syaifuddin.com

Information

This article was written on 24 Mar 2013, and is filled under Event, Lifestyle.

Current post is tagged

, ,

My Halal Kitchen

My Halal Kitchen bukanlah sebuah nama resto atau nama program televisi. Ini adalah grup diskusi di Facebook mengenai makanan halal. Sebuah gerakan dunia maya yang tak memiliki afiliasi pada apapun, pada kelompok manapun. Grup ini tidak menginduk pada LPPOM MUI atau lembaga sejenis, meski lembaga semacam itu kerap dijadikan rujukan dalam tiap diskusinya.

Terus terang saya belum terlalu lama masuk dan terlibat dalam diskusi-diskusi menarik di grup ini. Saya masuk ke dalam grup ini berkat ajakan Meili Amalia, teman satu kampus yang kebetulan menggagas sekaligus menjadi admin grup ini.

Awalnya saya hanya menjadi pemerhati saja, mengikuti setiap diskusi yang selalu ramai ditanggapi membernya. Lama-lama saya pun tertarik melibatkan diri dalam gerakan ini. Karena informasi yang saya dapatkan disini memenuhi dahaga saya akan persoalan halal haram yang selama ini tak saya ketahui.

Ide gerakan ini sebenarnya cukup sederhana, memastikan apa yang menjadi konsumsi kita sehari-hari itu dikategorikan halal sesuai kepercayaan yang kita anut. Sudah bukan rahasia lagi jika persoalan halal-haram makanan di negeri ini masih jauh panggang dari api. Masyarakat boleh mayoritas muslim, namun pengetahuan kita umumnya minim terhadap produk-produk pangan, peralatan dan sejenisnya yang dikategorikan halal.

Umumnya kita hanya tahu bahwa persoalan halal-haram hanya bila kita tak mengonsumsi makanan yang jelas-jelas haram seperti daging babi atau anjing. Padahal ternyata secara syar’i banyak juga problema pangan yang juga bisa dikategorikan tidak halal, mulai dari cara mengolah yang tak higienis, menyembelih hewan tidak sesuai aturan agama, hingga penggunaan peralatan masak yang terkontaminasi produk tak halal yang menyebabkan makanan yang semula halal jadi tak halal.

Diskusi yang terjadi di grup ini lumayan cair. Mereka yang tak mengerti diberi pencerahan. Sementara yang duluan tahu punya semangat berbagi yang luar biasa kepada anggota yang lain. Enaknya diskusi di dunia maya itu seperti berdiskusi di sebuah perpustakaan. Saat anggota tak mengetahui secara pasti sebuah persoalan, anggota lainnya langsung mencarikan informasi tersebut dari internet. Bahan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi kembali yang menarik.

Ada hal yang menarik di grup ini. Salah satu cara menggali pemahaman mengenai halal-haram yakni dengan menggelar latbar (latihan bareng). Karena mayoritas anggotanya perempuan, latbarnya pun tak jauh dari dapur. Hari Minggu, 24 Maret 2013 digelar latbar Dimsum halal di rumah salah satu anggotanya, Yanti Saleh di kawasan Tebet.

Kenapa Dimsum tentu ada alasannya. Makanan ini tengah hits dan banyak diburu, terutama saat resepsi kawinan. Hidangan dimsum jadi primadona pesta. Namun hidangan ini masih punya ganjalan, karena asalnya dari China, kesan tidak halalnya sangat kuat. Nah, my halal kitchen mencoba mencari jalan keluar dengan menggelar latbar Dimsum versi halal.

Halal dalam pembuatan dimsum ini bukan saja mengganti beberapa hal yang di asalnya China sana berkategori haram bagi warga muslim seperti penggunaan daging, minyak maupun lemak babi. Namun semua produk yang tak halal dicoba dicari padanannya yang sudah bersertifikasi halal.

Butuh effort yang lumayan karena beberapa produk masih susah dicari versi halalnya di pasaran. Namun itu bukan berarti langkah kami surut. Dengan kreativitas semua bisa diatasi.

Saya yang bersama Hagi si juragan Siomay Perintis jadi peserta paling ganteng, terus terang dapat banyak pencerahan dari event seharian ini. Latbar bukan cuma cooking class namun juga tempat yang bagus untuk belajar bisnis dan belajar memahami produk halal dan haram. Apalagi Latbar dipandu bu Yuyun Anwar yang expert di bidang kuliner halal beserta seluk beluk bisnisnya.

Event latbar tadi setidaknya membuka cakrawala saya mengenai persoalan halalan thoyiban produk-produk pangan. Pelan-pelan akan mengubah mindset dan kebiasaan, sehingga hanya menggunakan cara-cara halal dalam mengolah dan mengonsumsi makanan. Karena apa yang kita makan sedikit banyak mempengaruhi alam bawah sadar kita dalam bertindak sehari-hari.

Mari jadikan “halal” menjadi lifestyle kita, kaum muslim.


1,370 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

One Comment

  1. Jared E. Fisher
    26 April, 2013

    Sebenarnya, kontroversi masalah halal-haram Ajinomoto tidak perlu jika kita dapat menempatkan persoalan ini dengan tepat. Instansi yang paling berwenang menyatakan halal-haram adalah MUI. Balai POM berkewajiban untuk meneliti dan menyampaikannya ke publik secara lengkap (dari awal sampai akhir proses produksi). Karena saya lihat, terlepas dari motif apapun, saya menilai POM cenderung ingin mengibuli masyarakat. Indikasinya, Dirjen POM hanya menjelaskan kepada publik hasil akhir produk Ajinomoto yang tidak mengandung enzim babi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: