Covid 19. Tepat hari ini saya sudah menghabiskan 64 hari di rumah saja. Sebagai warga negara yang patuh pada anjuran pemerintah, saya lakukan ini dengan kesadaran penuh. Karena saya tak ingin menjadi kepanjangan tangan virus (eh, virus emang punya tangan?) yang berakibat makin banyak orang tertulari virus Corona (Covid 19).

Just info, karena belum pernah saya tulis di blog, Covid ini yang sempat hype di Wuhan, China dan dianggap sebagai awal penyebarannya, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tak hanya China, tapi juga negara-negara lain yang protokol kesehatannya jauh lebih baik dari Indonesia pun juga terjangkiti.

Ada yang menerapkan langkah drastis dengan membuar kebijakan Lockdown atau menutup akses pintu masuk sebuah kota atau negara dari pendatang atau orang manapun. Konsekuensinya, kegiatan perekonomian lumpuh, anak sekolah dirumahkan, pekerja harus bekerja dari rumah, bahkan ibadah pun dilakukan tak lagi di rumah ibadah seperti mesjid, gereja, pura, atau vihara. Semua dilakukan di rumah.

Semua serba mendadak, situasi berubah 180 derajat dari kondisi di bulan Januari dan Februari, Awal Februari kita sekeluarga masih sempat traveling ke Singapura. Meski kemana-mana kita bermasker ria, namun ‘ketakutan’ belumlah seperti kemudian terjadi sejak kita semua dirumahkan oleh pemerintah.

Di Singapura yang takut pada Corona, atau lebih tepatnya peduli pada penyebaran virus ini umumnya adalah pendatang atau turis. Sementara orang lokal saat kami ke sana belum terlalu peduli. Bahkan di pusat belanja murah Mustafa Center yang buka 24 jam itu, belum menunjukkan kaparno-an terhadap Covid 19.

Situasi ketat hanya terasa di bandara Soetta maupun Changi serta hotel tempat kami menginap di kawasan Selegie Road. Saat tiba di bandara kami terkaget-kaget melihat semua petugas menggunakan masker. Hanya saat itu social distancing belum jadi isu nasional. Kita masih bebas antri dalam jarak dekat, baik di bandara maupun di tempat hiburan.

Kenapa kaget, karena waktu itu pemerintah kita masih denial bahwa virus Corona tak mungkin masuk ke Indonesia. Mungkin mereka belajar dari SARS dulu yang hanya merebak di daratan China dan sekitarnya. Tapi virus Corona ternyata virus flu yang berbeda dari pendahulunya. Konon kabarnya penularan Corona melalui droplet atau air liur, bersin dan sejenisnya dan bisa menular melalui lubang hidung, mulut, mata, telinga.

Hingga tulisan ini dibuat, jumlah penduduk dunia yang terkontaminasi virus ini mencapai 4.9 juta jiwa, dengan 1.69 juta sembuh dan 300K lebih meninggal dunia. Sementara di Indonesia, lebih dari 19K terkonifrmasi sebagai penderita, 1200-an meninggal dan 4500-an dinyatakan sembuh.

Putus Mata Rantai Penularan Virus

Sejak 18 Maret saya dan juga ribuan warga di Jakarta dan sejumlah kota di tanah air disarankan untuk bekerja di rumah (Work from home), lebih lambat dari ketentuan Belajar dari Rumah (Study from home) yang dilakukan lembaga pendidikan.

Di awal sempat mengalami kegagapan juga mengikuti irama kerja dari rumah. Sebab walau terkesan keren dan fun, ternyata kerja dari rumah butuh effort lebih. Karena tak kena macet, maka tak kenal pula namanya libur. Kerja bisa sampai malam hari, bahkan di akhir pekan sekalipun. Entah ikut workshop, membimbing skripsi, atau mengerjakan project-project lainnya.

Memilih tetap di rumah apakah membosankan? Sedikit. Yang jelas saya jadi bisa melakukan banyak hal. Mempertajam skill, belajar banyak, bergerak pun lebih banyak. Entah sudah berapa webinar saya ikuti, entah sudah berapa kali video conference menggunakan Zoom, Google Meet atau Ciscco dan juga aplikasi lain untuk sekedar haha hihi berjamaah.

Jika bosan datang menjelang, saya alihkan dengan berbagai kegiatan yang mungkin selama ini sulit saya lakukan atau malas saya lakukan. Seperti ngider di rumah, atau olahraga ringan ke luar rumah, mengitari komplek atau lapangan volly di belakang komplek. Pokoknya saya kerap melakukan hal berbeda setiap hari, tujuannya agar tidak bosan, dan menjaga kewarasan.

Sesekali saya sebenarnya masih ke luar rumah, seperti antar istri cari bahan masakan ke komplek sebelah. Atau belanja ke supermarket yang lumayan jadi rekreasi kecil yang mewah bagi kami sekeluarga.

Lalu, adakah yang tak menyenangkan seputar aktivitas di rumah aja? Ada. Terkait ibadah. Sebagai muslim ibadah paling nikmat adalah berjamaah di mesjid/ mushola. Kebiasaan ini nyaris tak bisa saya lakukan lagi dengan rutin. Shalat jumat hampir tak pernah saya lakukan lagi karena adanya himbauan untuk tak keluar rumah dan wajib ibadah di rumah aja.

Tapi saya sempat ‘melawan’ anjuran ini. Saya tetap Jumatan di awal WFH, apalagi pengurus mesjidnya pun menyediakan sarananya. Sementara saat Ramadan, saya dan beberapa jemaah di komplek tetap menjalankan ibadah sholat tarawih berjamaah di mushola kami. Tenang saja, jemaahnya paling banyak 13 orang. Yang lebih sering malah cuma 8 orang-an.

Pengen nulis lagi lebih banyak, nantilah saya lanjutkan lagi. Tulisan ini memang sengaja dibuat sebagai dokumentasi kita umat bumi ini pernah mengalami pandemi global terhadap virus Corona yang menyebabkan kematian di banyak negara. Dan dampak yang diakibatkan si Corona ini ternyata juga dahsyat. Ekonomi terganggu, banyak PHK, nafsu binatang manusia bermunculan dengan telanjangnya. Misalnya, menomorsatukan dirinya sendiri, seolah orang lain tidak ada di sekelilingnya.

Saya cuma berharap pandemi ini segera berlalu dan kita kembali ke kondisi normal. Bisa bekerja dengan tenang, sekolah dengan aman, maupun beribadah tanpa was-was lagi. Saya ingin setelah Corona bisa pergi ke tanah suci untuk ibadah umroh dan segera haji sesuai jadwal atau lebih cepat.

Itu aja sih. Bagaimana hari-harimu dengan Corona?

By syaifuddin sayuti

Ex jurnalistik tv yang gemar makan dan travelling. social media addict, ex Kepsek Kelas Blogger, admin BRID.

One thought on “Covid 19 Memaksa Saya Di rumah Aja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *