Tampak depan Farmhouse (foto dokpri)

Tampak depan Farmhouse (foto dokpri)

Farmhouse. Ini dia tempat yang lagi hits di seantero Bandung. Saban akhir pekan atau libur panjang tempat ini jadi destinasi wisata yang diserbu banyak orang. Begitu pula saya yang ikut jadi jemaah Al-Farmhouse-iyah di libur Lebaran kemarin. Jalan Setiabudi hingga Lembang yang biasanya ditempuh 15-30an menit harus saya tempuh selama 2 jam. Lama waktu tempuh ini menggambarkan betapa sesaknya kawasan ini, dan pusat keriuhan apalagi kalau bukan di Farmhouse.

Popularitas Farmhouse terasa sejak kendaraan mulai mengular di kawasan Ledeng. Entah di kilometer berapa mulai ada tulisan di secarik kertas atau karton yang menyediakan tempat parkir bagi pengunjung Farmhouse. Tapi jangan terkecoh, karena lokasi wisata ini masih lumayan jauh dari jangkauan.

Bagi yang sudah kelelahan terjebak dalam kemacetan, tawaran itu bak surga. Setelah memarkir kendaraan barulah sadar bahwa lokasi masih lebih dari 1 km, dan jalanan yang mesti ditempuh me-nan-jak!

Saran saya, parkirlah di parkiran Farmhouse (kalau masih cukup), tapi jika penuh cari di tempat parkiran sekitaran Farmhouse. Tapi jangan kaget dengan tarifnya, IDR 25K sekali parkir. Waduh. Entah ini resmi atau tidak, tapi karcisnya bertuliskan parkir Farmhouse. Tapi tarifnya mencurigakan.

Resminya jika parkir di dalam lokasi Farmhouse, sepeda motor dikutip IDR 5K, sedangkan mobil IDR 10K. Selisihnya cukup besar jika parkir di luar lokasi.

Masuk Gratis?

Jika tempat wisata lain mengutip tiket masuk dalam bilangan tertentu, nah Farmhouse beda. Pengunjung ‘cuma’ diharuskan membayar karcis IDR 20K per-orang, yang bisa ditukarkan dengan segelas susu segar. Tinggal pilih rasanya: plain, strawberry dan cokelat. Konon dulu karcis juga bisa ditukarkan dengan seporsi sosis bakar yang entah mengapa tak ada lagi saat saya datang.

Segelar susu segar khas Farmhouse (foto dokrpi)

Segelar susu segar khas Farmhouse (foto dokrpi)

Jika melihat karcis yang ditukar susu, berarti masuk ke Framhouse sebenarnya gratisan. Agak repot juga jika ada pengunjung yang tak suka susu.

Lalu, apa saja yang bisa dinikmati di Farmhouse? Ini dia beberapa diantaranya yang terekam dalam catatan saya.

1.Area Peternakan

Edukasi Cinta Satwa (foto dokpri)

Edukasi Cinta Satwa (foto dokpri)

Menurut saya ini spot paling Farmhouse banget. Di spot ini pengunjung bisa bermain dengan aneka satwa seperti domba-domba lucu, kelinci dan kuda. Pengunjung anak-anak juga bisa menyewa pakaian tematik cowboy yang bisa digunakan sebagai properti berfoto dengan domba-domba kecil tadi.

Sayangnya, ada beberapa pengunjung anak-anak yang berlaku kasar terhadap domba-domba di sini, mereka menyeret dan menarik domba untuk mengikuti kemauannya. Mestinya mbak dan mas penjaganya tanggap dan melarang pengunjung melakukan kekerasan fisik pada hewan.

2.Rumah Hobbit

Ini adalah rumah kayu yang mengingatkan kita pada film “Lord of The Rings” besutan sutradara Peter L.Jackson yang lokasi shootingnya di New Zealand. Di Farmhouse, rumah ini dibuat replikanya hingga laris dijadikan sebagai obyek foto. Bahkan pengunjung rela antri dan berebutan untuk bisa foto di rumah kayu yang cuma satu di sini.

3. Gembok Cinta

Gembok Cinta (foto dokpri)

Gembok Cinta (foto dokpri)

Bagi pasangan yang dimabuk kepayang bisa menyalurkan perasaannya di area gembok cinta. Jika tak membawa gembok dari rumah, sebuah kedai souvenir menyediakan kok gembok dengan harga IDR 25K . Jika ingin beli sepasang, ada paket IDR 100K  yang dikemas dalam sebuah box unik. Tapi saya tak menyarankan untuk membeli box, buat apa, toh gemboknya bakal dipasang di pagar kawat yang ada di sini. Gembok cinta ini mengingatkan pada Love Lock yang ada di Namsan Seoul Tower, Korea Selatan. Banyak pasangan yang percaya dengan mengabadikan cintanya melalui gembok cinta kehidupan cinta mereka bakal langgeng. Who knows..

4. Jadi Noni Belanda

Berkostum ala Eropa Klasik (foto dokpri)

Berkostum ala Eropa Klasik (foto dokpri)

Yang juga unik di Farmhouse pengunjung bisa menyewa seperangkat kostum ala-ala Eropa klasik yang bisa digunakan untuk foto-foto. Pengunjung cukup membayar IDR 75K dan bisa berkeliling spot-spot keren di sini untuk wefie atau selfie selama 2 jam. Jika penasaran ingin mencoba jadi noni Belanda, saran saya datanglah di hari kerja saat jumlah pengunjung tak membludak seperti di hari libur. Di hari libur panjang dijamin anda bakal kelamaan mengantri giliran dibanding bergaya dengan kostum berwarna dominan merah dan putih tersebut.

5. Kuliner Melimpah

Berkunjung ke Farmhouse jangan takut kelaperan. Banyak penjual makanan, entah yang berkonsep kaki lima, kedai ataupun resto. Yang paling mudah menemukan jajanan sosis bakar, bertebaran di beberapa lokasi. Resto yang berada di kawasan rumah Eropa klasik menyajikan aneka hidangan Eropa, Amerika dan Indonesia. Sayangnya saya belum mencicipi kuliner yang dijajakan di sini. Saya hanya sempat mencoba sosis bakar, roti dan minuman ringan karena malas ikut antrian yang cukup panjang.

Sebagai tempat wisata baru, Farmhouse sebenarnya menarik. Namun jika datang saat libur hari raya atau akhir pekan jangan harap pengunjung bakal memperoleh kenyamanan. Desak-desakan, antrian panjang bakal anda rasakan. Untuk berfoto di sejumlah spot pun agak sulit lantaran berjubelnya pengunjung.

Simpan

Simpan

1,188 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini