Mau hidup anda kacau? Pakai saja narkoba. Ini bukan olok-olok tapi kenyataan. Simak kisah nyata berikut ini. Deni, sebut saja demikian, adalah pria berusia 30 tahunan. Dia adalah teman sekantor saya. Kami jarang bicara satu sama lain karena entah mengapa aura penampilan maupun wajahnya tak bersahabat. Kami hanya bicara seperlunya saja saat berpapasan di lorong kantor.

Dari penampilannya sehari-hari Deni terlihat sangat berbeda dari umumnya pekerja di kantor. Jika yang lainnya berpakaian rapi, Deni sebaliknya. Tak pernah sekalipun saya melihat dia berpenampilan yang pantas di kantor. Rambut awut-awutan, kadang hanya mengenakan t-shirt atau kaos oblong. Beda dengan teman satu divisi lainnya.

Pembeda lainnya yang amat mencolok dari Deni adalah ia selalu kelihatan loyo, tak bergairah, dengan matanya yang cekung dan sayu. Secara fisik ia terlihat jauh lebih tua dibandingkan usianya. Padahal saya dan dia hanya terpaut 3 tahunan.

Dari ciri-cirinya tersebut saya menduga ia adalah seorang pemakai narkoba. Sorry bukannya saya sok tahu, namun informasi ini saya ketahui dari sejumlah media dan buku yang pernah saya baca. Saya sendiri memang tak pernah memergoki Deni sedang teler menggunakan barang-barang haram tersebut. Namun informasi teman-teman lain yang pernah diajak atau yang sudah insyaf meyakinkan saya.

Anehnya, meski mengetahui (atau tahu sama tahu?), tak ada satupun rekan kerja atau atasan yang mencoba menghentikan kebiasaan buruknya tersebut. Deni jarang pulang ke rumah, ia kerap kali tinggal di kantor. Padahal ia memiliki anak dan istri. Sesekali saya tanya mengapa ia betah di kantor, ia hanya menjawab jika di rumah ia tak bisa bebas. Sementara di kantor ia bebas berkeliaran selepas kerja tanpa ada yang melarang. Hidupnya memang awut-awutan seperti rambutnya. Ia tak lagi bisa mengatur kegiatan pribadi dan keluarga. Ia seolah merasa keluarga di rumah adalah beban bagi dirinya.

Belakangan saya tahu mengapa ia jarang pulang karena ia ikut ‘menjajakan’ barang-barang haram.
Deni tak seorang diri, ada lagi tetangga rumah saya, sebut saja Agus. Bapak 3 anak yang tergolong sebagai bapak muda ini dikenal ramah dan pandai bergaul. Pergaulannya lumayan luas, dari beragam kalangan. Saat masih bertetangga saya melihat dia sebagai warga biasa yang ramah. Tak pernah sedikitpun menyangka jika pada akhirnya mengetahui pak Agus kerap keluar masuk penjara lantaran narkoba.

Saya kurang tahu pasti sejak kapan Agus berkenalan dengan narkoba. Namun sejak pindah dari perumahan kami, Agus dan keluarganya kemudian tinggal di kediaman orang tuanya, di pemukiman padat penduduk Tanjung Priok, Jakarta Utara. Agus pindah setelah ia terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja.

Dalam kondisi tak punya pekerjaan tetap, Agus gelap mata dengan mencoba-coba menjual narkoba berupa ganja ke sejumlah kenalannya. Sekali-dua kali ia aman. Namun kali lain ia apes. Dalam sebuah operasi yang dilancarkan polisi ia terjaring aparat sedang bertransaksi narkoba dengan pelanggannya. Tak ada ampun ia kemudian menghuni jeruji besi. Kehidupannya pun berubah seratus delapan puluh derajat. Anak-istrinya tak dinafkahi, keluarganya hancur berantakan.

Deni dan Agus adalah dua dari banyak contoh pengguna dan pengedar narkoba yang kehidupannya kacau balau setelah masuk dalam lorong gelap narkoba. Mereka masuk ke dalam lingkarang narkoba dengan beragam alasan. Deni mengawali perkenalannya dengan narkoba dari rasa ingin tahunya yang berlebihan. Awalnya hanya sekedar iseng mencoba, iapun kemudian ketagihan. Tak ada satupun hari tanpa konsumsi narkoba. Deni merasa narkoba sudah seperti temannya, yang mengerti kondisinya tanpa pernah mengatur hidupnya.

Sementara Agus masuk ranah peredaran narkoba lantaran terdesak masalah ekonomi. Ia yang tak punya pekerjaan tetap pasca di PHK kemudian mengambil jalan salah, jalan pintas mendapat uang cepat tanpa kerja keras Logika berpikirnya ia singkrirkan manakala dihadapkan pada masalah biaya rumah tangga, termasuk biaya sekolah dua anaknya. Itulah kalau tak pernah mensyukuri hidup. Hidup kacau karena narkoba.

Narkoba Sebabkan Kerusakan Otak

Narkoba suka tak suka adalah bahan berbahaya yang tidak saja bisa menyebabkan kecanduan, namun juga menyebabkan rusaknya berbagai organ tubuh manusia penggunanya. Dalam kasus Deni kecanduannya pada narkoba membuat kinerja dan fungsi otaknya tak lagi bakerja optimal. Hari-harinya dipenuhi rangsangan candu yang membuatnya malas berpikir, malas beraktivitas dan yang lebih parah ia lupa jika punya anak dan istri. Uang cepat dan ‘panas’ membuatnya menjadi budak narkoba tanpa bisa ‘move on’. Konon kecanduan mengubah proses patologis biologis manusia. Pola pikir mereka yang kecanduan hanya terfokus pada kesenangan diri dan hanya berfokus pada narkoba tersebut.

Dewasa ini angka pengguna narkoba di dunia mencapai 210 juta jiwa. Jumlah yang luar biasa, setara dengan jumlah penduduk Indonesia. Angka tersebut entah mengapa tak pernah mengecil, bahkan tiap tahun cenderung meningkat. Bahaya penyalahgunaan narkoba saya kira hampir tiap hari disebarluaskan melalui berbagai media. Harusnya siapapun yang mengetahui informasi ini sejatinya tidak menjadi kalangan yang terpapar narkoba. Harus ada gerakan terus-menerus berupa kampanye anti narkoba yang intens, yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang didukung semua elemen masyarakat tanpa terkecuali. Dengan gerakan yang massif, menyentuh semua kalangan, saya yakin bukan perkara sulit menciptakan sebuah Indonesia bebas narkoba.

777 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini