syaifuddin.com

Information

This article was written on 18 Agu 2009, and is filled under opini, politik.

Current post is tagged

, ,

Jika Tommy Soeharto Mengincar Kursi Golkar

Tommy Soeharto

Tommy Soeharto

TOMMY Soeharto bikin kejutan. Tapi ini bukan tentang siapa wanita yang bakal jadi pendamping hidupnya. Kali ini lebih dahsyat, karena tanpa angin apapun Tommy menyatakan niatnya menjadi ketua umum partai Golkar.

Bagi saya ini agak mengejutkan. Karena selama ini Tommy dan juga putra-putri klan cendana lainnya cenderung menutup diri dari dunia politik praktis secara langsung.  Keterlibatan mereka di dunia politik hanya sebatas berdiri di belakang panggung. Setidaknya seperti ditunjukkan oleh Siti Hardiyanti Rukmana dengan Partai Karya Peduli Bangsa-nya. Meski tak pernah dikatakan sebagai partainya keluarga cendana, keterlibatan Tutut di belakang layar sangat kentara.

Tapi hanya sebatas itu. Selebihnya publik hanya tahu secara samar-samar. Mungkin putra-putri Soeharto masih menimbang-nimbang perannya pasca perginya pak Harto. Istilah kerennya wait and see, melihat arah angin politik Indonesia yang kadang sulit ditebak ini.

Kalaupun akhirnya Tommy muncul dan ingin merumput di ladang beringin, pasti sudah berbekal kalkulasi politik sedemikian rupa. Apalagi keinginan tampilnya Tommy dinyatakan tepat di hari KPU mengumumkan pemenang Pilpres 2009.  Bukankah sebuah kejutan manis?

Saya menduga ada beberapa alasan tampilnya Tommy di panggung politik. Pertama, ingin meneruskan tradisi politik keluarga. Siapapun di negeri ini tahu klan Soeharto adalah sedikit dari klan politisi yang sangat diperhitungkan, suka atau tidak suka. Kepemimpinan ayahnya selama 32 tahun lebih di panggung politik Indonesia sedikit banyak mengajarkan banyak hal pada anak-anak Soeharto.

Kedua, ada peluang di Golkar. Suksesi di tubuh partai Golkar memang sedang serunya. Setelah kalah di Pemilu legislatif dan Pilpres 2009, angin perubahan tengah menderu partai beringin. Dan tampilnya figur baru seperti Tommy akan sangat mungkin bisa mengangkat pamor Golkar yang sempat redup dalam pemilu.

Publik politik bisa jadi sudah bosan dengan performa politisi yang itu-itu saja. Kalau benar demikian, inilah saatnya figur baru masuk dalam bursa. Dan jika Tommy serius dengan pencalonannya, ia bakal bertarung dengan 4 nama lain yang lebih dulu eksis menyatakan pencalonannya, mulai dari Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Yudi Chrisnandi serta Ferry Mursidan Baldan.

Menilik keempat nama yang lebih dulu masuk bursa, bukan perkara mudah bagi Tommy merebut simpati massa Golkar untuk memilihnya sebagai ketua umum. Jalan pasti berliku, karena Tommy tidaklah mengakar di Golkar.

Ketiga, Golkar hanya sasaran antara. Saya lebih senang mengatakan, Golkar hanya akan dijadikan kendaraan politik bagi Tommy meraih posisi yang lebih tinggi, yakni mencalonkan diri sebagai RI-1 di 2014. Karena sehebat apapun pentokohan seseorang tanpa kendaraan politik yang besar, maka akan sia-sia.

Mungkin Tommy sudah belajar banyak dari pencalonan mantan iparnya, Prabowo Subianto dalam Pilpres 2009. Sepanjang 2008-2009, nama Prabowo Subianto mengangkasa begitu rupa, menjulang bagai elang yang menggilas semua nama pemain politik lainnya. Dengan kemasan mengkilap Prabowo secara image sebenarnya akan jadi lawan seimbang sosok SBY. Sayang, Gerindra sebagai kendaraan politik Prabowo hanya mendapat suara 4,5 persen dan gagallah Prabowo head to head dengan SBY di Pilpres.

Tommy pasti sudah menghitung. Jika ingin mencari tiket 2014, jalan satu-satunya adalah memiliki kendaraan politik yang paling ‘aman’. Dan Golkar bisa jadi dinilai Tommy masih dalam batas aman, karena dalam Pemilu Legislatif lalu mampu meraih lebih dari 14 persen suara. Sebuah pencapaian yang masih mungkin bisa ditingkatkan.

Keempat, kemenangan dan pemerintahan SBY kali ini adalah yang terakhir. Karena sesuai konstitusi SBY hanya boleh menjabat sampai 2014. Selebihnya tak bisa. Artinya, ini adalah peluang bagi siapapun untuk mengincar kursi panas 2014. Dan perang menuju 2014 harus disiagakan sejak sekarang.

Tapi sekali lagi itu hanya analisa saya yang awam. Bisa jadi Tommy punya perhitungan dan pertimbangan sendiri mengapa muncul ke permukaan dan berniat memimpin Golkar. Yang jelas, genderang baru saja ditabuh, dan bersiaplah melihat serunya pertempuran kursi ketua umum Golkar pasca Jusuf Kalla.

*dimuat di Kompasiana.

1,783 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

4 Comments

  1. teguh gunadi
    5 Maret, 2010

    SIAPAPUN WARGA NEGARA INDONESIA TERMASUK SAYA YANG BERNIAT DENGAN IKLAS UNTUK MEMAJUKAN BANGSA INI “SAYA DOAKAN SEMOGA SUKSES”
    SEHINGGA BANGSA INI BISA MENGEJAR KETERTIGALANNYA

  2. Iklan Gratis
    12 September, 2009

    Setelah era Soeharto, golkar memang terlihat kehilangan arah n sosok pemimpin baru yang berwibawa dan mampu mengemong para anggotanya…
    ini bisa dilihat dari betapa signifikannya penurunan suara pada pemilu legislatif maupun pemuli pilpres…

    Soeharto memang telah banyak membangun bangsa ini, mungkin hanya karena kasus korupsi serta HAM yang membelit penguasa ORBA itu yang membuat rakyat berpaling ke partai2 baru yang membarikan janji-janji yang lebih muluk lagi…
    moga saja dengan para kandidat2 baru KETUM golkar ini, bisa muncul Soeharto baru yang menjadi bapak pembangunan kita…
    semoga saja para kandidat ini nantinya bisa membawa amanah rakyat…
    Mengembalikan Jati Diri Bangsa

  3. syaifuddin
    19 Agustus, 2009

    bukannya dari dulu Golkar seperti itu pak Singal? hehehe…thx sudah mampir.

  4. Singal
    18 Agustus, 2009

    Apakah Golkar akan meninggalkan tradisinya, yang penuh orang-orang pintar, menjadi penuh orang kaya?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: