Meracik Nasi Becek (foto dokpri)

Belum ke kota Nganjuk, Jawa Timur jika tidak mampir mencicipi nasi becek. Banyak penjual nasi becek di sini, tapi yang paling kondang ada di jalan Sutomo, tepatnya di perapatan Payaman.

Disebut nasi becek karena nasi ini disajikan dengan kuah gulai kambing yang segar. Penyajiannya yang basah dengan kuah itulah yang memunculkan istilah atau sebutan nasi becek. Persis seperti jalanan becek seusai hujan.

Gulai kambingnya sendiri didominasi jeroan atau ‘daleman’nya kambing, ditambah daging sate kambing yang telah dipreteli dari tusuknya. Disajikan dengan nasi putih plus irisan bawang merah segar dan kol.

Yummy… Siapapun yang berhadapan dengan sepiring nasi becek rasanya tak ada yang mampu menolak.

Ikon Kuliner nan Legendaris

Nasi becek Payaman Nganjuk ini merupakan ikon kuliner yang sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan negeri ini. Didirikan sejak tahun 1940-an oleh Kasan Jedor, dan kini operasional rumah makan ini sudah dipegang generasi ketiga atau cucu dari pendirinya.

Bagi penikmat sejati, rasa nasi becek ini konon tak berubah sejak dulu. Racikan bumbunya pas, daging kambing diolah cukup baik, empuk dan tidak berbau prengus (bau khas daging kambing).

Selain itu, saya juga merekomendasikan sate kambing mudanya yang uenak. Satu porsi nasi becek komplit harganya cuma Rp.20K saja. Sementara sate kambing seporsi isi 10 tusuk seharga Rp. 30K.

Sepiring Kenangan

Pengunjung Berfoto di depan Kedai (foto dokpri)

Nasi becek ini bagi banyak warga asli Nganjuk yang merantau adalah sepenggal kenangan. Begitu pula bagi keluarga kami. Saya kerap diajak kemari oleh bapak almarhum saat kecil. Tempat ini juga lumayan memorable untuk ibu. Dulu sering kemari bareng bapak atau bareng adik dan kakaknya.

Saat terakhir mampir kemari bulan April silam, ibu dan adik-adiknya yang anak rantau terlihat senang berada kembali di kedai tersebut.

Mereka semua melupakan sejenak pantangan makanan berkolesterol demi merasakan kembali masa silam dalam sepiring nasi becek.

Kedai ini tempatnya bersahaja, nyaris tak berubah sejak dulu. Kendati sederhana namun tempat ini enak untuk berbincang mengingat masa kecil.

Untuk kemari, saat paling asyik di sore menjelang malam. Suasananya pas. Kedai ini buka sejak jam 09 pagi hingga jam 22.00.

Uniknya meski di atap yang sama, namun kedai ini punya dua pengelola berbeda. Pagi hingga siang sang adik, sore ke malam gantian sang kakak.

Kedai Nasi becek di perapatan Payaman ini mudah sekali ditemukan. Patokannya dari alun-alun sekitar 500 meteran. Jika bingung tinggal tanya saja warga sekitar atau minta tolong antar tukang becak, dijamin sampai kemari.

Jika singgah ke kota ini jangan lupa mampir ke kedai ini, merasakan sebuah kekayaan kuliner negeri ini yang sudah berjaya puluhan tahun.

853 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini