syaifuddin.com

Information

This article was written on 15 Apr 2010, and is filled under sosial.

Current post is tagged

, , ,

Mbah Priok dan Kekerasan Itu

Rabu kemarin sebagai penonton Tv saya sedih. Kekerasan begitu telanjangnya hadir di ruang-ruang keluarga kita saat kerusuhan terjadi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sejak pagi saat aktivitas harian dimulai hingga menjelang masuk ke peraduan malam, tak bisa sejenak pun saya bisa terbebas dari kabar buruk dari Priok.

Saya tak mengerti mengapa penertiban atas nama pembangunan menjadi hantu yang menakutkan bagi siapapun. Rakyat kerap dibuat tidur tak nyenyak karena dipaksa menyingkir secara paksa. Kekerasan demi kekerasan dipertontonkan dengan gamblangnya oleh aparat Satpol PP.

Memang mereka hanya menjalankan tugas. Tetapi apa iya tugas menertibkan harus dilakukan dengan kekerasan? Bukankah kita memiliki budaya musyawarah, dialog dengan kepala dingin.

Kalau memang makam mbah Priok tidak akan digusur seperti dikatakan Wakil Gubernur Priyanto, harusnya pendekatan yang dilakukan aparat bukan lagi represif. Para peziarah dan warga setempat pastinya rela jika makam itu dibuat lebih bagus, sehingga kegiatan ziarah mereka bertambah khusyuk.

Kini korban tak hanya jatuh dari kalangan rakyat biasa, tapi juga aparat Satpol PP. Kalau sudah begini, apa yang bisa dikatakan Gubernur dan Wakilnya? Masihkah menyalahkan rakyat jelata?

Penggunaan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah adalah cara usang. Pemda mesti mereformasi SOP Satpol PP. Jangan jadikan mereka musuh rakyat dan korban kesalahan kebijakan. Harusnya mereka dimanusiakan dan menjadi abdi yang bersahabat dengan rakyat.

1,481 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

5 Comments

  1. syaifuddin
    17 April, 2010

    @abrar: benar mas abrar, se7. saya melihat kepentingan modal yang lebih dikedepankan. padahal kerusuhan bisa diantisipasi, dari peta persoalannya. sayangnya aparat kita enggan belajar dari kasus bentrokan massa sebelumnya. yang lebih aneh, bagaimana mungkin aparat tak bisa menangani kekerasan bahkan larut di dalamnya?

  2. abrar
    17 April, 2010

    ups, maaf ada yang kurang, “tak”… harusnya seperti ini:
    kejadian itu hanyalah satu dari sekian banyak kebijakan yang tak memahami kehendak dan keadilan rakyat…

  3. abrar
    17 April, 2010

    kejadian itu hanyalah satu dari sekian banyak kebijakan yang memahami kehendak dan keadilan rakyat…

  4. syaifuddin
    15 April, 2010

    @arif: murah amarah sih iya Rif.

  5. arif harahap
    15 April, 2010

    bangsa kita, orang timur yang (katanya) ramah, santun dan murah senyum??

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: