Tagkranggan

Saya Benci Bekasi

Saya benci Bekasi!

Swear, saya benar-benar benci Bekasi sampai ke ubun-ubun. Saat mencari rumah sekian tahun lalu, saya dihadapkan pada kesemrawutan penataan kota Bekasi. Angka kriminalitas yang tinggi dan kota yang tak ada indah-indahnya.

Tiap hari saat saya membaca koran, banyak kabar kriminal dari Bekasi. Hmm…mengerikan.

Saya selalu membandingkan kondisi Bekasi dengan kondisi dan suasana kawasan tempat tinggal orang tua di Kebon Jeruk Jakarta Barat. Tempat yang lumayan tertata dari berbagai sisi, meski macetnya gak ketulungan. Jadi tiap kali mencari rumah selalu dan selalu saya bandingkan dengan Kebon Jeruk.

Kelak akhirnya saya sadar, tak ada kawasan yang nyaman 100 persen, dimana pun itu. Ada kekurangan dan kelebihan masing-masing kawasan.

Setelah akhirnya tinggal juga di Bekasi, tepatnya di Kranggan, kembali saya bete karena beberapa sebab. Tapi yang paling mengganggu adalah kondisi jalan lingkungan yang buruk. Saya merasa seperti berada di negeri mana gitu…jalanan hancur baur, baik di dalam komplek perumahan maupun menuju komplek.

Selain di Kranggan, jalanan menuju kawasan Pondok Gede, sekitar Ujung Aspal luar biasa bututnya. Lubang di sana sini menganga. Debu beterbangan saat musim kemarau, sementara saat musim hujan lubang tadi berubah jadi danau buatan yang bukan hanya tak sedap dipandang, namun juga membahayakan bagi pengendara motor. Motor jatuh atau tersuruk adalah cerita yang menjadi biasa disini.

Kadang saya berpikir, apa tak ada usaha warga melaporkan kondisi buruknya jalan pada pemda setempat? Atau pemdanya tak peduli? Hmm… Saya hanya bisa menarik nafas kesal saat melintasi jalanan buruk rupa itu.

Ternyata dugaan saya salah. Warga sudah kerap mengadu pada instansi terkecil di lingkungan mereka, mulai dari kelurahan hingga kecamatan, tapi memang lambat sekali penanganannya. Sejak punya rumah tahun 1999, hanya ada beberapa kali perbaikan jalan di kawasan ini.

Anehnya, perbaikan tak pernah mampir ke kawasan tinggal saya. Jalanan tetap berlubang, kalau hujan becek tak ada ojek…

Suatu kali beberapa kawan di dekat ujung aspal yang sudah kesal dengan kondisi jalanan disini menggelar aksi unjuk rasa. Mereka memprotes kondisi ini dengan cara menanami jalanan dengan pepohonan agar tak bisa dilalui. Mereka juga berenang di kubangan jalan. Peristiwa ini diliput oleh salah satu stasiun TV dan tayang di program berita sore.

Saya tak tahu apakah karena liputan itu, beberapa bulan kemudian ruas jalan raya Pondok Gede dari arah PLN hingga Komplek Bulog diperbaiki.

Lalu bagaimana nasib jalan di kawasan Kranggan? Tetap tak berubah. Tak kurang usaha warga secara pribadi membuat surat pembaca di sejumlah koran meminta perhatian Pemda agar memperbaiki jalan ini. Sayapun beberapa kali mengeluhkan hal serupa melalui surat pembaca di Kompas.com.

Hasilnya? Bulan September 2009 akhirnya ruas jalan di Kranggan diperbaiki juga. Senangnya. Saya merasa bangga menjadi warga Bekasi. Ternyata Pemda tidak tidur. Mereka mendengar juga aspirasi kami warga biasa.

Mengapa kami ng0tot minta perbaikan jalan di sini? Tak lain karena fungsi dan posisinya yang strategis bagi lalu lintas ekonomi. Kranggan adalah kawasan persinggungan antara Bekasi, Bogor, Depok dan Jakarta. Jika jalanan disini bagus, saya yakin perekonomian diantara kawasan dimaksud pasti berkembang.

Tengkyu pak Wali, saya tak jadi bete dan benci lagi dengan Bekasi.

Kranggan, Sebelah Mana Indonesia?

Dulu, tinggal di kota yang bernama Bekasi tak pernah terpikirkan. Meski kerap bolak-balik ke Bekasi karena kerjaan di sebuah agency, tetap Bekasi bukan prioritas saya dan keluarga untuk tinggal.

Pertama, lokasi Bekasi jauh dari rumah ortu dan sebagian besar keluarga besar yang ada di selatan-barat Jakarta. Jelas ini pertimbangan utama. Karena pasti kebayang repotnya kalau sering-sering harus ke Jakarta.

Kedua, kondisi beberapa kawasan Bekasi membuat saya ilfil. Mulai dari rawan kejahatan, kondisi jalan yang amburadul hingga kawasan industrinya. Melihat 3 alasan itulah yang kerap membuat saya berpikir sekian kali untuk membeli rumah di Bekasi waktu itu.

Hitung-hitungan saya kalau tak bisa punya rumah di Jakarta (yang harganya mahal2 itu), paling sial ke Bogor yang masih segar udaranya. Tapi Bogor ternyata setali tiga uang. Kawasan perumahan yang selalu kami taksir pasti lokasinya jauh dan harganya selangit.

Setahun setelah reformasi saya ditawari kakak ipar sebuah rumah mungil type 21 di Kranggan. Saat itu ia melepasnya ke kami karena merasa kekecilan.  Setelah menimbang beberapa hal dan harganya cukup miring alias masih terjangkau kantong, saya pun mengiyakan tawaran itu.

Lucunya, saat menawarkan rumah, kakak ipar tak bilang kalau rumah itu masuk kawasan Bekasi. Mungkin dia tahu kalau saya agak malas mendengar kata Bekasi. Dia promosikan Kranggan itu sebelah sanaannya Cibubur. Wah, menarik juga.

Setelah survey lokasi, teryata lokasinya tak jauh dari Cibubur. Setidaknya masih lebih dekat dari Kota Wisata, Citra Grand atau Citra Indah sekalipun. Karena dalam promosinya ketiga perumahan itu mengusung tag jualan sebagai “cibubur” atau timur jakarta.

Dan Juli tahun ini kami sudah 9 tahun tinggal sebagai warga Kranggan, Bekasi. Sebuah kawasan yang sebelumnya tak terbayangkan. Kawasan ini memang secara administratif berada dalam wilayah Kodya Bekasi, namun juga berbatasan dengan Bogor, Depok dan Jakarta Timur.

Meski jalan komplek amburadul, macet, dan seabreg persoalan khas kawasan penunjang Jakarta, saya terlanjur sayang dengan kawasan ini. Problema kawasan itu terbayar dengan kehangatan orang-orangnya. Disini saya mendapat banyak kawan, saudara, dan keluarga baru. Sebuah investasi yang menurut saya lebih mahal dari harga rumah kita sekalipun.

Bahkan saat harus pergi dari rumah pertama karena alasan ukuran, tak pernah terbayangkan lagi tinggal di kawasan lain. Dan tempat tinggal kini cuma sepelemparan batu, persis di belakang komplek lama.

Berkah lainnya tinggal di kawasan ini, sejak 2004 SBY memimpin negeri ini, kami penghuni Kranggan seperti mendapat berkah. Jalan utama trans Yogi  atau jalan alternatif  Cibubur yang dulu kerap bolong-bolong, kini mulus dan makin lebar. Karena jalan ini menjadi akses utama pak presiden dari Cikeas ke istana.

Dulu sering saya mendapat pertanyaan , “Kranggan sebelah mananya Indonesia?” , lantaran asingnya dan jarang disebut. Kini saya akan dengan bangga bilang saya tinggal di Kranggan Bekasi.

You might also likeclose