Judul Buku : Kompasiana Etalase Warga Biasa Pengarang : Pepih Nugraha Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama (Oktober 2013) Saat mengetahui buku dengan judul “Kompasiana Etalase Warga Biasa” terbit, ingatan saya melayang pada ‘keterlibatan’ saya di awal kehadiran Kompasiana di tahun 2008. Waktu itu saya hanya ‘penonton’ di luar arena Kompasiana yang masih Read More →

Kemarin Kompasiana, media kebanggaan kita ini ternyata sudah berusia 5 tahun. Usia ini dihitung sejak Kompasiana ditetapkan sebagai Public Blogger dan bukan lagi Journalist Blogger. Antara Public dan Journalist adalah dua entitas yang berbeda. Saat menjadi Journalist Blogger, Kompasiana hanya bisa diisi oleh jurnalis Kompas Gramedia grup. Ide awalnya adalah menampung tulisan yang tak tertampung Read More →

Tinggal di sisi sungai dan merasakan kebanjiran selama 15 tahun bukanlah mimpi bagi saya sekeluarga. Saya pernah mengalaminya di kawasan Cidodol Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Rumah kami yang berada di sisi anak sungai Pesanggrahan selalu terkena luapan air di kala hujan deras turun di Jakarta maupun kiriman dari kawasan puncak Bogor.

Sedih, pastinya. Tapi tak ada waktu untuk menyesali banjir, karena menangis pastinya tak akan menyelesaikan keadaan. Saat kecil, banjir bagi saya adalah bersenang-senang main air. Tak ada kamus sedih, karena banyak rumah teman dan tetangga yang juga kena banjir.

Namun kesedihan sebenarnya saya dan adik-adik rasakan, karena di lingkungan terdekat hanya rumah kami yang kebanjiran. Posisi rumah yang di bawah cekungan sungai membuat rumah kami berada di lokasi terbawah dari rumah-rumah lainnya. Alhasil rumah kami jadi langganan banjir tiap hujan besar, bukan hanya sekali tiap tahun, bahkan berkali-kali saat musim penghujan tiba.

Tak ada bantuan pangan, obat-obatan atau apapun karena (mungkin) tak ada yang peduli pada kami yang tinggal di bantaran kali. Siapa suruh tinggal di pinggir kali, begitu mungkin pemerintah kota saat itu berfikir.

Apa yang kami lakukan saat hujan dan banjir datang adalah melakukan segalanya sendiri. Karena banjir kerap hadir, kami jadi punya insting lebih dalam mengendus mana hujan yang bisa menyebabkan banjir, mana yang hanya menumpahkan air saja.

Jika banjir kemudian menggenang, kami refleks bekerja sama mengangkat barang-barang ke tempat lebih tinggi. Kasur diangkat ke atas lemari, kulkas, tv di atas meja. Yang paling utama biasanya saya ungsikan dulu adik-adik yang masih kecil-kecil di rumah tetangga yang letaknya lebih tinggi. Setelah itu kembali ke rumah beberes bersama orang tua.

Seingat saya selama tinggal di sisi sungai Pesanggrahan, banjir terhebat yang pernah menimpa rumah kami tingginya mencapai 1,5 meter. Rumah bapak nyaris tenggelam dan menyisakan dinding dan atap saja. Dan pasca banjir adalah saat yang paling berat bagi kami sekeluarga karena harus membersihkan perabotan dari lumpur yang menempel, mengepel lantai hingga menghilangkan lembab akibat banjir. Sungguh menguras fisik dan psikis.

Setelah 15 tahun kebanjiran akhirnya awal tahun 90-an bapak kepikiran untuk merelokasi rumah kami ke lokasi yang lebih beradab. Jangan bayangkan relokasi ini adalah tawaran Pemda atau lurah setempat ya. Ini murni usaha kedua orangtua saya sendiri. Mungkin relokasi ini bisa kami namakan swa relokasi, relokasi atas kemauan dan usaha sendiri.

Alhamdulillah setelah pindah ke kawasan lain rumah orang tua kami tak pernah lagi kebanjiran hingga kini. Meski kenangan akan banjir di masa lalu begitu membekas, namun saya tak ingin membaginya pada anak-anak. Biarlah itu jadi sejarah hidup saya, adik-adik dan ortu.

13549405101186317784

Aplikasi GPS Navigation Waze

Siapapun tahu liburan adalah saat menyenangkan bersama orang terdekat, entah itu teman, pasangan, maupun keluarga. Bagi kami sekeluarga liburan adalah saatnya melupakan rutinitas sejenak. Anak-anak terbebas dari pe-er, ulangan, ataupun tugas di tempat les. Istri jeda dari pekerjaan di kampusnya. Sementara saya sengaja mematikan semua notifikasi email atau BBM agar perjalanan liburan tak terganggu urusan rutin.

Tapi satu yang tak mungkin saya tinggalkan meski sedang liburan adalah gadget. Bagi saya keberadaan smartphone ataupun tablet tetap penting. Terutama bagi mereka yang memilih jalan darat menggunakan kendaraan. Ini sudah saya buktikan saat liburan ke beberapa kota di Jawa, saat Lebaran lalu.

Menurut saya, aplikasi wajib yang harus ditanam di gadget kita saat liburan menggunakan jalan darat adalah jejaring sosial seperti twitter dan Waze. Keduanya menjadi andalan saya menemani perjalanan liburan. Twitter, tak ada yang mengalahkan dalam soal updating ruas jalan. Info kemacetan, jalan rusak, lampu jalan semua bisa didapat. Saya cukup terbantu saat terjebak kemacetan parah di tol Cikampek dan mesti menentukan sikap berbelok lewat jalur lain atau menunggu jalur Cikampek dibuka kembali.

Sementara Waze yang merupakan aplikasi free GPS Navigation jadi andalan untuk mencari arah jalan. Waze sudah saya nyalakan sejak start dari rumah. Info yang diberikan lumayan, karena Waze memberi info kepadatan lalin, arah jalan, letak pom bensin hingga siapa saja yang terhubung dengan kita, sesama pengguna Waze. Kita bisa bersahutan dengan pengguna Waze yang kebetulan melewati rute yang sama. Pendek kata, liburan jadi lebih menyenangkan berkat kemajuan teknologi. Tak perlu banyak kesasar saat mencari jalan, karena petunjuk arah yang diberikan aplikasi semacam Waze cukup akurat.

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan saat perjalanan liburan menggunakan mobil adalah ketersediaan alat charger. Charger fungsinya sangat vital, terutama saat batteray gadget drop. Secanggih apapun gadget kita kalau batteraynya drop tak ada yang bisa kita lakukan dengannya. Selain mobile charger, sediakan pula power bank untuk mendukung optimalisasi kerja gadget. Power bank bisa menjadi back up saat kita turun dari mobil dan butuh mengisi batteray gadget.

Bapak dan Ibuku


Menunaikan ibadah haji bagi umat muslim adalah salah satu rukun Islam yang mesti dilakukan bagi mereka yang mampu. Mampu bisa diartikan secara finansial ataupun kesiapan mental. Secara financial mungkin calon haji dari Indonesia adalah kalangan paling sabar. Sebab ongkos naik haji yang cukup tinggi, terus naik sesuai nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

Karenanya banyak cara yang ditempuh umat muslim Indonesia demi bisa berangkat haji ke tanah suci. Mulai dari menabung mengumpulkan rupiah demi rupiah, menjual harta benda berupa tanah hingga rumah. Pendek kata jika sudah tiba waktunya, harta dunia tak ada artinya dibandingkan panggilan ibadah haji.

Bagi kedua orang tua saya pergi haji adalah barang mewah. Bapak saya selama aktif sebagai karyawan kecil sebuah BUMN selalu punya mimpi suatu saat bisa pergi berhaji. Namun berbeda dengan rekan-rekannya yang bisa menyisihkan gaji untuk tabungan haji, tabungan bapak selalu kalah dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Bahkan simpanan keluarga berupa sepetak tanah yang pernah dimiliki bapak terpaksa dilego demi membiayai kuliah saya di sebuah PTN di Bandung.

Menyesalkah bapak saat itu tak kunjung punya modal yang pas untuk berhaji? Secara langsung tak pernah ada rona kecewa meski tak bisa menabung demi membiayai perjalanan ibadah ke tanah suci. Bagi bapak biaya pendidikan bagi kami, 3 anaknya juga sama pentingnya dengan perjalanan haji.

Bapak tetap bekerja dengan giat dan memberi teladan yang baik bagi kami anak-anaknya dengan menunjukkan kerajinan, keseriusan dan kesungguhan dalam bekerja. Jarang sekali bapak telat masuk kantor. Bahkan kerap kerja lembur di akhir pekan demi memperoleh tambahan biaya hidup bagi kami sekeluarga. Meski lelah bapak tak sekalipun mengeluh.

Selain lembur di kantor, bapak juga berupaya mencari tambahan penghasilan dengan coba-coba berwirausaha sebagai peternah burung puyuh. Sayangnya usaha ini tak lama. Karena tak cukup waktu usaha ini pun tutup. Setelah itu bapak juga sempat membeli bajaj yang dibawa narik seorang kerabat. Tak jarang bapak juga mengemudikan sendiri bajajnya untuk sekedar menambah asap dapur di rumah.

Pengabdian bapak di kantor dan usaha kerasnya menghidupi kami ternyata dicatat Allah sang Maha Melihat. Diujung masa baktinya sebagai pegawai, tak disangka bapak memperoleh berkah berangkat ibadah haji ke tanah suci tanpa sedikitpun keluar uang. Rupanya ketekunan dalam ibadah dan prestasi dalam bekerja menjadi catatan sendiri pihak manajemen. Dan perjalanan ibadah haji ke tanah suci di tahun 2004 adalah bukti nyata dari do’a-do’a panjang yang dipanjatkan bapak selama ini.

Setelah bapak berhaji, ada pula peristiwa yang membuat saya terharu. Begitu pensiun dan mendapat uang hasil pengabdian di tempat kerja selama lebih dari 25 tahun, bapak langsung ingat pada sang belahan jiwanya, yang tak lain adalah ibu saya. Sebagian uang pensiun pun dipersembahkan bagi ibu yang belum berangkat haji. Semula ibu menolak karena ingin uang tersebut digunakan sebagai biaya hidup di hari tua saja. Namun bapak memaksa, karena hanya dengan cara itulah bapak membalas rasa terima kasihnya pada ibu yang telah menemaninya selama ini, merawat dan membesarkan ketiga anak tanpa pernah menuntut balas.

Ibu berangkat ke tanah suci di tahun 2006 dengan perjuangan yang tak kalah serunya. Saat itu ibu nyaris batal berhaji lantaran kuota haji untuk DKI Jakarta sudah penuh dan ibu masuk daftar tunggu 3-4 tahun ke depan. Rasa cemas dan bingung sempat melanda keluarga kami. Namun lagi-lagi tangan Allah SWT bermain dalam hal ini. Ibu diberi jalan berhaji dengan pindah domisili ke Bengkulu tempat domisili adiknya. Dari Bengkulu ibu yang ditemani adik iparnya berangkat haji dari embarkasi Padang Sumatera Barat.

Agak riskan juga melepas ibu berhaji, karena pasti melelahkan dan menguras daya tahan fisiknya yang mulai menua. Coba saja bayangkan, dari Jakarta ibu harus ke Bengkulu terlebih dahulu karena ikut rombongan haji dari provinsi Bengkulu. Dan dari situ kemudian menuju kota Padang Sumatera Barat sebelum diberangkatkan ke tanah suci.
Jalan memutar yang lumayan melelahkan.

Namun Alhamdulillah selama di tanah suci ibu nyaris tak memperoleh halangan apapun terkait kesehatannya. Padahal sebelum berhaji, ibu punya keluhan penyakit reumatik di kakinya yang lumayan akut. Jika digunakan jalan atau duduk terlalu lama maka akan terjadi pembengkakan. Syukur selama di tanah suci ibu jadi sehat wal afiat. Mondar-mandir di masjidil haram tak membuat penyakitnya kambuh. Dan kondisi ini berlangsung hingga ibadah selesai dan ibu kembali ke tanah air.

Saya dan keluarga adalah Alfamart addict. Hampir tiap hari saya, istri maupun anak-anak berkunjung ke sejumlah gerai di Alfamart. Entah itu membeli kebutuhan sehari-hari macam sabun, odol, mie instan, hingga cemilan. Saya sering bertandang ke gerai Alfamart karena gerai Alfamart tersebar di sekitar pemukiman kami. Sedikitnya ada 5 gerai yang terletak hanya sepelemparan batu dari Read More →

Brongkos mungkin masih kedengar asing bagi sebagian besar orang di Jakarta. Masakan khas Jogja yang sekilas mirip dengan rawon ini ternyata bisa menjadi magnet hubungan pertemanan. Dan kemarin saya bersama kawan-kawan hadir di rumah pak Prayitno Ramelan untuk mencicipi Brongkos buatan istri Pak Pray. Bagi kami, berkumpul di rumah pak Pray tanpa mencicipi brongkos adalah Read More →

Masih ingat dengan kejadian copy paste yang sempat ramai dan membuat suasana panas di Kompasiana beberapa waktu lalu. Ternyata copas bukan hanya dilakukan para blogger yang kerap disebut jurnalis amatiran, tapi juga dilakukan oleh jurnalis beneran. Bahkan ini dilakukan media besar yang juga keluarga Kompas Gramedia. Hari ini harian Warta Kota menurunkan laporan peringatan 80 Read More →

Sebuah ajakan menarik dari admin Kompasiana sudah beberapa hari lalu mengiming-imingi, ngeblog berjamaah dalam seratus menit. Targetnya mecahin rekor seribu postingan. Hadiahnya lumayan aduhai, mulai dari modem sampai kamera DLSR. Sejumlah ide sudah menari-nari di kepala. Semangat sekali saya menghadapi ajang ini. Beda sekali dengan ajang lomba penulisan lain yang rentang waktunya panjang dan bikin Read More →

Post Navigation