Jembatan UKI Rawan Celaka

Belum lagi kekagetan kita hilang atas tewasnya Daniel, seorang bocah 4 tahun yang jatuh dari rumah susun Petamburan, Jakarta Pusat, kemarin ada lagi orang yang jatuh dari ketinggian. Seorang lelaki jatuh (lebih tepatnya menjatuhkan diri) dari lantai 4 sebuah mall di Solo.

Berbeda dengan Daniel yang jatuh, kasus kedua diduga kuat adalah kasus bunuh diri. Korban yang memiliki penyakit lambung merasa putus asa dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Dan terjun dari ketinggian mall adalah pilihan hidupnya.

Bagi saya kematian yang dipilih lelaki Solo itu sangat konyol. Merasa tak punya lagi pegangan hidup, tak ada yang membantu, maka jalan pintas kematian tragis dipilih. Padahal kalau dia percaya masih ada Tuhan, ceritanya akan lain.

Saya tak hendak membahas fenomena terjun bebas di negeri ini yang belakangan grafiknya naik. Saya justru mau menyoroti banyaknya fasilitas publik yang membahayakan anak-anak, istilahnya unchildren friendly, tidak bersahabat dengan anak.

Contohnya pagi tadi saya temukan di jembatan penyeberangan depan rumah sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang, Jakarta Timur. Ada bagian jembatan yang rusak dan hanya ditutupi selembar seng. Kondisi ini sebenarnya sudah saya dapati sejak lama. Lebih dari sebulan lalu kalau tak salah.

Saya tak bisa bayangkan jika ada seorang anak kecil main-main di jembatan penyeberangan ini. Karena seringkali ada anak-anak keliaran sendirian tanpa pendampingan orang tua di sekitar jembatan. Seng yang digunakan sebagai penutup tidak cukup kuat. Bahkan terkesan rapuh. Jika kita sandari sebentar pasti runtuh.

Wahai pemda DKI Jakarta atau instansi yang berwenang segera ambil tindakan perbaikan. Jangan sampai jatuh korban baru kita semua menyesalinya. Warga harus dilindungi dari kerusakan-kerusakan semacam ini.

Bisa jadi patahnya besi pembatas jembatan ini sebagian adalah karena ulah tangan usil yang tak bertanggung jawab. Tapi membiarkannya seperti sekarang lebih dari sebulan adalah kelalaian. Jika jatuh korban, pemda adalah institusi yang patut dipersalahkan.

Semoga tulisan sederhana ini dibaca dan ditindak lanjuti pegawai Pemda DKI Jakarta.