Suasana Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi Pribadi)

Suasana Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi Pribadi)

Hari Jum’at lalu (5/6) bersama beberapa kawan Kompasianer Penggila Kuliner (KPK) saya manjakan lidah di perhelatan food festival Kampoeng Tempo Doeloe. Acara ini digelar di pelataran mal La Piazza, Kelapa Gading Jakarta Utara. Festival kuliner ini merupakan bagian dari hajatan besar manajemen Mal Kelapa Gading yang diberi tajuk Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2015.

Loket penjualan kartu masuk (foto: koleksi pribadi)

Loket penjualan kartu masuk (foto: koleksi pribadi)

Meski rutin digelar tiap tahun dalam rangka HUT Kota Jakarta, perhelatan besar ini tetap memesona. Khusus untuk gelaran food festival, saya melihat MKG makin tahu apa kebutuhan para penikmat kuliner. Tahun ini tema besar yang dibawa adalah Kampoeng Tempo Doeloe. Pelataran mal La Piazza disulap menjadi sebuah kampung di tepian Pelabuhan Sunda Kelapa.

Aroma kental kampung nelayan begitu terasa sejak pintu masuk di bagian depan. Replika perahu kayu milik nelayan. Meski berukuran mini namun lumayanlah menjadi penanda  tema besar festival kuliner ini. Bahkan beberapa pengunjung menggunakan sudut ini sebagai spot foto favorit.

Sementara itu panggung terbuka di bagian depan set panggungnya juga dibuat ala kampung pesisir. Potongan perahu di bagian kanan dan kiri panggung menjadi aksen yang memperkuat acara ini.

Makanannya Lazziiiis

Nah, sekarang saya akan bicara soal makanannya. Di kampung tempo dulu dijajakan ratusan jenis makanan nusantara dan mancanegara. Mulai dari ayam bakar, laksa, bakso, beragam jenis es, hingga cemilan ada di sini.

20150605_191019

Saya mengawalinya dengan segelas es cincau. Petang yang melelahkan setelah seharian bekerja memang paling pas diisi dengan minum-minuman menyegarkan seperti es cincau. Racikan es cincaunya persis dengan yang pernah saya cicipi di masa kecil dulu. Cincau hanya diberi sedikit kinca, santan dan es. Rasa manisnya tidak terlalu pekat. Es cincau  yang ini memang beda dengan cincau yang lagi hits saat ini seperti cappucino cincau yang sudah mendapat pencampuran rasa ‘barat’.

Mungkin ada yang menganggap agak aneh juga memulai jelajah rasa di sini dengan segelas es cincau. Tapi saya punya alasan. Bagi saya, es cincau adalah sepenggal kenangan masa kecil yang mesti dirawat selagi sempat.

Sate Lilit Ayam di gerai Nasi Ungu (foto: koleksi pribadi)

Sate Lilit Ayam di gerai Nasi Ungu (foto: koleksi pribadi)

Kelar dengan es cincau, saya kemudian mencoba tawaran nasi ungu sate lilit ayam. Ini adalah makanan yang direkomendasikan mbak Indri dari La Piazza. Saya tergoda dengan embel-embel “the healthy rice” yang disematkan di gerai nasi ungu. Karena penasaran dan memang belum pernah coba juga akhirnya sepiring nasi ungu dan 5 tusuk sate lilit dan sate ayam sampai di meja saya.

Perpaduan Unik, Nasi Ungu dan Sate Lilit Ayam (Foto: koleksi pribadi)

Perpaduan Unik, Nasi Ungu dan Sate Lilit Ayam (Foto: koleksi pribadi)

Nasi ungu sendiri mirip dengan nasi uduk yang gurih. Bedanya, nasi dicampur onje atau kecombrang sehingga berwarna ungu. Rasanya pun unik, aroma herbal kecombrang mendominasi di tiap sendokan. Lebih sempurna lagi makan nasi ungu dengan cocolan sambel onje yang pedas-pedas segar. Sate lilitnya sendiri meski cukup enak, tapi saya justru lebih suka dengan sate ayam biasa. Dagingnya lebih tebal.

Laksa Tangerang nan Menggoda (foto: kokeksi pribadi)

Laksa Tangerang nan Menggoda (foto: kokeksi pribadi)

Untuk satu piring nasi ungu saya hanya dibandrol Rp.10 ribu saja. Sementara 5 tusuk sate lilit ayam campur harganya 29 ribu rupiah. Karena saya ambil paket nasi ungu, sate lilit dan minuman teh, total belanja saya Rp.46 ribu. Cukup worthed.

Nasi Campur Bali.. (foto: koleksi pribadi)

Nasi Campur Bali.. (foto: koleksi pribadi)

Melipir ke sejumlah gerai tenant lainnya, saya cukup takjub juga dengan panjangnya antrian Serabi Notosuman dari Solo. Dari sekitar 170-an gerai peserta, sepertinya cuma  gerai ini yang antriannya paling panjang. Meski penggemar serabi Solo saya urungkan untuk ikut mengantri bersama puluhan orang di gerai ini. Untungnya rasa penasaran serabi Solo ini terobati oleh tawaran mbak Indri yang membeli cukup banyak kudapan khas Solo ini. Lumayan tak perlu antri.

La Piazza Riuh Oleh Pengunjung Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

La Piazza Riuh Oleh Pengunjung Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

Oiya, selain nasi ungu tadi, akhirnya saya pesan ayam bakar Ngebul untuk dibawa pulang. Ini saya pesan setelah melihat gerai ini selalu ramai pembeli. Biasanya keriuhan bisa menjadi indikator ‘rasa’, dan ternyata benar adanya sesampai di rumah. Ayam bakar yang saya pesan satu pedas dan satunya lagi manis. Daging ayamnya lembut, bumbu kecapnya pas, juicy.

JFFF Kukuhkan La Piazza Sebagai Pusat Kuliner

Melihat gelaran Jakarta Fashion and Food Festival tiap tahunnya, saya melihat penyelenggaraannya makin baik. Tema acara yang dipilih tahun ini lebih pas dan gerai makanan peserta festival pun lebih beragam. Ini mengapa jumlah pengunjung selalu membludak di tiap pelaksanaan food festival.

Panggung Besar di tengah Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

Panggung Besar di tengah Kampoeng Tempo Doeloe (foto: koleksi pribadi)

Tahun ini jumlah peserta sendiri lebih banyak dari tahun lalu. Tempat makannya pun kini lebih luas dan menyebar ke sisi depan La Piazza.

Dengan konsistensi yang penyelenggara pegang tiap tahunnya, La Piazza sudah mengukuhkan diri sebagai destinasi wisata kuliner wajib kunjung di ibukota.

Oiya satu hal yang menarik dari pelaksanaan Kampoeng Tempo Doeloe adalah banyaknya tempat sampah yang disediakan oleh panitia di lokasi acara. Di sela meja-meja tempat makan kita akan mudah menemui tempat sampah besar yang bisa digunakan pengunjung. Ini penting dan saya cukup mengapresiasi hal ini, karena menunjukkan kepedulian penyelenggara terhadap lingkungan.

141511892434256010

2,210 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini