Tagkompasiana

Buku Penting Bagi Penggiat Media Baru

Buku Kompasiana (foto: koleksi pribadi)

Buku Kompasiana (foto: koleksi pribadi)

Judul Buku : Kompasiana Etalase Warga Biasa
Pengarang : Pepih Nugraha
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama (Oktober 2013)

Saat mengetahui buku dengan judul “Kompasiana Etalase Warga Biasa” terbit, ingatan saya melayang pada ‘keterlibatan’ saya di awal kehadiran Kompasiana di tahun 2008. Waktu itu saya hanya ‘penonton’ di luar arena Kompasiana yang masih mengusung jargon “Journalist Blog”. Tulisan-tulisan yang menarik dari jurnalis kawakan, memaparkan peristiwa dibalik berita yang tak mungkin dibaca di media mainstream.

Namun bukan itu persoalan utamanya. Hanya bisa membaca tulisan-tulisan jurnalis Kompas dan sejumlah blogger tamu menurut saya adalah siksaan yang menyakitkan. Rasa geram karena hanya bisa berada di latar luar akhirnya terobati setelah Kompasiana ‘membuka diri’ mempersilakan blogger yang notabene adalah warga biasa untuk masuk, menampilkan tulisannya dalam panggung yang sama dengan jurnalis Kompas lainnya.

Kesempatan itu tak saya sia-siakan dan postingan saya pun bisa berada di Kompasiana. Yes, mimpi saya menulis di Kompas akhirnya mewujud, meski kali ini bukan di Kompas cetak tapi di Kompasiana yang online. Tak apalah.

Kala itu postingan saya berjudul Media dan Pemberitaan Amrozy menjadi postingan pertama saya di Kompasiana. Berbeda dengan sekarang, semua postingan saat itu masih dimoderasi oleh sang admin Pepih Nugraha.

Mimpi semacam itu ternyata bukan hanya milik saya. Kemudian berbondong-bondonglah warga biasa masuk ke dalam atmosfer Kompasiana. Jumlah blogger dari yang semula hanya bisa dihitung dengan jari tangan, kini sudah mencapai 170.000 penulis. Tidak semua aktif memang, karena ada blogger yang datang dan pergi. Tapi itu biasa, sesuai dengan habit di media sosial yang tak pernah memaksa orang singgah, begitu pula tak meminta orang untuk pergi.

Kompasiana memang akhirnya menjadi ‘rumah’ berteduh banyak orang (biasa disebut Kompasianer). Di sini tumbuh bakat-bakat baru, bersanding dengan para blogger kawakan yang sebelumnya ‘berumah’ di tempat lain. Kompasiana juga menjadi ajang menepikan tulisan sejumlah jurnalis yang tak tertampung di media asalnya. Pendek kata, Kompasiana menjelma menjadi rumah bagi semua, tanpa ikatan, tanpa memandang asal.

“Kompasiana” Bak Pedang Bermata Dua

Membaca buku “Kompasiana Etalase Warga Biasa” karya Pepih Nugraha ini kita seperti diajak membuka diary (buku harian) penulisnya. Pepih dengan pengalaman panjangnya sebagai wartawan Kompas adalah pencerita yang hebat. Buku ini disusun bukan berdasarkan kronologis berdirinya Kompasiana, karena memang tak dimaksudkan sebagai buku sejarah berdirinya Kompasiana. Pepih sebagai penggagas, admin sekaligus penulis buku merajut kisah yang dicatatnya dengan detil, penuh bumbu emosi.

Saat menceritakan tekanan yang dihadapi dari sesama koleganya di Kompas terkait penggunaan nama Kompas dalam Kompasiana, Pepih bertahan. Ia punya argumen sendiri. Nama Kompasiana cukup simpel, mudah diingat dan catchy. Nama ini mengingatkan pada rubrik Kompasiana yang digawangi dan ditulis sendiri oleh salah satu pendiri Kompas, PK Ojong.

Meski mudah diucapkan dan diingat, ternyata Kompasiana sebagai Journalist Blog kemudian menjadi masalah di lingkungan internal Kompas cetak. Konten Kompasiana dianggap sebagain kalangan internal jauh dari tradisi Kompas yang santun, dalam dan obyektivitasnya terjaga puluhan tahun.

Saya setuju dengan Pepih yang membandingkan Kompasiana secara hitam putih dengan Kompas cetak adalah orang yang tidak (belum) memahami ‘roh’ media baru. Media baru apapun itu jelas berbeda dengan media mainstream yang memiliki tradisi panjang terkait isi yang terjaga kualitasnya, dengan menempatkan obyektivitas pada tataran tertentu.

Sementara Kompasiana, karena merupakan tulisan warga biasa yang tidak melalui proses editing keredaksian, memang kental dengan semangat subyektivitas penulisnya. Namun justru di situlah letak kelebihan dan keunikan media baru (media sosial). Sangat personal, bahkan emosional.

Apakah salah? Menurut saya tidak. Bahkan keberadaan media baru melengkapi keberadaan media mainstream yang sudah lebih dulu eksis. Apa yang ditampilkan di media mainstream sangat terbatas, entah itu dibatasi jumlah halaman atau kebutuhan harus berbagi dengan banyak rubrik. Gaya bahasanya pun punya kaedah tersendiri yang cenderung kaku dan formal.

Sedangkan media baru justru kebalikannya. Sebuah tulisan bisa berpanjang-panjang, dengan gaya bahasa yang lentur, nyaris tanpa aturan. Sentuhan pribadi dalam tiap tulisan membuat media baru jauh lebih berwarna dan informal.

Kompasiana Adalah Energi Warga Biasa

Membaca buku setebal 268 halaman ini bagi saya selain membaca perjuangan, juga melihat keteguhan dan kekeras kepalaan seorang Pepih Nugraha. Jika Pepih takluk pada rintangan yang menghadang sejak awal, saya pastikan Kompasiana tak akan pernah menyentuh usia hingga 5 tahun seperti sekarang.

Jika Pepih selaku penggagas dan admin tidak punya keteguhan sikap, mungkin saran seorang jurnalis muda Kompas cetak untuk menutup Kompasiana benar-benar terwujud.

Kekeras kepalaan Pepih mesti dilihat dari sisi positif. Jika ia tak punya ambisi positif mengembangkan Blog Sosial bisa jadi Indonesia tidak akan pernah memiliki sebuah ‘rumah’ berteduh bagi warga biasa bernama Kompasiana.

Kekeras kepalaan Pepih akhirnya mewujud. Berkat kerja keras Pepih beserta tim dan para penulis, saat ultah ke-5 bulan Oktober lalu, Kompasiana berada di posisi 30 besar situs terpopuler di Indonesia versi Alexa. Sebuah pencapaian yang tak main-main. Dan bukan tak mungkin posisi itu bakal terus mengangkasa.

Dengan pencapaian ini, Kompasiana bukan lagi etalase warga biasa, namun juga sebuah energi yang terus bertumbuh.

5 Tahun Ngompasiana Berasa Naik Jetcoaster

Dua wajah Kompasiana, dulu dan kini

Dua wajah Kompasiana, dulu dan kini


Kemarin Kompasiana, media kebanggaan kita ini ternyata sudah berusia 5 tahun. Usia ini dihitung sejak Kompasiana ditetapkan sebagai Public Blogger dan bukan lagi Journalist Blogger. Antara Public dan Journalist adalah dua entitas yang berbeda. Saat menjadi Journalist Blogger, Kompasiana hanya bisa diisi oleh jurnalis Kompas Gramedia grup. Ide awalnya adalah menampung tulisan yang tak tertampung di media mainstream Kompas. Karena banyak liputan yang tak mungkin ditampilkan versi koran, entah karena alasan keterbatasan halaman, isu yang masih rahasia, atau terlalu ‘ringan’ jika dimuat di Kompas.

Harapannya saat itu banyak jurnalis Kompas yang mau dan sudi ngeblog di Kompasiana. Tapi rupanya masih sulit mengajak jurnalis Kompas ngeblog. Mungkin banyak yang belum familiar dengan dunia ngeblog. Akhirnya pada prakteknya ‘pemainnya’ Pepih Nugraha lagi Pepih Nugraha lagi. Sebagai moderator atau admin Kompasiana Pepih memang bertanggung jawab atas keberadaan Kompasiana. Hidup matinya Kompasiana (waktu itu) ada di tangannya. Karenanya, Pepih terlihat sangat menonjol di awal kehadiran Kompasiana.

Bahkan sempat terdengar guyonan jika ada Pilkada atau Pilpres mungkin Pepih bakal “jadi” karena popularitasnya begitu mencorong saat itu.

Saya termasuk ‘pengikut’ Kompasiana sejak masa Journalist Blogger di tahun 2008. Saat itu saya seperti menemukan ‘tempat’ mengintip ada apa dibalik sebuah berita. Bagi saya ini penting karena pekerjaan saya pun di bidang yang sama. Tapi entah mengapa saya geregetan karena hanya bisa jadi penonton. Mengapa hanya ‘orang dalam’ Kompas yang bisa masuk ke Kompasiana.

Pertanyaan saya kemudian menemukan jawabannya saat melihat tulisan seorang Prayitno Ramelan, seorang purnawirawan TNI AU yang menulis sebagai blogger tamu di Kompasiana. Lagi-lagi saya iri dengan pak Pray, kok pak Pray bisa kenapa saya enggak.

Dan hari itupun datang, Kompasiana akhirnya tidak lagi jadi media ekslusif bagi blogger jurnalis Kompas saja. Namun saat itu untuk masuk jadi penulis di Kompasiana tidaklah mudah. Mesti disaring dan dimoderasi dulu oleh kang Pepih. Sayapun akhirnya bisa ngeblog di Kompasiana, bersanding dengan nama-nama beken waktu itu seperti Prayitno Ramelan, Chappy Hakim dan juga Linda Djalil.

Postingan pertama saya di Kompasiana berjudul “Media dan Pemberitaan Amrozy”, diposting 14 November 2008. Tulisan saya mengenai pemberitaan kasus terorisme di televisi itu dikunjungi 1166 pembaca dan dikomentari 30 blogger. Jumlah pembaca tersebut tergolong banyak untuk ukuran sebuah media baru seperti Kompasiana. Saya hanya bisa bilang “Wow”.

Tulisan yang sama juga saya posting di blog saya yang lain. Dan sempat menuai protes dari sejumlah pendukung Amrozy. Bahkan ada yang mengancam bakal membunuh saya waktu itu.

5 Tahun Jadi Saksi Sekaligus Pelaku

Sepanjang 5 tahun apa yang saya dapat di Kompasiana? Terlalu banyak malah, sulit menjabarkan satu-satu. Saya akui Kompasiana bukanlah satu-satunya komunitas yang saya ikuti. Namun tempat ini adalah satu-satunya komunitas blog keroyokan yang membuat saya betah, nyaman, dan tetap kreatif.

Sejak kehadirannya di tahun 2008, Kompasiana telah melahirkan blogger dan penulis-penulis handal. Selain dua nama sesepuh yang saya sebut di atas, ada beberapa nama yang sempat memberi “warna” Kompasiana. Mungkin Kompasianer masih ingat dengan nama-nama seperti Linda Djalil, mantan wartawan di era Orde Baru yang tulisannya kerap membius pembacanya. Atau Mariska Lubis yang kerap memposting soal seks yang membuat pembacanya panas dingin dengan kisah-kisah uniknya. Dari mereka saya sempat mencuri ilmu menulis, gratis.

Di Kompasiana saya juga sempat melihat ‘gontok-gontokan’ ide yang menarik. Kadang hanya sekedar sahut-sahutan, beberapa menjadi benturan ide, namun tidak jarang menjadi sarkastis, melupakan norma perbincangan di depan umum. Namun semuanya menurut saya menjadikan Kompasiana dinamis. Indah saat dikenang, namun saat semua persoalan dialami kerap menimbulkan kegeraman tersendiri. Bahkan kerap jadi ajang caci maki bagi admin.

Buat saya hal yang paling membekas dalam perjalanan 5 tahun saya bersama Kompasiana adalah saat salah satu tulisan saya jadi bahan laporan polisi oleh seorang Kompasianer selebriti. Tulisan tersebut dianggapnya mencemarkan nama baiknya. Atas saran kang Pepih waktu itu saya abaikan kasus tersebut. Dan terbukti hingga kini tak ada kelanjutan lagi kasus tersebut. Anehnya, si selebriti masih penasaran dengan saya. Bulan lalu saat saya bertemu Kang Pepih, si selebriti kabarnya minta dipertemukan dengan saya untuk membicarakan persoalan itu.

Hari ini saya dapat kabar menggembirakan mengenai Kompasiana yang dibagikan kang Pepih melalui Facebook. Kompasiana kini berada di posisi 30 sebagai situs terbesar di Indonesia versi Alexa. Ini merupakan kado terbaik yang pernah Kompasiana terima. Bukan tak mungkin Kompasiana akan terus mendaki dan mendaki ke posisi teratas sebagai blog sosial paling besar di negeri ini.

Happy B’day Kompasiana…

Swarelokasi Setelah 15 tahun Kebanjiran

Tinggal di sisi sungai dan merasakan kebanjiran selama 15 tahun bukanlah mimpi bagi saya sekeluarga. Saya pernah mengalaminya di kawasan Cidodol Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Rumah kami yang berada di sisi anak sungai Pesanggrahan selalu terkena luapan air di kala hujan deras turun di Jakarta maupun kiriman dari kawasan puncak Bogor.

Sedih, pastinya. Tapi tak ada waktu untuk menyesali banjir, karena menangis pastinya tak akan menyelesaikan keadaan. Saat kecil, banjir bagi saya adalah bersenang-senang main air. Tak ada kamus sedih, karena banyak rumah teman dan tetangga yang juga kena banjir.

Namun kesedihan sebenarnya saya dan adik-adik rasakan, karena di lingkungan terdekat hanya rumah kami yang kebanjiran. Posisi rumah yang di bawah cekungan sungai membuat rumah kami berada di lokasi terbawah dari rumah-rumah lainnya. Alhasil rumah kami jadi langganan banjir tiap hujan besar, bukan hanya sekali tiap tahun, bahkan berkali-kali saat musim penghujan tiba.

Tak ada bantuan pangan, obat-obatan atau apapun karena (mungkin) tak ada yang peduli pada kami yang tinggal di bantaran kali. Siapa suruh tinggal di pinggir kali, begitu mungkin pemerintah kota saat itu berfikir.

Apa yang kami lakukan saat hujan dan banjir datang adalah melakukan segalanya sendiri. Karena banjir kerap hadir, kami jadi punya insting lebih dalam mengendus mana hujan yang bisa menyebabkan banjir, mana yang hanya menumpahkan air saja.

Jika banjir kemudian menggenang, kami refleks bekerja sama mengangkat barang-barang ke tempat lebih tinggi. Kasur diangkat ke atas lemari, kulkas, tv di atas meja. Yang paling utama biasanya saya ungsikan dulu adik-adik yang masih kecil-kecil di rumah tetangga yang letaknya lebih tinggi. Setelah itu kembali ke rumah beberes bersama orang tua.

Seingat saya selama tinggal di sisi sungai Pesanggrahan, banjir terhebat yang pernah menimpa rumah kami tingginya mencapai 1,5 meter. Rumah bapak nyaris tenggelam dan menyisakan dinding dan atap saja. Dan pasca banjir adalah saat yang paling berat bagi kami sekeluarga karena harus membersihkan perabotan dari lumpur yang menempel, mengepel lantai hingga menghilangkan lembab akibat banjir. Sungguh menguras fisik dan psikis.

Setelah 15 tahun kebanjiran akhirnya awal tahun 90-an bapak kepikiran untuk merelokasi rumah kami ke lokasi yang lebih beradab. Jangan bayangkan relokasi ini adalah tawaran Pemda atau lurah setempat ya. Ini murni usaha kedua orangtua saya sendiri. Mungkin relokasi ini bisa kami namakan swa relokasi, relokasi atas kemauan dan usaha sendiri.

Alhamdulillah setelah pindah ke kawasan lain rumah orang tua kami tak pernah lagi kebanjiran hingga kini. Meski kenangan akan banjir di masa lalu begitu membekas, namun saya tak ingin membaginya pada anak-anak. Biarlah itu jadi sejarah hidup saya, adik-adik dan ortu.

Liburan Cerdas di Era 2.0

13549405101186317784

Aplikasi GPS Navigation Waze

Siapapun tahu liburan adalah saat menyenangkan bersama orang terdekat, entah itu teman, pasangan, maupun keluarga. Bagi kami sekeluarga liburan adalah saatnya melupakan rutinitas sejenak. Anak-anak terbebas dari pe-er, ulangan, ataupun tugas di tempat les. Istri jeda dari pekerjaan di kampusnya. Sementara saya sengaja mematikan semua notifikasi email atau BBM agar perjalanan liburan tak terganggu urusan rutin.

Tapi satu yang tak mungkin saya tinggalkan meski sedang liburan adalah gadget. Bagi saya keberadaan smartphone ataupun tablet tetap penting. Terutama bagi mereka yang memilih jalan darat menggunakan kendaraan. Ini sudah saya buktikan saat liburan ke beberapa kota di Jawa, saat Lebaran lalu.

Menurut saya, aplikasi wajib yang harus ditanam di gadget kita saat liburan menggunakan jalan darat adalah jejaring sosial seperti twitter dan Waze. Keduanya menjadi andalan saya menemani perjalanan liburan. Twitter, tak ada yang mengalahkan dalam soal updating ruas jalan. Info kemacetan, jalan rusak, lampu jalan semua bisa didapat. Saya cukup terbantu saat terjebak kemacetan parah di tol Cikampek dan mesti menentukan sikap berbelok lewat jalur lain atau menunggu jalur Cikampek dibuka kembali.

Sementara Waze yang merupakan aplikasi free GPS Navigation jadi andalan untuk mencari arah jalan. Waze sudah saya nyalakan sejak start dari rumah. Info yang diberikan lumayan, karena Waze memberi info kepadatan lalin, arah jalan, letak pom bensin hingga siapa saja yang terhubung dengan kita, sesama pengguna Waze. Kita bisa bersahutan dengan pengguna Waze yang kebetulan melewati rute yang sama. Pendek kata, liburan jadi lebih menyenangkan berkat kemajuan teknologi. Tak perlu banyak kesasar saat mencari jalan, karena petunjuk arah yang diberikan aplikasi semacam Waze cukup akurat.

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan saat perjalanan liburan menggunakan mobil adalah ketersediaan alat charger. Charger fungsinya sangat vital, terutama saat batteray gadget drop. Secanggih apapun gadget kita kalau batteraynya drop tak ada yang bisa kita lakukan dengannya. Selain mobile charger, sediakan pula power bank untuk mendukung optimalisasi kerja gadget. Power bank bisa menjadi back up saat kita turun dari mobil dan butuh mengisi batteray gadget.

Tangan Tuhan dalam Ibadah Haji

Bapak dan Ibuku


Menunaikan ibadah haji bagi umat muslim adalah salah satu rukun Islam yang mesti dilakukan bagi mereka yang mampu. Mampu bisa diartikan secara finansial ataupun kesiapan mental. Secara financial mungkin calon haji dari Indonesia adalah kalangan paling sabar. Sebab ongkos naik haji yang cukup tinggi, terus naik sesuai nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

Karenanya banyak cara yang ditempuh umat muslim Indonesia demi bisa berangkat haji ke tanah suci. Mulai dari menabung mengumpulkan rupiah demi rupiah, menjual harta benda berupa tanah hingga rumah. Pendek kata jika sudah tiba waktunya, harta dunia tak ada artinya dibandingkan panggilan ibadah haji.

Bagi kedua orang tua saya pergi haji adalah barang mewah. Bapak saya selama aktif sebagai karyawan kecil sebuah BUMN selalu punya mimpi suatu saat bisa pergi berhaji. Namun berbeda dengan rekan-rekannya yang bisa menyisihkan gaji untuk tabungan haji, tabungan bapak selalu kalah dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Bahkan simpanan keluarga berupa sepetak tanah yang pernah dimiliki bapak terpaksa dilego demi membiayai kuliah saya di sebuah PTN di Bandung.

Menyesalkah bapak saat itu tak kunjung punya modal yang pas untuk berhaji? Secara langsung tak pernah ada rona kecewa meski tak bisa menabung demi membiayai perjalanan ibadah ke tanah suci. Bagi bapak biaya pendidikan bagi kami, 3 anaknya juga sama pentingnya dengan perjalanan haji.

Bapak tetap bekerja dengan giat dan memberi teladan yang baik bagi kami anak-anaknya dengan menunjukkan kerajinan, keseriusan dan kesungguhan dalam bekerja. Jarang sekali bapak telat masuk kantor. Bahkan kerap kerja lembur di akhir pekan demi memperoleh tambahan biaya hidup bagi kami sekeluarga. Meski lelah bapak tak sekalipun mengeluh.

Selain lembur di kantor, bapak juga berupaya mencari tambahan penghasilan dengan coba-coba berwirausaha sebagai peternah burung puyuh. Sayangnya usaha ini tak lama. Karena tak cukup waktu usaha ini pun tutup. Setelah itu bapak juga sempat membeli bajaj yang dibawa narik seorang kerabat. Tak jarang bapak juga mengemudikan sendiri bajajnya untuk sekedar menambah asap dapur di rumah.

Pengabdian bapak di kantor dan usaha kerasnya menghidupi kami ternyata dicatat Allah sang Maha Melihat. Diujung masa baktinya sebagai pegawai, tak disangka bapak memperoleh berkah berangkat ibadah haji ke tanah suci tanpa sedikitpun keluar uang. Rupanya ketekunan dalam ibadah dan prestasi dalam bekerja menjadi catatan sendiri pihak manajemen. Dan perjalanan ibadah haji ke tanah suci di tahun 2004 adalah bukti nyata dari do’a-do’a panjang yang dipanjatkan bapak selama ini.

Setelah bapak berhaji, ada pula peristiwa yang membuat saya terharu. Begitu pensiun dan mendapat uang hasil pengabdian di tempat kerja selama lebih dari 25 tahun, bapak langsung ingat pada sang belahan jiwanya, yang tak lain adalah ibu saya. Sebagian uang pensiun pun dipersembahkan bagi ibu yang belum berangkat haji. Semula ibu menolak karena ingin uang tersebut digunakan sebagai biaya hidup di hari tua saja. Namun bapak memaksa, karena hanya dengan cara itulah bapak membalas rasa terima kasihnya pada ibu yang telah menemaninya selama ini, merawat dan membesarkan ketiga anak tanpa pernah menuntut balas.

Ibu berangkat ke tanah suci di tahun 2006 dengan perjuangan yang tak kalah serunya. Saat itu ibu nyaris batal berhaji lantaran kuota haji untuk DKI Jakarta sudah penuh dan ibu masuk daftar tunggu 3-4 tahun ke depan. Rasa cemas dan bingung sempat melanda keluarga kami. Namun lagi-lagi tangan Allah SWT bermain dalam hal ini. Ibu diberi jalan berhaji dengan pindah domisili ke Bengkulu tempat domisili adiknya. Dari Bengkulu ibu yang ditemani adik iparnya berangkat haji dari embarkasi Padang Sumatera Barat.

Agak riskan juga melepas ibu berhaji, karena pasti melelahkan dan menguras daya tahan fisiknya yang mulai menua. Coba saja bayangkan, dari Jakarta ibu harus ke Bengkulu terlebih dahulu karena ikut rombongan haji dari provinsi Bengkulu. Dan dari situ kemudian menuju kota Padang Sumatera Barat sebelum diberangkatkan ke tanah suci.
Jalan memutar yang lumayan melelahkan.

Namun Alhamdulillah selama di tanah suci ibu nyaris tak memperoleh halangan apapun terkait kesehatannya. Padahal sebelum berhaji, ibu punya keluhan penyakit reumatik di kakinya yang lumayan akut. Jika digunakan jalan atau duduk terlalu lama maka akan terjadi pembengkakan. Syukur selama di tanah suci ibu jadi sehat wal afiat. Mondar-mandir di masjidil haram tak membuat penyakitnya kambuh. Dan kondisi ini berlangsung hingga ibadah selesai dan ibu kembali ke tanah air.

12 Alasan Belanja di Alfamart itu Menyenangkan

Kartu AKU

Saya dan keluarga adalah Alfamart addict. Hampir tiap hari saya, istri maupun anak-anak berkunjung ke sejumlah gerai di Alfamart. Entah itu membeli kebutuhan sehari-hari macam sabun, odol, mie instan, hingga cemilan. Saya sering bertandang ke gerai Alfamart karena gerai Alfamart tersebar di sekitar pemukiman kami. Sedikitnya ada 5 gerai yang terletak hanya sepelemparan batu dari kediaman kami di Kranggan.

Kalau cuma itu sebenarnya alasannya tidak terlalu kuat. Karena di tempat saya tinggal juga berdiri dengan kokoh gerai saingan Alfamart. Bahkan di beberapa tempat, mereka bersebelahan. Namun mengapa yang saya kunjungi tetap si lebah Alfamart? Begini alasannya:

1.Harganya pasti, kompetitif. Tak bisa dipungkiri sebagai orang yang memiliki kesibukan di banyak tempat, saya cenderung menjadi orang yang simpel. Kalau berbelanja pun bakal melakukan hal-hal yang sederhana juga. Saya paling malas belanja dengan tawar-menawar. Apalagi jika barang yang dijual juga bukan barang yang harus ditawar. Di Alfamart semua barang sudah diberi banderol harga, semuanya sudah pasti harganya. Kita tinggal ambil dan bayar. Simpel kan. Harga yang kita keluarkan tak mahal-mahal amat. Masih standar sesuai harga di pasaran.

2. Belanja di Alfamart itu nyaman. Kenyamanan bisa dirasakan mulai dari area parkir yang umumnya cukup lapang. Kemudian juga penataan (display) barang yang mudah dilihat dan dijangkau, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Peletakan barang cukup adil, baik itu yang sedang masa promo maupun tidak. Bagi produk yang tengah melakukan promo, diletakkan di bagian yang mencolok dengan tulisan yang besar. Sementara barang lainnya ditempatkan di rak yang juga cukup mudah dicari.

3. Kebersihannya selalu terjaga. Untuk soal yang satu ini saya tak mau kompromi, bagi saya kebersihan gerai adalah harga mati. Jika saya dapati sebuah gerai sudah tak bersih, maka nafsu belanja saya pun redup. Maksud hati belanja banyak, karena melihat lingkungan tak mendukung, maka urunglah saya menebar fulus.

4. Tak pernah ada kembalian permen. Ini yang penting karena selisih sekian rupiah yang dikarenakan pecahan harga , menyebabkan gerai semacam Alfamart harus memutar otak bagaimana mengembalikan uang kembalian belanja konsumen. Kalau di “mart”-mart yang lain mereka menggunakan permen sebagai alat kembalian, Alfamart tak melakukan itu. Pembulatan ke bawah atau keatas dillakukan demi memenuhi kepuasan konsumen.

5. Pelayanannya ramah. Salah satu alasan mengapa saya kembali dan kembali lagi belanja ke Alfamart adalah karena sentuhan layanan yang personal. Setiap kali membuka pintu gerai Alfamart saya selalu disapa, “selamat pagi/siang/malam”. Mungkin terdengar sepele, tapi bagi pelanggan seperti saya itu “sesuatu banget”. Saya merasa “diorangkan”, tidak semata sebagai konsumen yang mesti dikuras habis uangnya. Saya merasa disapa oleh sahabat. Ketika pelanggan sudah dianggap sahabat maka pelanggan akan merasa di rumahnya sendiri dan “rela” membelanjakan uangnya.

6. Lokasi yang strategis. Tak dapat dipungkiri pemilihan lokasi gerai menjadi kunci utama sebuah keberhasilan usaha, terutama usaha retail seperti Alfamart. Lokasi Alfamart selalu mudah dicapai. Terletak di sisi jalan yang ramai dilalui orang. Ini jelas memudahkan, sambil melintas kita bisa mampir barang sebentar untuk membeli keperluan rumah yang habis stoknya. Tidak perlu parkir terlalu jauh, kendaraan bisa langsung diparkir di depan gerai. Soal keamanan? Sejauh ini saya cukup puas. Gerai Alfamart yang ada di sekitar perumahan kami semuanya aman. Kendaraan yang diparkir tak bermasalah, karena selalu ada peringatan kepada pelanggan untuk berhati-hati meninggalkan kendaraan saat berbelanja.

7. Buka nonstop. Sejumlah gerai Alfamart di kawasan tempat tinggal saya umumnya buka nonstop 24 jam. Ini merupakan langkah cukup berani. Bagi orang yang mobile serta sering pulang larut malam atau dinihari, Alfamart jelas jadi pilihan. Saya tak khawatir jika tiba-tiba perut lapar sepulang kerja tengah malam. Sedikitnya ada 3 gerai Alfamart yang saya lewati dekat rumah. Mampir sebentar ke Alfamart, dan saya bisa dapatkan sekerat roti serta minuman dingin yang menyegarkan.

8. Ada kartu AKU. Sejak beberapa tahun silam saya juga memiliki kartu Aku, kartu anggota pelanggan Alfamart. Dengan menggunakan Kartu Aku saya kerap dapat bonus berupa barang maupun diskon khusus. Ini tak ada di gerai “Mart” yang lain. Menurut saya, ini merupakan cara cerdas mengikat konsumen agar loyal pada Alfamart.

9. Kerap ada promo yang mengejutkan. Promo mungkin biasa bagi merchant-merchant besar, namun bagi merchant sejenis Alfamart memang baru beberapa tahun belakangan ini gencar dilakukan. Semisal beli pulsa dari operator tertentu kita mendapatkan bonus berupa minuman ringan, atau beli dua gratis satu item barang. Jenis-jenis promo semacam ini disenangi pelanggan, apalagi jika barang yang tengah promo adalah kebutuhan mendesak sehari-hari.

10. Saat ini isu lingkungan sedang menjadi trend di hampir semua bidang, tidak terkecuali di bidang retail. Sebagai pemimpin di bisnis retail minimarket, suka tak suka Alfamart memiliki andil terhadap besarnya penggunaan plastik sebagai pembungkus belanjaan. Usul saya, sebaiknya Alfamart memulai menggunakan plastik daur ulang di semua gerainya. Atau di masa datang membuat himbauan agar konsumen membawa sendiri tas dari kain. Dan bagi pelanggan yang membawa sendiri tas kain dari rumah diberikan insentif atau hadiah khusus karena telah berpartisipasi mengurangi penggunaan plastik sebagai pembungkus barang belajaan. Masalah ini mesti diantisipasi dengan jeli oleh managemen Alfamart, karena di masa datang bisnis yang tidak peduli lingkungan akan dijauhi pelanggan.

11. Sediakan pula makanan/minuman hangat seperti kopi/teh/susu atau mie gooreng/rebus dan burger sebagai penganan bagi mereka yang membutuhkan makanan di malam/ dini hari. Menurut saya layanan ini penting, karena saat ini sudah banyak gerai Alfamart yang buka 24 jam. Asrtinya, ada perubahan kebiasaan warga, khususnya di kawasan Jabodetabek yang sejak banyak gerai atau layanan jasa 24 jam, warga jadi kerap keluar/beraktifitas di malam hari. Fakta ini mesti ditangkap dengan jeli dengan menyediakan kebutuhan bagi kalangan ini.

12. Sediakan pula kursi bertenda bagi mereka yang makan-minum di gerai. Selain membuat betah pelanggan, layanan ini bisa mengikat pelanggan agar tak pindah ke lain minimarket. Sehingga motto “Belanja Puas Harga Pas” benar-benar nyata. Pelanggan mendapat layanan maksimal sehingga puas pada harga yang ditawarkan. Happy 12th anniversary Alfamart!!

Alasan Saya Menominasikan Oom Jay di Guraru Award

Oom Jay yang murah senyum

Awal bulan ini saat iseng-iseng blogwalking saya bertemu dengan ajang Acer Guraru (Guru era Baru)Award 2011. Ajang penghargaan bagi blog guru terbaik yang digelar terkait dengan ONOFFID, kegiatan yang dulu bernama Pesta Blogger.

Saat membaca syarat dan ketentuan ajang ini hanya ada satu nama blogger yang saya kenal dan ingin saya nominasikan. Dia adalah seorang guru yang cukup aktif menulis dan sudah banyak mendapat penghargaan dalam bidang tulis-menulis.

Kenapa saya memilih Oom Jay atau Wijaya Kusumah sebagai nominator Guraru? Sebenarnya bukan karena saya kenal dekat dengan blogger nyentrik yang selalu menggunakan peci itu. Tapi lebih pada aktivitas dan sosoknya yang tak kenal lelah berbagi, entah itu dengan sesama blogger, sesama guru maupun dengan siswa-siswanya di Labs School Rawamangun.

Bagi saya apa, yang dicapai Oom Jay selama ini luar biasa. Karena guru yang satu ini seolah tak punya urat lelah, selalu ada di hampir semua kegiatan off air blogger. Dia juga beredar di banyak forum guru. Belum lagi tetap mengajar dan dulu sempat kuliah lagi. Namun meski aktivitasnya padat, itu tidak mengurangi produktivitasnya dalam menulis.

Lihat saja postingannya di Kompasiana. Saya dan Oom Jay nyaris sama-sama ‘masuk’ sebagai blogger di Kompasiana. Tapi dalam hal trafik tulisan, saya kalah jauh. Oom Jay sangat produktif. Bahkan di bulan Januari 2010, Oom Jay sempat menulis hingga 74 postingan. Wow, padahal jumlah hari di bulan itu saja hanya 31. Berarti dia sempat menulis lebih dari satu postingan dalam sehari.

Balik ke Guraru, setelah saya nominasikan dan beritahu Oom Jay soal nominasi itu, ternyata langsung direspon dengan sangat cepat oleh Oom Jay. Ia langsung membuat postingan meminta dukungan.Sebagai blogger dengan sejuta umat, tidaklah sulit bagi Oom Jay untuk memperoleh dukungan itu. Hingga hari ini dukungan terhadap Oom Jay terus mengalir. Ini merupakan bukti persahabatan dunia maya yang sebenanrnya. Saya dan juga blogger lain yang menominasikan Oom Jay sepertinya sepakat bahwa cuma Oom Jay yang cocok menerima anugerah Guraru Award 2011. Hehehe….bukan begitu Oom Jay!

Alhamdulillah ya!

Bagi yang belum tahu seperti apa blognya Oom Jay, ini dia http://www.wijayalabs.com . Dan bagi yang ingin memberikan dukungan bagi Oom Jay bisa klik link http://guraru.onoffid.org.

Brongkos Day

Pak Pray, Uti dan kami

Brongkos mungkin masih kedengar asing bagi sebagian besar orang di Jakarta. Masakan khas Jogja yang sekilas mirip dengan rawon ini ternyata bisa menjadi magnet hubungan pertemanan.

Dan kemarin saya bersama kawan-kawan hadir di rumah pak Prayitno Ramelan untuk mencicipi Brongkos buatan istri Pak Pray. Bagi kami, berkumpul di rumah pak Pray tanpa mencicipi brongkos adalah kesalahan terbesar. Pasti nyesel seumur-umur. Karena brongkos buatan Uti (begitu kami menyapa istri pak Pray) itu juara. Bahkan mas Abi Hasantoso, sang jubir LPI menilai brongkosnya Uti tidak hanya juara tapi juga terenak di seluruh dunia.

Saya yang baru pertama kali mencicipi brongkos pun sepakat dengan mas Abi. Rasanya mantap dan pedasnya bikin keringat bercucuran.

Brongkos di kiri, sayur asam kanan

Buat yang belum paham brongkos, mari saya gambarkan. Brongkos itu masakan berkuah berwarna coklat kehitam-hitaman. Biasanya masakan ini berisi daging yang dipotong kecil-kecil, telur yang sepertinya dipindang terlebih dahulu, serta tahu. Kadang ada pula yang ditambah kacang tolo.

Meski mirip, namun Brongkos berbeda dengan rawon yang cenderung gurih/asin. Brongkos lebih manis dan pedas.

Persamaan tampilan ada pada warnanya yang pekat karena sama-sama menggunakan kluwek. Saya tak tahu apa padanan kluwek dalam perbendaharaan bumbu internasional. Soal rasa, mantap lah!

Lalu, apa hubungan brongkos dengan pertemanan tadi? Eh iya jadi lupa, keasyikan mabuk brongkos sih.

Kami yang hadir kemarin Abi Hasantoso dan istri, Honny Maitimu, Novrita, Frans dan istri, Yorita, Nuni,Yenny Bakhtiar, Henny, dan Lintang. Kami semua adalah blogger Kompasiana. Saling komen di postingan kemudian berlanjut di kehidupan nyata. Pertemuan demi pertemuan kami gelar dalam suasana yang guyup. Jika ada yang jatuh, kami semangati. Jika ada yang sakit kami turut mendo’akan. Pendek kata, pertemanan ini unik, terdiri dari orang berbagai latar pendidikan, pekerjaan. Namun punya minat yang sama, menulis dan berbagi.

Kalau tak salah, sebagian besar kami saling kenal sudah 3 tahunan. Selama kurun waktu tersebut jelas ada pasang surut hubungan. Namun kami masih komit menjaganya dalam bingkai persahabatan. Saya sendiri banyak belajar dari pertemanan ini. Khususnya dari sang senior seperti pak Pray.

Bagi kami, pak Pray lebih dari kawan. Tapi juga orang tua yang mengayomi anak-anaknya yang bandel-bandel ini. Saya belum pernah merasa senyaman ini berada dalam sebuah komunitas pertemanan. Dan kenyamanan ini dipersatukan oleh Brongkos.

Oya, selain makan-makan dan haha…hihi….kami juga merayakan kelulusan salah seorang kawan, Yenni Bakhtiar sebagai doktor dari IPB. Dan pekan ini mbak Nuni juga bakal maju ke sidang doktoralnya. Salute!

*Foto lengkap ada di G+ nya mbak Lintang!

Ketika Tulisan Pepih Nugraha di Copy Paste

Berita Warta Kota yang isinya copas itu (foto: Syaifuddin)

Masih ingat dengan kejadian copy paste yang sempat ramai dan membuat suasana panas di Kompasiana beberapa waktu lalu. Ternyata copas bukan hanya dilakukan para blogger yang kerap disebut jurnalis amatiran, tapi juga dilakukan oleh jurnalis beneran. Bahkan ini dilakukan media besar yang juga keluarga Kompas Gramedia.

Hari ini harian Warta Kota menurunkan laporan peringatan 80 tahun Jakob Oetama, pendiri kelompok Kompas Gramedia yang juga menaungi Warta Kota. Laporan di halaman satu itu diberi judul “Jakob Oetama: Selalu Bersyukur”. Sekilas tak ada yang aneh dengan isi laporan ulang tahun tokoh pers yang ketokohannya lintas media tersebut. Laporan itu diawali pernyataan Agung Adiprasetyo, CEO KKG mengenai JO yang mampu membawa KKG sebagai grup besar dan menaungi 100 ribu orang karyawan dan keluarganya.

Masalah baru muncul, di bawah pernyataan Agung, hampir semua isi berita itu adalah tulisan jurnalis senior Pepih Nugraha, mantan admin Kompasiana. Saya ingat benar karena kemarin (27 Sept) membaca tulisan Pepih di Kompas.com. Bahkan saya juga teringat akan kalimat terakhir tulisan Pepih seperti ini “Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa Newspaper menjadi Newsbrand tersebut”. Saya baca berulang kali laporan WK, tak ada sepatah katapun yang menyebut sumber dari Kompas.com apalagi nama wartawannya Pepih Nugraha.

Tak hanya di WK berita soal Jakob Oetama yang bersumber dari tulisan Pepih “disadap” habis. Di tribunnews.com pun demikian. Hanya bedanya di tribunnews.com disebut sumber berita dari Kompas.com.

Ini memang copas “resmi” yang terjadi dalam satu grup. Mungkin ini bisa dimaafkan. Dan bisa jadi KKG punya aturan main sendiri yang membolehkan copas satu grup tanpa menyebut sumber. Namun saya sendiri terusik dengan tindakan WK yang tak mengindahkan etika ini. Bagi saya, copas tetaplah pencurian hasil karya orang lain. Dan jelas ini bertentangan dengan cita-cita Jakob Oetama yang selalu menjunjung etika dalam berjunalistik.

Enak sekali ya asal comot tulisan orang! Sementara penulis/wartawan yang menuliskan butuh pemikiran dan kerja keras untuk melahirkan tulisan, walau sesederhana apapun tulisan itu.

——–

Ini tulisan Pepih Nugraha yang dimuat di Kompas.com. saya ambil dari komen blognya Julianto Simanjuntak:

Selasa, 27 September 2011 ini Jakob Oetama genap berusia 80 tahun. Pencapaian usia panjang ini patut disyukuri oleh keluarga dan kerabat dekat khususnya, serta karyawan Kompas Gramedia umumnya, mengingat pada usia sepuluh windu ini Jakob masih tetap dalam kondisi sehat dengan pikiran yang tetap cemerlang. Tidak dapat dipungkiri, fisik Jakob menuju ringkih, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran dan pandangannya; selalu muda, segar dan mencerahkan. Saat Jakob berbicara di depan para karyawan Kompas Gramedia dalam berbagai kesempatan, khidmat selalu didapat. Bukan karena semata-mata penghormatan kepada sosok pendiri perusahaan yang mengakar ini, lebih karena tutur kata dan bicaranya selalu bernas, berisi, dan baru (novel).

Memulai karir sebagai guru sekolah menengah pertama di Jakarta awal tahun 1950-an, Jakob terjun ke dunia jurnalistik saat ia menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956, berlanjut mendirikan majalah Intisari tahun 1963. Bersama PK Ojong, dua tahun kemudian Jakob menerbitkan Harian Kompas untuk pertama kalinya 28 Juni 1965. Sepeninggal Ojong, Jakob meneruskan Harian Kompas sehingga mencapai puncak kejayaannya di bisnis harian cetak, hingga saat ini.

Jakob adalah orang yang merasakan benar pasang-surutnya Harian Kompas, khususnya setelah Kompas mengalami pemberangusan pada masa Soeharto berkuasa tahun 1978. Pemberangusan Harian Kompas memberi pelajaran tersendiri, sekaligus konsekuensi kehati-hatian yang tinggi yang tercermin lewat judul berita yang tidak provokatif. Pihak luar menyebut sinis Kompas tengah mempraktikkan “jurnalisme kepiting”, jurnalisme yang menunggu kesempatan mencapit tetapi diam jika terkena hardikan. Rupanya gaya yang menjadi sindirin pihak luar itulah yang terus dipraktikkan Jakob sebab baginya menyelamatkan ribuah karyawan dan keluarganya jauh lebih berarti daripada memenuhi selera gagah-gagahan, tetapi hanya sekali hidup setelah itu mati.

Jakob pada usianya yang mencapai 80 tahun hari ini, tetap semangat bekerja karena falsafah yang ditanamkannya adalah “bekerja adalah ibadah”, sebagai perluasan makna “Ora et Labora”. Maka tidak aneh jika Jakob tetap menyampaikan pidato tanpa teksnya yang bernilai saat syukuran lahirnya KompasTV beberapa pekan lalu. Jakob sendirilah yang menancapkan tonggak baru di lingkungan Kompas-Gramedia, bahwa Kompas tidak lagi sebuah “Newspaper”, tetapi sudah mewujud menjadi “Newsbrand”. Artinya, sebagaimana selalu ditekankan Jakob, konten Kompas tidak melulu hadir dalam bentuk print (cetak), tetapi juga dalam bentuk online, video, dan sejumlah aplikasi seperti iPad, PlayBook atau Android. Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa “Newspaper” menjadi “Newsbrand” tersebut. (PEP)

Gagalnya Blogging Day Kompasiana

Sebuah ajakan menarik dari admin Kompasiana sudah beberapa hari lalu mengiming-imingi, ngeblog berjamaah dalam seratus menit. Targetnya mecahin rekor seribu postingan. Hadiahnya lumayan aduhai, mulai dari modem sampai kamera DLSR.

Sejumlah ide sudah menari-nari di kepala. Semangat sekali saya menghadapi ajang ini. Beda sekali dengan ajang lomba penulisan lain yang rentang waktunya panjang dan bikin malas mengupdate lombanya. Kali ini janjinya admin lomba, penulisan hanya dilakukan dalam rentang 100 menit saja. Mulai dari pukul 14.00 wib hingga 15.40 wib.

Sejumlah kawan sudah menabung tulisan di PC atau Laptop masing-masing. Tujuannya agar bisa langsung di posting begitu waktu lomba dimulai. Sebuah cara yang jitu agar bisa sebanyak mungkin posting.

Dan tadi setelah menulis di laptop saya pun buka Kompasiana 15 menit berlalu dari waktu yang ditetapkan. Tapi apa yang terjadi, Kompasiana tak bisa diakses. Overload tampaknya.

Setelah sms dan FB-an dengan admin, benar ternyata. Situs tak bisa diakses lantaran diserbu ratusan blogger yang posting dalam waktu bersamaan. Duh cape deh.

Saya baru bisa buka setelah jam 15.36 wib. Tapi untuk sampai di halaman Blogging Day baru bisa buka pada 15.41. Artinya sudah habis waktu. Melayang lah harapan bisa menggaet Laptop atau kamera keren.

Ini bukan kali pertama Kompasiana kelebihan beban. Setahu saya sudah beberapa kali hal serupa terjadi. Namun kasus overload sebelumnya tak sampai menuai hujatan dari para blogger lantaran terjadi bukan pada saat krusial seperti hari ini.

Agak janggal bila perusahaan sebesar Kompas yang ada di belakang Kompasiana tak mengantisipasi hal ini. Kemungkinan buruk harusnya diprediksi sejak awal. Perencanaan yang matang adalah sebuah keharusan untuk sebuah event sebesar ini.

Sayang sekali niat membuat sejarah harus berujung sumpah serapah dari para blogger. Maksud hati membuat rekor namun teror lah yang didapat. Apa yang muncul di Facebook dan juga Twitter harus jadi pelajaran berharga dan tidak boleh terulang lagi. Setidaknya jika Kompasiana masih ingin terus eksis.

Lebih baik batalkan saja Lomba hari ini. Perbaiki dulu server agar tidak overload lagi baru bikin lomba lagi.