Saya coba sedikit mereview tayangan reality show kompetisi memasak MasterChef Indonesia. Acara ini mulai tayang hari Minggu lalu di RCTI.

Sebagai penggemar acara cooking show, saya punya ekspektasi yang cukup tinggi saat mendengar kabar RCTI bakal memproduksi tayangan tersebut. Tentunya berharap bakal melihat banyak yang seru karena yang berlaga adalah ‘orang kita’ sendiri.

Kedekatan budaya dan kuliner nusantara yang kaya menjadi alasan mengapa saya menunggu tayangan ini. Saya berharap bakal mendapat ilmu kuliner dan tentunya hiburan.

Ekspektasi boleh dong. Apalagi sebelumnya saya selalu mengikuti MasterChef USA (MC USA) dan Junior MasterChef Australia (JMCA). Di MC USA, selain melihat kompetisi memasak dari peserta yang umumnya bukan berlatar belakang koki, tayangan ini menarik karena menampilkan chef handal macam Gordon Ramsay. Gordon Ramsay dikenal sebagai koki cukup lama jam terbangnya. Salah satu cooking show yang melambungkan namanya adalah Hells Kitchen. Berkat acara ini, Ramsay tidak hanya dikenal sebagai koki, tapi juga selebriti masak.

Ramsay juga dikenal sebagai si raja tega. Ia kerap melontarkan cacian jika peserta MC USA melakukan kesalahan ataupun membuat sajian yang tak sesuai standar. Meski demikian, Ramsay menjadi salah satu daya pikat MC USA. Ia menjadikan acara  ini hidup dan nikmat diikuti tiap episodenya.

Kritikan, pujian ia sampaikan dengan caranya yang to the point. Caranya kadang membuat peserta kaget, namun kemudian mengiyakan sebab bakal diikuti dengan pemberian tips n’ trik memasak yang praktis. Peserta senang, pemirsapun mendapat ilmu yang langka.

Lain halnya dengan Junior MasterChef Australia (JMCA). Tayangan ini meski mengadaptasi program sejenis untuk koki dewasa, namun sajiannya benar-benar menghibur dan penuh pesan-pesan edukasi.

Peserta tentunya anak-anak dengan rentang usia 8-13 tahun, datang dari berbagai belahan Australia. Meski anak-anak, jangan remehkan kemampuan memasak mereka. Saya sendiri terbengong-bengong dengan cara para peserta memasak dan mempresentasikan dengan cara yang jauh mendahului usianya.

Peserta bukan hanya diminta memasak mie rebus atau nasi goreng, tapi mereka juga diminta memasak hidangan utama restoran yang kadang cukup rumit.

Selain kepolosan para peserta anak-anak, JMCA cukup berhasil sebagai tayangan karena didukung para chef handal sebagai juri dan pembawa acaranya. Ada 4 juri yang masing-masing punya keunikan tersendiri yakni Gary Mehigan, George Calombaris, Matt Preston dan Anna Gare.

Kendati keempatnya adalah koki handal, namun di acara ini mereka tak pernah sekalipun menjatuhkan mental peserta jika peserta salah menterjemahkan perintah atau hasil presentasinya kurang memuaskan. Mereka selalu mengambil sisi lain yang positif dari hidangan karya para bocah ajaib ini. Pendek kata mereka adalah juri yang supportif terhadap peserta.

Poin positif acara Junior MasterChef Australia menurut saya adalah bagaimana membangun kepercayaan diri anak-anak dalam mengerjakan sesuatu. Kebetulan yang dilakukan adalah aktivitas memasak. Namun pastinya tujuan akhirnya adalah support dalam berbagai hal.

Satu lagi, acara ini tidak mengeksplore kesedihan. Tak ada air mata bercucuran jika salah satu peserta gagal ke babak selanjutnya. Kalaupun ada airmata, tak akan didramatisir hanya demi meningkatkan rating-share.

Balik ke MasterChef Indonesia. Belum banyak yang bisa dipaparkan dari tayangan ini, karena baru satu episode. Tapi dari satu episode ini sudah terlihat, ternyata mengadaptasi sebuah program tv tidak gampang. Pemilihan Vindek, Juna serta Marinka sebagai juri sepertinya perlu ditimbang lagi. Mereka bertiga meski punya segudang prestasi sebagi koki, namun sangat tidak menarik di tv. Penampilannya kaku, tidak atraktif, dan bicara sangat terpaku pada naskah.

Ekpspresi dan spontanitas seperti yang ditampilkan pada Junior MasterChef Australia ataupun MasterChef USA belum terlihat. Bisa jadi mungkin karena ini tayangan pertama, serba nervous. Karena Juna atau Vindek bukan seorang Gordon Ramsay yang familiar dengan sorot lampu dan kamera.

Satu lagi yang harus menjadi catatan tim produksi MasterChef Indonesia adalah kemasan acaranya. Kemasannya membosankan, tidak ada kejutan, tidak ada bangunan drama yang bisa memaksa pemirsa stay tune di tempat hingga acara ini selesai. Jika kemasan dan presentasi acaranya ‘hanya’ seperti ini, saya khawatir acara ini tak akan mampu memikat pemirsa. Dan pengalaman mengadaptasi tayangan manca negara yang gagal bakal terulang, setelah terjadi pada Indonesia Idol ataupun Indonesian Got Talent.

Sayang sekali jika program tv yang tentunya menghabiskan biaya mahal ini bakal ditinggalkan pemirsa. RCTI dan juga Fremantle Media harusnya belajar dari cara presentasi program tv Indonesia Mencari Bakat di Trans TV yang sukses besar itu. Bahkan program tersebut malah menenggelamkan program Indonesia Got Talent yang merupakan program adaptasi dari American Got Talent dari sisi pencapaian rating-share serta penerimaan pemirsa.

Tak ada salahnya belajar lagi pengemasan program dari mereka yang sudah ahlinya.

#Tulisan 10 dari 365

 

1,445 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini