Kanker dan saya, dua entitas yang sangat dekat. Memang bukan saya yang terkena penyakit mematikan ini. Namun sejumlah kawan masa kecil maupun teman sekolah beberapa diantaranya sudah lebih dulu menghadap Ilahi karena penyakit kanker. Dalam catatan saya, selama kurun 2 tahun terakhir setidaknya lebih dari 5 orang kawan saya wafat karena penyakit kanker.

Tidak hanya satu jenis kanker. Seorang kawan saya ada yang “pergi” setelah berjuang dengan kanker payudara selama bertahun-tahun. Adapula kawan kuliah yang berpulang dalam waktu cepat lantaran kanker usus yang dideritanya. Terakhir, saya dapat kabar seorang kawan SMA meninggal di Amerika beberapa pekan lalu setelah menderita kanker otak.

Sebagai kawan saya cukup sedih mendengar kabar duka ini. Tapi yang paling terpukul tentu keluarga dekatnya. Saya masih ingat saat pemakaman seorang kawan SMP saya di TPU Tanah Kusir. Kami yang hadir di pemakaman tak kuasa menahan haru, saat melihat 2 anak almarhumah yang masih kecil-kecil melihat jasad ibunya dimasukkan ke liang lahat. Keduanya karena usia, saya yakin tak begitu paham konsep kematian. Namun yang jelas mereka sudah kehilangan orang yang dicintainya akibat kanker.

Yang cukup membuat prihatin adalah kenyataan beberapa kawan tak sempat tertangani secara medis dengan maksimal lantaran ketiadaan biaya. Kanker tak terdeteksi sejak dini karena kurangnya pemahaman. Ini memang problem klasik, namun senantiasa berulang.

Penderita Kanker Meningkat

Menurut Badan Kesehatan PBB WHO, jumlah penderita kanker setiap tahun bertambah sekitar 7 juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Bahkan diperkirakan mulai tahun 2010, setiap tahun sekitar 9 juta orang meninggal dunia akibat kanker. Wow, angka yang cukup membuat bergidik!

Di Indonesia sendiri, kanker menjadi masalah kesehatan yang cukup serius. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap tahun. Angka kematian akibat kanker dari tahun ke tahun pun meningkat. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, sekitar 5,7 % kematian semua umur disebabkan oleh kanker ganas.

Kalaulah pengetahuan masyarakat mengenai penyakit kanker cukup baik, saya rasa jumlah korban meninggal akibat kanker bisa diminimalkan. Apalagi secara medis, sepertiga sampai setengah dari semua jenis kanker sesungguhnya dapat dicegah, sepertiga dapat disembuhkan bila ditemukan pada stadium dini dan diobati dengan cepat dan tepat, dan sisanya dapat diringankan penderitaannya.

Oleh karena itu upaya mencegah dan menemukan kanker pada stadium dini sangat penting karena disamping mengurangi penderitaan akibat kanker juga menekan biaya pengobatan yang relatif sangat mahal. Inilah yang dilakukan oleh Asuransi Cigna dengan produk Cigna Complete Cancer Protection. Produk asuransi ini mencoba membantu masyarakat untuk sembuh dari kanker mulai dari tahap yang paling dini hingga stadium akhir.

Reginald Hamdani, selaku Associate Director Head of Strategic Marketing PT Asuransi Cigna, mengatakan Cigna Complete Cancer Protection berbeda dengan produk asuransi kesehatan lainnya. Karena biasanya produk dread disease yang ada hanya memberikan santunan untuk diagnosa penyakit di tahap lanjut. Sementara Cigna memberikan proteksi sejak kanker terdeteksi secara dini.

Yang membedakan lagi, Cigna juga memberikan perlindungan secara khusus bagi penderita kanker serviks dan kanker payudara yang banyak diderita kaum hawa. Di Indonesia, kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak, dan di nomor kedua ada kanker payudara.

Diperkirakan, setiap 1 jam 1 orang perempuan di Indonesia meninggal dunia karena kanker serviks. Dan, sebanyak 40 kasus baru kanker serviks didiagnosa setiap hari dan 20 perempuan meninggal karena kanker serviks setiap hari. Yang memprihatinkan, separoh dari wanita yang terdiagnosa menderita kanker serviks umumnya berusia antara 35 – 55 tahun, usia yang cukup produktif.

Dengan cakupan perlindungan yang menyeluruh seperti ini, premi yang ditawarkan menurut saya cukup terjangkau. Premi mulai sekitar Rp 38 ribu-an, dengan uang pertanggungan yang bisa dipilih, mulai dari Rp 50 juta (plan I), Rp 75 juta (plan II), dan Rp 100 juta (plan III). Pemegang polis berkesempatan untuk mendapatkan beragam pelayanan berupa santunan diagnosa penyakit kanker stadium awal hingga stadium lanjut, santunan perawatan rumah sakit, santunan penyembuhan apabila terdiagnosa penyakit kanker stadium lanjut, santunan meninggal dunia baik karena penyakit atau karena kecelakaan.

Sekedar informasi, PT Asuransi CIGNA merupakan bagian dari CIGNA Corporation, yang berpusat di Philadelphia, Amerika Serikat. CIGNA dan anak perusahaannya menawarkan program yang melayani 46 juta orang di dunia. Di Indonesia, Asuransi CIGNA berdiri sejak tahun 1990. Pada akhir tahun 2009, pemegang polis Asuransi CIGNA berjumlah lebih dari 1,6 juta orang.

Menjaga kesehatan itu jauh lebih penting dari mengobati penyakit. Namun jauh lebih penting jika kita sadar perlunya proteksi diri terhadap penyakit yang bisa diwujudkan dengan memilih produk asuransi yang cerdas dan melindungi. Dengan demikian, tak ada lagi cerita seperti dialami kawan saya, yang berjuang sendirian dengan kankernya tanpa proteksi memadai.


1,446 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini