Komunitas Asean tinggal 2 tahunan lagi diresmikan. Polemik perihal kesiapan Indonesia menghadapi era baru dalam kehidupan bernegara di Asia Tenggara saya pikir tak perlu diperpanjang. Hadapi saja, karena faktanya tak bisa kita bantah.

Kecemasan menghadapi era Komunitas Asean persis terjadi sebagaimana dulu globalisasi sebelum era 80-an kerap diwacanakan. Globalisasi dipersepsi media sebagai hal yang menyeramkan, seolah hidup akan berakhir dan berhenti begitu ia hadir di sisi kita.

Era Komunitas Ekonomi Asean mungkin bakal lebih “heboh” saat diterapkan, sebab langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kita tak perlu punya akses teknologi informasi terkini, seperti halnya saat kita merasakan globalisasi dulu. Karena pelaku ekonomi yang berasal dari pelosok negeri Asean bakal berdatangan. Tidak hanya bisa ditemui di gerai-gerai supermarket atau mall kelas atas, namun bukan tak mungkin mereka akan mengetuk pintu-pintu rumah kita, sambil menyapa dalam bahasa percakapan yang biasa kita pergunakan sehari-hari.

Lalu apa jadinya jika di perumahan kita bermunculan usaha kecil menengah macam salon perawatan tubuh atau penataan rambut yang dikendalikan oleh warga asal Thailand? Bukan hanya satu, tapi bermunculan bak cendawan di musim hujan. Mereka datang menawarkan layanan jasa salon berkelas dengan standar internasional. Bahkan para pekerja salonnya memiliki sertifikat yang diakui secara internasional.

Dengan kondisi semacam itu, apakah yang terjadi dengan usaha sejenis milik warga lokal? Apakah mereka akan tutup alias gulung tikar? Atau paling parahnya, apakah mereka masih dapat “pasar” di negeri sendiri?

Mari kita berandai-andai…

Layanan jasa memiliki peluang besar menjadi leading sector dalam menggerakkan perekonomian kita. Ini termasuk penyediaan layanan jasa salon kecantikan. Logikanya begini, jasa salon kecantikan jika hendak eksis dan diterima sebanyak mungkin kalangan mesti menawarkan aneka layanan kepada pelanggan setianya.

Kuncinya adalah memberikan layanan yang berbeda, berikan differensiasi kepada pelanggan sehingga mereka akan mengingat terus kelebihan usaha kita. Setelah menjadi top of mind di benak pelanggan, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pelanggan yang loyal.

Mengandalkan layanan yang standar ala salon kecantikan internasional menurut saya ada plus minusnya. Plusnya, pelayanan salon kita akan sama dan sebangun dengan salon-salon lain di seantero Asean. Minusnya, jika tak pintar mengelolanya, pelanggan akan kabur, dan menganggap kita tak lebih baik dari salon pesaing asal negeri gajah putih.

Hal itu justru akan menyulitkan posisitioning kita. Karena pastinya salon lokal akan kalah kelas dan modal. Jangan jadikan salon kita follower, tapi jadikan sebagai pembuat tren layanan.

Salon adalah layanan personal, karenanya unsur personal itulah yang mestinya dikedepankan. Jangan hanya memberikan layanan yang serupa dengan salon asal Thailand atau Singapura saja. Justru layanan dengan muatan lokal yang mesti digali atau dijadikan “jualan utama”.

Misalnya perawatan wajah dengan bahan-bahan alami khas Indonesia. Kemas layanan dengan menggunakan isu lingkungan yang tengah “in” yakni back to nature. Para pelanggan bakal dimanjakan perawatan kulit wajah menggunakan masker bengkuang atau luluran dari kopi aceh. Karena menggunakan bahan-bahan alami, pelanggan pastinya akan lebih tertarik menggunakannya dibandingkan memakai produk kecantikan bermerk internasional yang mengandung bahan kimiawi.

Para pelaku usaha jasa salon mesti jeli menangkap peluang yang ada. Edukasi pelanggan dengan isu layanan yang berbasis eco friendly.

Selain menggunakan bahan-bahan kecantikan yang alami, hal-hal yang sifatnya personal juga bisa dilakukan. Misalnya dengan memberi layanan jasa door to door. Aksi jemput bola macam ini akan membuat layanan salon kita berbeda dari kompetitor asal negara Asean lainnya. Pelanggan akan merasa diistimewakan, dilayani bak ratu sehari.

Layanan macam ini juga akan memangkas banyak biaya dan waktu. Harga atau tarif bersalon akan lebih kompetitif. Dan bagi pelanggan, ia akan mendapat banyak manfaat ketersediaan waktu yang cukup karena tak perlu antri di salon atau bermacet-macet di jalanan demi mendapat perawatan rambut dari stylish langganan.

Oya, agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas, keunggulan layanan kita bisa dikomunikasikan atau dipromosikan melalui jejaring sosial seperti Facebook atau twitter. Dengan menguasai media, bukan tak mungkin kondisi akan berubah, kita tak lagi dijajah bangsa lain, tapi akan menjajah atau berekpsansi ke negeri Asean lainnya. Namun dengan syarat, para pekerjanya dibekali ketrampilan (skill) perawatan wajah, penataan rambut yang mumpuni, yang tidak kalah dengan kapster asal Thailand, misalnya.

Masih banyak lagi ide-ide tak biasa bisa diterapkan agar layanan salon kita ‘berbeda’ dari kebanyakan penjual jasa sejenis. Tinggal bagaimana kita, apakah mau berubah atau cukup puas jalan di tempat saja.

(@syai_fuddin) #1 #10DaysForAsean

1,114 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini