Henry Jufri, kuli panggul yang Jutawan

Henry Jufri, kuli panggul yang Jutawan (foto dokpri)

Mimpi adalah ruang yang tak bertepi. Siapapun bebas mengekspresikan mimpi-mimpinya. Tak terkecuali bagi seorang lelaki muda bernama Henry Jufri atau lebih dikenal sebagai Henry Jhie. Henry bukan sosok selebritas, bukan pula anak konglomerat.

Kamis siang (3/9) saya sempat bertemu sosoknya yang sedang banyak diburu media massa nasional di ajang Indosat #KuningItuBerani, yang digelar di Graha Indosat, Makassar. Sosoknya malu-malu, sederhana, namun ramah pada siapapun. Sesekali saat bicara mengenai masa lalunya yang merana bicaranya agak terbata, suaranya tercekat. Ada nada pilu di situ. Ia tak sedang menyesali masa lalunya yang miskin. Ia hanya terharu bisa menjejak posisi seperti saat ini dan melaluinya dengan cara yang berliku.

Ya, Henry hanyalah seorang buruh panggul di pelabuhan Makassar. Karena hanya seorang kuli pelabuhan biasa, yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD, banyak yang mencemooh. Mengucilkan, memandang rendah dirinya lantaran profesi yang  bagi sebagian orang ‘cuma kuli panggul’.

Bagi Henry celaan, cemoohan adalah vitamin yang mencambuk dirinya untuk tetap bisa menggantungkan cita-citanya yang tinggi, keluar dari bilik kemiskinan.

“Saya tak tahu bagaimana cara bisa keluar dari situasi serba pas-pasan itu. Tapi saya yakin kalau saya mau saya bisa,” begitu tekad kuat Henry. Akhirnya ia belajar ngeblog, namun ia mengaku lekas bosan. Sampai akhirnya ia belajar jadi developer games secara otodidak.

Ia pelajari seluk-beluk per-games-an melalui tutorial di Google. Ia mengumpulkan uang dari hasil menjadi kuli panggul sedikit demi sedikit untuk membeli seperangkat komputer. Awalnya ia hanya mampu membeli kompter berspesifikasi 2 GB. “Padahal untuk bisa membuat sebuah game yang bagus spek minimalnya 4 GB, saya tak peduli,” ujar Henry pada forum Blogger Meet up di Gedung Indosat, Makassar (3/9).

Ia terus memelihara impiannya untuk belajar agar bisa membuat game yang menarik. Bahkan ia rela menabung lagi untuk membeli akun Google Play Store. Akun seharga 25 Dollar Amerika atau senilai 350 ribuan rupiah bagi seorang kuli panggul seperti Henry jelas sebuah jumlah yang cukup banyak. Ia terpaksa mengirit dalam banyak hal guna mencapai mimpinya. Jumlah itu ia baru bisa kumpulkan setelah 5 hari kerja.

Banyak yang mencemooh dan menganggap mimpinya keterlaluan. Karena untuk bisa menjadi seorang developer aplikasi games butuh pendidikan dan pengetahuan yang mumpuni. Orang yang mencemooh tak percaya Henry bisa melakukannya hanya dengan bekal pendidikan rendah dan tak lulus SD.

 

Tak cuma cemoohan yang ia dapat dari kawan-kawannya, ia juga kerap memperoleh kendala sebagai developer aplikasi android. Beberapa kali akun Play Storenya dicekal Google karena kesalahan yang perbuat sendiri. “Awalya saya benar-benar tak mengerti mengapa akun saya dibanned Google. Karena benar-benar awam saya cari tahu dan pelajari penyebab akun saya dicekal oleh Google. Setiap kesalahan adalah pelajaran buat Henry. Ia mengaku tak ingin jatuh ke lobang yang sama tiap menemukan kesalahan.

Dan buah dari kesabaran itu kini ia rasakan. Januari 2015 hingga Juni 2015 rata-rata ia bisa kantongi sekitar 100-an dollar tiap bulan. Dan puncaknya pada bulan Juli 2015 saat ia mencairkan Western Union di kantor pos ia mendapatkan sekitar 16 juta rupiah dari aplikasi yang ia jual di Google Playstore. What??

Kini setelah apa yang dicapainya, Henry makin dikenal orang. Meski hampir tiap hari kisah inspiratifnya muncul di banyak media, Henry tetap berprofesi sebagai kuli panggul pelabuhan.

Meski sudah dikenal orang, Henry selalu ingin jadi orang yang down to earth, menjejak bumi. Ia selalu ingat filosofi “Di atas  langit masih ada langit.” Ia tak mau jumawa, tak mau merasa paling jago. Ia juga terus belajar banyak hal yang belum ia kuasai. Ada beberapa aplikasi lain yang sedang ia develop dan pada saatnya akan ia perlihatkan pada publik.

Bagaimana dengan teman yang dulu mencemoohnya? “Mereka kini mulai berkawan lagi dengan saya, ” ujarnya enteng. Tak ada nada dendam atau apa.

Kesabaran itu kuncinya. Sabar merawat mimpinya meski banyak dicemooh orang. Sabar jika melakukan kesalahan dan selalu belajar dari tiap kesalahan yang pernah dibuat. Henry kini bak roket yang tengah mengangkasa. Apa yang dicapainya bukan akhir dari segalanya. Ia menganggap belum apa-apa. Masih banyak mimpinya yang belum diraih. Ia masih terus mewujudkan satu-satu mimpinya menjadi kenyataan.

“Saya bermimpi punya sebuah studio developer aplikasi agar makin banyak orang yang bisa belajar mengenai seluk-beluk dunia aplikasi dengan terarah.” kata Henry mantap, masih dengan mimpinya.

2,298 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini