Tag Archives: Kpk

Susno Pecundang atau Pahlawan?

“Susno menista Polri!” Begitu berita yang saya baca di banyak laman web semalam. Yang mengeluarkan pernyataan adalah Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang. Ini pasti terkait kesaksian Susno di Tim Satgas Anti Mafia Hukum beberapa hari silam.

Polri memang sedang digoyang, atau lebih tepatnya bergoyang? Karena yang menggoyang adalah orang dalam sendiri, seorng jenderal yang sudah berada di pinggiran jabatan.

Susno memang sudah tak lagi punya jabatan setelah posisinya sebagai Kabareskrim Mabes Polri dicopot beberapa waktu lalu. Tapi bukan Susno kalau tak membuat kejutan demi kejutan. Meski tak punya jabatan, bukan berarti ia tak lagi ‘bertaji’. Ia terus bernyanyi, meski sumbang namun suaranya membuat gerah mereka yang masih menjabat di jajaran Kepolisian.

Siapa sebenarnya Komisaris Jenderal Susno Duaji ini? Publik awalnya sebal dan mencerca habis sosok polisi mungil ini. Kita masih ingat saat ia ditekan banyak kalangan soal kisruh cicak buaya. Saat itu,  terkait kriminalisasi komisioner KPK ia menganalogikan KPK sebagai cicak yang tak berdaya menghadapi buaya dalam banyak penanganan kasus hukum.

Kontan omongannya dianggap melecehkan dan mengerdilkan peran KPK dalam pemberantasan korupsi. Buntutnya, Presiden kemudian membentuk tim 8 yang mengklarifikasi kasus itu. Susno memang melenggang tak beroleh sanksi hukum, tapi ia  dicopot dari jabatannya.

Selesaikah ‘hukuman’ bagi Susno? Ternyata tidak! Terakhir ia bernyanyi soal jenderal polisi yang menjadi makelar kasus dalam penanganan kasus penggelapan pajak. Dua nama petinggi polri Brigjen Edmon Ilyas dan Brigjen Raja Erizman disebut Susno berada dibalik ‘raibnya’ uang senilai 25 Milyar rupiah dalam kasus dugaan pencucian uang di rekening pegawai Ditjen Pajak Gayus Tambunan. Konon kabarnya uang itu mengalir ke beberapa nama, salah duanya adalah Raja Erizman dan Edmon Ilyas.

Propam Polri sendiri sudah meminta keterangan dua jenderal yang dituding Susno, dan seperti bisa ditebak keduanya membantah dan kesimpulannya tidak ada bukti tuduhan itu. Bahkan Polri akan memperkarakan Susno ke ranah hukum.

Di lain pihak, tim satgas Mafia hukum ‘kekeuh’ dengan apa yang diungkap Susno. Mereka mengatakan keterangan Susno  valid! Nah, lho! KPK sendiri siap menerima bola muntahan kasus ini sambil menunggu rekomendasi satgas.

Kini publik tinggal menunggu, dimana dan kemana ending kasus ini.  Akankah kasus ini bakal menguap begitu saja, ataukah kasus ini bakal menggiring aktor-aktornya ke penjara? Benarkah ini hanya pengalihan kasus Century yang sempat membuat pening kepala pemerintah? Setelah Obama batal dan penyergapan teroris kelar, memang belum ada lagi kasus besar yang menyita perhatian publik. Dan kasus markus tingkat tinggi ini memenuhi syarat sebagai kasus kontroversial.

Kita tunggu, apakah Susno itu pahlawan pengungkap kebenaran , ataukah ia hanya pecundang yang sakit hati dengan pencopotan posisi strategisnya di Mabes Polri?

Anti Korupsi = Malu Berkorupsi

Hari ini konon kabarnya bakal ada aksi massa besar-besaran di jakarta. Ant(r)i korupsi katanya. Sebuah jargon yang dalam 5 tahun terakhir manis dijual sama esbeye.

Lima tahun silam dagangan ini begitu memesona, menyilaukan mata siapapun. Seorang ksataria dengan pedang antikorupsi di sebuah negeri dengan tingkat korupsi yang akut, betapa gak gaya tuh. Banyak yang takjub, hormat pada upayanya membenahi penyakit masyarakat itu.

Pedangnya mampu menebas para penjahat koruptor. Tak tanggung-tanggung pedangnya pun mengenai besannya yang mantan deputi gubernur Bank Indonesia. Ia pun kemudian dipenjara lantaran tersangkut kasus korupsi.

Bola pun bergulir dengan cepat. Saat pemilu digelar lagi antikorupsi masih jadi jualan ampuh. Kini ia presiden untuk kedua kalinya. Namun jargon anti korupsi tampaknya menyurut. KPK pun dihadapkan pada polisi dan kejaksaan dalam sebuah perseteruan.

Meski tak bisa menunjuk hidung sang presiden berada di balik itu semua, namun ketidak tegasan dan tidak maunya mengambil prakarsa membuat tudingan tak bisa beringsut padanya.

Paling akhir setelah badai KPK-Polri mereda, presiden kembali membuat blunder dengan menuding aksi 9 Desember dalam rangka hari antikorupsi sebagai upaya menggoyang pemerintahan yang syah. Masak sih segitunya bos.

Bukankah antikorupsi adalah jualan dan bagian dari pencitraan anda? Mengapa harus takut jika banyak orang kini sepaham dengan anda soal pemberantasan korupsi?

Menuding orang lain sebagai membahayakan adalah sikap yang justru membahayakan bagi diri sendiri. Anda akan dituding sebagai pihak yang tak menginginkan kembali pemberantasan korupsi.

Duh, kalau begini alamat makin kencang hembusan ada udang di balik Century.

Publik dan media kemarin mengapresiasi pidato anda menjelang hari antikorupsi karena dengan gagah ceria anda mengatakan akan berada di depan pasukan pemberantasan korupsi. Saya hanya bisa mengatakan, hmmm… Yakin ?

Jangan-jangan… Anda tidak sedang bersandiwara kan?

Selamat hari anti korupsi sedunia. Dan selamat berkorupsi. Lho?

gambar dari sini.

Ketika Faisal Basri Geram!

Ada yang menarik dari postingan kompasianer yang juga pengamat ekonomi, Faisal Basri. Postingan itu tak berbau ekonomi sama sekali. Tapi justru disitu menariknya. FB memposting sebuah puisi sederhana yang sangat dalam maknanya. Puisi ini mewakili kegundahan hatinya melihat nasib negeri ini. Ia ungkapkan kekesalannya melihat kasus penahanan komisioner (beda-beda tipis dengan Kompasianer) KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah oleh polisi.

Simak puisinya yang diberi judul “Geram …..untuk Pak Bibit dan Bung Chandra”.

Kini, aku geram!!!

Menatap mata-mata nanar mereka,

yang seolah siap menerkam apa saja.

Haruskah kita menyerah

kepada para durjana itu.

Dengan keheningan kalbu

Dengan kejernihan rongga-rongga alam pikiran

Sekali-kali jangan hentikan pekik kebenaran

Walau selaput suara hanya mengalirkan

desah-desah yang kian parau.

Menurut saya apa yang diutarakan FB kali ini bukan hanya semata kegundahan seorang yang dekat dengan pusat kekuasaan. Karena selama ini publik kadung tahu FB dekat dengan wapres Boediono. Tapi jauh dari itu, inilah bentuk kegelisahan anak negeri ini, yang bisa mewakili kegelisahan saya, anda dan juga mungkin sebagian dari kita, mengenai ketidak jelasan hukum yang dipertontonkan para penegak hukum yang terhormat.

Puisi ini mengingatkan saya pada sikap Faisal Basri beberapa bulan yang lewat. Saat itu  negeri ini tengah dilanda eforia dukung-mendukung pada calon presiden dan wakil presiden. Dan Faisal Basri yang selama ini termasuk pelit memuji seseorang, berada di garda depan pendukung Boediono. Bahkan postingannya berjudul Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal menjadi masterpiece postingan. Tulisan ini sudah dikunjungi lebih dari 38 ribu kompasianer, dan berhasil menggiring lebih dari 400 komentar. Sebuah pencapaian yang tak main-main.

Di postingan itu Faisal memang seolah melawan arus yang saat itu banyak menghujat pak Boed dengan isu Neolib-nya. Faisal memang tak serta merta mempersalahkan para penghujat, tapi Faisal bercerita sebagai orang yang sangat dekat, seorang murid yang kagum pada dosennya, seorang junior yang kagum dengan kawannya yang senior.

Dan ternyata angin pun berubah. Belum lagi genap sebulan sejak dilantik, hati Faisal Basri tampaknya terluka pada pemerintahan baru. Di satu sisi mungkin ia maklum kawannya yang didukung ternyata tak segalak JK, sehingga tak menunjukkan tajinya saat kasus Bibit-Chandra merebak. Tapi memaklumi saja tak cukup, karena negeri ini sudah kerap berjalan dengan pemakluman. Faisal pun gerah sehingga terciptalah puisi Geram tadi.

Perubahan ‘sikap’ Faisal juga terlihat dari sejumlah komentarnya di beberapa postingan. Misal di postingan berjudul Berlin. Disitu faisal sempat menanggapi Rizky, seorang Kompasianer yang menanyakan mengapa Faisal tak memposting soal skandal Century. Apa karena rekannyta, Boediono terlibat?

Begini kutipan jawaban faisal yang diposting 7 Oktober jauh sebelum pemerintahan baru dilantik,

Bung Rizky yang budiman,
mohon maaf, saya tak pernah brani/mau menulis yang saya tidak tahu persis duduk masalah dan datanya. Perhatikan saya silang pendapat yang beredar dewasa ini, hampir semua punya versi sendiri-sendiri. Saya sudah dapat briefing dari yang paling tahu kasus ini, tapi tak bisa menceritakannya kembali, apalagi sumber saya itu meminta dirahasiakan.

Saya pun dapat konfirmasi langsung dari petinggi BI yg sangat saya hormati. Ternyata yg beredar di masyarakat itu tak benar, misalnya tentang Sri Hartati Murdaya dan Arifin Panigoro yang ditengarai memiliki dana di century.

Tengok pula perilaku tak terpuji dari ketua BPK yg mengumbar isi hasil audit sementara sehingga diinterpretasikan secara “liar” oleh beberapa anggota DPR.

Bukan soal Boediono sama sekali. Justru yg saya dengar menyangkut yang di atasnya. Tapi itu kan gossip. Kalau memang kenyataannya demikian, ayo kita buka lebar.

Saya tak kuasa menyampaikan sesuatu yang menambah keruh.

Tabik,
faisalbasri

Itu dia tulis bulan lalu. Dan yang terkini saat mengomentari kompasianer Linda Djalil, dia berujar begini “Ya, Kak Linda, saya sekarang semakin yakin. Ada keterkaitan satu sama lain. Ketakutan bahwa kekuasaan yang tergengam mulilai terancam. Insya Allah kebenaran tak bisa ditutup-tutupi.. Tinggal data dan kesaksian yang harus dihimpun.”

Berubahnya sikap Faisal Basri saya kira manusiawi. Toh ia berubah untuk kembali ke sikap asalnya, tetap kritis. Mungkin saja ia bakal menjadi orang asing diantara kawan-kawan pendukung pemerintahan. Tapi tenang aja bang Faisal, jika pemerintah tak juga berubah, berarti anda tidak sendirian!!

*dimjuat di kompasiana.

Dukungan Fesbuker Untuk Bibit-Chandra

77148_bibit_samad_riyanto_chandra_m_hamzah

Ditahannya wakil ketua KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto oleh polisi sejak kemarin disesalkan banyak pihak. Apapun alasan polisi, jelas ini sebuah upaya pelemahan fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebuah upaya yang sangat tidak populer, jauh dari ekspektasi rakyat.

Polisi lupa, kita saat ini sedang berperang melawan korupsi, dan yang berada dalam upaya tersebut bukan hanya KPK, tapi seluruh rakyat. Kita sudah muak dengan korupsi. Karena korupsi bukan saja menggerogoti keuangan negara, namun juga menjadikan kita bangsa yang terbelakang. Gemar mengambil milik orang lain.

Gerakan rakyat mendukung Chandra dan Bibit pun sejak kemarin sudah masif diperlihatkan. Puluhan intelektual sipil seperti Ery Riyana, Eep Syaefulloh, Ahmad Syafii Ma’arif, hingga intelektual muda Anies Baswedan menjaminkan dirinya bagi C&B. Mereka minta keduanya dikepaskan dengan jaminan para tokoh tersebut. Karena mereka percaya, keduanya tak akan melarikan diri atau tak akan membuang barang bukti.

Belum cukup dengan itu, kalangan pengguna facebook atau fesbuker pun menggalang dukungan. Hingga pukul 15.06 WIB, dukungan bagi C&B sudah mencapai 25.637 fesbuker. Gerakan ini sendiri mempunyai target dukungan sejuta fesbuker.

Bukan perkara mudah mengumpulkan dukungan sebanyak itu. Tapi bukan perkara sulit pula jika fesbuker memang concern pada gerakan anti korupsi. Karena kini saatnya kita mempunyai kepedulian yang sama terhadap gerakan ini. Ini juga kalau para fesbuker masih ingin melihat dan merasakan Indonesia menjadi lebih baik.

Dukungan semacam ini bukan pertama kali terjadi. Ingat saat Prita Mulyasari tersangkut kasus dengan RS.Omni Internasional Serpong. Ribuan fesbuker dengan rela memberi dukungan dalam berbagai cara.

Entah apakah statemen politik (political statement) macam ini efektif, kemudian hari terbukti kasus Prita menjadi magnet yang luar biasa bagi banyak kalangan. Selain media online, pers mainstream pun memberitakan fenomena Prita dengan masifnya dukungan masyarakat maya pada kasusnya.

Bahkan bagi mereka yang bukan fesbuker sekalipun, termasuk Presiden SBY pun kemudian mengomentari kasus ini dan berharap diselesaikan secara adil. Dan kita tahu seperti apa ending kasus Prita.

Saya sendiri berharap, apa yang dilakukan fesbuker menggedor perhatian para petinggi negara, utamanya Presiden yang seolah tak ambil pusing dengan pertikaian KPK dan Polri. Presiden harus bersikap jika tak mau ditinggalkan rakyat.

Sekali lagi, inilah saatnya rakyat menagih janji pemberantasan korupsi yang dulu jadi jualan semasa pemilu. Kami tak butuh lip service, tapi bukti nyata. Perang melawan korupsi belum selesai kawan.

Kalau mau gabung, ini link laman Facebook-nya.