Tag Archives: Kompas Gramedia

Logo Mirip, Ada Apa TransCorp dan Kompas Tv?

Trans corp, lini bisnis media tv dari CT Corp kemarin merayakan hari ulang tahunnya yang ke-10. Sebuah acara pagelaran musik dikemas “wah” sebagai pertanda mereka memasuki usia satu dasawarsa. Dalam rentang masa ini, trans corp (dengan 2 stasiun Tv, Trans tv serta trans7) kehadirannya lumayan memukau pemirsa tv tanah air.

Saya tak akan membahas program-program andalan kedua tv tersebut. Saya justru penasaran dengan logo baru Trans corp yang kemarin diperkenalkan kepada khalayak. Coba amati, sekilas logo ini mirip dengan logo Kompas Tv milik Kompas-Gramedia grup. Efek warna-warni dalam hurup “A” logo Trans Corp mirip dengan huruf “K” Kompas Tv.

13240053451870288834

logo Trans Corp

Nah, kalau di bawah ini adalah logo Kompas Tv yang lebih dulu hadir dan dikenal publik.Coba tarik kedua sisi huruf “K” di logo ini, akan jadi huruf “A”. Persis dengan logo Trans Corp!

13240054101726720424

Logo Kompas Tv

Pagi ini di twitter juga bermunculan timeline yang mempertanyakan “kemiripan” ini. Coba simak beberapa diantaranya:

@putra_GPV: @KompasTV memang inspirasi Indonesia yah sampe logonya aja ditiru sama tetangga sebelah… Hahaha…

@freddy_sbotipi Logo baru transcorp yang baru kok mirip Kompastv ya???

@wisnunununu Transcorp logo A nya mirip K Kompas Tv, semakin tua malah semakin payaaahhh.

Soal “kemiripan” ini pagi tadi saya tanyakan ke seorang teman yang ada di redaksi Trans7. Melalui BBM dia jawab dengan enteng kemiripan itu sebuah kebetulan saja. Karena menurutnya, logo Trans Corp sudah ada sejak Mei 2011. Atau bisa saja konsultan logonya sama, katanya.

Hmm…. Mungkinkah sebuah kelompok usaha sebesar Trans Corp dengan sadar menggunakan logo perusahaannya yang mirip dengan perusahaan lain? Apalagi sama-sama pemain di bidang tv broadcasting ? Ataukah ada udang dibalik logo ini untuk ke depannya? Entahlah.

Jadi, benarkah logo Trans Corp mencontek logo Kompas tv? Silakan nilai sendiri sodara-sodara.

Ketika Tulisan Pepih Nugraha di Copy Paste

Berita Warta Kota yang isinya copas itu (foto: Syaifuddin)

Masih ingat dengan kejadian copy paste yang sempat ramai dan membuat suasana panas di Kompasiana beberapa waktu lalu. Ternyata copas bukan hanya dilakukan para blogger yang kerap disebut jurnalis amatiran, tapi juga dilakukan oleh jurnalis beneran. Bahkan ini dilakukan media besar yang juga keluarga Kompas Gramedia.

Hari ini harian Warta Kota menurunkan laporan peringatan 80 tahun Jakob Oetama, pendiri kelompok Kompas Gramedia yang juga menaungi Warta Kota. Laporan di halaman satu itu diberi judul “Jakob Oetama: Selalu Bersyukur”. Sekilas tak ada yang aneh dengan isi laporan ulang tahun tokoh pers yang ketokohannya lintas media tersebut. Laporan itu diawali pernyataan Agung Adiprasetyo, CEO KKG mengenai JO yang mampu membawa KKG sebagai grup besar dan menaungi 100 ribu orang karyawan dan keluarganya.

Masalah baru muncul, di bawah pernyataan Agung, hampir semua isi berita itu adalah tulisan jurnalis senior Pepih Nugraha, mantan admin Kompasiana. Saya ingat benar karena kemarin (27 Sept) membaca tulisan Pepih di Kompas.com. Bahkan saya juga teringat akan kalimat terakhir tulisan Pepih seperti ini “Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa Newspaper menjadi Newsbrand tersebut”. Saya baca berulang kali laporan WK, tak ada sepatah katapun yang menyebut sumber dari Kompas.com apalagi nama wartawannya Pepih Nugraha.

Tak hanya di WK berita soal Jakob Oetama yang bersumber dari tulisan Pepih “disadap” habis. Di tribunnews.com pun demikian. Hanya bedanya di tribunnews.com disebut sumber berita dari Kompas.com.

Ini memang copas “resmi” yang terjadi dalam satu grup. Mungkin ini bisa dimaafkan. Dan bisa jadi KKG punya aturan main sendiri yang membolehkan copas satu grup tanpa menyebut sumber. Namun saya sendiri terusik dengan tindakan WK yang tak mengindahkan etika ini. Bagi saya, copas tetaplah pencurian hasil karya orang lain. Dan jelas ini bertentangan dengan cita-cita Jakob Oetama yang selalu menjunjung etika dalam berjunalistik.

Enak sekali ya asal comot tulisan orang! Sementara penulis/wartawan yang menuliskan butuh pemikiran dan kerja keras untuk melahirkan tulisan, walau sesederhana apapun tulisan itu.

——–

Ini tulisan Pepih Nugraha yang dimuat di Kompas.com. saya ambil dari komen blognya Julianto Simanjuntak:

Selasa, 27 September 2011 ini Jakob Oetama genap berusia 80 tahun. Pencapaian usia panjang ini patut disyukuri oleh keluarga dan kerabat dekat khususnya, serta karyawan Kompas Gramedia umumnya, mengingat pada usia sepuluh windu ini Jakob masih tetap dalam kondisi sehat dengan pikiran yang tetap cemerlang. Tidak dapat dipungkiri, fisik Jakob menuju ringkih, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran dan pandangannya; selalu muda, segar dan mencerahkan. Saat Jakob berbicara di depan para karyawan Kompas Gramedia dalam berbagai kesempatan, khidmat selalu didapat. Bukan karena semata-mata penghormatan kepada sosok pendiri perusahaan yang mengakar ini, lebih karena tutur kata dan bicaranya selalu bernas, berisi, dan baru (novel).

Memulai karir sebagai guru sekolah menengah pertama di Jakarta awal tahun 1950-an, Jakob terjun ke dunia jurnalistik saat ia menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956, berlanjut mendirikan majalah Intisari tahun 1963. Bersama PK Ojong, dua tahun kemudian Jakob menerbitkan Harian Kompas untuk pertama kalinya 28 Juni 1965. Sepeninggal Ojong, Jakob meneruskan Harian Kompas sehingga mencapai puncak kejayaannya di bisnis harian cetak, hingga saat ini.

Jakob adalah orang yang merasakan benar pasang-surutnya Harian Kompas, khususnya setelah Kompas mengalami pemberangusan pada masa Soeharto berkuasa tahun 1978. Pemberangusan Harian Kompas memberi pelajaran tersendiri, sekaligus konsekuensi kehati-hatian yang tinggi yang tercermin lewat judul berita yang tidak provokatif. Pihak luar menyebut sinis Kompas tengah mempraktikkan “jurnalisme kepiting”, jurnalisme yang menunggu kesempatan mencapit tetapi diam jika terkena hardikan. Rupanya gaya yang menjadi sindirin pihak luar itulah yang terus dipraktikkan Jakob sebab baginya menyelamatkan ribuah karyawan dan keluarganya jauh lebih berarti daripada memenuhi selera gagah-gagahan, tetapi hanya sekali hidup setelah itu mati.

Jakob pada usianya yang mencapai 80 tahun hari ini, tetap semangat bekerja karena falsafah yang ditanamkannya adalah “bekerja adalah ibadah”, sebagai perluasan makna “Ora et Labora”. Maka tidak aneh jika Jakob tetap menyampaikan pidato tanpa teksnya yang bernilai saat syukuran lahirnya KompasTV beberapa pekan lalu. Jakob sendirilah yang menancapkan tonggak baru di lingkungan Kompas-Gramedia, bahwa Kompas tidak lagi sebuah “Newspaper”, tetapi sudah mewujud menjadi “Newsbrand”. Artinya, sebagaimana selalu ditekankan Jakob, konten Kompas tidak melulu hadir dalam bentuk print (cetak), tetapi juga dalam bentuk online, video, dan sejumlah aplikasi seperti iPad, PlayBook atau Android. Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa “Newspaper” menjadi “Newsbrand” tersebut. (PEP)

Selamat Datang Kompas Tv


Akhirnya gatal juga untuk tak menulis perihal kehadiran tv baru Kompas Tv. Seharian ini Timeline twitter riuh dengan ucapan selamat atas mengudaranya stasiun tv yang konon bakal menjadi “Inspirasi Indonesia” itu.

Kompas Tv yang dimiliki grup media besar Kompas Gramedia memang baru akan resmi mengudara esok, Jum’at lewat launching yang dikonsep besar dan megah. Namun siaran percobaan sudah menyapa sebagian pemirsa lewat berbagai chanel tv lokal, video streaming di Kompas.com. Sementara informasi kehadirannya sudah bersliweran sejak sepekan terakhir di media sosial Facebook dan twitter.

Sebagai penikmat tv saya selalu punya mimpi dan harapan pada perkembangan tv nasional. Kali ini pun ada beberapa harapan terhadap tv ini.

Pertama, jangan jadikan tv sebagai propaganda politik. Karut marutnya politik nasional salah satunya berkat sumbangan media tv nasional yang gemar memprovokasi, membesar-besarkan pertikaian sesama elit.

Kompas tv tak perlu berada pada posisi mendukung, menyanjung atau memojokkan pemerintahan, siapapun dia yang berkuasa. Tak perlu “bermain politik” meski 2014 tinggal sejengkal lagi.

Kedua, jangan jadikan tv sebagai keranjang sampah tontonan. Saat stasiun tv lain sukses dengan satu genre tayangan maka beramai-ramailah me too product dibuat. Akhirnya wajah tv kita seragam. Ingat kasus Sinetron religi, tv reality seperti Termehek-mehek, hingga ajang pencarian bakat.

Memang di dunia ini tak ada ide yang orisinil. Bahkan di negeri yang dunia broadcasting tv nya sudah maju seperti Amerika pun, banyak stasiun tv yang memproduksi sebuah program tv yang sudah populer di stasiun lainnya. Sah-sah saja. Tak ada yang salah dengan ini. Tapi saya berpendapat, lebih baik keluar dari kerumunan dan membuat trend tersendiri.

Ketiga, cerdaskan pemirsa. Tak harus membuat program instruksional macam TPI jaman dulu, tapi sajikan program yang memberi “rasa”, menuntun pemirsa. Jangan sajikan program yang menuntun pemirsa menjadi serba instan, menuntun pemirsa menjadi konsumtif.

Keempat, untuk berita upayakan minimalisir tayangan berita pertikaian, darah, sensasi. Domain ini sudah ada yang menggarap dan cenderung memuakkan. Kompas tv tak perlu masuk ke jenis pemberitaan semacam itu.

Saya harus batasi harapan saya sampai disini meski masih banyak unek-unek yang ingin saya tuangkan. Semoga hadirnya Kompas tv “benar-benar” memberi pencerahan bagi pemirsa.

Memang harus ada yang “berani melawan” tirani rating tv dengan sajian yang berbeda dan bermutu. Akankah Kompas tv mampu? Markisa, Mari Kita saksikan.

Saya juga berharap Kompas tv dikelola dengan baik, tidak seperti tv milik Kompas terdahulu yang “terpaksa” dijual karena membebani grup dan salah urus!

Selamat Datang Kompas Tv!

When Silly Met Venus

Judul Buku : When Silly Met Venus

Pengarang : Silly dan Venus

Penerbit : Grasindo, Jakarta, 2009

Tebal : 114 hal

Bookblog atau buku yang berasal dari postingan di blog belakangan kian menjamur –tapi bukan berarti bukunya jamuran lho–. Ini segenderang seirama dengan dunia blogging yang terus memesona banyak orang. Tak bisa dipungkiri blogging memang mengasyikkan. Dunia tulis-menulis ini –karena lebih banyak yang menulis dibanding photoblog misalnya, menjadi wahana efektif menyalurkan kreatifitas.

Banyak penulis berbakat ditemukan oleh dunia ini. Termasuk kedua penulis yang bukunya diberi judul When Silly Met Venus ini. Menilik judulnya, saya jadi ingat dengan sosok Meg Ryan dan Billy Cristal dalam film komedi romantis Hollywood “When Harry Met Sally”. Film yang kocak namun tidak slapstik itu, sangat membekas di benak saya. Film yang edar di dekade 90-an ini, menjadi salah satu film box office di masanya.

Tapi jangan bandingkan keduanya. Meski memiliki judul yang seirama, tapi WSMV bukanlah bentuk buku dari WHMS. Tampaknya sang editor sengaja membuat judul yang sangat menjual ini demi taktik dagang, mencoba mengingatkan para “pere” pada film WHMS itu.

Buku ini merupakan kolaborasi apik dari kelincahan menulis dua blogger handal yang juga mengelola situs ngerumpi.com itu. Baik Venus maupun Silly menunjukkan kemampuan mereka mengolah kata sehingga enak dibaca dan kerap membuat terpingkal atau senyum dikulum pembacanya.

Kedua penulis membagi bukunya menjadi 7 bagian. Masing-masing diberi sub judul yang lucu-lucu…gimana gitu. Tengok aja, ada judul Oh perempuan…*nengok kiri kanan*, Oh kantongku… *sambil meringis*, Oh anakku… *ngeplak jidat sendiri*.

Dari sub judul itu sendiri kebayang kan pesan apa yang bakal disampaikan dua blogger ini. Karenanya, tak berlebihan kalau Wicaksono alias Ndoro Kakung, si blogger ngetop ituh, memberinya julukan bidadari centil ranah blog.

Pilihan topik tulisannya pun, meski bagi saya tidak semuanya baru, lumayan menarik. Mulai dari persoalan sepele soal sudahkah kita menyatakan sayang pada pasangan, oon-nya perempuan dalam membaca peta, sampai warna underwear after married! Huh.

Tak biasa, tapi diceritakan oleh Silly dan Venus dengan renyah, apa adanya. Membaca buku ini, kita seolah sedang ngerumpi dengan kawan kita di cafe. Bicara apa saja boleh, asal jangan lupa bayar makanannya! hehehe… :)

Kalau harus ada yang disesali dari buku ini adalah jumlah halamannya. Bagi saya terlalu tipis. Mestinya bisa lebih tebal lagi biar puas bacanya. Tapi ini mungkin disengaja agar pada penasaran menunggu buku berikutnya, itu juga kalau penerbitnya mau nerbitin seri keduanya…hehehe..

Buat sosialita perempuan, saya sarankan membaca buku ini hingga tuntas tas… Bukan apa-apa, ini penting buat menambah pengetahuan, iman dan takwa…lho…kok?