645px-Expo_2015_Logo.svg

Milano Expo 2015. Apa kabar Paviliun Indonesia di expo terbesar di dunia, World Expo 2015?

Expo kali ini memang digelar di kota Milan, Italia setelah sebelumnya di Shanghai, China. Kabar mengenai kesertaan Indonesia di Milano Expo memang minim sekali kita jumpai di media massa lokal. Saya sendiri baru ‘ngeh’ dengan kesertaan Indonesia di Milano Expo saat ketua panitianya, alm. Didi Petet sakit dan kemudian wafat. Saat itu barulah sedikit-sedikit cari tahu mengenai hajatan besar yang hanya digelar 5 tahun sekali.

Foody, maskot Milano Expo 2015 (sumber http://www.ansa.it)

Foody, maskot Milano Expo 2015 (sumber http://www.ansa.it)

 

Beberapa waktu lalu kawan-kawan dari Artha Graha Network menggelar Blogger meet up, menjelaskan kesertaan Indonesia di ajang yang merupakan perhelatan terbesar ketiga di dunia setelah Olimpiade dan Piala Dunia Sepakbola itu. Ahmad Kusaeni, koordinator media Artha Graha Network mengatakan, “Artha Graha semula hanya sebagai sponsor paviliun Indonesia di Milano Expo. Namun kini secara penuh ikut mengorganisir kegiatan di paviliun Indonesia dalam payung Koperasi Pelestari Budaya Nusantara.”

Dalam blogger meet up itu juga dipaparkan sejumlah pencapaian dan rencana ke depan paviliun Indonesia di ajang yang digelar sekali dalam 5 tahun.

World Expo kali ini mengusung tema “Feeding The Planet, Energy for Life”. Kegiatan yang digelar sejak 1 Mei hingga 31 Oktober 2015, diikuti tak kurang dari 145 negara di dunia.

Paviliun Indonesia di World Expo 2015, Milan (sumber http://indonesiaworldexpo.com)

Paviliun Indonesia di World Expo 2015, Milan (sumber http://indonesiaworldexpo.com)

Paviliun Indonesia sendiri dibuat mengadopsi tema yang ditetapkan panitia. Berbentuk laksana lumbung padi dan bubu (alat penangkap ikan). Lumbung padi dikenal sebagai tempat penyimpanan hasil panen yang digunakan oleh warga pedesaan. Ini sekaligus memberi pesan bahwa kesadaran akan penyediaan pangan untuk masa depan sudah ada di masyarakat tradisional Indonesia sejak lama.

Sedangkan bubu yang merupakan alat penangkap ikan, masih digunakan para nelayan di Indonesia dan merupakan jenis alat penangkap ikan yang ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem laut. Adapun material yang digunakan paviliun Indonesia sebagian besar adalah rotan sintetis.

Badak, Maskot Paviliun Indonesia (sumber http://indonesiaworldexpo.com/)

Badak, Maskot Paviliun Indonesia (sumber http://indonesiaworldexpo.com/)

Sementara itu paviliun Indonesia juga menggunakan badak sebagai maskotnya. Hewan ini dipilih karena dikenal sebagai hewan yang langka di dunia. Sehingga penggunaan maskot badak diharapkan dapat menyebarkan pesan pelestarian satwa langka pada dunia internasional. Pesan yang menarik.

Mengapa expo ini penting? Karena perhelatan Expo ini adalah satu dari banyak diplomasi budaya yang bisa dilakukan kepada dunia. Suka tak suka masih banyak orang di dunia ini yang belum tahu tentang Indonesia. Padahal Indonesia punya banyak hal yang tak dimiliki negara lain di dunia. Mulai dari budaya, suku bangsa, kuliner, kesenian, hingga bahasanya yang beraneka ragam.

Bule Belajar Membatik (sumber @indoworldexpo)

Bule Belajar Membatik (sumber @indoworldexpo)

Saya sendiri sejak kecil bermimpi bisa hadir di World Expo seperti di Milan ini. Memori kanak-kanak saya mengenai World Expo adalah saat perhelatan ini digelar di Tsukuba, Jepang tahun 1985. Hampir tiap hari saya ikuti kegiatan-kegiatan di World Expo melalui media massa (saat itu belum ada internet). Menurut saya kegiatan ini cukup bagus sebagai jendela budaya setiap negara.

Tari Jaipong (sumber @indoworldexpo)

Bule Latihan Tari Jaipong (sumber @indoworldexpo)

Jika banyak negara menampilkan kecanggihan budaya di dalam paviliunnya, berbeda dengan paviliun Indonesia. Indonesia menampilkan keragaman dan eksotisme budaya yang dimilikinya. Di sini pengunjung diajak bersentuhan dengan berbagai hal yang tradisional maupun modern dari Indonesia. Budaya tradisional ditampilkan melalui pertunjukan beragam tarian seperti tari dari Papua, Jawa, Bali hingga Betawi.

Pengunjung juga diberikan pengalaman langsung menari bersama sejumlah penari tradisi, seperti belajar menari Jaipong dari Jawa Barat atau belajar tarian Betawi dari Jakarta.

Kuliner Rendang Padang (sumber @indoworldexpo)

Kuliner Rendang Padang (sumber @indoworldexpo)

Keragaman kuliner juga menjadi daya tarik paviliun Indonesia. Pengunjung dari berbagai negara juga diberi kesempatan mencicipi aneka kekayaan kuliner Nusantara. Mulai dari gado-gado, rendang, nasi goreng, ayam goreng cabe hijau hingga es campur disajikan di paviliun Indonesia.

Jenis masakan ini bikin penasaran lidah pengunjung World Expo yang rata-rata orang bule. Mereka penasaran dengan rasa kuliner Indonesia yang sangat berbeda dari kuliner barat yang mereka santap sehari-hari. Jika kuliner dari negeri barat cenderung minim bumbu, kuliner Indonesia dianggap lebih spicy, penuh bumbu.

Teman-teman Artha Graha Network yang baru pulang dari Milan juga bersaksi, sejumlah menu kuliner khas Indonesia seperti nasi goreng, sate ayam dan rendang menjadi menu andalan yang laris manis diburu pengunjung manca negara.

Gadis-gadis Jepang antri nasi goreng (sumber @indoworldexpo)

Gadis-gadis Jepang antri nasi goreng (sumber @indoworldexpo)

 

Selain menampilkan ragam budaya dan kuliner khas, paviliun Indonesia juga memperkenalkan keindahan panorama alam Nusantara yang bisa diakses oleh pengunjung dengan menggunakan alat khusus bernama Oculus. Alat semacam kaca mata yang bisa menampilkan gambar-gambar keindahan alam Indonesia 360 derajat.

Meneropong keindahan alam Indonesia melalui Google Oculus (Sumber @indoworldexpo)

Meneropong keindahan alam Indonesia melalui Google Oculus (Sumber @indoworldexpo)

Keikutsertaan Indonesia di World Expo mestinya didukung penuh pemerintah dan dunia usaha nasional. Karena ini merupakan bagian dari diplomasi budaya yang punya dampak jangka panjang terhadap Indonesia. Ini adalah investasi jangka panjang bagi Indonesia yang mesti dirawat dengan baik. Kalau bukan kita yang mendukung, siapa lagi?

933 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini