Kota Pangkalpinang di pulau Bangka adalah ibukota provinsi Bangka Belitung yang memiliki banyak kawasan wisata yang menarik. Bulan lalu bersama sejumlah blogger saya sempat berkunjung ke kota ini selama 3 hari. Terlalu singkat memang kunjungan ini. Harusnya minimal seminggu berada di kota ini dan bisa menyelami satu persatu keragaman destinasi wisatanya.

Sebagai penggemar wisata budaya dan sejarah saya begitu terpukau dengan kota cantik ini. Ternyata kota ini menyimpan berbagai kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa. Menurut catatan Ahmad Elvian, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pangkalpinang, di kota ini sedikitnya ada 30 destinasi wisata sejarah. Wah, ternyata yang kami datangi baru beberapa diantaranya.

Adanya perpaduan budaya Melayu dan China dalam keseharian masyarakat Pangkalpinang membuat kota ini unik. Terlebih adanya peninggalan bangunan masa penjajahan Belanda membuat kota ini makin menarik. Lalu, apa saja destinasi wisata sejarah yang ada di Pangkalpinang? Saya pilihkan 5 diantaranya.

1.Rumah Eks Residen Bangka

Rumah Eks Residen Bangka

Rumah Eks Residen Bangka

Ini adalah bekas rumah Residen Bangka di Pangkalpinang yang memiliki catatan sejarah yang panjang. Rumah ini terletak di pusat kota, tepatnya di jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang. Bulan Februari lalu saya sempat berkunjung kemari dan melihat langsung keindahan arsitektur rumah ini.

Rumah berarsitektur Eropa ini dibangun awal abad ke-20, dan mulai ditempati pada tahun 1913 oleh Residen (penguasa Belanda) di Bangka yang berkedudukan di kota Pangkalpinang.  Menurut catatan sejarah, Pangkalpinang dijadikan ibukota karesidenan Bangka di masa penjajahan Belanda, setelah sebelumnya ibukota Karesidenan ini berada di kota Muntok, Bangka Barat.

Bentuknya yang besar membuat warga Bangka menyebutnya sebagai rumah besar. Yang paling mencolok dari bentuk rumah ini adalah adanya 10 pilar yang berada di teras depan rumah. Selain itu yang khas dari rumah berarsitektur Eropa adalah bukaan jendela yang lebar, ventilasi dan pintu berukuran serba besar. Rumah Residen kini menjadi rumah dinas Walikota Pangkalpinang M.Irwansyah Rebuin dan menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi.

2. Tamansari (Wilhelmina Park)

Taman Sari alias Wilhelmina Park

Taman Sari alias Wilhelmina Park

Nama taman Wilhelmina Park ini mengingatkan pada sosok ratu Belanda, Wilhelmina. Dinamakan seperti nama ratu Belanda karena taman ini dibangun saat masa pendudukan Belanda di Indonesia. Setelah kemerdekaan RI nama taman diubah menjadi Tamansari dan diresmikan oleh Wakil Presiden Ri Mohammad Hatta pada tahun 1949.

Tamansari dirancang oleh Van Ben Benzenhorn sebagai fasilitas pendukung rumah Residen Bangka, yang letaknya bersisian. Taman ini ditata bak taman-taman di Eropa. Dengan pepohonannya yang rindang, taman ini menjadi oase bagi warga Pangkalpinang yang hendak melepas penat. Selain difungsikan sebagai taman, Tamansari juga digunakan sebagai tempat konservasi tanaman, tempat berolahraga hingga sekedar bersantai bersama keluarga.

Oiya, nama Tamansari ini diambil dari nama kecamatan tempat taman ini berada. Sejak tahun 2010 Tamansari dijadikan cagar budaya Pangkalpinang yang dilindungi Undang-undang Cagar Budaya.

3. Museum Timah Indonesia

Bangka identik dengan timah, dan bicara timah asal Bangka berarti membicarakan sejarah panjang eksplorasi timah di Nusantara. Dan untuk memahami sejarah pertimahan di pulau Bangka, maka berkunjunglah ke Museum Timah Indonesia yang terletak di jalan Ahmad Yani, Pangkalpinang.

Di museum ini kita bisa menyaksikan perjalanan sejarah penambangan timah di Bangka. Mulai dari penambangan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat, sejarah perkembangan teknologi pertambangan sejak jaman Belanda hingga terkini.

Mencermati satu persatu koleksi museum Timah pengunjung akan dibawa menyelami kejayaan timah Bangka di awal abad ke-20. Masa di mana timah sebagai komoditas andalan Indonesia yang dikenal bukan saja di kancah regional, namun hingga ke seluruh dunia. Keterkenalan itu menjadikan timah Bangka sebagai salah satu timah terbaik di dunia.

4. Panti Wangka (Societeit Concordia)

Gedung Panti Wangka alias Societet Concordia

Gedung Panti Wangka alias Societet Concordia

Panti Wangka atau gedung Societeit merupakan gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda di kota Pangkalpinang. Gedung ini terletak di pusat kota, dekat dengan sejumlah kantor pemerintahan. Letak gedung ini tak jauh dari Wilhelmina Park atau Tamansari.

Gedung ini didirikan pada masa residen Bangka A.J.N Engelenberg yang memerintah tahun 1913 – 1918. Societeit Concordia digunakan sebagai tempat berkumpulnya sosialita Belanda, yang terdiri dari ambtenar goebernemen (petinggi pemerintahan), petinggi militer, pejabat perusahaan BTW (Banka Tin Winning), hingga pengusaha. Di tempat ini biasanya mereka melepas lelah, makan-makan, mendengarkan musik dan hiburan seni.

Seiring dengan nasionalisasi aset milik pemerintah Belanda menjadi BUMN, tahun 1953 gedung ini pun beralih pengelolaannya menjadi dibawah Unit Penambangan Timah Bangka dan berubah namanya menjadi Panti Wangka. Setelah itu gedung ini pernah menjadi gedung pertemuan, kantor sementara DPRD Provinsi Bangka Belitung, serta PN Pangkalpinang saat gedung pengadilan tersebut direnovasi. Kini gedung bersejarah ini digunakan oleh KONI Bangka Belitung sebagai kantornya.

5. Rumah Kapitan Lain Nam Sen

Rumah Kapitan

Rumah Kapitan

Rumah cantik berarsitektur perpaduan China Hakka dengan Melayu ini bisa ditemukan di jalan Balai, Pangkalpinang. Rumah Kapitan Lain Nam Sen ini merupakan bukti betapa akulturasi budaya China berjalan dengan cara yang indah dan berdampingan dengan budaya lokal Melayu. Hidup damai berdampingan memang sudah ada sejak lama di Pangkalpinang. Ini terbukti dari keberadaan rumah ini yang sudah ada sejak tahun 1800-an.

Rumah ini awalnya adalah rumah panggung, sama seperti kebanyakan rumah di Sumatera pada masanya. Rumah semacam ini dibangun dengan alasan keamanan, sebab saat itu masih kerap ditemukan binatang buas yang berkeliaran di kampung-kampung. Dengan rumah panggung, sentral kegiatan di rumah berada di lantai atas. Sementara di bagian bawah biasanya digunakan untuk menyimpan ternak atau kendaraan.

Dari luar rumah ini tak beda dengan rumah di Pangkalpinang lainnya. Namun begitu kaki melangkah ke bagian dalam, maka akan tampak keunikan rumah ini. Yang paling unik menurut saya adalah tegelnya. Coraknya sangat vintage, cantik sekali. Kemudian pembagian ruangnya juga menarik. Rata-rata ruangannya cukup luas, dengan area publik di bagian bawah. Sementara area privat berada di lantai dua.

Keunikan berikutnya adalah furnitur kayunya yang masih terawat dengan sangat baik. Semuanya adalah peninggalan keluarga turun temurun.

Saat ini proses renovasi rumah Kapitan ini sudah hampir selesai. Nantinya rumah ini akan dijadikan semacam galeri atau museum rumah khas China-Melayu dan terintegrasi dengan hotel di bagian belakang rumah.


5,830 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini