Penggunaan dan persebaran narkoba tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Badan Narkotika Nasional (BNN) mensinyalir peredaran narkoba sudah menjangkau mereka yang tinggal di pedesaan.  Ini dikarenakan luasnya wilayah Indonesia yang sebagian besar diantaranya adalah kawasan pedesaan. para Dalam sebuah diskusi di Jakarta pekan lalu, Kepala BNN Heru Winarko menyebut desa menjadi sasaran berikut peredaran Read More →

364 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Akhir pekan bagi saya adalah saat istirahat dari rutinitas selama satu pekan. Akhir pekan juga sedapat mungkin saya gunakan untuk family time, berkegiatan bersama keluarga setelah sepekan sibuk dengan urusan kerja dan aktivitas di luar rumah lainnya. Jika urusan dengan anak istri sudah selesai, biasanya saya gunakan untuk me time, memanjakan diri sendiri. Aih…ganjen ya Read More →

6,089 kali dilihat, 15 kali dilihat hari ini

Sebagai traveler kambuhan, saya termasuk orang yang senang berwisata sambil berkendara. Saya pernah menjelajahi sebagian pulau Jawa dari Jakarta – Cirebon – Yogya – Tasikmalaya – Bandung – dan balik lagi ke Jakarta dengan cara konvoi bareng sejumlah kawan. Meski berkendara namun kami tidak menghabiskan waktu sepenuhnya berada di balik kemudi. Saat ada destinasi wisata Read More →

478 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Hi traveler, pernah gak sih kalian ngalamin persoalan saat traveling ke luar negeri? Dari hasil rumpi on the spot saya beroleh sejumlah jawaban. Ada yang mendapat kendala saat berhadapan dengan petugas imigrasi. Biasanya petugas imigrasi melakukan random check bagi traveler. Tidak ada patokan apa dan mengapa seseorang dimintai keterangan oleh petugas imigrasi. Mungkin saja si Read More →

637 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Gempita Asian Games berakhir hari Minggu (2 September 2018) ini. Seperti yang sudah banyak ditulis di berbagai media, kontingen Indonesia akhirnya menduduki posisi keempat klasemen perolehan medali. Kontingen Indonesia meraih 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu. Ini adalah pencapaian terbaik yang bisa diraih Indonesia sepanjang keikutsertaannya di ajang lomba multi event bangsa-bangsa Asia ini. Read More →

2,295 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Konser Perayaan Karya Iwan Fals (foto dokpri)

Konser Perayaan Karya Iwan Fals (foto dokpri)

Living legend dunia musik Indonesia, Iwan Fals hari ini berulang tahun ke-55 tahun. Ulang tahun bagi seorang mungkin menjadi hal yang biasa, namun tidak bagi seorang legenda dengan nama besar seperti Iwan Fals. Malam ini Iwan Fals akan menyapa penggemarnya dalam sebuah konser bertajuk Perayaan Karya, di panggung pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara. Konser ini memang dibuat khusus memperingati ulang tahun sang legenda, merayakan 55 tahun sang legenda berada di dunia. Konser ini didukung perusahaan telekomunikasi XL dan aplikasi musik Yonder.

Iwan Fals saat jumpa pers (Jum’at, 2 Sept 2016) mengaku konser ini sebenarnya adalah ide sang putri, Annisa Cikal Rambu Basae yang ingin di hari ulang tahunnya sang ayah memberikan kado bagi para penggemarnya berupa konser musik.

“Mungkin pengen beda aja. Karena selama ini tiap ulang tahun cuma balas-balasin ucapan dari penggemar lewat berbagai media. Kali ini balasan ucapan ulang tahunnya berupa konser,” jelas Iwan Fals.

Menurut Iwan Fals, konser ini lebih tepatnya sebagai konser terima kasihnya bagi semua pihak, mulai dari label rekaman, media, agensi hingga penggemar yang banyak mensupportnya selama ini.

Menurut rencana, dalam konser nanti malam Iwan Fals akan membawakan 20 repertoar musiknya yang dipilih dari semua babak dalam karier bermusiknya. Meski enggan membocorkan daftar lagu yang dibawakannya, Iwan Fals memastikan lagu-lagu itu akan menggambarkan pencapaiannya selama ini di dunia musik tanah air.

Dari Balada Hingga Percintaan

Iwan Fals lahir 3 September 1961 di Jakarta, dari pasangan Harsoyo dan Lies Suudijah. Memulai karier musiknya dari festival lagu country dan kemudian sempat mengikuti festival lagu humor. Dari festival lagu humor itu;ah perkenalan saya dengan sosok Iwan Fals bermula. Saya dapat sebuah kaset itu dari seorang sepupu. Dalam kaset yang berisi lagu dan lawak dan hanya beredar secara terbatas itu nama Iwan ditulis sebagai “Iwan Fales” bukan Iwan Fals seperti yang dikenal publik sekarang ini. Entah kenapa akhirnya berubah jadi “Fals” mungkin lebih pada penulisan yang lebih enak dilihat pertimbangannya.

Sejarah musik Indonesia kemudian mencatat musik Iwan Fals sebagai ‘genre’ musik protes terutama setelah meledaknya lagu-lagu seperti “Surat Untuk Wakil Rakyat” atau “Oemar Bakri”. Iwan dianggap menjadi ‘wakil’ dari suara masyarakat kebanyakan. Lagu-lagu seperti itulah yang kemudian membuatnya kerap dicekal oleh rezim Soeharto, penguasa Orde Baru.

Konsernya sering tak memperoleh izin karena dianggap ‘berbahaya’ pada masanya. Tapi Iwan Fals tak surut, karya-karya musiknya terus mengalir menggenangi dunia musik tanah air. Menurut saya, puncak ‘protes’ Iwan Fals terhadap pemerintah Orde Baru lewat lagu termanifestasi melalui lagu “Bongkar” dan “Bento”. Dua lagu ini muncul tepat di tahun-tahun penghujung kedigdayaan rezim Soeharto, dan saat itu menjadi inspirasi banyak aktivis pro demokrasi menyuarakan penolakannya pada rezim yang berkuasa 32 tahun di Indonesia.

Selain lagu ‘protes’, sebenarnya Iwan Fals juga dikenal karena lagu-lagu cintanya. Berbeda dengan lagu cinta ala Rinto Harahap yang mendayu-dayu, lagu cinta ala Iwan kadang disampaikan melow, kadang diberi muatan ceria. Tengok saja lagu seperti Buku Ini Aku Pinjam yang berkisah tentang cinta ala anak sekolahan. Bandingkan dengan lagu Kisah Kasih di Sekolah ciptaan Obbie Messakh yang sama-sama memotret fase cinta yang sama namun beda cara interpretasinya. Iwan lebih puitis.

Atau tengok saja lagu sejuta umat yang laris dijadikan theme song di tiap acara reunian, yakni lagu “Kemesraan”. Mungkin ini satu-satunya lagu Iwan Fals yang paling diterima banyak kalangan, karena persoalan cinta yang lintas sekat.

Soal cap sebagai penyanyi lagu protes atau lagu cinta yang belakangan sering dibawakan, Iwan punya alasannya sendiri. “Saya tidak pernah mandeg dalam berkarya, saya menulis lagu apa saja yang perlu saya tulis. Apakah saya kini lebih “cinta” dibandingkan sebelumnya? Tidak juga, karena banyak lagu cinta yang sudah saya bawakan di era Orde Baru dan kini dirilis ulang.” jelas Iwan Fals menjawab tudingan ia kini lupa pada ‘akar’nya sebagai penyanyi “protes”.

Iwan memang sosok musisi Indonesia yang unik, pencipta trend yang kariernya melintasi zaman. Rezim politik boleh berganti, namun lagu Iwan Fals masih aktual hingga rezim berganti-ganti. Sindirannya masih mengena karena persoalan di DPR, pejabat korup  hingga persoalan sosial masih saja sama dalam tataran yang berbeda.

Selamat ulang tahun sang legenda hidup musik Indonesia, Iwan Fals.. kami masih menunggu karya-karya dahsyatmu selanjutnya….

Simpan

1,727 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Bukber NIC dengan Komunitas (foto @Nutrifood)

Bukber NIC dengan Komunitas (foto @Nutrifood)

Nutrifood Inspiring Center. Punya komunitas namun tak punya tempat kongkow memang jadi kesulitan yang dihadapi banyak komunitas. Minimnya ruang publik juga menjadi problem lain saat komunitas ingin berkegiatan. Untungnya belakangan ada solusi kreatif yang ditawarkan sejumlah pihak bernama co-working space.

Co-working space sendiri adalah tempat bekerja yang bisa disewa sesuai kebutuhan. Mulai dari per-jam, per-empat jam, per hari hingga per bulan. Keberadaan co-working space awalnya hanya menyasar start-up atau perusahaan kecil yang baru berjalan dan biasanya masuk dalam bidang digital atau industri kreatif.

Sudut di NIC yang keren (foto dokpri)

Sudut di NIC yang keren (foto dokpri)

Adanya Co-working space menjadi sebuah oase bagi start-up yang memiliki anggaran terbatas untuk menyewa sebuah tempat bekerja di lokasi strategis. Tahu sendirilah, harga sewa sebuah ruko atau kantor di Jakarta buat para pebisnis pemula nyaris tak masuk akal.

Konsep co-working space bisa jadi pilihan, karena harga yang bersahabat dan penyewa tak perlu pusing menginvest dana, menyiapkan peralatan dan sarana pendukung. Tinggal bawa body dan (tentunya) peralatan kerja seperti laptop maka kantor pun siap berjalan.

Lalu bagaimana dengan komunitas yang memiliki kepentingan berbeda dengan start up? Pengalaman saya mengelola komunitas, persoalan tempat kongkow juga kerap menyita energi. Kadang harus berburu ke sana kemari hanya untuk menyewa tempat bagi komunitas jika ada kegiatan. Tidak selamanya tempat yang disewa sesuai dengan kebutuhan. Ada yang membolehkan tempatnya dipakai namun ukurannya terlalu kecil atau kebesaran. Ada pula tempat yang keren namun harus berbagi dengan kegiatan lain.

Kelas Skenario yang Seru (foto @Agiljolie)

Kelas Skenario yang Seru (foto @Agiljolie)

Di tengah kegalauan akhirnya saya dan teman-teman di Kelas Blogger menemukan Nutrifood Inpsiring Center (NIC), co-working space yang berlokasi di Apartemen Menteng Square.  Untuk lokasi, NIC juaranya, karena berlokasi tak jauh dari perempatan Matraman, tak jauh dari jalan Proklamasi dan kawasan Menteng. Dan yang utama, mudah dijangkau dengan transportasi umum seperti Busway.

Berbeda dengan co-working space yang banyak bertebaran di Jakarta dan diperuntukkan bagi start-up, NIC sepenuhnya free alias gratis. NIC memang dikonsep sebagai co-working space yang didedikasikan bagi kegiatan komunitas. Arninta dari NIC menyatakan, pihaknya sengaja membuka ruang NIC bagi komunitas karena sebelumnya banyak komunitas yang mendatangi pabrik Nutrifood untuk berkegiatan. Karena lokasinya yang dipinggir kota, akhirnya NIC dibuka dengan lokasi yang lebih mudah dijangkau.

NIC sendiri didesain sebagai ruang berkegiatan yang cozy, dengan penataan interior yang instragamable. Siapapun yang kemari untuk pertama kali pasti ‘gatal’ untuk berfoto di tiap sudut NIC. Suasananya memang bikin betah untuk kongkow dan berjejaring.

Sejauh ini sejak sekitar setahun NIC berdiri sudah mewadahi sekitar 50 komunitas yang berkegiatan di sini. Umumnya komunitas yang berkegiatan di sini berasal dari latar belakang komunitas kesehatan, pendidikan, hingga seni budaya. Mereka yang menggunakan NIC memang disaring ketat dan harus sesuai misi NIC yang menyuarakan soal gizi dan gaya hidup sehat. Oiya, di sini NIC juga menyediakan free drink dan cemilan sehat yang bebas diakses semua peserta yang hadir.

Bagi komunitas yang ingin membawa makanan, NIC mewanti-wanti agar memperhatikan faktor kesehatan, misalnya tidak membawa makanan yang digoreng. Justru ini serunya karena jika ingin ‘potluck’ di NIC, mesti pintar merencanakan makanan apa yang cocok dengan konsep NIC.

Terima kasih NIC yang sudah membolehkan tempatnya digunakan teman-teman blogger. Kelas Blogger sendiri sejauh ini sudah 3 kali menggelar event pelatihan di NIC.

Informasi tentang NIC, cek di http://blog.nutrifood.co.id

 

2,146 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Post Navigation