Halaman Depan dengan Latar Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung (foto dokpri)

Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung. Libur akhir dan awal tahun masih ada beberapa hari. Jika tujuan anda ke kota kembang Bandung, mengapa tak coba melongok pendopo rumah dinas walikota Bandung sebagai salah satu tujuan wisata ramah keluarga. Secara kebetulan rumah pak walikota Ridwan Kamil ini sedang heits dan jadi alternatif kunjungan wisatawan ke kota ini.

Untuk mencapai rumah dinas Kang Emil ini cukup mudah. Jika anda tahu letak mesjid agung yang berlokasi di alun-alun kota Bandung yang terkenal itu, berarti anda tidak akan nyasar. Karena rumab dinas Kang Emil ini ada di sisi alun-alun, tepatnya di jalan Dalem Kaum.

Pendopo rumah dinas Kang Emil dan kleluarga (foto dokpri)

Saya yang pernah mukim di Bandung saat kuliah dulu tak tahu lokasi rumah dinas pak Walikota. Anehnya saya justru tahu rumah Pangdam Siliwangi daripada rumah pejabat yang lainnya. Bisa jadi banyak warga yang tak menyangka ternyata pak Wali tinggal di sekitar mereka, di sekitar tempat pelesir di alun-alun Bandung.

Kawasan alun-alun dan sekitarnya memang memiliki daya tarik cukup kuat untuk dikunjungi. Di alun-alun ada  lapangan rumput sintetis yang dijadikan tempat rekreasi murah meriah warga dan turis lokal. Tak jauh dari sini ada museum Konferensi Asia Afrika, penjara Bung Karno di Banceuy, jalan Braga serta beberapa destinasi lainnya.

Terbuka Untuk Umum

Padepokan rumah dinas walikota Bandung ini dibuka untuk kunjungan umum sejak tanggal 25 Desember 2016 hingga awal tahun 2017. Dan setelah ini padepokan hanya dibuka di akhir pekan saja untuk umum. Padepokan dibuka secara gratis bagi turis yang hendak melihat dari dekat bangunan bersejarah yang pernah mendapat anugerah dari Bandung Heritage sebagai salah satu bangunan bersejarah yang terawat keasriannya.

Taman pendopo nan asri (foto dokpri)

 

Lampu di tengah pendopo (foto dokpri)

Berdasarkan sejumlah literatur yang ada, bangunan padepokan ini didirikan pada awal tahun 1812 pada masa pemerintahan Bupati Bandung ke-6 Wiranatakusumah II. Bupati ini dikenal pula sebagai raden Indrareja dan biasa dipanggil sebagai Dalem Kaum. Nama panggilan itulah yang melekat dengan nama jalan di depan rumah dinas Walikota ini.

Salah satu ornamen penghias taman pendopo (foto dokpri)

Untuk berkunjung kemari, pengunjung tidak dipungut bayaran sama sekali. Di pintu masuk petugas jaga dengan sopan akan meminta tanda pengenal pengunjung untuk didata. Berapapun jumlah rombongan akan diterima, namun disesuaikan dengan kepadatan di ruang pendopo. Jika terlalu padat, maka pengunjung disarankan menunggu di luar padepokan sambil menikmati relief sosok walikota/ bupati Bandung dari masa ke masa. Relief ini letaknya ada di bagian depan pintu gerbang.

Pengunjung Bisa berfoto hingga teras rumah dinas (foto dokpri)

Ada sejumlah aturan yang mesti ditaati oleh pengunjung. Diantaranya tidak diperkenankan membawa makanan/ minuman dari luar, harus melepas alas kaki saat berada di taman dan pendopo serta mematuhi pembatas yang dipsang di beberapa bagian pendopo. Selain itu pengunjung juga tidak diperbolehkan masuk ke ruang tamu rumah walikota. Namun pengunjung masih diberi kelonggaran untuk berfoto di depan ruang tamu.

Duduk-duduk siapa tahu ketemu pemilik rumah (foto dokpri)

Konon pemilihan lokasi pendopo ini dilakukan langsung oleh Bupati Dalem Kaum. Lokasi dipilih karena menghadap langsung ke Gunung Tangkuban Perahu yang merupakan simbol budaya Sunda. Sementara di sekitarnya ada bangunan mesjid agung, pusat pertokoan/ pasar serta alun-alun yang menjadi simbol pertemuan berbagai unsur masyarakat.

Pendopo rumah dinas walikota Bandung ini cukup luas. Pengunjung umumnya kemari hanya untuk berfoto ria dengan latar bangunan pendopo ataupun taman di bagian depan. Sayangnya unsur sejarah pendopo sendiri tidak begitu dipedulikan pengunjung. Padahal bangunan pendopo yang mereka datangi adalah bangunan cagar budaya yang usianya lebih dari 2 abad. Harusnya pihak Pemkot Bandung menyediakan pemandu wisata yang menemani pengunjung dan menjelaskan apa dan bagaimana pendopo rumah dinas Walikota Bandung ini bermula. Atau jika pemandu wisata terlalu ‘mahal’ mengapa tidak menyediakan monitor komputer yang menjelaskan pendopo secara interaktif.

Pendopo Rumah Dinas Walikota Bandung

Jalan Dalem Kaum Alun-alun

Bandung

Simpan

2,005 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Sudut cantik di Morrissey Hotel (foto syaifuddin)

Morrissey Hotel Residence. Mau tetap awet muda? Coba deh menginap di Morrissey Hotel Residence, yang terletak di jalan Wahid Hasyim 70, Jakarta Pusat.  Atmosfer hotel ini membuat pengunjungnya muda terus dan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kesan itu sudah terasa sejak di bagian depan hotel. Desain pintu masuk yang setengah terbuka memberi kesan akrab. Homey. Saya berasa bukan mau ke hotel tapi seperti masuk ke sebuah rumah. Kesan itu makin kuat ditambah sapaan hangat petugas di pintu masuk. Seragam mereka yang casual seolah memberi sinyal ini memang bukan hotel yang formil.

Konsep casual ternyata memang diterapkan di semua bagian hotel. Tengok saja sudut kerja guest relation yang berada di bawah tangga lobby. Meja kerja berwarna putih yang simpel menjadi aksen menarik dan membuat siapapun yang masuk ke lobby menengoknya.

Sudut ruang kerja Guest Relation di bawah tangga (foto syaifuddin)

Saat saya berkunjung hotel ini tengah menyiapkan sebuah keriaan akhir tahun. Kali ini temanya Rock n’Roll. Tema ini diwujudkan dengan memajang pohon natal yang terbuat dari tumpukan gitar. Idenya keren, segar dan tidak biasa. Konon tema ini diambil karena sang owner hotel punya kegemaran bermusik. Hobby yang pas diterapkan dengan konsep hotel ini.

Berkonsep Awal Apartemen

Morrissey awalnya dikenal sebagai service apartment yang menjadi pilihan para pekerja asing yang tinggal lama di Jakarta. Tamu yang menginap berasal dari berbagai bangsa, yang bekerja di sejumlah perusahaan di pusat kota. Mereka memilih tinggal di sini umumnya karena jatuh cinta pada letaknya yang strategis.

(foto : syaifuddin)

Menurut General Manager Morrissey, Wisnu Reza, pihaknya sudah lebih dari setahun mengubah konsep dari apartemen menjadi hotel. “Pertimbangannya kami ingin meluaskan pasar Morrissey. Jika selama ini publik hanya mengenal layanan kami untuk tamu yang menginap long stay, kini kami juga melayani tamu yang menginap semalam-dua malam. Namun pengalaman dan kualitas layanan ala Morrissey tidak kami ubah,” jelas Wisnu saat memaparkan konsep Morrissey hotel di depan peserta workshop videografi dengan pembicara Teguh Sudarisman baru-baru ini.

Pohon Natal dari Tumpukan Gitar (foto Syaifuddin)

Ada 4 tipe kamar yang ditawarkan Morrissey bagi pengunjung. Tipe apartemen dengan 2 ruang tidur dan 2 kamar mandi. Tipe ini cocok bagi tamu keluarga atau grup pertemanan. Layanan ala apartemen masih dipertahankan, seperti pantry dengan peralatan masak lengkap ada di tipe ini.

Tipe lainnya adalah City Luxe, Loft, Studio dan Studio Luxe. Kendati berbeda luasnya namun semua tipe kamar mengusung tema yang sama, modern minimalis. Kamar didesain fungsional, diisi furnitur yang simpel dan mengutamakan kegunaan. Menurut saya konsep semacam ini menjadi tren hotel kekinian, di mana hanya perkakas yang fungsional lah yang digunakan. Beda dengan konsep hotel dahulu yang kerap mengisi penuh perkakas meski tak semuanya dibutuhkan oleh tamu.

Yang unik dari kamar-kamar di Morrissey dindingnya sengaja dibuat unfinished, tidak diplester atau didtutup dengan wallpaper. Ini membuat kesan lebih hangat dan friendly. Secara tak sadar kita seperti menginap di rumah teman.

Bajaj Pasti Berlalu

Oh ya ada satu jenis layanan unik yang diberikan Morrissey dan tak diberikan hotel manapun di Jakarta, yakni layanan antar Bajaj. Ya, Bajaj adalah kendaraan angkutan umum khas Jakarta yang makin langka itu bisa dinikmati pengunjung yang ingin jalan-jalan di sekitaran lokasi hotel. Rute antaran memang masih terbatas sekitar kawasan jalan Jaksa hingga jalan Sabang, tapi lumayan lah bagi turis yang kepo ingin numpang di kendaraan yang didesain khusus tersebut.

Layanan Bajaj Wisata (foto syaifuddin)

Selain itu adapula layanan sepeda yang bisa digunakan tamu hotel menyusuri ruas-ruas jalan di Menteng dan sekitarnya. Menurut saya jika dikelola dengan baik layanan sepeda ini bisa jadi kekuatan Morrissey yang bisa dijadikan pembeda dengan layanan hotel lain. Layanan yang ramah lingkungan.

Bagi penyuka olahraga, hotel ini juga menyediakan fasilitas lumayan. Sebuah kolam renang berukuran sedang tersedia di bagian atap (rooftop). Sambil berenang atau berendam pengunjung bisa melihat lansekap sebagian Jakarta dari ketinggian.

Bersebelahan dengan kolam renang ada pula fitness corner bagi mereka yang ingin membakar lemak.

Sarapan di resto yang rindang (foto : syaifuddin)

Jalan-jalan dan olahraga sudah, bagaimana dengan masalah perut? Tenang di Morrissey ada sebuah resto kece bernama Ocha & Bella. Resto yang spesialitynya di makanan western Italia ini bakal memanjakan lidahmu dengan beragam sajian aneka pasta.

Interior restonya yang cantik membuat pengunjung bakal betah berlama-lama di sini. Ditambah dapur terbukanya yang menjadikan kegiatan pengolahan makanan menjadi atraksi sendiri yang menyenangkan mata.

Lokasi Premium

Oiya, yang paling menggiurkan dari hotel ini adalah lokasinya. Letak hotel ini memang cakep jika dilihat dari mana-mana. Tak jauh dari jalan Jaksa, kawasan perkampungan wisata internasional yang banyak dikunjungi wisatawan asing.

Dari hotel pengunjung tinggal ‘ngesot’ ke jalan Jaksa untuk mencicipi aneka ragam kuliner lokal dan mancanegara dari kafe yang berderet di jalan ini.

Hotel ini juga tak jauh diakses dari jalan Thamrin, jalan utama di ibukota.

Bagi pengunjung yang hendak menggunakan transportasi umum, halte busway cuma berjarak sekitar 1 kilometer. Begitupula dengan stasiun kereta api Gondangdia, jaraknya tak lebih jauh dari halte busway.

Selain lokasinya yang premium, desain interior Morrissey Hotel Apartment ini sangat instagramable. Tiap sudutnya menggoda pengunjung untuk berfoto-foto atau selfi ala-ala. Jadi, jika anda ingin tetap muda dan kekinian, menginaplah di sini dan rasakan atmosfer mudanya.

Morrissey Hotel Residences

Jl.Wahid Hasyim 70, Jakarta

http://iammorrissey.co/

 

https://www.youtube.com/watch?v=f7cp_IsIj6U

 

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

2,070 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Ada banyak alasan pribadi bagi traveler untuk tidak memilih online travel agent sebagai referensi hotel bagi rencana perjalanan mereka. Mungkin kesulitan memanfaatkan teknologi atau sudah mendapatkan harga istimewa dari penawaran corporate rate, mungkin mereka sudah memiliki agen langganan yang memanjakan. Sah-sah saja semua alasan itu.

Namun segala hal yang bersifat pribadi tentu tidak bisa dijadikan tolok ukur hajat hidup orang banyak. Di jaman yang terus berkembang dan berubah ini, manusia selalu memiliki banyak pillihan. Termasuk bagaimana caranya traveler bisa memanfaatkan teknologi dengan sangat baik dan maksimal.

Untuk traveling, manusia modern kini tinggal menjentikkan jari-jarinya untuk segera mengakses informasi yang diperlukan melalui internet dan menemukan banyak online travel agencies yang akan membuat perjalanan menjadi lebih mudah dan efektif. Itu akan jauh lebih menghemat waktu untuk mencari referensi hotel daripada melalui teman, kolega, atau situs-situs resmi hotel satu persatu dan menelpon mereka untuk mendapatkan penawaran.

Online travel agent sendiri memiliki harga yang biasanya lebih murah dari harga yang tercantum di website resmi hotel serta gambaran yang lengkap mengenai hotel yang dituju. Kemudahannya dalam melakukan reservasi juga disukai oleh banyak wisatawan.

Jangan takut oleh ulasan-ulasan mengenai sebuah hotel yang mencurigakan yang selalu menilai baik semua hotel yang ada. Online travel agent sudah memiliki kesadaran untuk selalu membuat konten yang berimbang untuk menjaga kepercayaan dari calon konsumen. Demi kredibilitas yang akan menjaga keberlangsungan bisnis, mereka tentu tidak ingin sembarangan mengiklankan diri secara berlebihan.

Hotel

Salah satu hotel yang bisa dipesan lewat online travel

Untuk menjaga kuantitas dan kualitas konten iklan maupun website, online travel agent sangat memperhatikan deskripsi serta foto-foto yang disajikan. Ini sangat bermanfaat bagi calon traveler yang terkadang hanya memiliki waktu sedikit untuk membuat keputusan dan hanya mengandalkan informasi dan foto dari sebuah website online travel agent. Ditambah dengan panduan dan peta yang jelas, tentu akan sangat memudahkan siapapun membayangkan kondisi real dengan syarat para tamu juga harus memiliki pengetahuan tentang servis dan standar hotel. Akan sangat mengecewakan jika seseorang membaca konten sebuah hotel bintang tiga lalu membayangkannya sebagaimana adanya hotel bintang lima.

Bagi hotel-hotel dengan reputasi dan branding tertentu akan bisa dengan mudah diketahui kualitas layanannya namun mungkin akan menyulitkan bagi seseorang untuk menilai hotel-hotel kecil yang seringkali memiliki tarif yang bersahabat. Padahal tidak semua hotel yang berharga ramah itu memiliki kualitas buruk. Untuk itulah membaca konten dengan seksama akan menjadi pilihan yang baik apalagi jika ditambah dengan melihat review tamu maupun situs-situs penasehat perjalanan yang ada. Dengan cara ini, para calon traveler akan sangat bisa meminimalisir kekurangan yang ada bahkan mungkin nyaris tanpa kekurangan.

Alasan lain mengapa para traveler lebih suka memercayakan pemesanan hotel kepada online travel agent tentu saja karena alasan klasik takut kehabisan kamar saat kedatangan langsung apalagi jika ternyata harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan bayangan dan tidak bisa dinegosiasikan. Bukan berarti harga yang ada di website online travel agent bisa dinegosiasikan namun setidaknya ada kejelasan angka. Tinggal membaca baik-baik ketentuan dan persyaratan yang ada apakah harga itu sudah all include fasilitas yang diinginkan, termasuk pajak. Selain itu, dengan melihat informasi yang ada, siapa saja yang hendak bepergian akan langsung tahu kepastian kamar beserta daftar harga yang bisa dipilih.

Kemudahan reservasi dan prosesnya yang cepat juga menjadi kelebihan yang bisa didapatkan. Nah, tungggu apalagi? Di jaman secanggih ini rasanya segala kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih menguntungkan sangat patut untuk dicoba.

Simpan

Simpan

Simpan

1,394 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tampak depan Farmhouse (foto dokpri)

Tampak depan Farmhouse (foto dokpri)

Farmhouse. Ini dia tempat yang lagi hits di seantero Bandung. Saban akhir pekan atau libur panjang tempat ini jadi destinasi wisata yang diserbu banyak orang. Begitu pula saya yang ikut jadi jemaah Al-Farmhouse-iyah di libur Lebaran kemarin. Jalan Setiabudi hingga Lembang yang biasanya ditempuh 15-30an menit harus saya tempuh selama 2 jam. Lama waktu tempuh ini menggambarkan betapa sesaknya kawasan ini, dan pusat keriuhan apalagi kalau bukan di Farmhouse.

Popularitas Farmhouse terasa sejak kendaraan mulai mengular di kawasan Ledeng. Entah di kilometer berapa mulai ada tulisan di secarik kertas atau karton yang menyediakan tempat parkir bagi pengunjung Farmhouse. Tapi jangan terkecoh, karena lokasi wisata ini masih lumayan jauh dari jangkauan.

Bagi yang sudah kelelahan terjebak dalam kemacetan, tawaran itu bak surga. Setelah memarkir kendaraan barulah sadar bahwa lokasi masih lebih dari 1 km, dan jalanan yang mesti ditempuh me-nan-jak!

Saran saya, parkirlah di parkiran Farmhouse (kalau masih cukup), tapi jika penuh cari di tempat parkiran sekitaran Farmhouse. Tapi jangan kaget dengan tarifnya, IDR 25K sekali parkir. Waduh. Entah ini resmi atau tidak, tapi karcisnya bertuliskan parkir Farmhouse. Tapi tarifnya mencurigakan.

Resminya jika parkir di dalam lokasi Farmhouse, sepeda motor dikutip IDR 5K, sedangkan mobil IDR 10K. Selisihnya cukup besar jika parkir di luar lokasi.

Masuk Gratis?

Jika tempat wisata lain mengutip tiket masuk dalam bilangan tertentu, nah Farmhouse beda. Pengunjung ‘cuma’ diharuskan membayar karcis IDR 20K per-orang, yang bisa ditukarkan dengan segelas susu segar. Tinggal pilih rasanya: plain, strawberry dan cokelat. Konon dulu karcis juga bisa ditukarkan dengan seporsi sosis bakar yang entah mengapa tak ada lagi saat saya datang.

Segelar susu segar khas Farmhouse (foto dokrpi)

Segelar susu segar khas Farmhouse (foto dokrpi)

Jika melihat karcis yang ditukar susu, berarti masuk ke Framhouse sebenarnya gratisan. Agak repot juga jika ada pengunjung yang tak suka susu.

Lalu, apa saja yang bisa dinikmati di Farmhouse? Ini dia beberapa diantaranya yang terekam dalam catatan saya.

1.Area Peternakan

Edukasi Cinta Satwa (foto dokpri)

Edukasi Cinta Satwa (foto dokpri)

Menurut saya ini spot paling Farmhouse banget. Di spot ini pengunjung bisa bermain dengan aneka satwa seperti domba-domba lucu, kelinci dan kuda. Pengunjung anak-anak juga bisa menyewa pakaian tematik cowboy yang bisa digunakan sebagai properti berfoto dengan domba-domba kecil tadi.

Sayangnya, ada beberapa pengunjung anak-anak yang berlaku kasar terhadap domba-domba di sini, mereka menyeret dan menarik domba untuk mengikuti kemauannya. Mestinya mbak dan mas penjaganya tanggap dan melarang pengunjung melakukan kekerasan fisik pada hewan.

2.Rumah Hobbit

Ini adalah rumah kayu yang mengingatkan kita pada film “Lord of The Rings” besutan sutradara Peter L.Jackson yang lokasi shootingnya di New Zealand. Di Farmhouse, rumah ini dibuat replikanya hingga laris dijadikan sebagai obyek foto. Bahkan pengunjung rela antri dan berebutan untuk bisa foto di rumah kayu yang cuma satu di sini.

3. Gembok Cinta

Gembok Cinta (foto dokpri)

Gembok Cinta (foto dokpri)

Bagi pasangan yang dimabuk kepayang bisa menyalurkan perasaannya di area gembok cinta. Jika tak membawa gembok dari rumah, sebuah kedai souvenir menyediakan kok gembok dengan harga IDR 25K . Jika ingin beli sepasang, ada paket IDR 100K  yang dikemas dalam sebuah box unik. Tapi saya tak menyarankan untuk membeli box, buat apa, toh gemboknya bakal dipasang di pagar kawat yang ada di sini. Gembok cinta ini mengingatkan pada Love Lock yang ada di Namsan Seoul Tower, Korea Selatan. Banyak pasangan yang percaya dengan mengabadikan cintanya melalui gembok cinta kehidupan cinta mereka bakal langgeng. Who knows..

4. Jadi Noni Belanda

Berkostum ala Eropa Klasik (foto dokpri)

Berkostum ala Eropa Klasik (foto dokpri)

Yang juga unik di Farmhouse pengunjung bisa menyewa seperangkat kostum ala-ala Eropa klasik yang bisa digunakan untuk foto-foto. Pengunjung cukup membayar IDR 75K dan bisa berkeliling spot-spot keren di sini untuk wefie atau selfie selama 2 jam. Jika penasaran ingin mencoba jadi noni Belanda, saran saya datanglah di hari kerja saat jumlah pengunjung tak membludak seperti di hari libur. Di hari libur panjang dijamin anda bakal kelamaan mengantri giliran dibanding bergaya dengan kostum berwarna dominan merah dan putih tersebut.

5. Kuliner Melimpah

Berkunjung ke Farmhouse jangan takut kelaperan. Banyak penjual makanan, entah yang berkonsep kaki lima, kedai ataupun resto. Yang paling mudah menemukan jajanan sosis bakar, bertebaran di beberapa lokasi. Resto yang berada di kawasan rumah Eropa klasik menyajikan aneka hidangan Eropa, Amerika dan Indonesia. Sayangnya saya belum mencicipi kuliner yang dijajakan di sini. Saya hanya sempat mencoba sosis bakar, roti dan minuman ringan karena malas ikut antrian yang cukup panjang.

Sebagai tempat wisata baru, Farmhouse sebenarnya menarik. Namun jika datang saat libur hari raya atau akhir pekan jangan harap pengunjung bakal memperoleh kenyamanan. Desak-desakan, antrian panjang bakal anda rasakan. Untuk berfoto di sejumlah spot pun agak sulit lantaran berjubelnya pengunjung.

Simpan

Simpan

2,329 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Tampak Depan Trizara Resorts (foto dokpri)

Tampak Depan Trizara Resorts (foto dokpri)

Trizara Resorts. Kemping adalah kisah masa kanak-kanak saat saya jadi anggota pramuka. Berbekal tenda yang cuma muat untuk 4 anak usia SD, saat itu kemping jadi kegiatan menyenangkan. Mendirikan tenda, mematok tenda ke tanah, membuat parit di sekitarnya menjadi pengalaman yang memorable.

Belakangan, saat remaja masih sempat kemping semasa SMA dan kuliah. Masih dengan kisah yang nyaris serupa. Ada keribetan lantaran mesti mendirikan tenda untuk berteduh padahal tubuh amat lelah setelah beraktivitas fisik. Yang menyebalkan dengan kegiatan kemping adalah saat tenda bocor atau tampias ketika hujan turun. Yang saya ingat, pernah suatu kali terpaksa menggunakan pakaian basah setelah tenda kebanjiran.

Meski kadang menyebalkan, kemping bagi saya tetap menjadi kegiatan mengasyikkan. Karenanya saat ditawari ikut kemping mewah alias Glamping langsung saya iyakan ajakan tersebut.

Trizara Resorts

Warna warni di Lobby Trizara (foto dokpri)

Glamping atau glamour camping belakangan jadi hits di kalangan pengelana (traveler). Konsepnya unik, karena menggabungkan kegiatan alami camping dengan fasilitas setara hotel berbintang. Sebelumnya, saya sempat glamping di pulau Bintan, Kepri. Bedanya, glamping pertama saya bernuansa laut.

Juni lalu saya dan sejumlah traveler blogger diundang Glamping di kawasan bersuasana alami pegunungan, di Lembang, Bandung. Nama lokasi glampingnya Trizara Resort, letaknya di jalan Pasirwangi Wetan, Lembang Bandung. Dan ini kisah pengalaman saya ber-glamping di Trizara.

Banyak Jalan Menuju Roma Trizara

Untuk mencapai Trizara gampang. Ada beberapa alternatif jalan yang bisa ditempuh dari luar kota Bandung. Pertama, lewat jalanan terluar Bandung. Setelah keluar tol Pasteur ambil arah ke Lembang. Begitu ketemu terminal Ledeng belok kiri. Tinggal aktifkan Google Maps anda untuk mencapai kawasan ini.

Peta Jalan Menuju Trizara Resorts

Peta Jalan Menuju Trizara Resorts

Alternatif kedua, dari Jakarta keluar tol Padalarang ambil ke arah Lembang. Jalur ini lebih ‘aduhai’, pemandangannya sadis. Bukit naik turun, view khas perbukitan Bandung nan cantik jadi pengalaman pertama yang bakal menyambut pengunjung sebelum tiba di lokasi resort. Saya merasa seperti ‘dibuang’ dari keruwetan ibukota. Pemandangan dan kondisi jalan yang naik turun benar-benar memberikan sensasi tersendiri. Viewnya amat sangat sayang jika tak dinikmati sepanjang jalur ini.

Sebagai gambaran di mana lokasi resort ini, jika tahu kawasan wisata Kampung Gajah, nah dari situ tidak terlalu jauh. Ok, paham ya…

Trizara si Taman Surga

Tiba di Trizara Resort, pengunjung bakal disambut sebuah gerbang megah yang sekilas mirip dengan gerbang megah yang ada di kota New Delhi, India. Hmm… India… jangan curiga ya kenapa ada “India” di Trizara.

IMG_20160627_063719

Tiga Kamp Menghadap Tangkuban Perahu (foto dokpri)

Masuk ke dalam, kita disuguhi halaman dengan rumput sintetis beruliskan Trizara resorts berukuran besar. Penggunaan rumput sintetis awalnya membuat saya bertanya-tanya. Namun masuk akal. karena digunakan sebagai penanda dan jadi spot foto paling diminati pengunjung.

Di belakangnya ada lobby resort berkonsep open space. Dan yang dahsyat itu pemandangan pegunungan di kejauhan. Yap, pegunungan Tangkuban Perahu yang punya kaitan erat dengan legenda khas tanah Parahyangan, Sangkuriang.

Saya langsung tak hirau dengan lobbynya. Pandangan mata saya langsung mengarah ke bagian dalam dan latar belakang Trizara. Wow, keren. Dari lobby ada undak-undakan kecil dengan air yang mengalir perlahan ke bagian bawah. Di kejauhan Tangkuban Perahu seperti memanggil-manggil, mengajak para tamu menyapukan pandangannya ke sana.

Camp tipe Nasika di Trizara (foto dokpri)

Camp tipe Nasika di Trizara (foto dokpri)

Subhanallah cakeppnya.

Pemandangan indah di Trizara bisa dinikmati dengan berbagai cara. Pagi, selepas subuh saat mentari baru keluar dari peraduan adalah saat paling oke menikmati keindahan lansekap di sini. Pegunungan Tangkuban Perahu terlihat mistis, diselimuti kabut yang cukup tebal. Di saat seperti ini godaan untuk menarik selimut agaknya patut dihiraukan, sebab di luar resort pemandangan cantik bakal mengalahkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Siapkan kamera dalam berbagai jenis guna menangkap momen sunrise (matahari terbit) yang bisa dilakukan di bagian belakang resort. Bahkan ada beberapa camp yang lokasinya startegis dan kita tak perlu keluar terlalu jauh dari camp untuk menikmati hangatnya mentari pagi.

Teras Camp dilihat dari dalam (foto dokpri)

Teras Camp dilihat dari dalam (foto dokpri)

 

Sore hari, lokasi resort Trizara memberikan sensasi berbeda dengan turunnya kabut tipis sekitar pukul 16.00 WIB. Hampir semua lokasi resort tertutup kabut tipis yang durasinya hanya terjadi beberapa menit.

Dan saat malam tiba, ada sensasi lain lagi yang bisa kita rasakan. Sambil berjajar di lokasi api unggun, pengunjung bisa menikmati keindahan Bandung di malam hari dari ketinggian. Kerlip lampu kota bak kunang-kunang di kejauhan tersaji begitu indahnya.

Trizara Resorts

Pemotretan ala-ala Bollywood (foto dokpri)

Aktivitas Luar Ruang

Trizara resorts ini memiliki luas lahan sekitar 3 hektar. Resor ini berlokasi di sebuah bukit yang konturnya tetap dipertahankan seperti aslinya. Sehingga camp (tenda-tenda) yang digunakan untuk bermalam terletak di perbukitan dengan letak camp yang berbeda ketinggiannya. Kontur tanah yang berbeda menimbulkan kesan berbeda di tiap camp. Ada camp yang berlokasi di bagian atas dengan view taman, ada pula yang mendapatkan view cantik langsung ke arah pegunungan Tangkuban Perahu.

Trizara Resorts

Papan Petunjuk Arah @Trizara (foto dokpri)

Ada 47 camp dengan pembeda luas kamar dan kapasitas jumlah tamu. Masing-masing jenis camp dinamai dengan nama unik dari bahasa sansekerta yakni Netra, Nasika, Svada dan Zana. Camp Netra diperuntukkan bagi tamu yang datang berdua. Camp jenis ini dilengkapi satu bed berukuran queen size, linen berkualitas nomer satu, kotak penyimpanan barang berharga dan kamar mandi nan mewah.

Camp Nasika dan Svada cocok bagi tamu yang menginap bersama keluarga. Kamp jenis ini menyediakan 1 ranjang king size untuk 3 orang serta satu ranjang queen size.

Sementara Zana yang letaknya di bagian terbawah resort ini, dikonsep untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang ingin merasakan kemping dalam suasana intim dengan pasangan. Konon Zana memang dipersembahkan khusus bagi mereka yang ingin honeymoon.

Mencari Kehangatan di Api Unggun (foto IG @harrismaul)

Mencari Kehangatan di Api Unggun (foto IG @harrismaul)

Seperti halnya kegiatan kemping pramuka semasa kecil, nge-glamping di Trizara juga bisa dilakukan sejumlah aktivitas luar ruang khas perkemahan. Pagi hari, kalian bisa yoga berjamaah di halaman depan. Atau main futsal bareng komunitasmu. Buat yang tak ingin menginap, di sini bisa piknik juga lho. Cukup bayar IDR 100K kamu bisa menggelar travel mat di sekitar lokasi, foto-foto dan menikmati segarnya udara di Trizara.

Dan bila malam tiba, apalagi kalau bukan ngariung di spot api unggun. Tak perlu cari kayu bakar di tengah hutan, cukup duduk manis melingkar, petugas akan menyiapkan semua keperluan api unggun.  Mau barbeque-an atau sekedar bakar-bakar marshmallow bisa kok. Jangan lupa bawa gitar, karena api unggun tanpa genjrang-genjreng gitaran kok kurang assoy ya…

Trizara Resorts

Jl. Pasirwangi Wetan Lembang, Bandung

Phone +62 22 8278 0085

FB : Trizara resorts

IG : @trizararesorts

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

3,578 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Ruang Tunggu Lapang dan Mewah (foto dokpri)

Ruang Tunggu Lapang dan Mewah (foto dokpri)

Sabtu (28/5) saya dan beberapa teman dari berbagai komunitas fotografi dan blogger diajak hunting ke terminal 3 ultimate bandara Soekarno Hatta oleh Angkasa Pura 2. Kesempatan emas menjadi blogger pertama yang tahu seluk beluk bandara baru yang ‘konon’ bakal jadi paling cakepp di negeri ini.

Sejak dari rumah saya memiliki ekspektasi cukup tinggi terhadap pembangunan terminal ini. Paling tidak sudah 80 persen kelar, karena konon direncanakan bakal soft opening 15 Juni 2016 ini. Apalagi kali ini kami diajak melihat progress pembangunannya, pastilah sudah kelihatan ‘jadi’.

Sisi Lain Ruang Tunggu (foto dokpri)

Sisi Lain Ruang Tunggu (foto dokpri)

Rupanya di terminal 3 Ultimate ini masih berlangsung banyak pengerjaan di sana-sini. Saya melihat banyak pekerja hilir mudik, menylesaikan bagian pekerjaannya masing-masing. Ada yang berkutat menyelesaikan beberapa bagian di check in counter, ada pula yang memasang dinding pembatas di lantai dua. Kabel-kabel masih bersliweran di sana sini. Keriuhan terasa di lantai dasar. Saya melihat masih ada alat berat yang bekerja di bagian depan lantai dasar.

Yang sudah ‘kelihatan’ jadi adalah ruang tunggu dan check in counter di lantai dua. Ruang tunggu sedang dipercantik di sana sini. Yang membedakan dengan ruang tunggu di terminal 1, 2 maupun 3 adalah dalam luasnya. Raung tunggu di terminal Ultimate lebih lega, dilengkapi sofa berwarna-warni.

Sepertinya pihak Angkasa Pura 2 sengaja membuat ruang tunggu yang nyaman, cozy agar membuat calon penumpang betah berlama-lama sebelum terbang dengan pesawat.

 

Dilarang Melintas (foto dokpri)

Dilarang Melintas (foto dokpri)

Sementara itu kesibukan tak kalah serunya terjadi di area check in. Sejumlah pekerja masih terus melakukan pemasangan panel-panel di counter check in. Pemasangan sign board Garuda Indonesia di masing-masing counter sudah hampir selesai dilakukan. Untuk pembukaan perdana terminal  3 ultimate memang baru direncanakan hanya melibatkan maskapai Garuda Indonesia. Garuda akan melayani penerbangan domestik maupun internasional dari terminal ini.

Pekerja Ngebut Jelang Soft Opening (foto dokpri)

Pekerja Ngebut Jelang Soft Opening (foto dokpri)

Terminal 3 Ultimate ini nantinya akan menyatu dengan terminal 3 yang selama ini ada. Jika nanti terminal 3 ultimate resmi beroperasi, maka terminal 3 akan direnovasi dan disesuaikan dengan bentuk bangunan dan desain yang digunakan terminal 3 Ultimate. Dan jika proyek pembangunan dan perluasan terminal 3 ultimate bandara ini selesai hanya ada sebutan terminal 3 tanpa embel-embel ultimate lagi.

Ruang Check in nan Mewah (foto dokpri)

Ruang Check in nan Mewah (foto dokpri)

Terminal 3 Ultimate ini akan menjadi terminal terbesar yang ada di Bandara Soetta. Terminal ini memiliki panjang 2,4 kilometer dengan luas 43.000 m2. Dengan luas lebih dari 2 kali terminal 1 dan 2, pihak Angkasa Pura manargetkan terminal ini bisa melayani 25 juta orang pengguna dalam setahun.

Ruang Tunggu Lega dan Nyaman (foto dokpri)

Ruang Tunggu Lega dan Nyaman (foto dokpri)

Satu yang bakal membedakan keberadaan terminal 3 Ultimate dengan terminal lainnya di bandara Soetta adalah adanya akses transportasi yang terintegrasi dengan sejumlah moda. Nantinya bakal ada akses transportasi kereta api langsung dari Jakarta ke bandara. Jelas, selain memudahkan bagi para calon penumpang, keberadaan kereta api bandara bakal sedikit mengurai kemacetan yang biasa terjadi di jalan tol akses menuju bandara.

 

Jalur ke Garbarata (foto dokpri)

Jalur ke Garbarata (foto dokpri)

Pembukaan perdana (soft opening) yang bakal dilakukan 15 Juni mendatang adalah uji coba yang bakal melibatkan 1000 orang dalam simulasi penerbangan nyata dari terminal 3 Ultimate. Pihak Angkasa Pura 2 menargetkan bakal menggelar uji coba ini selama 15 hari.

Terminal 3 Ultimate hanya akan melayani penerbangan internasional. Namun khusus Garuda Indonesia bakal melayani penerbangan domestik maupun internasional.

Selamat Datang (foto dokpri)

Selamat Datang (foto dokpri)

 

5,097 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Suatu pagi di jalan Sudirman, kota Pangkalpinang. Sebuah kedai kopi di sudut jalan menjadi pemberhentian saya dan dua kawan saya. Kami memang sengaja mengeksplor sebagian sudut ibukota provinsi Bangka Belitung setelah dua kali menyambangi kota ini.

Pagi itu, suasana kedai kopi Akhew belum terlalu ramai. Hanya ada 4 lelaki separuh baya sedang bertukar cerita sembari menyeruput secangkir kopi.

Lelaki di Kedai Kopi Akhew (foto dokpri)

Lelaki di Kedai Kopi (foto dokpri)

Kesederhanaan sebuah kisah masa lampau tercermin dari keberadaan kedai ini. Kedai ini hanya menyajikan sedikit tawaran menu, kopi, telur setengah matang dan beberapa macam kue serta gorengan. Akhew tak tergoda memberi suguhan roti bakar atau seduhan mie instan seperti banyak kedai di ibukota sana. Akhew masih mempertahankan kesederhanaan tampilannya.

Sederhana, Penampakan Kedai Akhew (foto dokpri)

Sederhana Penampakan Kedai (foto dokpri)

Bisa jadi apa yang ada di Akhew adalah upayanya merawat masa lalu dalam hirarki kekinian. Tak perlu memberinya furnitur mewah atau ruang ber-AC. Karena dengan kesederhanaan itu pengunjung malah leluasa melepas kangen atau bertukar kabar dengan sejawat atau pejabat kota dan provinsi tanpa batas.

Perempuan di Kedai Akhew (foto dokpri)

The Real Open Kitchen (foto dokpri)

Jika di cafe modern dapur terbuka atau open kitchen menjadi sebuah komodifikasi yang dikaitkan dengan gaya hidup modern, maka di Akhew dapur yang mereka miliki benar-benar terbuka alias tak bertembok. Tak perlu mengaitkannya dengan gaya hidup, sebab bisa jadi pilihan ‘membuka’ dapur karena memang tak ada pilihan lain agar sirkulasi udara di dalam kedai lebih leluasa.

Tumbuh Bersama Kota

Bagi warga kota Pangkalpinang, nama kedai kopi Akhew tak bisa dipisahkan dengan degup perkembangan kota. Kedai yang sudah buka sejak tahun 1970 ini menjadi saksi pertumbuhan Pangkalpinang yang dihuni mayoritas warga etnis Tionghoa dan Melayu ini.

Seduhan Kopi ala Kedai Akhew (foto dokpri)

Seduhan Kopi ala Kedai Akhew (foto dokpri)

Kedai ini menjadi saksi perubahan geliat masyarakat Pangkalpinang. Dari kota kecil di sebuah pulau, menjadi sebuah ibukota provinsi.

Cemilan..cepuluh (foto: dokpri)

Cemilan..cepuluh (foto: dokpri)

Kendati kota makin bersolek, namun Akhew masih tetap bersahaja. Masih menampakkan wajahnya yang sederhana. Kursi plastik, meja dan bangku kayu masih jadi penanda orisinalitas kedai ini. Pun begitu pula dengan rasa kopinya yang khas.

Berdua (foto dokpri)

Berdua (foto dokpri)

Adalah pak Muis, lelaki 67 tahun yang pagi itu menjadi teman baru kami. Tampaknya ia sengaja memilih duduk di sisi luar kedai karena ingin bertukar cakap dengan kami. Baru saja perkenalan terjadi, kami sudah terlibat perbincangan akrab dengan pak Muis. Ia berkisah mengenai banyak hal, mulai soal kota, keluarga hingga stroke yang pernah membuatnya tak bisa berjalan. Tak berjarak. Kami bak kawan lama yang haus akan kabar masing-masing.

Pak Muis, Kawan Berbincang (foto dokpri)

Pak Muis, Kawan Berbincang (foto dokpri)

Pak Muis mungkin tak bakal tercatat dalam sejarah kota Pangkalpinang. Namun dari sepenggal ingatan lelaki tua ini terungkap banyak sisi mengenai kota ini, mengenai pejabat kota maupun provinsi yang menjadi teman-temannya.

Menyenangkan bertukar kisah dengan pak Muis. Banyak kearifan hidup yang kami serap dari lelaki sederhana ini. Dan semuanya saya dapat di kedai Akhew yang juga sederhana.

 

4,062 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini