Sudah sepekan kami ditinggalkan bapak pergi menghadap Illahi Rabbi. Sebuah kenyataan yang tak mudah kami hadapi. Apalagi bapak pergi menjelang hari Raya Iedul Fitri, hari di mana biasanya kami selalu berkumpul bersama.

Bagi saya pribadi, kepergian bapak pekan lalu begitu cepat, amat mendadak malah. Masuk rumah sakit hari selasa, dan menghadap Allah di hari keenam opname di Rumah sakit.

Serangan stroke yang diderita bapak sebelum wafat adalah yang kedua. Sebelumnya tahun 2010 bapak mendapat serangan stroke ringan di bagian tubuh sebelah kiri. Dan yang terjadi kemarin menyerang tubuh bagian kanan.

Secara fisik sakit bapak tak kelihatan. Serangan stroke itu datang sesekali dan membuat setengah bagian tubuhnya kesemutan yang sangat. Jika serangan itu datang, yang ada dalam benak adalah bisa menggantikan rasa sakit yang dideritanya. Tapi itu tak pernah terjadi hingga bapak menutup mata hari Minggu, 28 Juli 2013.

Banyak yang sudah bapak lakukan bagi kami, anak-cucunya. Tapi teramat sedikit yang telah saya lakukan sebagai anak kepada bapak. Rasanya belum tuntas bakti ini saya berikan pada bapak yang sudah merawat, membesarkan dan memberikan pendidikan terbaik pada saya dan adik-adik. Bersama ibu, keduanya menjadi tim tangguh yang mampu membalikkan hal yang mustahil menjadi mungkin.

Bapak hanya berpendidikan STM dan ibu SD, namun semangat dan kerja keras keduanya mampu membawa saya mencintai ilmu pengetahuan, sehingga mampu sekolah hingga ke jenjang master. Sebuah hil yang mustahal kata pelawak Asmuni. Dengan penghasilan yang tak seberapa besar, sejak kecil saya dirangsang meraih yang terbaik di dunia pendidikan. Dan jalan selalu terbuka manakala ada kerja keras dan tekad yang kuat, dari kami dan juga kedua orang tua.

Kepergian bapak adalah sebuah kehilangan besar bagi saya. Sulit menjelaskan seberapa besar dan seberapa dalam rasa kehilangan itu. Logika berfikir saya sudah saya setel sedemikian rupa untuk menerima kepergian ini. Namun, ada rasa yang tak bisa diungkapkan, yang tak mampu menerima semua itu dengan mudah.

Entah sudah berapa banyak air mata ini mengalir tiba-tiba tanpa saya kehendaki. Saya biarkan saja air mata ini mengalir, karena mungkin dengan itu saya menjalani penyembuhan menerima kehilangan itu.

Di luar itu, saya percaya do’a adalah obat penyembuh paling mujarab. Do’a kami semua untukmu Bapak. Bapak memang berpulang, tapi bapak tidak pergi, bapak ada di hati kami masing-masing.

1,454 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini