Bermedia sosial merupakan fenomena yang menghinggapi kalangan urban di seluruh dunia. Mereka yang sebelumnya tidak terlalu senang ‘bergaul’ di dunia nyata seperti menemukan dunia barunya. Bertemu dengan teman lama semasa sekolah atau orang baru yang dikenal saat berselancar di media sosial menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Hidup seseorang jadi berbeda setelah masuk dalam pergaulan di media sosial. Pengguna media sosial yang saya amati memiliki ragam tujuan bermedia sosial. Pertama, yang mengusung identitas asli sama dengan di dunia nyata dengan harapan menemukan jaringan pertemanan yang mungkin sempat terputus karena persoalan jarak ataupun waktu. Kesibukan di kota besar menjadikan orang kota tak lagi punya waktu untuk sekedar saling menegur atau berkunjung secara tatap muka.

Kedua, ada pula yang menggunakan identitas baru agar jati dirinya yang asli tak diketahui lawan bicaranya di media sosial. Atau bisa jadi orang dengan model seperti ini ingin menjadikan media sosial arena sosialnya yang baru, yang tak bisa ia temukan di dunia nyata.

Yang kemudian terjadi pengguna media sosial seperti memiliki ketergantungan tersendiri. Tidak merasa lengkap jika satu hari tak update status di media sosial seperti Facebook, Instagram atau Twitter. Ia harus ‘memuaskan’ dahaga akan sanjungan berupa tanda ‘jempol’ atau ‘hati’ sebagai bentuk apresiasi. Like dan Comment adalah kebutuhan, sebaliknya jempol terbalik, maka ia bakal merasa jadi orang paling malang sedunia.

Namun, tahukah anda bahwa terlalu aktif di media sosial konon bisa mengganggu kesehatan mental seseorang.

Sebuah studi yang dilakukan di Indonesia dan dimuat International Journal of Mental Health and Addiction menyatakan, penggunaan media sosial yang berlebihan bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental. Penelitian yang melibatkan sekitar 22 ribu responden dari 297 kabupaten di Indonesia itu menyatakan, penggunaan media sosial yang berlebihan bisa menjadikan seseorang terkena dampak negatif secara psikis, psikologis dan sosial.

Dampak tersebut bisa berupa penyakit mata karena terlalu sering menatap layar gadget, gangguan sulit tidur, merasa kesepian di tengah keramaian dunia maya, hingga cyberbullying.

Diet Media Sosial, Sebuah Tawaran

Salah satu terapi agar tidak kecanduan media sosial adalah dengan membatasi penggunaan media sosial. Saya menyebutnya sebagai diet media sosial. Seperti halnya aneka diet lainnya, diet ini dilakukan untuk membatasi diri dari pengaruh buruk yang terdapat di media sosial.

Apa yang harus dilakukan saat diet media sosial? Pertama, menjauh secara perlahan dari media sosial. Mungkin akan terasa sulit menjauh dari rutinitas keseharian secara drastis, di mana sebelumnya hampir tiap saat terkoneksi dengan media sosial. Di level pertama ini anda masih tetap bermedia sosial namun membatasi diri dengan cara tidak aktif dan hanya menjadi silent reader (pembaca diam-diam).

Jika langkah pertama sudah berhasil dilakukan, maka sebaiknya lakukan juga langkah kedua, yakni menghapus atau meng-uninstall semua aplikasi media sosial dari gadget kita. Ini memang sedikit ekstrem. Namun percayalah jika dilakukan akan memberikan dampak yang lumayan signifikan. Karena kita tak lagi diganggu beraneka notifikasi dari gadget, tidak membaca sumpah serapah pendukung kelompok tertentu yang tak sesuai dengan pandangan pribadi kita.

Jika dua langkah tersebut berhasil dilakukan, maka tak ada salahnya jika kita membuat prioritas kegiatan keseharian kita yang mengutamakan perjumpaan fisik dengan orang-orang sekitar dibandingkan bersentuhan dengan dunia maya yang tak terlihat wujudnya. Misalnya, dengan banyak berkomunikasi tatap muka, bermain bersama anak, berolahraga dengan keluarga atau traveling bersama sahabat.

Jika kamu ingin mengetahui informasi lain mengenai kesehatan mental lebih lengkap, kamu bisa mengakses aplikasi Halodoc. Download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play dan jadikan Halodoc sebagai teman penolong untuk menjaga kesehatanmu setiap hari.