Websites Garuda Indonesia

Websites Garuda Indonesia

Travelling naik pesawat Garuda? Ah mahal. Begitu banyak komentar yang saya dapat mengenai harga tiket dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Menjamurnya budget airline atau maskapai berbiaya murah baik pemain lokal maupun internasional dalam 10 tahun terakhir seolah membenarkan pandangan tersebut.

Dan kenyataan yang terjadi, maskapai berbiaya murah menangguk keuntungan dari kampanye harga tiket ini. Sejumlah perusahaan yang kerap memberangkatkan karyawannya bertugas ke luar kota atau ke luar negeri, yang semula menggunakan maskapai penerbangan full service airline semacam Garuda Indonesia akhirnya banting stir.

Penghematan (uang) menjadi alasan mengapa mereka menggunakan budget airlines. Padahal sebenarnya harga tiket sejumlah maskapai berbudjet rendah tidak selamanya murah. Bahkan ada yang lebih mahal dari tarif tiket Garuda. Maskapai murmer memang menjual sejumlah tiket murah sebagai promo menarik calon penumpang. Namun itu hanya sekian kecil dari jumlah total tempat duduk. Lalu, bagaimana sisanya? Dijual sama dan bahkan lebih mahal dari Garuda.

Ini saya ketahui dari beberapa kawan yang mengurusi pembelian tiket untuk tugas liputan di kantor kami dulu. Mereka kerap menemukan selisih harga yang tipis antara tiket maskapai murmer dengan maskapai sekelas Garuda. Dengan harga tiket yang sama pun sesungguhnya penumpang rugi, sebab mereka tak memperoleh banyak benefit sebagaimana diberikan maskapai yang menganut full service airline.

Tapi apa benar naik pesawat Garuda itu mahal?

Pekan lalu kebetulan saya dapat kesempatan menyambangi markas maskapai Garuda Indonesia di komplek Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Kesempatan langka bersama sejumlah Kompasianer ini saya manfaatkan untuk menggali fakta-fakta soal itu.

Bambang Reza Aditiawarman, Senior Manager Marketing Media Garuda Indonesia menjelaskan mengapa harga tiket Garuda terkesan mahal jika dibandingkan banyak maskapai penerbangan lainnya di tanah air. Karena sebagai full service airlines menerapkan value proposition yang membuat penumpang mengeluarkan uang yang sedikit lebih, untuk mendapatkan layanan di atas maskapai penerbangan lainnya.

Lalu apa ‘kelebihan’ yang didapat konsumen? Pikri Ilham Kurniansyah, Senior Manager Pre and Post Flight Services Garuda Indonesia menjelaskan, dengan konsep Garuda Indonesia experience, pihaknya menyajikan aspek-aspek terbaik dari Indonesia kepada para penumpang. Mulai dari saat reservasi, penerbangan di pesawat hingga tiba di bandara tujuan. Para penumpang akan dimanjakan oleh layanan tulus dan bersahabat yang menjadi ciri keramahtamahan Indonesia, diwakili oleh ‘Salam Garuda Indonesia’ dari para awak kabin.

Menurut Pikri, Garuda Indonesia bukan budget airlines yang murah namun mengabaikan banyak pengalaman terbang yang lain. Garuda adalah maskapai dengan full service yang memberikan pelayanan menyeluruh, mulai dari cara pemesanan tiket, jaminan ketepatan jadwal penerbangan, hingga sajian kuliner berkelas selama penerbangan.

Karenanya hampir jarang terjadi perjalanan dengan menggunakan pesawat
Garuda Indonesia mengalami delay seperti yang biasa terjadi dalam penerbangan dengan maskapai berbiaya murah.

Komitmen Garuda memberikan layanan terbaik ternyata bukan hanya kampanye semata. Pengakuan dunia internasional akan layanan terbaik berkali-kali digenggam. Setelah tahun 2012 Garuda Indonesia meraih “The World’s Best Regional Airline”, tahun 2013 Garuda Indonesia berhasil meraih predikat terbaik. Kali ini sebagai “World’s Best Economy Class 2013” dan “Best Economy Class Airline Seat 2013” dari Skytrax. Skytrax adalah lembaga pemeringkat penerbangan independen yang berkedudukan di London. Untuk kedua award tersebut, Garuda Indonesia mengalahkan Singapore Airlines yang kondang dengan kualitas pelayanannya itu. Wow, Hebat!

Untuk membuktikan komitmen full servicenya, kami juga diajak menjelajahi ‘dapur’ Garuda dari dekat, yakni ke Garuda Maintenance Facilities (GMF) serta Aerowisata Catering Service (ACS).

Ruang maintenance GMF (foto: Syaifuddin)

Ruang maintenance GMF (foto: Syaifuddin)

Di Garuda Maintenance Facilities kami disuguhi penjelasan rinci bagaimana pesawat Garuda dirawat, mulai dari kedatangan bagian-bagian mesin yang rusak, reparasi hingga pengecekan akhir sebelum dikembalikan pada pihak maskapai.

Prosedur maintenance di GMF bagi saya yang awam soal mesin terkesan rumit, memadukan ketrampilan mekanik tingkat tinggi beserta teknologi komputerisasi yang presisinya terukur. Prosedur itu memang sengaja dilakukan GMF demi menjaga agar pesawat dalam kondisi terbaik, sehingga kelaikan terbangnya tetap terjaga.

GMF meski sahamnya dimiliki mayoritas oleh Garuda Indonesia, namun juga melayani perbaikan dan pemeliharaan pesawat milik maskapai penerbangan asing. Sayangnya karena terikat aturan kami tak diperbolehkan mengambil gambar pesawat maskapai asing yang tengah direparasi di sini.

Saat ini GMF memiliki 3 hanggar besar sebagai tempat service and maintenance pesawat. Ke depannya, GMF akan dikembangkan menjadi tempat pemeliharaan pesawat terbesar di kawasan Asia. Untuk mewujudkan ambisinya, pembangunan kedua hanggar saat ini sedang dilakukan.

Kunjungan berikutnya adalah ke dapur Aerowisata Catering Service (ACS). Ini benar-benar kunjungan ke dapur. Kami diajak merasakan experience yang lain, yaitu bagaimana Garuda menyiapkan sajian makanan sehari-hari di atas pesawat. Karena ACS memiliki standar yang sangat tinggi dalam menjaga dan mempertahankan kualitas makanan, tak sembarang pengunjung boleh memasuki areal dapur mereka.

Untuk masuk ke dapur ACS pengunjung diharuskan menggunakan seragam khusus layaknya dokter serta memakai pelindung rambut (hairnet). Mengapa rambut jadi perhatian khusus di sini? Karena ACS tak mau kecolongan sajian makanannya tercemari kotoran, termasuk sehelai rambut. Jika kedapatan ada sehelai rambut di makanan, ACS akan kena denda Rp. 2 juta. Sebuah jumlah yang tak main-main.

Di sini kami diberikan penjelasan rinci mengenai standar bahan makanan maupun masakan yang layak disajikan di pesawat terbang. Ternyata butuh proses yang lumayan panjang untuk menyiapkan sajian makanan di pesawat. Tidak semua bahan pangan bisa lolos digunakan, sebab mesti melewati uji kualitas yang standarnya cukup tinggi.

Selain soal higienitas, ACS juga memastikan bahwa semua hidangan yang disajikan di pesawat Garuda terjamin halal sesuai standar Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pernyataan ini jelas melegakan bagi traveller muslim karena persoalan halal-haram makanan kerap jadi ganjalan saat bepergian menumpang pesawat maskapai asing.

Kompasianer Narsis di GMF (foto: Harrismaul)

Kompasianer Narsis di GMF (foto: Harrismaul)

Kunjungan ke markas Garuda Indonesia ini menurut saya cukup mengesankan. Garuda bukan sekedar mempromosikan layanan terbaik yang mereka kembangkan, namun juga mengedukasi kami para blogger mengenai segala aspek yang dibutuhkan dan harus ada dalam sebuah operasional maskapai penerbangan. Bukan hanya perkara soal harga tiket yang murah, namun juga menyangkut keamanan penerbangan, rasa nyaman, pelayanan menyeluruh dari sebelum terbang, selama terbang dan setelah tiba di tempat tujuan. Saya berharap, edukasi mengenai hal ini juga ditularkan ke banyak pihak sehingga kita mencintai dan bangga terbang bersama maskapai terbaik milik bangsa, Garuda Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?

3,715 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini