Menghabiskan Senja (foto dokpri)

Menghabiskan Senja (foto dokpri)

Starbucks JIExpo. Senja belum hadir saat saya dan beberapa kawan tiba di Holiday Inn Express. Kami memang janjian dengan sejumlah teman untuk menghabiskan senja sambil ‘ngupi-ngupi ganteng’ di gerai Starbucks JI-Expo Kemayoran Jakarta Pusat. Meski biasanya akhir pekan buat keluarga, tak apalah kali ini saya gunakan untuk melepas penat setelah seminggu aktivitas.

Tak sulit mencari keberadaan store baru ini. Jika membawa mobil pribadi arahkan menuju JI-Expo, tepatnya ke pintu masuk 4. Tak perlu masuk arena pameran, susuri saja di luaran hingga tiba di Jalan Rajawali Sealatan Kemayoran. Gerai ini berada di bagian depan Hotel Holiday Inn Express.

Suasana yang agak panas di luar langsung berubah begitu masuk ke gerai Starbucks yang ke-200-an ini. Tak salah memang menjadikan gerai ini sebagai tempat ngumpul sore.  Tempatnya cozy dengan interior yang dibalut kayu di beberapa bagian. Lantainya juga didesain menyerupai kayu. Hmm… ada apa ini? Saat menoleh ke lampu di tengah store mata akan tertuju pada kap lampu berbentuk keranjang yang terbuat dari bambu. Keranjang yang biasa saya lihat di pasar induk buah Kramat Jati itu secara unik digunakan sebagai kap lampu. Kreatif.

Rupanya Starbucks memang sengaja membuat storenya seperti itu. Bukan sekedar mempercantik tapi punya alasan khusus. “Kami memang punya kepedulian pada lingkungan. Isu Go Green tidak dijadikan slogan saja, tapi diterapkan dalam store-storenya. Dan beginilah salah satu hasilnya,” jelas Rhesya Agustine, Digital Marketing Mananger  Starbucks Indonesia.

Di pojok depan gerai ini juga ada papan kayu bergambar peta. Ini bukan sembarang peta, namun sebuah ‘coffeebelt’ atau peta persebaran daerah atau negara-negara penghasil kopi di dunia. Dari peta itu kita bisa melihat dengan jelas negara kita tercinta Indonesia masuk dalam jajaran penghasil kopi dunia. Bahkan konon kabarnya kopi asli Indonesia merupakan salah satu kopi terbaik di dunia.

Edukasi Segelas Kopi

Saya sebenarnya belum lama senang dengan kopi, bahkan dulu saya tergolong pembenci kopi. Buat saya kopi itu gak asyik. Pahit, bikin mual, bikin jantung deg-degan. Namun pandangan saya pelan-pelan berubah sejak mendapat pencerahan dari master-master kopi Starbucks melalui coffe testing yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Hari ini di gerai baru Starbucks saya dapat lagi edukasi kopi dari master kopi Immanuel Souhoka yang akrab dipanggil Noel. Ia menjelaskan kopi House Blend yang merupakan kopi pertama yang digunakan sejak mereka buka di tahun 1971.

Noel yang juga Store Manager Starbucks JI-Expo menjelaskan bahwa level roasting biji kopi berpengaruh pada tingkat keasaman kopi. “Kopi yang tingkat roastingnya tinggi maka level keasaman (acid)nya rendah. Sebaliknya, jika kopi diracik dengan level roasting rendah maka tingkat keasamannya tinggi,” ujar Noel. Itu kenapa saat minum kopi kita merasakan derajat keasaman kopi yang berbeda-beda.

Makanya, untuk menikmati secangkir kopi pahit Noel menyarankan adanya ‘teman’ berupa sepotong roti atau cake manis, seperti croissant cokelat yang sore itu disediakan.

Untuk menyeruput segelas kopi House Blend, sebaiknya dilakukan saat kopi masih panas. Jika suhu kopi turun maka tingkat keasaman kopi akan bertambah. Ini mungkin yang menyebabkan perut sakit usai meminum kopi lantaran minum kopi saat sudah dingin.

Oiya, Noel juga mengajarkan ritual minum kopi yang benar. Pertama hirup kopi dan rasakan aromanya. Setelah itu langsung nikmati kopi hingga masuk ke rongga mulut. Paduan asam, pahit, dengan tingkat kepekatan cukup tinggi akan terasa begitu cairan kopi memenuhi langit-langit mulut hingga sampai di tenggorokan.

Mereka yang Bikin Rusuh Starbucks (foto Kang Arul)

Mereka yang Bikin Rusuh Starbucks (foto Kang Arul)

Langkah selanjutnya masukkan croissant cokelat tadi. Pertemuan rasa pahit dan asam dari kopi berpadu sempurna dengan manisnya croissant. Sejenak hilang sudah rasa pahit dan asam tadi. Indera pengecapan kita pun merasakan keseimbangan rasa.

Sebuah pengalaman menarik dan edukatif mengenai kopi.

Starbucks Not Just Coffee

Acara kami menikmati senja makin sore semakin lengkap. Selain ngupi-ngupi ganteng, ngobrolin banyak hal soal kopi, belajar mengenal aroma sekaligus belajar menikmati kopi dengan cara yang beradab. Lengkap dan puas.

Apalagi tuan rumah kemudian mengeluarkan aneka sajian teman minum kopi mereka yang terbaik dan merupakan favorit para pengunjung. Mulai dari Croissant cokelat yang manis-manis sombong. Ada pula fruit tarlet yang penuh topping buah segar, Cinnamon Roll yang wangi kayu manisnya menggoda selera, hingga tuna bread yang gurih. Wareg.

Mana Kesukaanmu? (foto dokpri)

Mana Kesukaanmu? (foto dokpri)

Aneka pastry yang saya sebut di atas baru sebagian kecil dari koleksi dapurnya, masih banyak lagi yang bisa dicoba. Ini menunjukkan bahwa mereka bukan hanya jualan kopi. Itu mengapa sejak beberapa tahun terakhir di logonya tidak ada lagi kata “Coffee” di belakang kata Starbucks. Karena mereka menjual gaya hidup bagi masyarakat urban yang menyenangi kebiasaan ngopi berjamaah di tempat publik.

Starbucks Corporation sendiri berdiri sejak 30 Maret tahun 1971 di Seattle, Amerika Serikat. Kedai kopi ini didirikan tiga sekawan yakni Jerry Baldwin, Zev Siegl dan Gordon Bowker. Hingga kini jaringan kedai kopi ini meraksasa dan bisa ditemui di lebih dari 60 negara di dunia.

Di Indonesia, Sbux yang berada di bawah manajemen PT.Sari Coffee Indonesia membuka gerai pertamanya tahun 2002 di Plaza Indonesia Jakarta. Hingga bulan Agustus tahun 2015 Starbucks sudah membuka lebih dari 200-an gerai di sejumlah kota di Indonesia.

Starbucks JI-Expo (foto rosid)

Starbucks JI-Expo (foto rosid)

Starbucks JI-Expo

Hotel Holiday Inn Express

Jl.Rajawali Selatan

Kemayoran Jakarta Pusat


1,828 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini