Category Archives: Sosial

Meneguhkan Sikap #AntiMiras

Ini adalah kisah yang saya alami langsung di masa kecil. Saat itu usia saya kalau tak salah ingat sekitar 11 atau 12 tahun. Saya tinggal di kawasan padat penduduk di Kebayoran Lama Jakarta Selatan, di mana banyak persoalan sosial yang tersaji langsung di hadapan saya dan teman-teman kecil saya secara langsung.

Dan minuman keras adalah salah satu persoalan yang kami hadapi saat itu. Sebagai anak-anak tidak banyak yang bisa kami lakukan. Mekanisme menolak kami masih dalam level yang sangat rendah. Begitu pula yang terjadi pada Teman-teman seusia saya saat itu pun tak punya daya tolak terhadap tawaran miras. Alasannya demi dianggap sudah gede, biar keren kayak artis hollywood mereka pun bertualang dengan minuman keras di usia yang sangat dini. Seingat saya, teman-teman mulai mengkonsumsi dari kelas anggur cap orang tua. Saya sendiri tak tahu pasti darimana teman-teman mendapat minuman yang mestinya untuk orang dewasa itu.

Saya akhirnya memilih menyingkir, tidak mau mencoba-coba, apalagi menyentuhnya. Bagi saya batasan yang dibuat agama saya dan diajarkan kedua ortu dan guru ngaji sudah begitu tegas dan tak bisa dilanggar. Saya akui pemahaman saya mengenai bahaya miras memang masih abstrak. Yang saya tahu miras itu dilarang agama, titik.

Memilih berkata “tidak” pada komunitas teman dekat tentu beresiko. Saya pelan-pelan menepi, keluar dari pergaulan teman-teman kecil saya. Berbagai ejekan bernada melecehkan kerap dilekatkan pada diri saya. Saya dibilang banci lah, gak macho lah. Pokoknya banyak atribut disematkan pada diri saya karena enggan bermiras ria.

Beruntung saya punya komunitas teman bermain lain yang tak kalah asyiknya saat itu yakni teman sekolah. Dengan teman-teman sekolah, saya kemudian menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan, mulai dari kepramukaan, Osis maupun baris-berbaris. Hasilnya, saya beberapa kali ikut berkontribusi mengharumkan nama sekolah dalam berbagai event kejuaraan antar sekolah di Jakarta.

Saat itu saya punya tekad kuat bakal membuktikan pada kawan-kawan tak perlu ikut-ikutan menenggak miras atau minol (minuman beralkohol) untuk bisa diakui dalam peer group kita. Saya memilih jalur prestasi untuk mendapat pengakuan itu.

Pilihan saya itu ternyata tak salah, karena teman-teman masa kecil saya kemudian satu persatu kacau kehidupannya. Pengaruh alkohol membuat minat belajar tak ada, mereka kemudian putus sekolah di usia muda. Jalan hidup mereka kemudian seperti bisa ditebak, banyak yang jadi pengangguran, lontang-lantung tak ada aktivitas berarti.

Kriminalitas akhirnya jadi sahabat mereka sehari-hari. Jika tak punya uang untuk ‘minum’ jalan pintasnya adalah mencuri. Kriminalitas jadi lekat pada mereka yang kerap mengkonsumsi miras.

Belakangan saya kurang tahu pasti bagaimana masa tua kawan-kawan saya tadi, sebab kami sekeluarga kemudian pindah rumah dari kampung tersebut. Bapak saya menilai lingkungan kampung itu sudah tidak sehat lagi untuk tumbuh kembang kami sekeluarga. Alhamdulillah keputusan itu saya nilai tepat di kemudian hari.

Kisah lain lagi juga pernah saya alami saat kuliah di kota Bandung. Saya sempat kost dalam satu rumah dengan seorang kawan yang sebelumnya sempat lama tinggal di Papua. Dia mengaku akrab dengan miras sejak tinggal di Papua. Bahkan menurut pengakuannya dia mengakrabi miras sejak Smp. Karena lingkungan bergaulnya peminum, iapun terbentuk menjadi seorang peminum pula. Meski seorang muslim, ia tak bisa lepas dari miras karena sudah menjadi bàgian dari gaya hidupnya.

Di Bandung ia memperlihatkan betapa alkohol telah menjadi berhala. Ia tak bisa konsentrasi belajar jika tak menenggak miras. Begitu pula saat ujian. Ia kerap membawa sebotol miras dalam tas dan menenggaknya di kantin sebelum ujian dimulai. Menurutnya, itu bisa menambah kepercayaan diri. Sebuah alasan yang menurut saya aneh! Logika berfikir yang sesat.

Karena sudah berteman dengan alkohol, teman saya pernah suatu kali ‘terpaksa’ mengutil sebotol miras dari sebuah swalayan. Ini ia lakukan lantaran tak punya uang, sementara keinginan ‘minumnya’ sudah diubun-ubun.

Apa yang saya utarakan diatas menunjukkan bahwa minuman keras jika dikonsumsi berkala akan membangun kesadaran di benak penggunanya secara terus menerus sehingga dapat menyebabkan kecanduan. Ia tak akan bisa melepaskan diri dari jerat miras karena alkohol mempengaruhi sirkulasi berfikir otak manusia.

Kalau mekanisme menolak cukup kuat seperti yang pernah saya lakukan, mungkin tidak akan banyak orang yang mabuk di luar sana. Tapi coba hitung berapa banyak abege yang mampu dan mau menolak dipinggirkan dari peer groupnya? Perasaan tersingkir dari kelompok adalah masalah besar bagi remaja. Dalam kasus yang saya alami, beruntung saya bisa mencari pelampiasan dan teman baru di sekolah untuk mengobati rasa tersisih dari pergaulan di lingkungan rumah. Tapi berapa banyak yang bisa seperti itu?

Karenanya, saya amat tidak setuju jika minuman keras dibiarkan secara terbuka peredarannya seperti yang kita lihat sekarang di ibukota. Begitu mudahnya anak-anak tanggung membeli miras tanpa ada ketentuan apapun soal batasan usia. Bagi produsen atau pihak toko yang hanya peduli soal keuntungan bisnis, mereka pasti acuh soal ini. Mungkin mereka berpendapat yang penting mereka bisa bayar, selesai!

Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Sikap ini jelas menunjukkan ada yang salah dari mindset masyarakat kita. Sama dengan persoalan yang kerap kita lihat di bioskop. Meski memutar film untuk dewasa namun pihak bioskop tak menyeleksi dengan ketat anak di bawah umur yang menonton film dewasa.

Contoh yang saya paparkan di atas juga sekaligus membuktikan masih rendahnya kesadaran masyarakat kita terhadap bahaya konsumsi miras. Masyarakat belum mempunyai action plan yang jelas terkait persoalan miras. Beda misalnya dengan persoalan narkoba yang jadi musuh bersama sehingga pemerintah pun perlu membuat badan tersendiri anti narkotiba (BNN).

Itu mengapa tak banyak warga masyarakat yang peduli dengan menjamurnya tempat-tempat nongkrong anak muda yang menjajakan miras secara bebas. Padahal justru dari tempat tersebut biasanya anak muda berkenalan dengan miras.

Oya, ada yang menuding gerakan anti miras sebagai persoalan yang khas bagi warga muslim saja. Padahal tidak sepenuhnya benar. Memang dalam Islam miras atau minuman beralkohol dikategorikan sebagai minuman yang dilarang (haram). Namun pengharaman jenis minuman ini karena ada dasarnya yang cukup kuat, yakni miras bisa memabukkan.

Dan persoalan mabuk tidak hanya dilihat dari kacamata satu agama Islam saja, namun semua agama dan keyakinan pastinya kontra dengan efek yang ditimbulkan miras. Efek merugikan orang lain, bahkan bisa menyebabkan kematian diri sendiri dan orang lain.

Ada beberapa fakta terkait miras yang mesti jadi perhatian kita bersama:
1. Miras menjadi salah satu penyebab terjadinya kasus kecelakaan di jalan raya? Biasanya kecelakaan terjadi akibat pengemudi mabuk usai minum minuman keras? Ingat kasus Afriani Susanti, yang menabrak 12 pejalan kaki dengan 9 diantaranya tewas di kawasan Gambir Jakarta Pusat. Kasus ini diduga terjadi setelah Afriani tak bisa mengendalikan mobilnya akibat pengaruh alkohol.

Kasus lain menimpa Novi Amelia, yang menabrak 7 orang sekaligus di kawasan Jakarta kota. Ini juga akibat menyetir dalam kondisi mabuk. Bahkan Novi saat menabrak para korbannya hanya mengenakan pakaian dalam saja tanpa risih sedikitpun. Pengaruh alkohol ternyata begitu menguasai Novi sehingga menghilangkan batas kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya.

3. Selain mabuk, miras menurut berbagai sumber juga menjadi penyebab munculnya penyakit di dalam tubuh manusia. Konsumsi alkohol yang banyak dapat menyebabkan korban mengalami sakit kepala, mual, muntah serta nyeri pada bagian tubuh tertentu.

4. Minuman beralkohol juga dapat menyebabkan berat badan penggunanya naik, karena pada umumnya minuman beralkohol memiliki kadar kalori dan gula yang tinggi. Mitos bahwa menggunakan miras bisa membuat badan langsing dengan sendirinya gugur. Tak benar tuh diet dengan miras!

5. Alkohol juga merupakan pemicu tekanan darah. Zat-zat yang terkandung di dalam alkohol jika dikonsumsi berlebihan bisa memicu naiknya tekanan darah penggunanya.

6. Minum miras juga dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun. Artinya, dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, maka tubuh anda akan mudah terserang penyakit.

7. Semakin sering dan banyak jumlah alkohol yang dikonsumsi, maka semakin besar pula resiko terjangkit kanker, penyakit jantung, gangguan pernafasan dan gangguan pada organ hati.

Masyarakat Abai

Selain bahaya bagi kesehatan, hal yang perlu diperketat adalah peredarannya. Peredaran miras (khususnya di kota besar) sudah sangat mengkhawatirkan. Jika tak ditata dan diperketat, pengguna miras akan makin muda usianya. Sekarang saja anak-anak muda makin mudah memeperoleh miras di tempat-tempat nongkrong ibukota yang letaknya dekat dengan perumahan. Tempat yang semula dijadikan meeting point anak muda itu kini identik dengan kemudahan akses terhadap miras.

Rak-rak di toko tersebut bahkan tak memberi batasan khusus antara minuman ringan dengan minuman keras. Semua terpajang (terdisplay) sejajar, nyaris tak ada beda. Bahkan beberapa merk miras saya perhatikan memiliki desain botol yang menarik dan membuat konsumen dibawah umur mudah menjangkaunya.

Sekedar usulan bagi pebisnis ritel, pisahkan konter minuman ringan dan minuman keras. Lebih baik konter miras berada di area kasir, sehingga jika ada anak dibawah umur yang membelinya bisa dicegah atau ditolak.

Pihak toko juga mesti membekali pengetahuan petugas penjaga toko terhadap bahaya miras, khususnya bahaya bagi anak di bawah umur. Ini perlu dilakukan agar mereka berani berargumen dengan pembeli anak-anak yang memaksa membeli miras. Ketegasan sikap ini menurut saya jauh lebih penting dari sekedar keuntungan bisnis.

Sebagai pebisnis memang hak mereka mengeruk keuntungan dari konsumen. Tapi apakah mereka tega jika salah satu konsumen miras itu adalah anak mereka sendiri?

Karena itu menolak miras diperdagangkan secara bebas bagi anak dibawah umur itu adalah sikap. Dan sikap ini akan menunjukkan sejauh mana kita peduli pada nasib bangsa ini. Tentunya kita tak ingin kehilangan satu generasi anak bangsa hanya lantaran mereka dijajah miras.

Butuh Ketegasan Pemerintah

Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah selaku pemangku kebijakan dalam hal ini? Berikut yang menurut saya penting dilakukan pemerintah:
1. Batasi peredaran miras.
Membatasi peredaran miras dengan hanya membolehkan penjualannya di kawasan tertentu saja, misalnya hanya bisa dijumpai di tempat hiburan malam, cafe, atau sejenisnya. Kalaupun peritel harus menjual miras, mesti ada syarat ketat, misalnya hanya boleh peritel kelas tertentu yang letaknya tudak berdekatan dengan pemukiman ataupun tempat nongkrong anak muda. Kalaupun di tempat retail umum, miras diletakkan di sebuah lemari kaca khusus yang hanya bisa diakses oleh pembeli dewasa saja. Meletakkan miras di rak sembarang akan mempermudah kalangan yang tak seharusnya menjangkaunya.

2. Perketat Syarat Pemilikan Miras
Selain membatasi peredaran, pembelian miras pun mesti dibatasi dengan syarat umur. Misalnya hanya mereka yang berusia dewasa, diatas 18 tahun keatas. Jika penjual meragukan usia pembeli, wajib bagi mereka meminta pembeli menunjukkan tanda pengenal resmi untuk melihat usia pembeli. Penjual tak perlu takut kehilangan rejeki. Toh pembeli anak/remaja sesungguhnya bukanlah kalangan yang potensial sebagai konsumen.

3. Naikkan Pajak Impor Miras
Untuk membatasi peredaran miras juga bisa dilakukan dengan menaikkan pajak impor miras sehingga nantinya berakibat tingginya harga sebotol miras. Tingginya harga miras bisa mencegah atau menyeleksi secara ketat penggunanya. Sehingga orang akan berfikir sekian kali untuk menenggak miras karena harganya yang sangat mahal.

4. Bentuk Lembaga Anti Miras
Sebuah lembaga independen yang mengawasi peredaran serta penyalahgunaan miras mendesak dibentuk mengingat peredaran miras makin merajalela. Efeknya pun sudah menyentuh ke banyak kalangan, bahkan mereka yang berusia muda. Lembaga semacam BNN di bidang pengawasan narkoba itu, nantinya diharapkan bisa efektif mengkampanyekan kehidupan yang bersih anti miras. Yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana lembaga semacam ini nantinya efektif dan dihormati pihak-pihak terkait.

Lembaga ini nantinya juga harus secara rutin masuk ke kantong-kantong anak muda mengadvokasi bahaya konsumsi miras bagi kesehatan. Tentunya hal ini dilakukan dengan cara-cara anak muda yang menarik kegiatannya dalam balutan dinamika khas anak muda.

Advokasi juga tidak melulu ditujukan bagi anak muda, namun juga masyarakat secara luas untuk menyatukan pandangan bahwa miras itu berbahaya, bahwa peredaran miras itu perlu diatur, diperketat dan dijauhkan dari usia yang belum sepatutnya.

5. Publikasi Anti Miras
Ini juga yang selama ini masih kurang. Publikasi anti miras perlu lebih digalakkan, agar gerakan ini makin masif, makin menular ke semua kalangan. Gunakan semua media yang ada, entah itu media mainstream maupun media sosial. Kampanye komunikasi yang cerdas melalui media lintas platform bukan saja lebih mudah dan murah, namun hasilnya pun bisa dituai lebih cepat.

Konsep kampanye anti mirasnya bukan sekedar menggurui, melarang atau menolak. Namun berikan contoh-contoh nyata betapa ruginya menggunakan miras, bahayanya mengkonsumsi miras bagi kesehatan maupun bagi orang lain di sekitar kita. Tujuannya bukan menakut-nakuti namun lebih kepada penyadaran.

6. Ajak tokoh Publik
Melibatkan tokoh publik dalam gerakan ini juga dimungkinkan. Sebagai kalangan yang dikenal publik secara luas, diharapkan tujuan sosialisasi gerakan ini akan makin mudah sampai ke publik. Tentunya tokoh publik yang diajak dalam kampanye ini adalah mereka yang dikenal tak menggunakan miras dan concern pada pengembangan kemanusiaan.

Tidak mudah memang menjalankan sebuah amanah sosial semacam gerakan anti miras. Namun tak ada perjuangan yang tak membutuhkan keringat, dan tak ada keberhasilan tanpa sebuah perjuangan. Saya yakin dengan bahu-membahu, kita bisa menjadikan anti miras bukan lagi sebagai wacana namun gerakan nyata yang memiliki action plan yang jelas.

Bermimpi untuk Indonesia yang lebih baik bisa melalui pembenahan generasi anti miras. Mari kita teguhkan sikap anti miras dengan gerakan nyata yang damai. Dan ingat, jangan pernah lakukan gerakan sosial semacam ini dengan anarkis. Rangkul sebanyak mungkin kalangan demi terciptanya sebuah masyarakat anti miras.

Sudahkah anda #AntiMiras ?

Rasyid dan Afriyani

Kasus kecelakaan dengan pengemudi mabuk atau mengantuk bukan cerita baru. Dan di Jakarta sejumlah kejadian kecelakaan yang menyebabkan nyawa manusia melayang pun hampir tiap hari terjadi. Namun ada 2 kejadian dalam kurun waktu dan tempat berbeda yang menarik perhatian publik. Pertama, kecelakaan di dekat tugu tani, Jakarta Pusat yang lebih dikenal dengan kasus Xenia maut menjadi peristiwa kecelakaan dengan korban tewas terbanyak yang sulit dilupakan. 9 nyawa melayang akibat kesembronoan Afriyani Susanti, perempuan pengemudi yang konon mabuk saat berkendara.

Peristiwa kedua yang yang saat ini ramai diperbincangkan adalah tabrakan BMW maut dengan Luxio di awal tahun 2013 yang menewaskan 2 orang. Kasus ini jadi kontroversi karena melibatkan anak petinggi negeri ini, putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebagai pelaku penabrakan. Kasus kedua ini kabarnya menurut hasil penyeldidikan sementara polisi akibat pelaku mengantuk.

Kasus ini memang belum lagi usai. Saya mencatat sejumlah kejanggalan. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 6 pagi ini nyaris “menguap” dari media. Pelaku menghilang tak tentu rimbanya. Barang bukti tak sempat terlacak, ‘disimpan’ entah dimana. Polisi pun tiba-tiba ‘sakit gigi’, tak mau berkomentar sedikitpun.

Kasus ini sedikit ‘benderang’ manakala ada konferensi pers dari Hatta Rajasa dan keluarga. Hatta yang juga besan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui anak bungsunya, Rasyid Amrullah Rajasa, terlibat kecelakaan maut yang menewaskan dua orang. Publik dibuat lega ada pernyataan ini.

Setelah itu Hatta yang akan maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2014, dengan timnya melayat dan ikut menshalatkan salah satu korban tewas. Lewat media, publik dibuat trenyuh dengan langkah politisi yang tak biasa ini. Berani muncul ke publik, meminta maaf, menanggung semua biaya pengobatan, penguburan dan biaya sekolah anak korban.

Setelah pertemuan itu keluarga korban menyatakan tak akan menuntut balik atas kematian anggota keluarganya. Jalan damai ternyata ditempuh Hatta demi si bungsu.

Saya menilai langkah-langkah yang diambil Hatta Rajasa sebagai komunikasi politik yang cukup baik. Ia memposisikan diri sebagai pribadi yang bertanggung jawab, tidak lari dari masalah. Berani menanggung resiko atas perbuatan yang dilakukan anaknya.

Tapi tunggu dulu… Kemana Rasyid, yang sudah ditetapkan Polda Metro Jaya sebagai tersangka kini berada? Rupanya Rasyid sengaja ‘disembunyikan’ karena trauma dan sakit maag yang akut. Rasyid dirawat di RS Pertamaina untuk menyembuhkan trauma dan maag akutnya.

Poin terakhir inilah yang kemudian menimbulkan tanda tanya. Mengapa Rasyid harus ‘disembunyikan’? Bukankah ia sudah menyebabkan hilangnya nyawa 2 orang warga tak berdosa? Apakah alasan sakit pelaku penabrakan itu ada dalam undang-undang? Saya kok tak yakin.

Apa bedanya antara Rasyid Rajasa dan Afriyani Susanti ? Apa karena Afriyani adalah orang ‘biasa’ sehingga langsung ditahan? Apakah karena menyandang nama belakang seorang ‘Rajasa’ sehingga Rasyid kebal dari hukuman? Ada diskriminasi perlakuan yang terjadi dalam kasus Rasyid.

Hari ini (Kamis, 3 januari 2013) pihak RS Pusat Pertamina menggelar konpers mengenai kondisi kesehatan Rasyid. Publik memang berhak tahu kondisi Rasyid, tapi saya curiga pemaparan kondisi kesehatan ini hanya akan digunakan sebagai pembenaran bahwa Rasyid sakit, rapuh, tak bisa menjalani proses hukum.

Nyali aparat penegak hukum kita sekali lagi diuji dalam kasus ini. Apakah mereka akan terpana dengan penjelasan Hatta Rajasa bahwa kasus ini selesai karena keluarga korban tidak menuntut secara hukum? Ataukah bakal menegakkan keadilan setegak-tegaknya?

Kasus ini akan jadi batu ujian bagi polisi dan bakal jadi preseden buruk jika alasan sakit maag akut yang membuat tersangka tidak ditahan dibiarkan begitu saja. Jika ada kejadian serupa jangan kaget bakal ada sejuta alasan sakit demi menghindari hukum. Kita sudah lelah diberi tontonan kebohongan demi kebohongan dari aparat maupun politisi.

Buat pak Hatta Rajasa, saya setuju dengan anda bahwa kejadian itu adalah musibah. Keluarga korban pun sama pahamnya dengan saya warga biasa. Tapi alasan mengantuk atau mabuk saat berkendara sehingga menyebabkan hilangnya nyawa orang lain tetap tidak dibenarkan. Ini harus tetap diproses di jalur hukum.

Yang pasti, publik akan mencatat dan mengawal kasus ini. Kita tak akan pernah lupa dan berusaha untuk tidak melupakan semua proses yang berlangsung. Apakah Hatta Rajasa akan menjadi politisi yang taat dan hormat pada hukum? Ataukah sama dan sebangun dengan pejabat lainnya yang kerap menyepelekan hukum? Waktu yang akan membuktikannya.

Korban Berjatuhan, Stop Tawuran!!

Kabar itu datang dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dua mahasiswa Fakultas Tehnik Universitas Negeri Makassar kemarin (kamis petang) tewas akibat tawuran. Parahnya, keduanya tewas dalam tawuran lanjutan di Rumah Sakit Haji! Saat itu keduanya bermaksud menjenguk rekannya yang terluka akibat tawuran yang berlangsung di kampus.

Miris dan menyedihkan tak cukup untuk menggambarkan peristiwa tragis tersebut. Dua orang “mahasiswa” yang kerap disebut sebagai kalangan intelek meregang nyawa dengan cara yang tak terhormat, yakni karena tawuran. Apapun alasan dan pemicu peristiwa tersebut tindakan para mahasiswa yang melakukan tawuran tersebut benar-benar memalukan. Apalagi konon kabarnya pemicu tawuran cuma hal sepele, kesal karena mahasiswa Fakultas Tehnik dilempari batu.

Yang membuat saya tak habis pikir mengapa tawuran yang semula dilakukan di dalam kampus harus berlanjut di RS. Insiden berdarah di kawasan rumah sakit ini mengingatkan kasus serupa yang terjadi di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Februari silam yang menyebabkan 2 orang tewas dan belasan luka-luka. Bedanya, peristiwa di RSPAD terjadi antar kelompok preman.

Lalu apa bedanya preman dengan mahasiswa jika perilaku mereka sama dan sebangun? Apa coba yang dibela para mahasiswa sehingga nyawa taruhannya? Bagaimana mahasiswa bisa diandalkan menjadi pemimpin masa depan, jika sejak di bangku kuliah hanya terlibat dalam isu recehan yang bernama tawuran?

Saya kira ingatan kolektif kita masih cukup kuat dengan peristiwa tawuran antara siswa SMAN 70 dengan SMAN 6 Jakarta beberapa pekan lalu yang menyebabkan seorang siswa SMAN 6 tewas. Bukan hanya dikecam, namun peristiwa ini menyentil kesadaran orang tua dan para pendidik, betapa ada yang salah dengan persoalan pekerti pemuda jaman sekarang. Saldiba istilahnya, salah dikit bacok!

Kasus tawuran antar siswa SMAN 70 dan 6 hingga kini belum juga tuntas. Para pelaku masih dimintai keterangan polisi. Drama kasus tawuran ini sepertinya bakal panjang, tak cukup selesai di tangan polisi secara hukum. Beruntung kedua pihak yang berseteru kemudian menyadari persoalan ini mesti diselesaikan dan dicari akar persoalannya. Dan melalui media kita bisa lihat kedua pihak terus berupaya ‘menjaga’ para siswa dari kemungkinan tawuran susulan.

Saya yang kebetulan alumni SMAN 70 pernah juga merasakan kehilangan seorang teman akibat tawuran. Di penghujung 80-an seorang kawan menjadi korban penusukan siswa sebuah sekolah kejuruan. Kasus ini memang berbeda dengan yang dialami Alawy beberapa pekan ini. Karena kawan saya meregang nyawa 2 tahun kemudian, lantaran karat dari benda tumpul yang pernah bersarang di kepalanya membuat infeksi.

Saat itu berita kematian kawan saya tadi tak sampai mendapat sorotan media cetak maupun tv sehingg kasus ini tak jadi pembicaraan nasional. Tapi apapun itu saya pribadi benci dengan tawuran. Tak ada untungnya. Malah banyak ruginya. Badan luka-luka, masuk rumah sakit, dan bisa berujung di kamar mayat.

Ayo sudahi tawuran. Siapapun kalian tak akan keren kalau tawuran. Masih banyak hal yang bisa dilakukan dengan enerji masa muda. Tak perlu tawuran. Sudahi, jangan menambah daftar korban tewas hanya karena tindakan konyol yang tak perlu.

Bahasa Daerah Terancam Punah Salah Kita Juga

Suatu kali saat pulang kampung di Nganjuk, Jawa Timur saya terperangah dengan siaran radio lokal. Bukan soal isinya yang menurut saya biasa saja, tapi penggunaan bahasanya yang sangat mirip dengan radio lokal di Jakarta, tempat saya tinggal sehari-hari. Sebutan gue, elu, nyokap, bokap, jadi idiom yang disebut terus menerus saat siaran oleh sang penyiar.

Jujur saya kaget. Kalau begini, apa bedanya radio daerah dengan radio di Jakarta? Mulai dari lagu, gaya bahasa penyiar hingga cara berguraunya pun mirip dengan gaya gaul anak Jakarta. Saya yang pulang kampung berniat mendapat sesuatu yang khas daerah jadi tak merasakan keunikan tersebut. Apa yang saya dengar sama persis, bahkan kadang cenderung berlebihan jika dibandingkan dengan gaya siaran radio di Jakarta. Telinga saya jadi menyerap sesuatu yang aneh, mendengar gaya bahasa slang Betawi dengan dialek medok Jawa. Campur aduk lah kedengarannya.

Usut punya usut, ternyata salah satu penyebabnya adalah adanya jaringan radio ibukota yang beroperasi hingga pelosok nusantara. Dari sisi bisnis memang keberadaan jaringan radio (radio network) merupakan sesuatu yang menggiurkan. Mereka meluaskan jangkauan mulai dari ibukota hingga ke pelosok. Ini juga sekaligus ‘mengimpor’ banyak hal yang sedang menjadi tren di ibukota, mulai dari teknologi, modal hingga itu tadi, gaya berbahasa.

Mungkin para penyiar radio daerah merasa bangga bisa bergaya bahasa persis seperti rekan mereka dalam satu jaringan radio. Tapi mereka agaknya lupa, apa yang mereka lakukan sesungguhnya justru ‘membunuh’ keragaman bahasa daerah tempat mereka berada sendiri. Karena para penyiar ini justru bangga dengan bahasa Indonesia berdialek Betawi yang mereka gunakan. Mereka pelan-pelan secara tak langsung tak lagi menggunakan bahasa daerah tempat mereka tinggal.

Dampaknya? Selain makin menjauhkan para penyiar tadi dengan bahasa daerahnya, yang paling parah adalah terpaan siaran radio itu yang membuat masyarakat perlahan meninggalkan bahasa daerahnya sendiri. Ini tak bisa dibiarkan! Harusnya keberadaan radio daerah dipantau sedemikian rupa untuk memelihara keberagaman budaya lokal. Karena keberagaman inilah yang membentuk satu Indonesia. Radio berjaringan tak salah, yang salah jika menyamakan semua gaya bahasanya menjadi hanya satu, gaya bahasa kota, sehingga identitas lokal pun menghilang.

Saya jadi ingat dengan artikel di situs VOA berjudul “Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah” yang berisi kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah di Indonesia lantaran jarang digunakan. Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono dalam tulisan itu memperkirakan di penghujung abad 21, jumlah bahasa daerah akan menyusut, yang semula 746 bahasa daerah, menjadi hanya 75 bahasa daerah saja. Wah! Kalau ini benar, maka kondisinya sudah SOS.

Seperti dilansir VOA, Sugiyono mengatakan, salah satu penyebab makin tidak populernya bahasa daerah adalah karena alasan urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Mereka yang menikah dengan etnis lain dan pindah ke kota, punya kecenderungan bakal meninggalkan bahasa daerahnya dan lebih memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.

Saya sendiri tidak anti perkawinan antar etnis. Justru perkawinan antar etnis menurut saya perlu untuk meningkatkan keberagaman dan pemahaman antar etnis yang di beberapa daerah masih rendah. Namun harusnya perkawinan antar etnis tidak mematikan keberadaan bahasa daerah itu sendiri. Harusnya kedua pihak yang menikah justru menyuburkan pemakaian bahasa daerah pada anak-anak mereka.

Coba bayangkan, alangkah indahnya jika sebuah keluarga yang merupakan hasil perkawinan antar etnis Sunda dan Makasar mengajarkan kedua bahasa daerah pada anak-anaknya. Anak-anak akan punya ketrampilan berbahasa yang lebih kaya. Tidak hanya satu bahasa Indonesia, namun juga bahasa ayah dan ibunya.

Lalu bagaimana agar bahasa daerah tetap lestari dan digunakan di negeri ini? Peran seorang ibu sangat jelas dalam mengajarkan ketrampilan berbahasa. Tak usah mencari contoh jauh-jauh, saya sendiri bisa dan mengerti bahasa Jawa karena ibu saya kerap mengajak bercakap dalam bahasa Jawa sejak kecil. Dan itu hanya dilakukan dalam lingkup rumah saja. Jika bertemu dengan orang dari etnis lain, kita selalu menggunakan bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi.

Setelah besar kemampuan berbahasa Jawa saya tidak lantas hilang meski bapak-ibu saya berurbanisasi dari pelosok Jawa Timur ke ibukota. Dan ini adalah hasil proses panjang yang dilakukan ibu saya di rumah. Cara ini bisa dicontoh siapapun, dengan satu atau dua etnis dalam satu rumah.

Kenapa kita tak mulai dari dari sekarang? Jika bahasa daerah kita yang beragam punah, yang rugi tentu kita sendiri. Bangsa yang besar dari keberagaman suku, budaya dan bahasa ini akan hilang keunikannya jika bahasa daerah menghilang dari bumi Indonesia. Setuju bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan, tapi jangan pernah lupakan akar budaya kita masing-masing. Banggalah dengan bahasa daerah kita masing-masing, karena dengan itu ke-Indonesiaan kita makin tampak.

*gambar diambil dari sini

Dukung Charity for Nurfadilah!

Saya tuntaskan janji saya untuk melakukan updating kasus perkosaan yang menimpa bayi berusia 8 bulan, Nurfadilah (bayi NF) di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sore tadi lewat twitter saya beroleh izin @justsilly untuk ikut menyebarluaskan penggalangan dana bagi bayi NF yang dinamai gerakan #charity4Nurfadilah. @justsilly sangat gembira dan mempersilakan saya menampilkan informasi mengenai gerakan ini beserta orang-orang yang bisa dihubungi.

Selain @justsilly , dalam gerakan ini juga ada @titutismail dan @MyNameisFLa . Soal jati diri mereka, silakan follow di twitter. Khusus nama yang terakhir itu adalah Fla Prischila yang seorang penyanyi (mantan vokalis Tofu) dan penyiar radio terkenal itu. Untuk memberikan dukungan dana bagi bayi NF, Fla menyediakan rekeningnya khusus untuk menampung #charity4Nurfadilah di akun BCA cabang Kemang dengan nomor rekening 286.153.2846 atas nama XOCHITL PRISCILLA.

Menurut rencana besok, Selasa pagi ketiga perempuan ini akan bertandang ke Bantaeng, untuk menjenguk dan melihat langsung kondisi bayi NF. Di sana mereka akan memberikan sumbangan awal, mencatat kondisi terakhir bayi NF dan membuat dokumentasi untuk keperluan malam dana di Jakarta.

Bagaimana sesungguhnya peristiwa penculikan yang berujung perkosaan terhadap bayi berusia 8 bulan ini terjadi? Fla berbagi cerita di blognya. Berikut kutipannya :

“Menurut berita yg kami dengar, bayi ini bernama Nurfadillah (bayi NF), dicuri dirumahnya ketika sedang tidur lewat jendela, krn jendela rumahnya tdk berkaca hanya gorden saja lalu beberapa hari kmudian ditemukan di sebuah perahu nelayan dalam keadaan terikat dan terluka parah, sempat dirujuk ke RS di kota Makasar, sekitar 4 jam perjalan darat dari Bantaeng. Namun dokter kesulitan menjahit lukanya karena infeksi & saat dipulangkan kembali ke keluarganya dalam keadaan berkateter, kemudian dirawat kembali di RS setempat di pesisir ini.”

Lalu mengapa bagaimana kondisi bayi NF itu sendiri? Fla mendapatkan informasi ini dari tim dokter yang menangani kondisi bayi yang malang ini.

“Saat itu mereka menceritakan keadaan terkini bayi NF yg dipasang kateter dan masih terkejang-kejang kesakitan setiap ingin buang air kecil / besar. :( (((((( baru mau makan 2 hari ini dan hanya kerupuk
Moms, dads, teman semua…”

Saya sebagai lelaki yang punya 2 anak perempuan tak bisa membayangkan penderitaan bayi NF. Di usia yang masih sangat belia ia harus menghadapi kekejian perilaku orang dewasa. Sungguh miris dan memprihatinkan menurut saya jika ada yang berkomentar negatif seperti di postingan saya sebelumnya. Tidakkah mereka punya hati? Bagaimana seandainya kasus bayi NF ini menimpa anak, adik atau keluarga mereka sendiri.

Mari rapatkan barisan dan memberi dukungan semampu kita, untuk menunjukkan bahwa masih ada cinta bagi bayi NF. Masih ada saudara-saudara yang menyayanginya.

Bagi pelaku yang tega melakukan tindak asusila terhadap bayi 8 bulan ini, saya ketuk pintu hati anda untuk segera menyerahkan diri pada polisi. Mengakulah dan bertanggung jawablah. Bersembunyi dari kesalahan bukanlah solusi.

Jika ingin tahu apa dan mengapa gerakan #charity4Nurfadilah , tengok blognya @MyNameisFLa di http://bit.ly/kT3Ycd

[Klarifikasi] Bayi Korban Perkosaan Itu Masih Hidup!

Pagi tadi buka blog dapat komen di postingan mengenai meninggalnya bayi korban perkosaan di Bantaeng, Sulsel dari @justsilly. Silly meluruskan berita sebelumnya yang saya tulis mengenai nasib Nurfadilah. Kabar baiknya, ternyata bayi Nurfadilah si korban perkosaan berusia 8 bulan itu masih hidup. Alhamdulillah. Senang mendengar kabar ini langsung dari Silly yang sejak awal concern dengan kasus ini.

Begini yang Silly tulis di komen itu:

Klarifikasi Silly ini penting mengingat ini tentang nasib seorang manusia. Untungnya Silly menemukan link blog ini sehingga kabar itu bisa segera dikoreksi.

Benar kata Silly, ia memang tak pernah bilang bayi itu meninggal di twitter. Informasi meninggalnya bayi Nurfadilah datang justru dari followernya. Silly yang sedih kemudian off dari twitter pada hari itu dan mencari informasi ke sumber-sumber terpercaya. Akhirnya dokter yang merawat Nurfadilah mengkonfirmasi bahwa bayi itu masih hidup.

Inilah jejaring. Ada keterhubungan diantara para pelaku social media. Informasi yang salah bisa diperbaiki dengan segera oleh orang lain dalam waktu yang relatif cepat.

Kabar baik ini juga berarti gerakan dukungan bagi bayi Nurfadilah di twitter dengan hastag #charity4Nurfadilah bakal terus digelindingkan. Menurut rencana, siang ini Silly bakal terbang ke Bantaeng untuk menjenguk bayi Nurfadilah.

Melalui postingan ini saya ajak mereka yang peduli pada nasib anak bangsa untuk memberikan dukungan. Caranya gimana, nanti saya update.

Nurfadilah, Bayi Korban Perkosaan Itu Meninggal

Bayi 8 bulan diperkosa! Hah? Bejat, keparat, sadis. Begitu reaksi saya dan sejumlah kawan di kantor. Kabar perkosaan bagi pekerja media bukanlah berita yang luar biasa. Karena hampir tiap hari kita pasti menemukan sejumlah kasus serupa. Tapi kali ini korbannya seorang bayi, yang tentunya belum mengerti apa-apa.

Berita ini sudah saya dengar beberapa hari silam. Peristiwa ini terungkap berkat penemuan bayi berusia 8 bulan di dalam kapal di tengah laut, di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Diduga bayi tersebut yang kemudian diketahui bernama Nurfadilah itu adalah korban penculikan dan perkosaan. Karena saat ditemukan nelayan setempat dari alat vitalnya keluar darah.

Saya cuma bisa menghela nafas panjang. Bejat banget itu pelakunya. Membayangkan sebuah peristiwa perkosaan yang menimpa orang dewasa saja saya miris. Apalagi ini menimpa seorang bayi, yang tak memiliki mekanisme pertahanan diri, tidak memiliki keinginan untuk menolak atau menerima apapun yang datang padanya.

Siang tadi saya teringat lagi kasus perkosaan yang menimpa bayi 8 bulan itu dari twit @justsilly di ranah twitter. Silly, sebagai ibu begitu sedih mendengar kasus ini. Ia juga tak habis pikir dengan pelaku yang tega melakukan tindak biadab itu pada sesosok makhluk mungil yang tak berdosa.

Pastinya bukan hanya Silly yang sedih, ibu-ibu lain atau siapapun itu tak peduli gender pastinya akan punya kekesalan yang sama kepada si pelaku. Kesedihan pastinya terhadap nasib korban perkosaan. Jika ia anak-anak yang sudah besar, ia akan mengalami trauma yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Butuh waktu panjang dan pendampingan agar secara kejiwaan korban terlindungi.

Petang ini saya dapat kabar lagi dari @justsilly kalau bayi korban perkosaan di Bantaeng itu akhirnya meninggal dunia. Saya tercekat tak bisa berkata-kata. Silly tentunya sangat terpukul dengan kepergian Nurfadilah. Apalagi ia bersama beberapa teman tengah menggalang dukungan melalui twitter dengan hastag #charity4Nurfadilah.

Tuhan ternyata lebih sayang pada bayi mungil Nurfadilah. Mungkin Tuhan tak ingin menambah penderitaan si bayi lebih lama lagi, sehingga lebih aman jika si bayi berada di sisi-Nya. Saya hanya berharap bayi tersebut berada di tempat terindah di “sana”.

Bagi sang pelaku perkosaan, mungkin anda kali ini merasa menang karena tak ada yang menghakimi tindak biadab anda. Tapi percayalah, Tuhan punya cara lain menghukum anda, entah di dunia atau di alam “sana”.

Polisi

Jalanan ibukota bagi saya bak sebuah cermin. Tempat melihat bagaimana perilaku warga ibukota sesungguhnya. Disitu aneka pertunjukan bisa kita lihat dan saksikan. Gratis.

Seperti yang saya lihat sore tadi saat berkendara menuju kantor. Di kawasan Otista Jakarta Timur saya mendapati sebuah ‘pertunjukan’ perilaku yang membuat saya geli sendiri.

Saat terjebak dalam kemacetan yang tak terlalu parah, ada suara sirine polisi meraung-raung dari arah jalur Busway. Pikir saya ada sesuatu yang penting sampai-sampai ada mobil lain di jalur yang harusnya steril dari kendaraan di luar Busway. Kenapa saya menyangka demikian, karena beberapa hari terakhir polisi lagi galak-galaknya menggelar operasi simpatik dan sterilisasi jalur Busway.

Ternyata yang terjadi adalah mobil polisi bersama dua truk rombongannya terjebak di jalur Busway. Kebetulan di depannya ada 2 bus transjakarta yang sedang berada di halte. Kedua bus tanpa dosa tetap melayani penumpang yang naik dan turun. Yang memalukan, selama terjebak dalam antrian di jalur busway, polisi tetap membunyikan sirine mobilnya. Mau nyelonong kok pakai sirene ya?

Kalau yang terjebak di jalur busway adalah pengguna jalan seperti saya pastinya tak ada ampun kena tilang.

Kisah ini jelas bertolak belakang dengan cerita seorang kawan sekantor. Ia kena tilang saat terpaksa berbelok ke jalur busway. Karena biasanya ia ‘disuruh’ polisi membelokkan mobilnya ke jalur busway saat melihat kemacetan tak berujung di kawasan Pasar Rumput, Manggarai Jakarta Selatan. Teman tadi kena tilang oleh polisi yang sama yang tiap hari mengarahkan mobil untuk masuk jalur busway. Benar-benar jebakan batman.

Saya tak hendak membela perilaku salah teman saya. Yang saya pertanyakan justru sikap polisi yang dengan enteng memainkan peraturan. Kalau hendak menegakkan aturan, mari kita jaga dan kawal aturan tersebut. Tapi jangan cederai aturan dengan perilaku memberi contoh yang salah. Kalau sudah begini, siapa yang bisa kita contoh?

#tulisan ke-3 dari 365

Branding Selly dan MD

Ini musimnya personal branding. Sekarang dengan adanya jejaring sosial atau social media persoalan branding jadi urusan yang simpel. Mudah sekali memperkenalkan diri sebagai “A” atau sebagai “B”.

Di microblogging twitter misalnya, dengan keluasan penguasaan terhadap suatu masalah, seseorang bisa dijadikan kamus berjalan, atau digandrungi kicauannya lantaran menyejukkan, memberi perspektif, atau bahasa kerennya inspiring. Jangan salah baca ini sepiring, mau berdua atau bertiga terserah. Halah.

Makanya tak heran juga kalau ‘pengikut’ @hotradero, @Benhan , @gm_gm ,  atau @gusmusgusmu bisa begitu banyaknya. Karena mereka kerap memberi kicauan yang diamini atau dijadikan bahan debat sesama jemaah al-twitter-iyah. Nama seperti Gunawan Mohamad atau Mustofa Bisri bisa jadi adalah selebritas yang tidak hanya ada di dunia nyata. Di dunia dedemit alias dunia tak nyata aka dunia maya mereka tetap sah disebut selebritas. Ketokohan mereka ‘berasa dari isi kicauannya. Mereka sepertinya sadar diri dan mem’branding’kan dirinya seperti yang dikenal publik sebelumnya.

Akan halnya @hotradero atau @benhan pasti sebagian besar penghuni jagat twitter tak terlampau mengenal mereka secara pribadi. Tapi concern mereka pada hal-hal yang spesifik membuat keduanya dengan cepat menjadi selebritas maya. Benhan alias Benny Handoyo senantiasa ditunggu dengan kicauan politiknya, sedangkan Poltak Hotradero ditunggu karena bak kamus berjalan, kerap mengungkap banyak fakta mengenai beragam persoalan.

Saya tak hendak mengungkap seberapa hebatnya media sosial membuat persoalan branding menjadi lebih simpel. Begitu mudahnya kita menyapa banyak kalangan dengan ‘harta’ kita berupa branding. Dan itu priceless, tak ternilai.

Coba bayangkan berapa lama seorang Oprah Winfrey membranding dirinya sehingga dikenal sebagai ratu talk show tv favorit? Puluhan tahun. Butuh jatuh bangun untuk sampai pada posisinya saat ini.

Atau seorang superstar Michael Jackson yang harus melewati banyak kekelaman sebelum masyur sebagai King of Pop. Kerja keras ada di belakang mereka.

Kalau harus mengaitkan dengan seleb of the week di hampiur semuia media yakni si penipu Selly dan MD alias Melinda Dee, adakah kesamaannya? Kedua seleb terakhir jelas sudah sukses membranding dirinya sebagai penipu (tanpa mengurangi rasa hormat pada oproses hukum). Ia secara sadar membentuk dirinya menjadi penipu akibat ulahnya.

Melinda Dee menipu nasabah Citibank hingga 17 M. Sementara Selly menipu banyak orang yang dijanjikan  bakal bermitra dalam bisnis pulsa. Baik Selly maupun Melinda keduanya kini ditahan polisi, menunggu kasusnya masuk ke meja hijau.

Saya tak habis pikir kok ada ya orang yang senang mengambil keuntungan dari orang lain tanpa kerja keras seperti kedua perempuan itu? Bukankah akan lebih nikmat kita membranding diri sebagai ‘sesuatu’ yang berharga jauh lebih baik? Atau mungkin keduanya sudah lupa pada hal-hal yang baik?

Entahlah. Beruntung saya tak jadi mangsa kedua perempuan lihai itu. Atau mungkin karena saya belum pernah bertemu saja dengan keduanya sehingga tak jadi mangsa. Coba saya berhadapan dengan kedua penipu yang katanya cantik itu, mungkinkah saya tak tertipu? Setidaknya mata saya tertipu atas kecantikannya.

#tulisan 2 dari 365

Lagu “Udin” Yang Meledak Itu

Pekan ini ada sebuah lagu yang ‘mengganggu’ ruang dengar banyak pemilik hp BB. Judulnya “Udin”. Lagunya biasa banget, malah cenderung sederhana. Lagu ini di Youtube sudah lumayan top dengan penyanyi yang agak “gemulai”.

Meski sederhana, namun lagu ini lumayan kocak dan membuat pendengarnya tersenyum simpul. Liriknya sesungguhnya asal, namun justru disitulah kekuatan lagu ini. Ceritanya soal nama-nama berlabel “Udin” yang kerap disebut norak dan kampungan. Nama itu diasosiasikan dengan banyak hal. Misalnya, Udin yang lahir sebagai anak sulung namanya AWALUDIN. Udin yang agak stress disebut sebagai SARAPUDIN.

Tak perlu marah atau mengutuk sang pencipta dan penyanyi lagu ini, karena semua ini hanyalah banyolan. Dan jangan serius menanggapi sang pencipta lagu tak memahami arti dibalik nama-nama “Udin” tersebut.

Saya sebagai empunya nama “Udin” hanya senyum-senyum saja saat pertama dengar lagu ini. Setidaknya nama “Udin” bakalan menjadi buah bibir di mana-mana. Karena lagunya tengah booming dan bakal banyak didonlod. Lagu ini saya ramalkan bakal jadi the next Keong Racun-nya Shinta dan Jojo. Jadi penasaran, siapa sih sang penyanyinya? Ada yang kenal?

Ternyata setelah browsing di oom Google, lagu ini sudah direkam dalam bahasa sasak. Konon di Lombok (NTB) lagu ini cukup ngetop. Bahkan video klipnya sudah nangkring di Youtube. Penyanyinya? Tetap si “Udin” yang di video berbahasa Indonesia itu. Beberapa pengunduh memberinya julukan sebagai Udin Bieber, mungkin terinspirasi dari Justin Bieber yang juga ngetop lewat Youtube.

Kita tunggu aja, apakah “Udin” bahkan mengangkat pamor si artis dadakan ini ataukah hanya fenomena Youtube saja.

Nah, bagi yang penasaran, ini saya sertakan lirik dan video-nya.

Lagu Tentang Sebuah Nama – Udin Majenun

“ini lagu tentang sebuah nama..”
“kata orang udin nama kampungan”
“jadi lagu enak juga didengar”
“kalau gak percaya, simak dengan seksama”

“udin yang pertama, namanya Awaludin”
“udin yang suka di kamar, namanya Kamarudin”
“udin yang hidup di jalanan, namanya Jalaludin”
“udin penggembala, namanya Sapiudin

“moooooo…”

“Udin Udin, namamu norak tapi terkenal”
“Udin Udin, walaupun norak banyak yang sukahahahaha..”

“Udin yang sering ke masjid, namanya Alimudin”
“Udin yang rajin berdoa, namanya Aminudin”
“Udin yang agak stress, namanya Sarapudin”
“Udin yang tidak stress, namanya Sadarudin”

“Udin Udin, namamu norak tapi terkenal”
“Udin Udin, walaupun norak banyak yang sukahahahaha..”

“Udin yang penjual nasi, namanya Nashirudin”
“Udin yang suka ke WC, namanya Tahirudin”
“Udin yang suka telepon, namanya Hapipudin”
“Udin yang jadi teroris, namanya!!!”
“Noordin M Top!”

“Udin Udin, namamu norak tapi terkenal”
“Udin Udin, walaupun norak banyak yang sukahahahaha..”

“Udin yang terakhir… namanya Akhirudin…”

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=UZKaAZaOcB8]