(foto: koleksi pribadi)

(foto: koleksi pribadi)

Festival Kuliner Serpong 2014 baru saja usai digelar. Kalender tahunan yang dihelat Sumarecon Mal Serpong ini sepertinya bakal jadi agenda yang wajib dikunjungi para penggemar kuliner nusantara.

Saya sempat hadir di sebuah Sabtu, saat mentari mulai menyingkir, suasananya berasa nyaman. Festival sengaja digelar di area terbuka (outdoor) di lapangan parkir Sumarecon Mal Serpong. Pilihan lokasi yang tepat, sebab pengunjung bisa bersantai sembari merasakan segarnya udara sore.

Untuk masuk ke area FKS2014 pengunjung memang tak dipungut bayaran. Tapi jika hendak berkuliner pengunjung cukup membeli kartu dengan nominal 100 ribu rupiah yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran di stand peserta Festival. Loket tempat penjualan kartu didesain unik menyerupai rumah adat toraja dan Minahasa.

Bentuk rumah adat yang menjulang diantara bangunan modern mal menjadi pemandangan kontras yang menarik. Ini dimanfaatkan banyak pengunjung sebagai latar belakang untuk berfoto-foto. Agak ke bagian dalam area FKS sebuah replika kapal Phinisi menjadi aksen penarik perhatian serupa. Kapal phinisi ini sebenarnya adalah panggung utama tempat berlangsungnya sejumlah pertunjukan seni.

Saat saya datang agak sulit mencari ruang lega agar leluasa melihat-lihat stand aneka kuliner nusantara yang menggoda. Lalu lintas pengunjung yang padat membuat pengunjung tak bisa bergerak bebas.

(foto: koleksi pribadi)

(foto: koleksi pribadi)

Tahun ini FKS2014 mengusung tema “Sulawesi Nyamanna… Pe Sadapp” yang artinya kira-kira menampilkan ragam kuliner dari tanah Sulawesi yang rasanya enak-enak. Dari gelaran Festival Kuliner Serpong 2014 ini ternyata Sulawesi memiliki pesona kekayaan kuliner yang belum terekspos secara luas ke publik, mulai dari makanan Makassar, Menado hingga Gorontalo.

Di sini kita bisa coba dan cicipi Coto Makassar, Sop Konro, Cotota Mapalus, Mie Cakalang, hingga kukis Menado. Slurp… Sejak siang beberapa gerai makanan khas seperti Konro Karebosi yang terkenal itu atau makanan khas Menado disesaki para pengunjung. Antrian Konro bahkan mengular cukup panjang membuat saya yang sudah keroncongan perutnya berpikir dua kali untuk ikutan antri.

Beberapa kawan yang ikut dalam antrian baru bisa mendapatkan Konro bakar setelah mengantri selama …. satu jam! Hmm… Menurut seorang kawan penantian panjang tadi terbayar dengan kelezatan Konro Karebosi yang memang sudah kondang rasanya itu. “Dagingnya empuk, bumbunya meresap hingga ke tulang,” ujar Rosid, rekan saya yang mengantri hingga bermandi keringat itu.

Melihat antrian yang menurut saya tak masuk akal sayapun berbalik mencicipi sate Padang Mak Syukur yang juga cukup legend. Selama ini saya cuma mendengar soal Mak Syukur dari kawan-kawan dan belum sekalipun mencicipi citarasa otentik Sate Padangnya. Dan…ternyata benar rekomendasi kawan-kawan soal sate padang Mak Syukur. Endeus….Daging sapinya cukup empuk dibalut saus sate padang yang kental adalah paduan rasa yang sempurna. Pantas saja sate ini begitu melegenda, sebab sate ini konon sudah ada sejak jaman kemerdekaan dan rasanya (menurut penggemar fanatiknya) tetap terjaga hingga kini.

Pilihan kuliner berikutnya yang jadi incaran saya adalah gudeg Jogja. Sebagai penggemar gudeg saya sudah punya patokan rasa tersendiri. Sayangnya rasa gudeg di sini tak seenak gudeg mbok Djum di Widjilan Jogjakarta. Tapi tak apalah, lumayan bisa menjadi obat kangen terhadap gudeg.

(foto: koleksi pribadi)

(foto: koleksi pribadi)

Kenyang mencicipi kuliner nusantara, selepas magrib ditampilkan atraksi Gading Night Carnival. Sejumlah model berkostum khas berwarna emas, perak, putih dan hitam beraksi di sekitar areal dalam FKS dan naik ke pentas panggung phinisi. Sekilas aksi mereka mengingatkan saya pada gelaran Jember Fashion Carnival. Keren.

Kemeriahan di FKS2014 ditutup dengan pertunjukan kembang api spektakuler yang membuat pengunjung berdecak kagum.

Meski secara keseluruhan gelaran Festival Kuliner Serpong 2014 ini cukup berhasil, namun ada beberapa catatan saya mengenai festival ini: pertama, Penataan stand kuliner khas Sukawesi mestinya ditinjau lagi. Karena temanya makanan khas Sulawesi mestinya penyelenggara memberi tempat yang lebih lega bagi stand-stand makanan Sulawesi. Jumlah peserta yang menjajakan makanan Sulawesi terlalu sedikit. Masih kalah dengan jenis makanan lainnya.

Kedua, letak stand makanan khas Sulawesi kurang menonjol. Stand-stand diletakkan di bagian belakang. Agak sulit bagi pengunjung mencari keberadaan stand-stand kuliner asal Sukawesi, terutama saat jumlah pengunjung membludak di akhir pekan. Butuh keberanian pengelola FKS2014 jika ingin memperkenalkan makanan yang belum terlampau familiar bagi kebanyakan pengunjung dengan menempatkan mereka di lokasi yang strategis, sehingga mudah dicari.

Ketiga, saya mengapresiasi langkah penyelenggara meminimalkan penggunaan sampah plastik di lokasi. Isu go green ditawarkan dengan cara memberi hadiah bagi mereka yang mengumpulkan botol minuman plastik ke sebuah stand adalah aksi peduli lingkungan yang jenial. Banyak pengunjung yang mulai ‘ngeh’ dan peduli pada lingkungan lantaran aksi ini. Ke depan, mestinya penyelenggara berani menyarankan pengunjung agar membawa tempat minum sendiri selama berada di area festival. Sediakan gerai minuman yang tak menggunakan wadah plastik sehingga tak menjadi persoalan lingkungan.

Keempat, tempat sampah ternyata jumlahnya minim di lokasi FKS2014. Mestinya disediakan lebih banyak tempat sampah agar memudahkan pengunjung membuang sisa makanan atau pembungkus makanan.

Kelima, untuk meningkatkan awareness pengunjung terhadap Festival Kuliner Serpong 2014, di event selanjutnya hendaknya dipikirkan adanya aktivitas online dan offline yang saling bersinergi. Misalnya menggelar lomba selfi di booth-booth festival, atau lomba live tweet bagi pengunjung.

Jika saran dan masukan pengunjung diperhatikan, saya yakin Festival Kuliner Serpong di masa datang akan jadi agenda ‘wajib’ bagi food hunter di negeri ini. Dan mimpi menjadikan Sumarecon Mal Serpong sebagai destinasi kuliner bakal terwujud.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Summarecon Mal Serpong Culinary Writing Competition

Collage Creator_9

514 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini