syaifuddin.com

Information

This article was written on 27 Nov 2013, and is filled under Event.

Current post is tagged

Hijaunya Negeriku, Lukisan Mahakarya Yang Kuasa

Foto berjudul Hijau Negeriku karya Adi Wiratmo, dalam Dji Sam Soe Potret Maha Karya Indonesia

Foto berjudul Hijau Negeriku karya Adi Wiratmo, dalam Dji Sam Soe Potret Maha Karya Indonesia


Foto karya Adi Wiratmo berjudul Hijau Negeriku yang menjadi 24 foto terbaik dalam Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia adalah foto sederhana yang menarik. Foto ini melukiskan hijaunya tanah persawahan di salah satu sudut Indonesia. Hamparan padi yang menghijau laksana karpet alami yang menutupi bumi. Sawah yang berundak seperti memanggil, mengajak tiap yang datang untuk menjejakinya.

Ada rasa tak percaya jika itu adalah foto. Keindahannya seolah sebuah lukisan, lukisan dari sang Mahakarya, Maha Pencipta. Tuhan seperti sedang melukis di atas kanvas raksasa, yang membentang dari ujung barat di Aceh hingga Papua di ujung Timur Indonesia. I-n-d-a-h, rasanya tak cukup melukiskan pesona yang memancar dari alam Indonesia.

Melihat foto Adi Wiratmo itu entah mengapa membangkitkan imaji saya akan masa kecil dulu. Semasa kecil saya sempat tinggal bersama mbah (nenek) di kota kecil Nganjuk, Jawa Timur. Kendati simbah bukan seorang petani, namun rumah simbah berada tak jauh dari areal persawahan. Karenanya sejak kecil saya akrab dengan hijaunya pepohonan, padi menguning dan aroma sawah yang khas. Pendek kata, sawah dan alam nan hijau adalah rumah kedua bagi saya dan teman-teman kecil saya.

Di sawah kami biasa berlarian di pematang, berbecek-becek di tanah, atau mandi di kali yang terletak di ujung desa.

Rupanya memori masa kecil begitu membekas setelah dewasa. Tiap kali melihat sawah, ladang atau apapun yang ada di alam sekitar, saya merasakan kedamaian. Merasakan sebuah oase ketenangan luar biasa. Pun begitu pula saat berlibur atau pulang kampung ke Nganjuk dan Kediri, desa tempat asal saya dan istri. Saya selalu membawa anak-anak bermain di pematang sawah. Saya tularkan kegemaran saya merasakan keasrian alam, menghirup udara segar yang tak bisa lagi kami rasakan di Jakarta, tempat tinggal kami.

Kami dan Sawah, Keriaan yang Tak Pernah Berujung (foto: koleksi pribadi)

Kami dan Sawah, Keriaan yang Tak Pernah Berujung (foto: koleksi pribadi)


Saat melihat hamparan sawah dan pepohonan yang menghijau, seringkali saya tak bisa berkata-kata. Saya hanya bisa mensyukuri betapa beruntungnya kami bangsa Indonesia diberikan anugerah negeri yang subur dan indah. Keelokan negeri ini sepertinya tak ada bandingannya di dunia.

Saat mudik, biasanya kami juga menyambangi bapak mertua yang sedang bercocok tanam di sawah. Membawa anak-anak ke sawah adalah upaya mengenalkan profesi mulia kakeknya sebagai petani. Selain itu agar anak-anak mengetahui proses panjang sebuah mata rantai dunia pertanian, mulai dari menanam padi di sawah hingga menjadi hidangan di meja makan.

Sayangnya kini kami tak bisa lagi melihat bapak ‘nyawah’, penyakit tua membuat bapak harus banyak istirahat dan tak lagi kuat pergi ke sawah. Tak apalah, mungkin memang sudah saatnya bapak istirahat, menikmati masa tuanya.

Bapak Mertua dengan Seragam Kebesaran di Sawah (foto: koleksi pribadi)

Bapak Mertua dengan Seragam Kebesaran di Sawah (foto: koleksi pribadi)

Meski sedih melihat bapak mertua tak lagi bisa pergi ke sawah, namun ada yang membuat saya senang dengan kecintaan bapak terhadap alam yang kemudian menular. Salah satu cucunya memilih bercocok tanam dan mengembangkan bisnis agro ketimbang kerja kantoran. Sebuah sikap yang saya hargai, karena tidak banyak anak muda yang mau terjun ke sawah dan ladang sekarang ini.

Sawah dan alam nan hijau memang menyejukkan mata, mendamaikan pikiran. Sayangnya luas areal hijau di banyak tempat terus berkurang. Pembangunan menjadikan tanah pertanian maupun kawasan hijau lainnya menjadi korban. Tanah yang hijau kini banyak berubah menjadi bangunan. Sangat disayangkan sikap tak peduli pada lingkungan tersebut bisa menyebabkan hijaunya negeri ini hanya sebuah cerita masa silam.

Saya tak bisa membayangkan jika anak cucu kita kelak hanya bisa melihat dari album foto maupun dari situs internet tentang keindahan negeri ini. Kita seringkali memang tak menghargai alam yang kita tinggali, yang menjadi tumpuan hidup jutaan makhluk di dalamnya.

Saya jadi ingat dengan bintang Hollywood Julia Roberts yang begitu kagum dengan keelokan alam Indonesia. Ia pernah memuji kecantikan pemandangan alami Indonesia, saat menjalani shooting film Eat, Pray, Love tahun 2009 di Bali. Di beberapa potong adegan film tersebut pun kita bisa saksikan Julia Roberts dikisahkan jatuh cinta dengan alam Bali nan eksotik.

Julia Roberts dan Keelokan Alam Bali

Julia Roberts dan Keelokan Alam Bali

Berkat komentarnya mengenai keelokan alam Bali, nama pulau Bali dan juga kota kecamatan Ubud mendunia. Bali yang sudah terkenal ke seantero dunia menjadi buah bibir dunia internasional berkat film ini. Bahkan banyak media internasional kemudian mengulas keelokan alam Bali secara khusus mengiringi pemutaran film tersebut.

Buat saya apa yang dilakukan seorang Julia Roberts jauh dari kesan basa-basi kaum pesohor. Apa yang diucapkannya dan diperlihatkan melalui film Eat, Pray, Love adalah dorongan besar pada kita agar senantiasa menjaga keasrian dan keelokan alam di negeri kita. Dan beruntunglah kita dianugerahi alam yang indah dan luar biasa. Kalau Julia Roberts bisa menginspirasi, kita pun bisa menjaga dan merawat negeri kita sendiri. Agar sebutan zamrud khatulistiwa yang diberikan pada Indonesia tidak hanya menjadi sejarah.

I love Indonesia!

2,391 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: