Konser Perayaan Karya Iwan Fals (foto dokpri)

Konser Perayaan Karya Iwan Fals (foto dokpri)

Living legend dunia musik Indonesia, Iwan Fals hari ini berulang tahun ke-55 tahun. Ulang tahun bagi seorang mungkin menjadi hal yang biasa, namun tidak bagi seorang legenda dengan nama besar seperti Iwan Fals. Malam ini Iwan Fals akan menyapa penggemarnya dalam sebuah konser bertajuk Perayaan Karya, di panggung pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara. Konser ini memang dibuat khusus memperingati ulang tahun sang legenda, merayakan 55 tahun sang legenda berada di dunia. Konser ini didukung perusahaan telekomunikasi XL dan aplikasi musik Yonder.

Iwan Fals saat jumpa pers (Jum’at, 2 Sept 2016) mengaku konser ini sebenarnya adalah ide sang putri, Annisa Cikal Rambu Basae yang ingin di hari ulang tahunnya sang ayah memberikan kado bagi para penggemarnya berupa konser musik.

“Mungkin pengen beda aja. Karena selama ini tiap ulang tahun cuma balas-balasin ucapan dari penggemar lewat berbagai media. Kali ini balasan ucapan ulang tahunnya berupa konser,” jelas Iwan Fals.

Menurut Iwan Fals, konser ini lebih tepatnya sebagai konser terima kasihnya bagi semua pihak, mulai dari label rekaman, media, agensi hingga penggemar yang banyak mensupportnya selama ini.

Menurut rencana, dalam konser nanti malam Iwan Fals akan membawakan 20 repertoar musiknya yang dipilih dari semua babak dalam karier bermusiknya. Meski enggan membocorkan daftar lagu yang dibawakannya, Iwan Fals memastikan lagu-lagu itu akan menggambarkan pencapaiannya selama ini di dunia musik tanah air.

Dari Balada Hingga Percintaan

Iwan Fals lahir 3 September 1961 di Jakarta, dari pasangan Harsoyo dan Lies Suudijah. Memulai karier musiknya dari festival lagu country dan kemudian sempat mengikuti festival lagu humor. Dari festival lagu humor itu;ah perkenalan saya dengan sosok Iwan Fals bermula. Saya dapat sebuah kaset itu dari seorang sepupu. Dalam kaset yang berisi lagu dan lawak dan hanya beredar secara terbatas itu nama Iwan ditulis sebagai “Iwan Fales” bukan Iwan Fals seperti yang dikenal publik sekarang ini. Entah kenapa akhirnya berubah jadi “Fals” mungkin lebih pada penulisan yang lebih enak dilihat pertimbangannya.

Sejarah musik Indonesia kemudian mencatat musik Iwan Fals sebagai ‘genre’ musik protes terutama setelah meledaknya lagu-lagu seperti “Surat Untuk Wakil Rakyat” atau “Oemar Bakri”. Iwan dianggap menjadi ‘wakil’ dari suara masyarakat kebanyakan. Lagu-lagu seperti itulah yang kemudian membuatnya kerap dicekal oleh rezim Soeharto, penguasa Orde Baru.

Konsernya sering tak memperoleh izin karena dianggap ‘berbahaya’ pada masanya. Tapi Iwan Fals tak surut, karya-karya musiknya terus mengalir menggenangi dunia musik tanah air. Menurut saya, puncak ‘protes’ Iwan Fals terhadap pemerintah Orde Baru lewat lagu termanifestasi melalui lagu “Bongkar” dan “Bento”. Dua lagu ini muncul tepat di tahun-tahun penghujung kedigdayaan rezim Soeharto, dan saat itu menjadi inspirasi banyak aktivis pro demokrasi menyuarakan penolakannya pada rezim yang berkuasa 32 tahun di Indonesia.

Selain lagu ‘protes’, sebenarnya Iwan Fals juga dikenal karena lagu-lagu cintanya. Berbeda dengan lagu cinta ala Rinto Harahap yang mendayu-dayu, lagu cinta ala Iwan kadang disampaikan melow, kadang diberi muatan ceria. Tengok saja lagu seperti Buku Ini Aku Pinjam yang berkisah tentang cinta ala anak sekolahan. Bandingkan dengan lagu Kisah Kasih di Sekolah ciptaan Obbie Messakh yang sama-sama memotret fase cinta yang sama namun beda cara interpretasinya. Iwan lebih puitis.

Atau tengok saja lagu sejuta umat yang laris dijadikan theme song di tiap acara reunian, yakni lagu “Kemesraan”. Mungkin ini satu-satunya lagu Iwan Fals yang paling diterima banyak kalangan, karena persoalan cinta yang lintas sekat.

Soal cap sebagai penyanyi lagu protes atau lagu cinta yang belakangan sering dibawakan, Iwan punya alasannya sendiri. “Saya tidak pernah mandeg dalam berkarya, saya menulis lagu apa saja yang perlu saya tulis. Apakah saya kini lebih “cinta” dibandingkan sebelumnya? Tidak juga, karena banyak lagu cinta yang sudah saya bawakan di era Orde Baru dan kini dirilis ulang.” jelas Iwan Fals menjawab tudingan ia kini lupa pada ‘akar’nya sebagai penyanyi “protes”.

Iwan memang sosok musisi Indonesia yang unik, pencipta trend yang kariernya melintasi zaman. Rezim politik boleh berganti, namun lagu Iwan Fals masih aktual hingga rezim berganti-ganti. Sindirannya masih mengena karena persoalan di DPR, pejabat korup  hingga persoalan sosial masih saja sama dalam tataran yang berbeda.

Selamat ulang tahun sang legenda hidup musik Indonesia, Iwan Fals.. kami masih menunggu karya-karya dahsyatmu selanjutnya….

Simpan

1,034 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini