Papan Bahasa Isyarat di Badan Bahasa (foto dokpri)Kamu orang Indonesia? Suka berbahasa Indonesia?

Pertanyaan yang menohok jika ada yang mempertanyakan ke-Indonesiaan kita.

Meski agak marah jika dipertanyakan ke-Indonesiaan kita, namun jujur soal berbahasa Indonesia sesuai kaidah saya mungkin masih jauh panggang dari api.

Makanya saat diajak mengikuti tes Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia (UKBI) pekan lalu saya langsung setuju. Karena kemampuan bahasa Indonesia saya jauh dari baik makanya saya sambut ajakan tersebut.

Dua puluhan orang berbagai profesi yang dikoordinir oleh Kelas Blogger, 10 Mei lalu mengikuti tes UKBI di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Rawamangun Jakarta. Pemberitahuan untuk mengikuti tes ini agak mendadak dari Badan Bahasa. Hanya sehari Kelas Blogger diberi waktu mengumpulkan 20-an orang untuk ikut UKBI.

Agak pesimis awalnya, namun ternyata kecintaaan pada bahasanya sendiri membuat beberapa blogger mesti menunda sejumlah acara, atau ijin setengah hari kerja pada atasan. Bahkan pasangan Fauzi Nurhasan dan Rani rela berangkat menjelang subuh dari Bandung untuk mengikuti tes ini. Luar biasa atensi para peserta. Padahal untuk mengikuti tes ini tidak gratis. Penyelenggara menetapkan biaya sebesar Rp.20K. Cukup murah, setidaknya jika dibandingkan biaya tes kemampuan bahasa asing.

Sebelum tes, pihak Badan Bahasa memberikan sosialisasi mengapa tes ini digelar bagi orang Indonesia. Menurut Badan Bahasa tes ini sama dengan tes TOEFL atau TOEIC dalam bahasa Inggris. Hasil tes digunakan untuk mengetahui kemampuan berbahasa dari seorang peserta.  Jika TOEFL digunakan untuk keperluan pekerjaan atau sekolah di dalam dan luar negeri, ke depan tes UKBI bakal diwajibkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang hendak mendapat promosi atau pejabat yang akan mengemban amanah di posisi barunya.

Secara umum tes UKBUI mirip dengan tes sejenis di bahasa asing. Ada 5 seksi (bagian) tes yang 3 diantaranya menggunakan format pilihan ganda. Seksi pertama, uji pendengaran. Kedua, merespon kaidah. Ketiga, membaca. Di seksi keempat, tes dilakukan dengan menulis. Sementara di seksi kelima ada tes bicara.

Saya dan teman-teman peserta UKBI kemarin hanya sampai pada seksi keempat, menulis atau menguraikan sebuah gambar dengan kata-kata.

Secara umum, bagi saya UKBI merupakan tes yang menarik. Bagi pecinta literasi atau dunia tulis-menulis tes semacam ini jelas sangat membantu mengukur kemampuan berbahasa. Tidak hanya bahasa percakapan namun juga bahasa tulis.

Kesimpulan dari tes UKBI kemarin, ternyata kemampuan berbahasa Indonesia saya masih harus terus diasah. Tidak ada kata terlambat untuk membenahi kemampuan berbahasa Indonesia kita. Karena kita orang Indonesia, mesti bangga dan peduli pada kemampuan berbahasa kita.

2,545 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini