Rumah Pengasingan Soekarno di Muntok, Bangka (foto dokpri)

Rumah Pengasingan Soekarno di Muntok, Bangka (foto dokpri)

Berkunjung ke rumah pengasingan Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno di bukit Menumbing, Muntok, Kabupaten  Bangka Barat seperti membuka lembar-lembar buku sejarah saat kecil dulu. Dalam buku sejarah yang pernah saya baca, memang tercatat Belanda melakukan agresi militer kedua di Yogyakarta, pada 19 Desember 1948. Meski sudah 3 tahun Indonesia merdeka, tampaknya pemerintah kerajaan Belanda tidak iklas daerah jajahannya yang kaya hasil bumi ini merdeka. Oleh karenanya mereka melakukan agresi militernya dan menangkapi sejumlah pimpinan dan tokoh pergerakan nasional.

Kemudian yang terjadi adalah Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim dan sejumlah tokoh lainnya ditawan dan diasingkan ke Giri Sasana Menumbing. Mereka tidak diberangkatkan secara bersamaan namun dalam 3 gelombang berbeda.

Lukisan Soekarno, sang putra fajar (foto dokpri)

Lukisan Soekarno, sang putra fajar (foto dokpri)

Saya sendiri tak pernah membayangkan bakal menginjakkan kaki di tempat yang menjadi bukti kepingan sejarah besar negeri ini. Perjalanan bersama teman-teman Kelas Blogger dari Pangkalpinang menggunakan mobil minivan kami tempuh lebih dari 2 jam lamanya. Dengan medan jalan yang sebenarnya cukup bagus, jalanan beraspal mulus. Namun rute ini banyak menyuguhkan tanjakan dan turunan yang cukup aduhai, membuat kami para penumpang kerap berteriak saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi dan bertemu dengan turunan yang bikin sport jantung.

Dari kota Muntok perjalanan kemudian menanjak sejauh sekitar 4 km ke gunung Menumbing. Butuh ekstra hati-hati, karena jalanan sempit dan licin. Di beberapa bagian malah hanya bisa dilalui satu mobil saja.

Kastil Belanda Tempat Peristirahatan

Tiba di rumah peristirahatan Sasana Giri Menumbing kami disuguhi pemandangan Bangka Barat dari ketinggian yang menawan. Kesibukan di dermaga lautan dengan kapal-kapal yang lalu lalang terpotret apik dari kejauhan. Bangunan Sasana Giri Menumbing konon dulunya merupakan tempat peristirahatan orang Belanda yang bekerja di Banka Tin Winning, yang merupakan cikal bakal PT Timah.

Ruang Pertemuan nan Lapang (foto dokpri)

Ruang Pertemuan nan Lapang (foto dokpri)

Agak simpang siur perihal tahun berdirinya tempat ini. Ada literartur yang menyatakan dibangun tahun 1890, ada juga yang meyakini tahun 1927 atau 1932 sebagai tahun pembangunannya. Meski tak jelas kapan pembangunannya namun kondisinya sendiri masih cukup baik.

Di teras rumah kami disambut mas Tedjo yang sehari-hari menjaga Sasana Giri Menumbing. Konon Tedjo adalah generasi ketiga yang setia mengabdi di rumah ini.

Sebuah foto besar Soekarno menyambut pengunjung yang datang.

Masuk ke dalam rumah semua pengunjung dilarang mengenakan alas kaki demi menjaga kebersihan Sasana Giri Menumbing. Kami cukup beruntung berkunjung kemari saat rumah sudah dipercantik dan diperbaiki. “Sebelumnya berantakan, kurang terawat. Kini setelah berada di bawah Sekneg (Sekretariat Negara) kondisinya jauh lebih baik. Pengunjung pun berdatangan,” ujar mas Tedjo.

Ruang kerja Soekarno (foto dokpri)

Ruang kerja Soekarno (foto dokpri)

Di dalam rumah terdapat sejumlah perangkat sofa yang meski jadul namun cukup terawat. Di ujung ruang sebuah mobil Ford Deluxe berwarna hitam bernomor polisi BN 10 terparkir dengan gagahnya. Mobil ini dulu digunakan Bung Karno dan Bung Hatta berkegiatan di Muntok dan sekitarnya. Kondisi fisiknya masih cukup oke, namun jangan salah tak ada mesin di dalamnya.

Di sisi kanan dalam terdapat ruang pertemuan yang digunakan para pemimpin negeri ini untuk berdiskusi membicarakan persoalan kenegaraan. Sejumlah foto tokoh terkenal Indonesia bertebaran di dindingnya. Mereka adalah tokoh lain yang juga pernah diasingkan di sini, seperti Pringgodigdo, Ali Sastroamidjojo, Mr Assaat, Mr. Mohammad Roem dan S. Suryadarma.

Kamar Istirahat Bung Karno

Yang paling menarik bagi saya adalah ruang privat yang pernah ditempati Bung Karno yakni ruang tidurnya. Untuk sampai ke ruang tidur pengunjung mesti melewati sebuah ruang kerja dan ruang duduk.

Ruang Tidur Soekarno, sederhana (foto dokpri)

Ruang Tidur Soekarno, sederhana (foto dokpri)

Ruang istirahat Bung Karno sendiri sebenarnya tak terlalu istimewa. Malahan cukup sederhana dan simpel untuk  istirahat seorang tokoh sebesar Soekarno. Ada dua dipan berukuran single di kamar ini, yang saya duga dijadikan Bung Karno dan Bung Hatta beristirahat. Beberapa kursi kayu berlapis rotan terlihat rusak dan dibiarkan begitu saja. Mungkin sengaja tidak diganti atau diperbaiki agar kesan ‘sejarahnya’ tetap ada.

Kemudian ada pula lemari pakaian di sisi kiri serta kamar mandi yang terkunci.

Tidak semua orang boleh masuk ke dalam kamar Bung Karno. Kabarnya bagi mereka yang punya maksud jahat pasti tidak akan pernah bisa masuk ke kamar, apalagi berfoto di dalamnya. Benar tidaknya memang saya tak bisa membuktikan, karena saya dan kawan-kawan yang datang bersamaan bisa masuk ke kamar tanpa kendala.

Saat ini kalaupun ada larangan hanya sebatas bagi mereka yang sedang datang bulan (menstruasi). Dan kemarin seorang kawan patuh pada larangan tersebut karena khawatir bakal menemui masalah jika aturan itu dilanggar.

Melihat Muntok dari Ketinggian

Bergeser ke lantai atas, sebuah pemandangan berbeda tersaji di sini. Karena rumah ini letaknya paling tinggi dibandingkan bangunan lainnya, dari atas rumah pengunjung bisa melihat sepenggal kesibukan kota Muntok. Tempat ini bagai surga bagi penggemar foto. Berfoto selfie atau wefie bisa dilakukan dengan latar belakang berbagai sudut yang ada.

Keriuhan Kelas Blogger di Sasana Menumbing (foto dokpri)

Keriuhan Kelas Blogger di Sasana Menumbing (foto dokpri)

Hampir semua sudut menawarkan keindahan, berbeda-beda, mulai dari latar pelabuhan, rimbunnya pepohonan hingga sejumlah bendera yang dipasang di atap rumah.

Rumah pengasingan Bung Karno di Bukit Menumbing ini menurut saya bisa dijadikan salah satu destinasi wisata sejarah andalan di Kepulauan Bangka Belitung. Namun ada banyak hal perlu dilakukan oleh pemerintah daerah setempat.

Paling utama adalah merestorasi koleksi yang ada di museum, beberapa koleksi saya lihat sudah dalam kondisi rusak parah. Selain merestorasi, pemda setempat jika perlu melengkapinya dengan koleksi lain yang tersebar di luar museum. Misalnya barang pribadi tokoh yang pernah diasingkan di sini bisa ditambahkan. Dan bila memungkinkan sediakan pula sebuah ruang pustaka tempat pengunjung mengakses informasi, bisa dalam bentuk cetakan, dalam bentuk manuskrip atau berbentuk multimedia.

Dan tidak kalah penting adalah memperbaiki akses jalan menuju ke Giri Sasana Menumbing agar lebih bersahabat, tidak semenyeramkan seperti sekarang.

3,154 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini