20141221_233344

Judul Buku : The Art of Communication : Menjadi Pribadi yang Hebat dengan Kemampuan Komunikasi

Pengarang : Muchlis Anwar

Penerbut : Bestari, Jakarta 2014

Bicara di depan publik sepintas menjadi kegiatan yang mudah. Tinggal bicara bla..bla..bla.. selesai. Tapi siapa sangka kegiatan cuap-cuap di depan umum kerap menimbulkan persoalan bagi mereka yang tidak terbiasa. Seorang rekan harus mules-mules saat diminta bicara dalam sebuah perhelatan kantornya. Padahal audiens di kantornya semua ia kenal secara pribadi.

Kawan saya yang lain pun demikian. Keringat segede jagung mengucur deras dari wajahnya saat didaulat menjadi keynote speaker sebuah seminar menggantikan atasannya yang berhalangan.

Berbicara memang kegiatan alamiah manusia. Sepanjang ia bisa dan melatihnya sejak kecil mestinya kegiatan berkomunikasi menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi manusia. Namun praktiknya tidaklah demikian.

Dalam buku “The Art of Communication” karya Muchlis Anwar, disebutkan bahwa komunikasi merupakan sebagian besar kegiatan yang dilakukan umat manusia dalam hidupnya. Namun tidak semua manusia diberi kemampuan yang sama untuk bisa berkomunikasi secara efektif.

Tidak semua manusia mesti jadi pembicara handal atau jadi orator ulung, namun menurut Ulis, begitu penulis buku ini biasa disapa, setidaknya manusia mesti mencapai derajat minimum sebagai komunikator yang efektif. Mengapa efektivitas menjadi penting dan digaris bawahi? Karena dengan menjalankan komunikasi yang efektif, maka pesan yang dibawa seseorang akan mudah dipahami oleh orang lain.  Sebab pada dasarnya berkomunikasi adalah mencari pemahaman yang sejajar diantara komunikator dan komunikan.

Apa jadinya jika yang dibicarakan seseorang komunikator tidak bisa dipahami oleh semua hadirin dalam sebuah forum? Komunikan bingung mencerna isi pesan komunikator. Pastinya tidak akan terjadi proses komunikasi yang efektif dalam forum tersebut. Padahal salah satu hal yang harus diperhatikan agar komunikasi bersifat efektif adalah adanya keselarasan antara elemen komunikasi, seperti komunikator, komunikan maupun elemen lain seperti encoding, decoding, maupun saluran.

Praktis dan Mudah

Membaca buku “The Art of Communication” karya Muchlis Anwar ini pembaca seperti diajak mengurai persoalan hambatan berkomunikasi yang biasanya dihadapi banyak orang. Dengan gaya bahasa yang renyah, ngepop, Ulis memberikan banyak tips praktis yang mudah diikuti siapapun yang ingin menjadi pribadi hebat dalam berkomunikasi.

Pada bagian awal bukunya, Ulish mengungkap pentingnya komunikasi bagi kehidupan. Kehidupan dan karier seseorang bisa menanjak lantaran kemampuannya dalam berkomunikasi. Adanya anjuran untuk bersilaturahmi juga merupakan sebuah ajakan untuk membangun komunikasi antar manusia.

Namun di sisi lain munculnya pertikaian atau konflik adalah bukti nyata betapa komunikasi yang tidak dilakukan dalam tataran yang semestinya, akan menyebabkan terjadinya gesekan yang ditimbulkan akibat ketidaksepahaman diantara pelaku komunikasi.

Saling pengertian, kerjasama hanya bisa dicapai melalui proses komunikasi yang baik. Di mana setiap individu memiliki pemahaman dan pengertian yang sama tentang pesan yang disampaikan.

Pada bagian lain bukunya, Ulis membuat catatan menarik mengenai sosok pembicara yang baik. Bahwa untuk menjadi pembicara yang baik, seseorang mesti memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan fisik dan non fisik. Hal yang sifatnya fisik seperti penampilan yang menarik tetap penting, meski kita berpandangan bahwa ‘kulit’ seseorang tidak bisa dijadikan patokan ‘isi kepalanya’. Ini lebih dikarenakan dalam masyarakat masih ada yang berpandangan demikian, maka sebaiknya pembicara tetap berpenampilan yang baik, wajar dan menarik. Penampilan yang baik juga berkait erat dengan unsur non fisik yang juga penting dimiliki seorang pembicara.

Soal non fisik, penulis menyoroti pentingnya rasa percaya diri (pede) dimiliki oleh seorang pembicara. Dengan sikap pede, seseorang akan mampu menyalurkan pesannya sedemikian rupa sehingga bisa mempengaruhi orang lain. Jika ia sendiri kelihatan tidak pede, maka jangan heran jika pembicaraan kita akan sulit dimengerti orang lain. Bahkan presentasi kita bakal ditinggalkan audiens karena membosankan.

Menurut Ulis, rasa pede bisa dibangun melalui berbagai latihan, misalnya melatih ekspresi wajah berbeda-beda saat bicara, berbicara penuh optimisme, atau menggenggam tangan lawan bicara saat berjabat tangan. Latihan-latihan kecil dan sederhana ini bisa dilakukan sendiri maupun dengan orang lain. Jika ini dilatih terus-menerus akan meningkatkan rasa percaya diri untuk tampil di muka publik.

Buku ini saya rekomendasikan bagi semua orang, khususnya mereka yang mencintai seni berbicara, bagi mereka yang ingin berkarier di bidang komunikasi, atau bagi para politisi yang ingin membangun karier politiknya. Apa yang dipaparkan penulis sangat mudah dimengerti, mudah dicoba, dan mudah diikuti. Buku ini juga dicetak dalam desain yang menarik, dinamis sehingga tak membosankan membacanya dari awal hingga akhir. Apalagi di bagian akhir ada tips praktis dari penulis yang diberikan dalam ilustrasi grafis yang menawan. Seperti apa tipsnya? Baca saja buku ini….

1,196 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini