photo(1) 14 Desember 1996. Saya menikahi Siti Komsiah di desa Cengkok, Nganjuk Jawa Timur pada sebuah petang yang dingin selepas hujan lebat. Waktu itu saya hanyalah lelaki nekat yang menikah tanpa modal materi. Dengan gaji hanya 500 ribu sebulan dari sebuah perusahaan agency kecil, saya beranikan diri menikahinya.

Sebuah keputusan yang dinilai nekat oleh sebagian orang. Tapi kami bergeming. Saya meyakinkan diri dan istri bahwa Allah adalah sutradara kehidupan tercanggih yang pasti memberikan jalan rejeki tanpa kita pernah tahu dari mana dan dengan cara apa. Beruntungnya saya karena memiliki istri yang mau diajak melarat, membangun semuanya dari level paling dasar. Soal materi bukanlah satu-satunya alasan mengapa ada pernikahan ini. Landasan kasih sayang yang kami upayakan sejak bertemu di bangku kuliah rupanya menyemai begitu rupa. Saling memiliki jauh lebih penting dibandingkan apapun.

17 tahun kami menapak usia kebersamaan. Banyak aral karena kami tak pernah menghindarinya. Justru kerikil dalam perkawinan adalah penguat bangunan rumah tangga. Pertengkaran bukanlah persoalan besar, karena hingga kinipun kami masih diberi kesempatan untuk bertengkar. Bukan mencari perbedaan, tapi justru untuk mencari titik temu. Benar kata orang pertengkaran adalah bumbu. Meski bukan keharusan, tapi bagi saya bertengkar dalam memecahkan persoalan menjadi penting demi menjadikan kami dewasa dalam melihat sebuah soal.

17 tidak hanya kami isi dengan bertengkar. Justru dalam rentang demikian teramat banyak hal indah yang kami torehkan. Dan itu jauh lebih banyak porsinya. Keberadaan kami dan ketiga buah cinta kami dalam setiap episode kehidupan senantiasa menimbulkan semangat kami untuk saling berbagi, memberi support, mencurahkan cinta diantara kita.

Sungguh beruntungnya saya memiliki pasangan hidup yang penuh cinta, memiliki anak-anak soleh yang menentramkan jiwa. Kalau boleh memohon ya Allah, berikan saya waktu selama mungkin bersama mereka. Ingin kami bisa melihat anak-anak dewasa dan bertumbuh. Ingin kami melihat mereka berhasil melanjutkan hidup dengan cara mereka, tentunya dengan restu Illahi.

Terima kasih istriku, terima kasih anak-anakku. Kalian adalah alasan mengapa hingga detik ini ayah masih ada di samping kalian.


2,368 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini