Logo Multiply, Tinggal kenangan

Logo Multiply, Tinggal kenangan

Manajemen Multiply, akhirnya mengeluarkan kebijakan mengejutkan, per 6 Mei mendatang akan menutup layanan Multiply marketplace alias lapak jualan online yang selama ini mereka operasikan di Indonesia dan Filipina. Ini adalah kali kedua manajemen MP melakukan revisi bisnisnya.

Sebelum ini mereka juga menutup layanan blog Multiply yang sudah melambungkan nama Multiply sebagai salah satu platform blog yang digemari di dunia. Saat itu reaksi para MP-ers beragam, namun intinya menyesalkan penutupan platform blognya.

Migrasi akhirnya jadi pilihan sulit mereka yang sudah ‘karatan’ di MP. Blog para MP-ers pun menyebar ke berbagai platform. Bagi beberapa orang yang punya ‘rumah’ baru mungkin jadi berasa aneh karena platform blog di luar MP sangat beda. Intensitas interaksi yang terjadi di rumah baru tak seasyik dan seguyup MP.

Saat itu saya termasuk yang sempat mempertanyakan alasan penutupan itu. Menurunnya kinerja MP dalam beberapa tahun terakhir adalah akibat strategi bisnis mereka manajemen MP yag kurang tanggap dengan dinamika dunia online yang cepat berubah. Masuknya pendatang baru seperti Facebook maupun twitter yang sangat agresif sepertinya ‘lupa’ mereka antisipasi. Tampilan Blog MP saat itu begitu konservatif dan seadanya. Padahal pemain lain seperti WordPress terus berbenah dan mempercantik tampilannya.

Diusirnya para blogger MP dari rumah mereka dan menggantikannya dengan marketplace atau lapak jualan online mereka canangkan sebagai upaya memperbaiki kinerja MP. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata pertumbuhan platform marketplace itu tak sesuai harapan manajemen. Bisa jadi manajemen MP salah mengantisipasi pasar Indonesia dan Filipina. Meski secara jumlah penduduk Indonesia merupakan negeri yang paling banyak penduduknya di asia pasifik, namun itu bukan jaminan bisnis online akan leading.

Stefan Magdalinski, CEO MP mengaku dalam satu tahun terakhir sejak mereka concern di marketplace mereka sudah berupaya membuat banyak terobosan untuk menjadi leader di kawasan ini. Sayangnya mereka harus menghadapi kenyataan kinerja MP lagi-lagi tak sesuai harapan. Dan puncaknya Mei ini adalah bulan terakhir keberadaan marketplace MP.

Meski terpuruk, Stefan meyakinkan bagi para penjual dan pembeli yang sudah bertransaksi melalui MP akan dijamin hak-haknya hingga selesai. Tampaknya keputusan ini diambil agar tak terjadi gejolak dan gugatan hukum di kemudian hari. Sebuah solusi win-win.

Menurut saya kesalahan terbesar MP adalah memasuki lahan yang bukan core bisnisnya. Mestinya, MP sebagai jejaring sosial dikembangkan atau dirombak, karena terbukti punya pengguna fanatik di Indonesia. Dan terbukti menutup blog MP ternyata adalah awal kejatuhan MP sendiri.

Jika mereka berniat menguasai pasar situs marketplace di Indonesia mengapa tak mengcreate situs baru karena resiko tentunya berbeda jika dibandingkan mengamputasi blog MP.

Meski gagal di Multiply, bukan berarti Naspers selaku pemilik saham ‘habis’. Kabarnya kepemilikan saham Naspers di tokobagus.com ditingkatkan karena konon lebih menguntungkan. Rontoknya MP bakal jadi mimpi buruk bagi para pemain di bisnis online.

Lalu apakah bisnis online masih cukup cerah di masa depan? Prediksi saya masih, karena media online terus tumbuh. Kejelian menggunakan platform ataupun media online akan jadi kunci sukses bermain di bisnis online.

Bagaimana, masih percaya bisnis online? Sundul gan….

1,216 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini