedikit cara agar kita tidak mudah lelah sebelum sampai di puncak. Naiklah tiap lantai dengan santai, tak perlu ngoyo seperti yang saya dan beberapa kawan lakukan. Di tiap lantai sebaiknya berhenti sejenak untuk sedikit meluruskan kaki dan beristirahat sambil melihat ke jendela pemandangan kawasan pantai. Jendela tiap lantai ini menyimpan pemandangan berbeda, tergantung di sebelah mana kita berhenti.

Narsis di puncak mercusuar

Narsis di puncak mercusuar (foto dokpri)

Ruang dalam mercusuar sendiri sebenarnya tak terlalu lega. Meski terkesan sesak, namun aliran udara di bagian dalam mercusuar tetap lancar. Bahkan semilir angin tetap dapat kita nikmati dari jendela tunggal di tiap lantai.

Nah, tiba di lantai teratas, masih ada satu step lagi yang harus kita lalui sebelum sampai di puncak tertinggi mercusuar. Kali ini sebuah tangga besi harus didaki orang satu persatu. Sempitnya tangga besi membuat pendakian harus dilakukan ekstra hati-hati.

Meski melelahkan dan membuat kaki cukup pegal, namun begitu tiba di puncak mercusuar kita akan disuguhi pemandangan memesona. Kelelahan kaki pun terbayarkan. Sejauh mata memandang panorama sebagian kota Muntok bisa dilihat dari ketinggian. Sementara di sisi berbeda keindahan pantai, dermaga laut dan deburan ombak menjadi perpaduan menarik yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Beruntungnya saya dan beberapa kawan bisa menjejak puncak sebuah mercusuar. Sebuah pengalaman unik nan langka.

2,529 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Rumah Pengasingan Soekarno di Muntok, Bangka (foto dokpri)

Rumah Pengasingan Soekarno di Muntok, Bangka (foto dokpri)

Berkunjung ke rumah pengasingan Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno di bukit Menumbing, Muntok, Kabupaten  Bangka Barat seperti membuka lembar-lembar buku sejarah saat kecil dulu. Dalam buku sejarah yang pernah saya baca, memang tercatat Belanda melakukan agresi militer kedua di Yogyakarta, pada 19 Desember 1948. Meski sudah 3 tahun Indonesia merdeka, tampaknya pemerintah kerajaan Belanda tidak iklas daerah jajahannya yang kaya hasil bumi ini merdeka. Oleh karenanya mereka melakukan agresi militernya dan menangkapi sejumlah pimpinan dan tokoh pergerakan nasional.

Kemudian yang terjadi adalah Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim dan sejumlah tokoh lainnya ditawan dan diasingkan ke Giri Sasana Menumbing. Mereka tidak diberangkatkan secara bersamaan namun dalam 3 gelombang berbeda.

Lukisan Soekarno, sang putra fajar (foto dokpri)

Lukisan Soekarno, sang putra fajar (foto dokpri)

Saya sendiri tak pernah membayangkan bakal menginjakkan kaki di tempat yang menjadi bukti kepingan sejarah besar negeri ini. Perjalanan bersama teman-teman Kelas Blogger dari Pangkalpinang menggunakan mobil minivan kami tempuh lebih dari 2 jam lamanya. Dengan medan jalan yang sebenarnya cukup bagus, jalanan beraspal mulus. Namun rute ini banyak menyuguhkan tanjakan dan turunan yang cukup aduhai, membuat kami para penumpang kerap berteriak saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi dan bertemu dengan turunan yang bikin sport jantung.

Dari kota Muntok perjalanan kemudian menanjak sejauh sekitar 4 km ke gunung Menumbing. Butuh ekstra hati-hati, karena jalanan sempit dan licin. Di beberapa bagian malah hanya bisa dilalui satu mobil saja.

Kastil Belanda Tempat Peristirahatan

Tiba di rumah peristirahatan Sasana Giri Menumbing kami disuguhi pemandangan Bangka Barat dari ketinggian yang menawan. Kesibukan di dermaga lautan dengan kapal-kapal yang lalu lalang terpotret apik dari kejauhan. Bangunan Sasana Giri Menumbing konon dulunya merupakan tempat peristirahatan orang Belanda yang bekerja di Banka Tin Winning, yang merupakan cikal bakal PT Timah.

Ruang Pertemuan nan Lapang (foto dokpri)

Ruang Pertemuan nan Lapang (foto dokpri)

Agak simpang siur perihal tahun berdirinya tempat ini. Ada literartur yang menyatakan dibangun tahun 1890, ada juga yang meyakini tahun 1927 atau 1932 sebagai tahun pembangunannya. Meski tak jelas kapan pembangunannya namun kondisinya sendiri masih cukup baik.

Di teras rumah kami disambut mas Tedjo yang sehari-hari menjaga Sasana Giri Menumbing. Konon Tedjo adalah generasi ketiga yang setia mengabdi di rumah ini.

Sebuah foto besar Soekarno menyambut pengunjung yang datang.

Masuk ke dalam rumah semua pengunjung dilarang mengenakan alas kaki demi menjaga kebersihan Sasana Giri Menumbing. Kami cukup beruntung berkunjung kemari saat rumah sudah dipercantik dan diperbaiki. “Sebelumnya berantakan, kurang terawat. Kini setelah berada di bawah Sekneg (Sekretariat Negara) kondisinya jauh lebih baik. Pengunjung pun berdatangan,” ujar mas Tedjo.

Ruang kerja Soekarno (foto dokpri)

Ruang kerja Soekarno (foto dokpri)

Di dalam rumah terdapat sejumlah perangkat sofa yang meski jadul namun cukup terawat. Di ujung ruang sebuah mobil Ford Deluxe berwarna hitam bernomor polisi BN 10 terparkir dengan gagahnya. Mobil ini dulu digunakan Bung Karno dan Bung Hatta berkegiatan di Muntok dan sekitarnya. Kondisi fisiknya masih cukup oke, namun jangan salah tak ada mesin di dalamnya.

Di sisi kanan dalam terdapat ruang pertemuan yang digunakan para pemimpin negeri ini untuk berdiskusi membicarakan persoalan kenegaraan. Sejumlah foto tokoh terkenal Indonesia bertebaran di dindingnya. Mereka adalah tokoh lain yang juga pernah diasingkan di sini, seperti Pringgodigdo, Ali Sastroamidjojo, Mr Assaat, Mr. Mohammad Roem dan S. Suryadarma.

Kamar Istirahat Bung Karno

Yang paling menarik bagi saya adalah ruang privat yang pernah ditempati Bung Karno yakni ruang tidurnya. Untuk sampai ke ruang tidur pengunjung mesti melewati sebuah ruang kerja dan ruang duduk.

Ruang Tidur Soekarno, sederhana (foto dokpri)

Ruang Tidur Soekarno, sederhana (foto dokpri)

Ruang istirahat Bung Karno sendiri sebenarnya tak terlalu istimewa. Malahan cukup sederhana dan simpel untuk  istirahat seorang tokoh sebesar Soekarno. Ada dua dipan berukuran single di kamar ini, yang saya duga dijadikan Bung Karno dan Bung Hatta beristirahat. Beberapa kursi kayu berlapis rotan terlihat rusak dan dibiarkan begitu saja. Mungkin sengaja tidak diganti atau diperbaiki agar kesan ‘sejarahnya’ tetap ada.

Kemudian ada pula lemari pakaian di sisi kiri serta kamar mandi yang terkunci.

Tidak semua orang boleh masuk ke dalam kamar Bung Karno. Kabarnya bagi mereka yang punya maksud jahat pasti tidak akan pernah bisa masuk ke kamar, apalagi berfoto di dalamnya. Benar tidaknya memang saya tak bisa membuktikan, karena saya dan kawan-kawan yang datang bersamaan bisa masuk ke kamar tanpa kendala.

Saat ini kalaupun ada larangan hanya sebatas bagi mereka yang sedang datang bulan (menstruasi). Dan kemarin seorang kawan patuh pada larangan tersebut karena khawatir bakal menemui masalah jika aturan itu dilanggar.

Melihat Muntok dari Ketinggian

Bergeser ke lantai atas, sebuah pemandangan berbeda tersaji di sini. Karena rumah ini letaknya paling tinggi dibandingkan bangunan lainnya, dari atas rumah pengunjung bisa melihat sepenggal kesibukan kota Muntok. Tempat ini bagai surga bagi penggemar foto. Berfoto selfie atau wefie bisa dilakukan dengan latar belakang berbagai sudut yang ada.

Keriuhan Kelas Blogger di Sasana Menumbing (foto dokpri)

Keriuhan Kelas Blogger di Sasana Menumbing (foto dokpri)

Hampir semua sudut menawarkan keindahan, berbeda-beda, mulai dari latar pelabuhan, rimbunnya pepohonan hingga sejumlah bendera yang dipasang di atap rumah.

Rumah pengasingan Bung Karno di Bukit Menumbing ini menurut saya bisa dijadikan salah satu destinasi wisata sejarah andalan di Kepulauan Bangka Belitung. Namun ada banyak hal perlu dilakukan oleh pemerintah daerah setempat.

Paling utama adalah merestorasi koleksi yang ada di museum, beberapa koleksi saya lihat sudah dalam kondisi rusak parah. Selain merestorasi, pemda setempat jika perlu melengkapinya dengan koleksi lain yang tersebar di luar museum. Misalnya barang pribadi tokoh yang pernah diasingkan di sini bisa ditambahkan. Dan bila memungkinkan sediakan pula sebuah ruang pustaka tempat pengunjung mengakses informasi, bisa dalam bentuk cetakan, dalam bentuk manuskrip atau berbentuk multimedia.

Dan tidak kalah penting adalah memperbaiki akses jalan menuju ke Giri Sasana Menumbing agar lebih bersahabat, tidak semenyeramkan seperti sekarang.

4,174 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Berkunjung ke Pangkalpinang, Bangka meninggalkan jejak memori rasa pada kulinernya yang aduhai. Entah sudah berapa berat timbangan badan saya bertambah selama traveling di kota ini. Makan, ngemil dan jajan jadi kegiatan mengasyikkan di sela penjelajahan destinasi wisata.

Mengenal ragam kuliner memang jadi kegiatan yang selalu saya lakukan saat traveling ke tempat baru. Mencicipi sajian khas setempat yang ngehits atau sajian yang sudah jarang ditemukan di pasaran memberi kenikmatan tersendiri.

Icip-icip kuliner lokal adalah keharusan, dan itu menjadi cara terbaik mengenal tradisi, budaya dan sejarah sebuah kota. Ada sensasi menyenangkan saat bisa mencecap rasa kuliner khas sebuah daerah.

Dan seorang kawan pernah berpesan, jika ke Bangka harus siap-siap menyantap makanan yang serba laut. Sebagai bagian dari kepulauan Bangka-Belitung yang dikelilingi lautan, kota Pangkalpinang di Bangka banyak menawarkan sajian kuliner berbahan dasar ikan dan teman-temannya itu. Anda dijamin tak akan bisa move on dari rasa kuliner khas Bangka di Pangkalpinang.

Ada beberapa diantaranya yang mesti dicoba saat mampir ke ibukota provinsi Bangka Belitung ini.

Mie Koba yang Melegenda

Penjelajahan rasa saya diawali dengan mie Koba. Namanya sedikit mengingatkan pada (nar)Koba, padahal sangat jauh dan tak ada hubungan apapun. Tapi saya jamin anda bakal ketagihan begitu lidah digoyang rasa mie koba.

Kedai mie Koba Iskandar ini sebenarnya asalnya dari daerah Koba di Bangka Tengah. Karena terkenal dan legendarisnya, kedai ini kemudian membuka cabang di Jalan Balai Pangkalpinang, provinsi Bangka Belitung. Letaknya yang tak seberapa jauh dari bandara Depati Amir membuat kedai ini sangat terkenal dari lokasi awalnya.

Kedai Mie Bangka Iskandar (foto dokpri)

Kedai Mie Koba Iskandar (foto dokpri)

Untuk mencapai kedai Mie Koba Iskandar ini cukup mudah. Karena sudah terkenal sopir taksi yang membawa kami dari bandara langsung tahu dan tak banyak tanya menuju rumah makan ini.

Turis yang datang ke Pangkalpinang memang biasanya meminta singgah sebentar ke sini untuk merasakan keriaan rasa mie Koba yang kondangnya kemana-mana. Sayapun demikian.

Sepiring Mie Koba nan Menggoda rasa (foto dokpri)

Sepiring Mie Koba nan Menggoda rasa (foto dokpri)

Mie Koba disajikan di atas piring, bukan mangkok seperti mie yang biasa saya santap di Jakarta. Satu porsi mie Koba berisi mie kuning yang tak terlalu tebal (bahkan cenderung tipis) dengan teksturnya yang lembut. Taburan daun seledri dan bawang goreng melengkapi presentasinya di atas piring berukuruan standar. Yang membuat mie Koba ini berbeda adalah guyuran kuah ikan tenggiri di atas mie. Rasanya gurih, tidak terlalu pekat, cenderung ringan. Menyeruput kuahnya berasa segar.

Mie Koba lebih enak jika dimakan dengan sebutir telur ayam rebus. Harga seporsi mie Koba IDR 12K. Lumayan murah meriah. Bagi yang biasa menyantap hidangan mie dengan porsi besar, pasti tak puas dengan porsi langsing satu piring seperti saya #eh.

Kwetiau Kuah Ikan

Kwetiau kuah ikan ini saya cicipi bareng teman-teman setelah bersepeda bareng Walikota Pangkalpinang M.Irwansyah. Perjalanan mengayuh sepeda yang cukup menguras tenaga membuat kami seperti mendapat surga saat mampir di kedai Raja Laut yang letaknya di pinggir pantai Pasir Padi.

Ada sejumlah sajian khas Pangkalpinang yang disiapkan pemilik kedai. Namun satu yang membuat saya sangat ingin mencoba adalah kwetiau kuah ikan. Selain porsinya yang tidak terlalu besar, kwetiaunya juga berbeda dari yang pernah saya coba selama ini. Ukuran kwetiaunya lebih pipih dan kecil. Warna kwetiaunya lebih bersih dari kebanyakan kwetiau yang pernah saya makan.

Kwetiau Kuah Ikan (foro dokpri)

Kwetiau Kuah Ikan (foro dokpri)

Presentasi kwetiau kuah ikan ini cukup simpel. Satu piring berukuran sedang diisi sedikit kwetiau. Di atasnya diberikan ikan tenggiri yang sengaja dihancurkan sebagai penguat rasanya. Selain itu ada pula kecambah atau toge dan bawang merah goreng. Kuah ikannya disiramkan dari bagian samping kwetiau agar tak merusak presentasi makanan.

Rasanya? Ringan, ikannya sangat kuat terasa. Ada sensasi kriuk-kriuk dari kecambah segar. Enak. Lagi-lagi sarapan dengan kwetiau porsi kecil ini tidaklah cukup satu piring. Terlalu lezat bila melewatkan pagi yang indah dengan tak mencicipi kwetiau kuah ikan ini.

Kedai Raja Laut sendiri letaknya di ujung pantai pasir padi. Relatif mudah dicari. Kedai kecil ini umumnya ramai di akhir pekan dan melayani sarapan warga Pangkalpinang usai berolahraga. Sejumlah komunitas bersepeda kerap menyambangi kedai ini yang berlokasi tepat di sisi pantai. Sambil menyantap kelezatan kwetiau kuah ikan, anda akan dibuai angin segar yang bertiup sepo-sepoi dari arah pantai. Surga….

Seafood Mr.Asui

Kepiting di Kedai Mr.Asui (foto dokpri)

Kepiting di Kedai Mr.Asui (foto dokpri)

Beberapa kali makan seafood saat ke Bangka, baru di kedai Mr.Asui saya merasakan yang paling top. Kedai ini cukup banyak yang merekomendasi untuk dicoba. Termasuk pecinta kuliner Bondan Winarno pun pernah merekomendasikan kedai seafood ini.

Untuk mencapai kedai seafood ini (lagi-lagi) cukup mudah. Karena nama kedai seafood Mr.Asui ini kondang ke seantero Bangka, jadi banyak yang paham letaknya. Padahal lokasinya agak menjorok ke dalam sebuah gang, tepatnya  di Jalan Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapai dari jalan protokol Jalan Jendral Sudirman.

Kedai ini juga menjadi ikon kuliner kota Pangkalpinang, khususnya untuk makanan laut.

Konon yang paling enak dari sajian seafood di Mr.Asui adalah Ekor tenggiri bakarnya. Sayangnya saya tidak sempat mencoba kedahsyatan rasanya lantaran sudah terpesona dengan kepiting asam manisnya yang ternyata dahsyat juga.

Tampilan kepiting bumbu asam manisnya memang menggoda selera. Warna kepiting yang kemerahan pasti membuat ngiler yang melihatnya. Warna ini sekaligus menunjukkan kepiting yang dimasak masih segar. Dan ternyata dugaan saya tak jauh dari rasanya. Bumbu asam manisnya menyerap hingga ke dalam cangkang kepiting. Tingkat kepedasannya standar, cukup lah.

Oiya jangan lupa temani juga dengan cah kangkungnya yang juga enak. Kalau kemari saran saya kosongkan perut agar mampu menampung kelezatan seafoodnya tanpa kompromi.

Pempek 10 Ulu

Bagi yang senang dengan kudapan yang bisa mengenyangkan Pempek 10 Ulu ini bisa jadi pilihan. Makanan ini meski populer sebagai sajian khas Palembang, menurut warga Bangka sebenarnya adalah makanan khas Bangka. Saya tak hendak berpolemik soal asal usul Pempek ini.

Yang jelas jika mencari pempek di Pangkalpinang kedai Pempek 10 Ulu di jalan Sudirman bisa jadi rujukan rasa otentik pempek. Sajiannya beragam, mulai dari pempek kapal selam yang berukuran lumayan besar, pempek lenjer, pempek kulit, pempek adaan, model hingga pempek keriting.

Pempek Kulit RM.Pempek 10 Ulu (foto dokpri)

Pempek Kulit RM.Pempek 10 Ulu (foto dokpri)

Soal rasa jangan ditanya, ikannya berasa banget. Bukan ‘ikan-ikanan’ seperti pempek abang-abang. Saya paling suka dengan pempek kapal selam yang ukurannya lumayan jumbo. Makan satu porsi cukup mengenyangkan.

Satu lagi yang saya suka Pempek 10 Ulu punya pilihan paket untuk dijadikan oleh-oleh dengan range harga bervariasi. Ada paket murmer sampai paket lengkap yang berisi campuran semua jenis pempek dalam satu dus. Kemasannya menarik, sangat modern. Cocok dibawa ke kabin pesawat dan aman pula ditaruh di bagasi.

 

Simpan

Simpan

Simpan

14,376 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Walikota Pangkal Pinang Bersepeda Bersama Blogger (foto dokpri)

Walikota Pangkal Pinang Bersepeda Bersama Blogger (foto Dudi Iskandar)

Hari masih gelap saat rombongan Kelas Blogger dari ibukota Jakarta tiba di rumah dinas Walikota Pangkalpinang, di Jalan Sudirman Pangkalpinang. Rumah walikota sudah mulai ramai dengan kehadiran sejumlah orang yang hendak bersepeda bersama. M.Irwansyah sang Walikota langsung kemudian menyalami satu persatu para blogger yang hadir.

Hari Minggu itu Irwansyah mengundang 18 blogger dari Jakarta dan Bandung yang tergabung dalam Kelas Blogger untuk ikut berkegiatan bersama dengan bersepeda. Kegiatan bersepeda yang dilakukan sejak menjabat sebagai walikota ini bertajuk Asmara (Aspirasi Masyarakat). Diberi nama demikian karena kegiatan ini biasa digunakan Irwansyah untuk menyerap aspirasi, melihat dari dekat persoalan warganya secara langsung.

Biasanya ia dan beberapa pejabat pemkot Pangkalpinang menyusuri jalanan kota dan masuk ke kampung-kampung untuk berbincang dengan masyarakat. Tanpa jarak, kegiatan ini dilakukannya bukan untuk pencitraan dirinya. Namun ia melakukannya untuk merasakan denyut persoalan warganya langsung dari tangan pertama, tanpa ada perantara siapapun. Biasanya, rute yang diambil dalam gowes Asmara ini adalah kampung-kampung yang diambil secara acak, bergantian satu kampung dengan lainnya.

Sebagian Peserta Gowes Asmara (foto dokpri)

Sebagian Peserta Gowes Asmara (foto dokpri)

Namun khusus Minggu (28/2) lalu rute yang disediakan bagi peserta gowes sedikit berbeda karena ini adalah rute wisata.

Sekitar pukul 06.30 kami pun bergerak dari rumah dinas walikota. Sepeda melaju beriringan membelah pagi yang masih relatif sepi.  Sesekali kami berpapasan dengan rombongan pesepeda lainnya. Di beberapa titik terlihat geliat warga Pangkalpinang memulai hari, ada yang berolahraga di halaman rumah, bersenam di lapangan terbuka atau mulai berjualan sarapan di pinggir jalan.

Sepanjang perjalanan Bang Wawan berbaur dengan para blogger, saling sapa, bercanda, dan berfoto bersama. Sepanjang perjalanan pula saya bisa melihat kota Pangkal Pinang dari sisi berbeda. Jalanan yang mulus, denyut ekonomi yang baru bergerak, serta sejumlah destinasi wisata andalan kota yang menjadi ibukota provinsi Bangka Belitung.

Ada banyak spot wisata menarik yang kami lewati. Diantaranya kawasan Tanjung Bunga yang dijadikan destinasi wisata religi bagi 5 agama, yakni Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu. Di lokasi ini nantinya akan ada bangunan tempat ibadah bagi umat 5 agama di Tanah Air. Yang sempat saya lihat adalah komplek bangunan Pura  Penataran Agung yang merupakan tempat ibadah umat beragama Hindu. Bentuk bangunannya cantik, seperti bangunan indah di pulau Bali. Keelokan arsitektur khas Bali itu masih ditambah view menawan dari tepi pantai Pasir Padi.

Blogger Promosikan Wisata Pangkalpinang

Rombongan gowes Asmara berhenti untuk istirahat sejenak di pantai Pasir Padi. Sengaja tempat istirahatnya di sebuah rumah makan di tepi pantai karena sekalian sarapan bersama. Sejumlah menu khas Pangkalpinang dan Bangka menjadi sajian makan pagi kami. Tanpa komando kamipun langsung menyerbu makanan yang sudah disediakan.

Welfie Bareng Walikota Irwansyah (foto Dudi Iskandar)

Welfie Bareng Walikota Irwansyah (foto Dudi Iskandar)

Sambil sarapan, para blogger menggunakan kesempatan langka ini untuk berbincang akrab dengan Walikota M.Irwansyah. Banyak yang diceritakan Irwansyah mengenai Pangkalpinang yang dipimpinnya. Diantaranya adalah mimpinya menjadikan Pangkalpinang sebagai kota tujuan wisata bertaraf internasional.

Upaya menjadikan Pangkalpinang sebagai tujuan wisata bagi masyarakat internasional sudah pelan-pelan ia dan jajarannya lakukan. “Selama ini kami sudah menggelar sejumlah event bertaraf internasional yang mengundang banyak wisatawan mancanegara. Diantaranya kegiatan festival Ceng Beng yang berhasil menyedot kunjungan wisatawan dari berbagai negara di dunia,” ujar Irwansyah yang juga politisi muda PDIP ini.

Pose Bareng Walikota Setelah Gowes (foto dokpri)

Pose Bareng Walikota Setelah Gowes (foto dokpri)

Ditambahkan Irwansyah, pihaknya juga akan menyelenggarakan Grand Prix Motocross di Pangkalpinang. Ia berharap dengan penyelenggaraan event berskala internasional itu membuat nama Pangkalpinang makin dikenal di dunia.

Terkait kehadiran sejumlah blogger dari Kelas Blogger ke Pangkalpinang, menurut Irwansyah ini dilakukan untuk mempromosikan potensi wisata kota yang dipimpinnya. “Saya berharap para blogger membantu mempromosikan Pangkalpinang dengan cara menulis, memotret dan menyebarkan ke seluruh penjuru dunia melalui internet,” imbuhnya.

 

2,564 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini