syaifuddin.com

Information

This article was written on 13 Feb 2016, and is filled under Traveling.

Current post is tagged

Jangan Takut Pada Gerhana Matahari

Matahari pagi (foto dokpri)

Matahari pagi (foto dokpri)

Saya cukup familiar dengan peristiwa alam gerhana matahari. Sedari kecil saya terbiasa melihat fenowaktu alam ini, baik gerhana matahari total, gerhana biasa atau gerhana bulan. Masih lekat dalam ingatan dulu masih banyak mitos, yang melarang masyarakat untuk melihat gerhana secara langsung. Bahkan mitos itu semasa Orde baru dilembagakan dan dijadikan alat ‘menakut-nakuti’ masyarakat.

Masih lekat dalam ingatan, saat gerhana matahari terjadi di Pulau Jawa, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak keluar rumah, tidak memandang langsung ke arah matahari. Jalanan sepi, tak ada aktivitas keseharian karena masyarakat hanya menonton siaran televisi untuk melihat gerhana matahari.

Sesat pikir mengenai gerhana waktu itu disayangkan banyak kalangan. Namun karena waktu itu peran pemerintah masih sangat besar dan aliran informasi belum sederas sekarang, masyarakat tak punya kuasa menolaknya. Sayapun mengikuti anjuran (paksaan) pemerintah untuk tidak keluar dari rumah. Kami terlibat aktivitas berjamaah menonton tv di rumah.

Pemberitaan gerhana matahari total di media cetak (sumber: detikcom)

Pemberitaan gerhana matahari total di media cetak (sumber: detikcom)

Waktu itu hanya ada satu channel televisi yakni TVRI yang kami tonton. Belum ada satupun siaran tv swasta. Dan saya ingat betul nama astronom perempuan, Karlina Leksono Supeli yang cantik rupawan itu tiba-tiba menjadi terkenal. Ia menjadi komentator jalannya live event gerhana matahari dari studio TVRI. Sementara siaran live gerhana matahari itu sendiri dilakukan di candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah.

Jujur saya katakan penjelasan teknis Karlina Leksono dari sisi astronomi tidak terlalu saya mengerti saat itu. Saya justru tergoda dan penasaran ingin melihat wujud gerhana matahari total itu seperti apa secara langsung. Selain menyaksikan melalui layar kaca, akhirnya saya nekat melanggar larangan pemerintah dengan melihatnya melalui pantulan air di dalam ember.  Meski tidak sempurna, tapi lumayan mengobati rasa penasaran saya sebagai anak kecil.

Perangko khusus edisi Gerhana Matahari Total 1983 (sumber: Google)

Perangko khusus edisi Gerhana Matahari Total 1983 (sumber: Google)

Pikiran sederhana saya apa yang saya lakukan pastilah tak membahayakan. Toh saya hanya menyaksikan refleksi sinar matahari saat tertutup sempurna melalui air di ember. Untuk menatapnya langsung saya tak cukup berani. Saya tak ingin mengalami kebutaan dengan konyol akibat melihat gerhana dengan mata telanjang. Masih banyak hal yang ingin saya lihat di dunia.

Beranjak remaja, saya kemudian bingung mengapa peristiwa tersebut harus dijadikan sebuah ‘ketakutan’ bersama. Seolah-olah gerhana merupakan public enemy alias musuh masyarakat.

Bisa jadi selain alasan politis yang dilakukan pemerintah saat itu, budaya suku tertentu yang sangat lekat dalam keseharian jadi alasannya. Ada sebagian masyarakat yang masih berfikiran gerhana matahari akan diikuti dengan serangkaian pertanda alam yang bakal merugikan umat manusia. Karenanya mereka bereaksi berlebihan. Ada yang menutup rapat rumah, jendela dan lubang apapun di rumah. Hewan pun ada yang ditutup matanya agar tidak buta.

Sebagian masyarakat pun nelakukan ritual setempat seperti memukul lesung, pohon atau apapun yang menimbulkan bebunyian. Tujuannya adalah mengusir roh jahat atau Batara Kala yang merupakan simbol peristiwa negatif.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin di sejumlah media menilai apa yang terjadi di tahun 1983 adalah pembodohan massal. Sebab fenomena alam tersebut adalah peristiwa luar biasa yang aman disaksikan dengan mata telanjang sejauh tidak berlebihan.

Soal larangan menyaksikan gerhana memang sudah jadi cerita lama. Dulu peristiwa alam ini dianggap menakutkan, kini tidak lagi. Banyak yang menjadikannya sebagai event pembelajaran sains dan pariwisata. Seperti apa yang dilakukan oleh Detikcom misalnya yang menggelar event melihat gerhana matahari total bersama-sama di Belitung dan Ternate 9 Maret 2016. Melalui event Mencari Laskar Gerhana, Detikcom akan mencari nara blog untuk diajak melihat gerhana matahari total secara langsung selama 2 hari satu malam.

Meski kental dengan nuansa traveling atau wisata gerhana, menurut saya ini adalah sebuah upaya yang baik menumbuhkan kecintaan terhadap sains di kalangan masyarakat luas.

Tentunya kita tak ingin peristiwa alam yang hanya terjadi tiap 350-an tahun sekali di sebuah tempat terlewatkan begitu saja. Saatnya kita ajak masyarakat luas keluar dari mitos menyesatkan mengenai gerhana matahari. Jangan takut pada gerhana matahari.

Laskar Gerhana Detikcom

Laskar Gerhana Detikcom


995 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: