Akhirnya kesampaian juga ikut partisipasi dalam Earth Hour, gerakan mematikan listrik selama satu jam yang jatuh pada Sabtu malam (31 Maret 2012).

Ini adalah kesertaan kami sekeluarga yang pertama kali sejak gerakan ini diluncurkan pada tahun 2007 di Sydney Australia. Dulu, mungkin karena baru, saya sendiri belum begitu peduli. Namun setelah mengetahui kegunaannya yang mampu menurunkan tingkat pemakaian listrik dunia, jauh-jauh hari saya sudah ancang-ancang bakal ikut ambil bagian tahun ini.

Tahun lalu saya abai ikut gerakan ini karena sedang bepergian. Namun tahun ini tak ada alas an apapun untuk tak ikut serta. Apalagi anak-anak juga mulai mengerti mengenai gerakan global ini. Mereka justru yang paling ramai berkoar-koar mengenai event tahunan yang menarik hati mereka itu.

Hampir saja tahun ini saya lewatkan moment istimewa ini karena keasyikan nonton film di tv. Akhirnya saya mulai mematikan saluran listrik di rumah pada pukul 21.35 WIB. Tak apalah telat lima menit, yang penting niatnya.

Lalu apa yang terjadi selama event Earth Hour? Karena istri dan 3 anak saya sudah tidur akibat kelelahan seharian beraktivitas, saya lewatkan 60 menit event Earth Hour sendirian. Lalu apa yang saya lakukan? Di menit-menit awal saya sengaja masuk kamar tidur dan berkontemplasi. Sambil berbaring saya merasakan kesenyapan yang dalam. Tak ada suara tv, dengung lemari es, atau temaram lampu yang masuk ke kamar tidur. Sesekali suara jangkrik dari belakang rumah terdengar. Nikmat sekali. Saya seperti terlempar di sebuah desa antah berantah. Sunyi, sendiri.

Sayangnya baru beberapa menit saya matikan semua aliran listrik, istri saya complain. Ia minta lampu emergensi yang menggunakan battery dinyalakan karena ia tak bisa tidur dalam kondisi gelap gulita. Saya mengalah dan malas berdebat.

Akhirnya saya memilih keluar rumah. Duduk-duduk di beranda rumah dalam suasana gelap asyik juga. Malam minggu pula. Coba masih jaman ngapel dulu, earth hour pasti disambut suka cita pasangan muda-mudi yang ngapel pacarnya. Hehe…

Di luar suasana ternyata sangat berbeda dengan di dalam kamar, saya lihat hanya ada satu rumah yang mencoba ikut serta memadamkan listrik, tetangga tepat di depan rumah. Sementara yang lain tak hirau ajakan Earth Hour. Tak apa, toh ini hanya ajakan bukan paksaan. Sejatinya sebuah ajakan memerlukan kesadaran personal bukan komunal.

Bicara kesadaran komunal, ada yang menarik dari pelaksanaan Earth Hour tahun ini. Di komplek tempat ayah saya tinggal di kawasan Joglo, warga diberi surat edaran bahwa akan ada pemadaman listrik bersama pukul 20.30 hingga 21.30 WIB dalam rangka mendukung kampanye Earth Hour. Wow sebuah kreativitas rupanya. Meski kalau ditelusuri kebijakan ini pastinya mengalir dari atas, pemerintah daerah DKI Jakarta.

Tak apalah, mungkin Foke ingin dikenang sebagai gubernur yang peduli pada lingkungan sehingga ‘mewajibkan’ pemadaman listrik saat Earth Hour. Padahal saya yakin bukan itu maksud gerakan ini. Sebuah gerakan sosial akan sangat bermakna jika tumbuh dari kesadaran personal. Tapi tak apalah, yang penting kita sudah berbuat untuk bumi tercinta ini, soal “cara” berbuat bisa berbeda asalkan punya kesamaan demi kelestarian bumi, tempat kita semua berpijak.

Untuk yang belum ikutan gerakan ini, saya pikir tak perlu menunggu tahun depan. Coba saja satu jam tanpa listrik kita agendakan dalam salah satu hari kita. Siapa tahu 60 menit itu jadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan. Mulailah dari diri, dan tularkan pada orang lain.

Oya berikut fakta-fakta seputar Earth Hour yang saya himpun dari berbagai sumber. Dalam pelaksanaan tahun lalu, Earth hour di Jakarta mampu menghemat listrik hingga 170 megawatt. Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mengaku program Earth Hour di lingkungan perusahaan dan rumah karyawannya mampu menekan pemakaian listrik hingga 2.158.527 Watt.

Nah, bayangkan jika masing-masing penduduk bumi bersama-sama mematikan listrik di rumah masing-masing, entah berapa juta watt yang berhasil kita hemat dan bisa kita wariskan pada anak cucu kita.

1,824 kali dilihat, 0 kali dilihat hari ini