Breaking news di televisi sejatinya menampilkan informasi tercanggih, komplit dengan pendalaman materi. Bahkan karena sifatnya spesial diupayakan memberikan informasi menyeluruh yang membuat publik terpuaskan dahaganya akan informasi. Jika aspek ini tak bisa ditampilkan buat apa buang duit untuk sebuah program spesial seperti breaking news. Saya pikir ini adalah cara berpikir logis tiap insan televisi, karena siaran langsung berarti ada dana yang dikeluarkan untuk menyewa transponder satelit dan sejumlah pos pengeluaran termasuk konsumsi kru dan sebagainya.

Oleh karena itu keputusan membuat sebuah breaking news pastinya dilandasi pemikiran bahwa informasi yang akan diberikan bernilai penting, ‘besar’ dan harus segera dilaporkan ke pemirsa.

Apa jadinya jika breaking news ‘kehilangan nyawa?’ Ini bisa dilihat dari breaking news penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar oleh KPK pekan lalu yang disiarkan tvOne. Sepanjang breaking news tak ada informasi penting yang berarti. Presenter maupun standupper di lapangan berkali-kali menyatakan penangkapan pejabat negara setingkat menteri. Kemudian secara tak sengaja menyebut jabatan salah seorang yang ditangkap sebagai Ketua MK, tapi itu kemudian diralat dengan sendirinya karena kemudian tak digunakan sepanjang siaran.

Yang menarik, dibalik siaran langsung tersebut ternyata terselip ‘drama’ atau bahkan skandal yang bocor ke publik. Media sosial tengah meramaikan persoalan ini.

Dalam breaking news tersebut sempat terdengar suara percakapan antara standupper (reporter yang memberikan laporan di lapangan) yang sedang bersiap melakukan siaran langsung dari gedung KPK dengan seseorang lewat telepon. Dugaan saya itu adalah perbincangan dengan produser yang sedang berada di kantor. Isi perbincangan menjelaskan uang yang berhasil disita KPK dan terdengar kalimat, “Tapi Golkar jangan dibawa-bawa ya”. Duer!! Dalam video pernyataan itu ada di menit 08.30.

Pernyataannya memang tidak luar biasa. Mungkin ini adalah percakapan biasa antar tim lapangan dengan mereka yang berada di ruang kendali siaran di studio. Tapi percakapan itu membawa dampak besar pada kemasan informasi yang kemudian disampaikan reporter tv milik Bakrie tersebut.

Beberapa informasi kunci yang penting tidak disampaikan atau sengaja disamarkan agar publik tidak tahu dan menghubung-hubungkan dengan hal lain. Informasi yang sengaja disamarkan antara lain nama pejabat publik yang berhasil ditangkap tangan KPK yakni Ketua MK Akil Mochtar dan anggota DPR Chairun Nisa. TvOne menggunakan inisial A-M dan C-N untuk menyebut keduanya.

Ini di luar kelaziman pemberitaan masalah korupsi selama ini. Biasanya pemberitaan masalah korupsi jika menyangkut pejabat publik, media langsung menyebut namanya secara lengkap. Karena memang itu dilakukan dengan pertimbangan memberi sanksi sosial kepada pelaku korupsi dan memberi warning atau peringatan tak langsung kepada pejabat publik untuk tidak main-main dengan korupsi.

Penyamaran nama dan penyembunyian informasi latar belakang Akil Mochtar dan Chairun Nisa akhirnya dapat diketahui publik karena ada embel-embel “Golkar”nya. Jika itu terjadi dan menimpa kader partai lain saya yakin pasti disebutkan berkali-kali dan tanpa menggunakan inisial. Lihat saja yang tvOne lakukan terhadap mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Lutfi Hasan Ishaq saat ditangkap oleh KPK. Atau saat bendahara Partai Demokrat Nazarudin yang terus-menerus disebutkan asal partainya saat siaran langsung.

Untungnya publik yang menjadi konsumen media cukup cerdas menyaring informasi. Publik pun pada akhirnya tahu dengan jelas bahwa kedua orang yang ditangkap KPK adalah kader partai Golkar. Fakta yang benar pada akhirnya berpihak pada masyarakat, sementara fakta yang sengaja disamarkan pun dijauhi orang.

Mungkinkah ini bisa dikategorikan sebagai penyamaran informasi atau pembohongan publik? Biarlah publik yang menilai. Eksistensi media massa itu ada dan dirasakan masyarakat jika ada keberpihakan pada kepentingan orang banyak. Jika tak memberi manfaat cepat atau lambat media akan ditinggalkan karena hanya menyajikan kepentingan partainya sendiri. Yang bagus itu partainya, kalau yang jelek-jelek pasti partai lain, begitu mungkin logika berfikir media partisan.

481 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini