Rumah Kita, rumah singgah YKAKI (foto dokpri)

Rumah Singgah YKAKI. Ada senyum dan semangat yang terlihat dari wajah anak-anak di rumah singgah pasien kanker anak YKAKI. Beberapa pasien anak di sini hilir mudik, sesekali tersenyum dan menyapa tamu yang hadir.

Siapa menyangka di balik senyuman dan energi positif yang mereka pancarkan, terselip penyakit kanker dalam berbagai kondisi di tubuh mereka. Namun mereka seolah tak hirau dengan penyakit yang bersarang di tubuh mereka. Berkumpul bersama sesama penderita kanker, bermain dan belajar layaknya anak-anak lain di luar sana.

Adalah Fathul, bocah berusia 7 tahun yang berpipi chubby. Di sela-sela pengobatan kanker darah ia masih sempat bermain dengan sebayanya dan belajar di kelas. Selama tinggal di rumah singgah ia ditemani sang ibunda. Rumahnya di Cikarang membuat keluarga ini memutuskan tinggal di sini saat menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Jarak rumah yang cukup jauh dari rumah sakit membuat sang ibu mesti memperhitungkan tenaga dan biaya yang harus dikeluarkan jika harus bolak-balik ke RS.

Ibu Dwi dan Fathul Putranya (foto dokpri)

“Di sini lumayan terbantu, karena jarak ke rumah sakit dekat. Saya tak perlu berangkat pagi buta untuk kemoterapi anak saya. Dan anak sayapun tidak terlalu lelah diajak mondar-mandir ke rumah sakit,” ujar ibu Dwi yang setia menemani anaknya berobat.

Anaknya yang menderita Leukimia harus terus menjalani kemoterapi. Kadang hampir tiap hari dilakukan terapi oleh rumah sakit. Jika jarak antar terapi berjauhan hari biasanya mereka pulang terlebih dahulu ke rumah. Nanti mereka kembali di hari yang ditentukan pihak RS.

Bersama Ricky, Pasien Kanker Nasofaring yang Ceria (foto dokpri)

Saya juga bertemu dengan Ricky Yusuf, pasien kanker nasofarink asal Bekasi. Remaja ini sudah setahunan menderita kanker dan tengah berjuang mengupayakan penyembuhan di RSCM. Saat saya ajak berfoto dan memberinya semangat Ricky sangat senang.

Menurut Ricky, berada di Rumah Kita membuatnya selalu optimis memandang hidup. Ia senang karena bisa berbagi cerita dengan pasien maupun keluarga lainnya.

Ricky dan Ibu Dwi adalah pasien dan keluarga yang beruntung karena memperoleh tempat tinggal sementara di Rumah Kita selama berobat di RS.

Kehilangan Anak dan Berbagi

Rumah Kita didirikan Irawati Soelistyo bersama rekannya setelah ia kehilangan putra tercintanya akibat Kanker. Segala cara sudah dilakukan Ira dan keluarga demi kesembuhan sang anak. Bahkan Ira juga sempat membawa anaknya berobat hingga dua kali ke negeri Belanda. Pengobatan yang lama dan membutuhkan biaya besar mengharuskannya tinggal di sebuah rumah singgah saat di Belanda.

Irawati Sulistyo, founder YKAKI (foto dokpri)

Pengalaman itul menjadi salah satu alasan mengapa ia kemudian mendirikan Rumah Kita. Ira bisa memahami betapa repotnya orang tua yang datang dari luar kota dan harus menemani berobat anaknya di RSCM atau RSPAD (Rumah Sakit TNI Angkatan Darat) Jakarta.

“Terbayang kerepotannya jika di ibukota juga tak punya keluarga yang bisa menampung. Padahal pengobatan kanker tak bisa dilakukan sesekali, ia harus kontinyu. Itulah pentingnya rumah singgah bagi keluarga pasien kanker,” jelas ibu Ira.

Saat didirikan Rumah Kita adalah hasil urunan para pengurus yang memiliki keprihatinan yang serupa. Waktu itu mereka menempati rumah kontrakan yang berukuran kecil.

Suasana factory Visit ke YKAKI (foto dokpri)

Rumah singgah yang dikelola YKAKI di Jakarta menempati dua bangunan rumah. Satu rumah diantaranya masih menyewa. Di masing-masing rumah tinggal belasan anak dan keluarganya. Mereka berasal dari berbagai kota di luar Jakarta dan berobat dengan fasilitas BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

Hari Kamis (19/1) bersama sejumlah blogger dan awak media saya bertandang ke Rumah Kita yang dikelola Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Kunjungan ini adalah bagian dari  Factory Visit yang dilakukan Alfamart ke sejumlah mitra bantuannya.

Untuk berkunjung kemari harus mengikuti aturan ketat yang dibuat pihak yayasan. Semua pengunjung harus mencopot sepatu dan meletakkan di rak yang ada di teras. Setelah itu harus mencuci tangan di bak cuci yang juga ada di teras. Bukan apa-apa, karena kita akan bertemu dengan pasien kanker yang kondisi kesehatannya sensitif, yang harus berada dalam kondisi bersih.

Selama di dalam rumah, pengunjung juga diharuskan mengenakan sandal jepit.

Rumah singgah ini memiliki dua lantai. Lantai dasar digunakan sebagai public area, tempat pasien dan keluarganya berkegiatan dan berkumpul. Sementara lantai dua digunakan sebagai ruang beristirahat. Ruang istirahat sendiri disetting seperti layaknya asrama dengan kasur-kasur berukuran sedang untuk tidur di sebuah ruangan besar.

Untuk bisa tinggal dan menginap di Rumah Kita, pasien dan keluarganya hanya diminta membayar sebanyak 5 ribu rupiah perhari. Namun ini sifatnya tidak mengikat, karena bila pasien tidak memiliki biaya mereka boleh tinggal secara gratis.

Semua kebutuhan pasien dan keluarganya berupa makan dan minum disediakan pengelola Rumah Kita. Namun para keluarga tiap harinya diberi kewajiban mengurus persoalan rumah secara bergotong royong. Ada jadwal piket yang terdiri dari aktivitas beberes rumah, berbelanja di pasar hingga memasak. Semua harus menaati jadwal yang sudah disusun karena piket tersebut dibuat untuk kepentingan bersama.

Donasiku Membantu Sesama

Rumah Kita adalah salah satu lembaga sosial yang diberikan donasi oleh PT.Sumber Alfaria Trijaya yang mengoperasikan jaringan ritel Alfamart melalui program Donasiku. Donasi yang diberikan ke Rumah Kita dikumpulkan dari sumbangan konsumen Alfamart.

Nur Rachman, GM Corporate Communication Alfamart (foto dokpri)

Donasiku sendiri pada dasarnya ada dua macam, yakni donasiku belanja dan donasiku bebas. Donasiku belanja biasanya ditawarkan pada konsumen untuk mendonasikan sisa uang kembalian pada mitra Alfamart yang sudah ditentukan. Sementara Donasiku Bebas memberikan kebebasan pada konsumen menyalurkan uang kembaliannya pada lembaga yang ia inginkan.

Menurut Nur Rachman, GM Corporate Communicaton Alfamart, pihaknya sejak tahun 2014 menggandeng YKAKI sebagai mitra Corporate Social Responsbility (CSR).  Melalui Donasiku, pihaknya memberikan bantuan dana operasional rumah singgah dan membangun rumah singgah di sejumlah daerah.

Untuk tahun 2017, Alfamart rencananya akan membangun rumah singgah pasien kanker anak di kota Makassar, Pekanbaru, Semarang dan Malang.

Apa yang dilakukan Alfamart dan konsumennya dengan Donasiku semoga memberikan asa bagi pasien kanker anak yang tengah berjuang mencari kesembuhan.

 

Simpan

Simpan

Simpan

4,116 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Mau hidup anda kacau? Pakai saja narkoba. Ini bukan olok-olok tapi kenyataan. Simak kisah nyata berikut ini. Deni, sebut saja demikian, adalah pria berusia 30 tahunan. Dia adalah teman sekantor saya. Kami jarang bicara satu sama lain karena entah mengapa aura penampilan maupun wajahnya tak bersahabat. Kami hanya bicara seperlunya saja saat berpapasan di lorong Read More →

1,271 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Ini adalah kisah yang saya alami langsung di masa kecil. Saat itu usia saya kalau tak salah ingat sekitar 11 atau 12 tahun. Saya tinggal di kawasan padat penduduk di Kebayoran Lama Jakarta Selatan, di mana banyak persoalan sosial yang tersaji langsung di hadapan saya dan teman-teman kecil saya secara langsung. Dan minuman keras adalah Read More →

3,576 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Kasus kecelakaan dengan pengemudi mabuk atau mengantuk bukan cerita baru. Dan di Jakarta sejumlah kejadian kecelakaan yang menyebabkan nyawa manusia melayang pun hampir tiap hari terjadi. Namun ada 2 kejadian dalam kurun waktu dan tempat berbeda yang menarik perhatian publik. Pertama, kecelakaan di dekat tugu tani, Jakarta Pusat yang lebih dikenal dengan kasus Xenia maut menjadi peristiwa kecelakaan dengan korban tewas terbanyak yang sulit dilupakan. 9 nyawa melayang akibat kesembronoan Afriyani Susanti, perempuan pengemudi yang konon mabuk saat berkendara.

Peristiwa kedua yang yang saat ini ramai diperbincangkan adalah tabrakan BMW maut dengan Luxio di awal tahun 2013 yang menewaskan 2 orang. Kasus ini jadi kontroversi karena melibatkan anak petinggi negeri ini, putra Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebagai pelaku penabrakan. Kasus kedua ini kabarnya menurut hasil penyeldidikan sementara polisi akibat pelaku mengantuk.

Kasus ini memang belum lagi usai. Saya mencatat sejumlah kejanggalan. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 6 pagi ini nyaris “menguap” dari media. Pelaku menghilang tak tentu rimbanya. Barang bukti tak sempat terlacak, ‘disimpan’ entah dimana. Polisi pun tiba-tiba ‘sakit gigi’, tak mau berkomentar sedikitpun.

Kasus ini sedikit ‘benderang’ manakala ada konferensi pers dari Hatta Rajasa dan keluarga. Hatta yang juga besan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui anak bungsunya, Rasyid Amrullah Rajasa, terlibat kecelakaan maut yang menewaskan dua orang. Publik dibuat lega ada pernyataan ini.

Setelah itu Hatta yang akan maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2014, dengan timnya melayat dan ikut menshalatkan salah satu korban tewas. Lewat media, publik dibuat trenyuh dengan langkah politisi yang tak biasa ini. Berani muncul ke publik, meminta maaf, menanggung semua biaya pengobatan, penguburan dan biaya sekolah anak korban.

Setelah pertemuan itu keluarga korban menyatakan tak akan menuntut balik atas kematian anggota keluarganya. Jalan damai ternyata ditempuh Hatta demi si bungsu.

Saya menilai langkah-langkah yang diambil Hatta Rajasa sebagai komunikasi politik yang cukup baik. Ia memposisikan diri sebagai pribadi yang bertanggung jawab, tidak lari dari masalah. Berani menanggung resiko atas perbuatan yang dilakukan anaknya.

Tapi tunggu dulu… Kemana Rasyid, yang sudah ditetapkan Polda Metro Jaya sebagai tersangka kini berada? Rupanya Rasyid sengaja ‘disembunyikan’ karena trauma dan sakit maag yang akut. Rasyid dirawat di RS Pertamaina untuk menyembuhkan trauma dan maag akutnya.

Poin terakhir inilah yang kemudian menimbulkan tanda tanya. Mengapa Rasyid harus ‘disembunyikan’? Bukankah ia sudah menyebabkan hilangnya nyawa 2 orang warga tak berdosa? Apakah alasan sakit pelaku penabrakan itu ada dalam undang-undang? Saya kok tak yakin.

Apa bedanya antara Rasyid Rajasa dan Afriyani Susanti ? Apa karena Afriyani adalah orang ‘biasa’ sehingga langsung ditahan? Apakah karena menyandang nama belakang seorang ‘Rajasa’ sehingga Rasyid kebal dari hukuman? Ada diskriminasi perlakuan yang terjadi dalam kasus Rasyid.

Hari ini (Kamis, 3 januari 2013) pihak RS Pusat Pertamina menggelar konpers mengenai kondisi kesehatan Rasyid. Publik memang berhak tahu kondisi Rasyid, tapi saya curiga pemaparan kondisi kesehatan ini hanya akan digunakan sebagai pembenaran bahwa Rasyid sakit, rapuh, tak bisa menjalani proses hukum.

Nyali aparat penegak hukum kita sekali lagi diuji dalam kasus ini. Apakah mereka akan terpana dengan penjelasan Hatta Rajasa bahwa kasus ini selesai karena keluarga korban tidak menuntut secara hukum? Ataukah bakal menegakkan keadilan setegak-tegaknya?

Kasus ini akan jadi batu ujian bagi polisi dan bakal jadi preseden buruk jika alasan sakit maag akut yang membuat tersangka tidak ditahan dibiarkan begitu saja. Jika ada kejadian serupa jangan kaget bakal ada sejuta alasan sakit demi menghindari hukum. Kita sudah lelah diberi tontonan kebohongan demi kebohongan dari aparat maupun politisi.

Buat pak Hatta Rajasa, saya setuju dengan anda bahwa kejadian itu adalah musibah. Keluarga korban pun sama pahamnya dengan saya warga biasa. Tapi alasan mengantuk atau mabuk saat berkendara sehingga menyebabkan hilangnya nyawa orang lain tetap tidak dibenarkan. Ini harus tetap diproses di jalur hukum.

Yang pasti, publik akan mencatat dan mengawal kasus ini. Kita tak akan pernah lupa dan berusaha untuk tidak melupakan semua proses yang berlangsung. Apakah Hatta Rajasa akan menjadi politisi yang taat dan hormat pada hukum? Ataukah sama dan sebangun dengan pejabat lainnya yang kerap menyepelekan hukum? Waktu yang akan membuktikannya.

2,065 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Kabar itu datang dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dua mahasiswa Fakultas Tehnik Universitas Negeri Makassar kemarin (kamis petang) tewas akibat tawuran. Parahnya, keduanya tewas dalam tawuran lanjutan di Rumah Sakit Haji! Saat itu keduanya bermaksud menjenguk rekannya yang terluka akibat tawuran yang berlangsung di kampus.

Miris dan menyedihkan tak cukup untuk menggambarkan peristiwa tragis tersebut. Dua orang “mahasiswa” yang kerap disebut sebagai kalangan intelek meregang nyawa dengan cara yang tak terhormat, yakni karena tawuran. Apapun alasan dan pemicu peristiwa tersebut tindakan para mahasiswa yang melakukan tawuran tersebut benar-benar memalukan. Apalagi konon kabarnya pemicu tawuran cuma hal sepele, kesal karena mahasiswa Fakultas Tehnik dilempari batu.

Yang membuat saya tak habis pikir mengapa tawuran yang semula dilakukan di dalam kampus harus berlanjut di RS. Insiden berdarah di kawasan rumah sakit ini mengingatkan kasus serupa yang terjadi di RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Februari silam yang menyebabkan 2 orang tewas dan belasan luka-luka. Bedanya, peristiwa di RSPAD terjadi antar kelompok preman.

Lalu apa bedanya preman dengan mahasiswa jika perilaku mereka sama dan sebangun? Apa coba yang dibela para mahasiswa sehingga nyawa taruhannya? Bagaimana mahasiswa bisa diandalkan menjadi pemimpin masa depan, jika sejak di bangku kuliah hanya terlibat dalam isu recehan yang bernama tawuran?

Saya kira ingatan kolektif kita masih cukup kuat dengan peristiwa tawuran antara siswa SMAN 70 dengan SMAN 6 Jakarta beberapa pekan lalu yang menyebabkan seorang siswa SMAN 6 tewas. Bukan hanya dikecam, namun peristiwa ini menyentil kesadaran orang tua dan para pendidik, betapa ada yang salah dengan persoalan pekerti pemuda jaman sekarang. Saldiba istilahnya, salah dikit bacok!

Kasus tawuran antar siswa SMAN 70 dan 6 hingga kini belum juga tuntas. Para pelaku masih dimintai keterangan polisi. Drama kasus tawuran ini sepertinya bakal panjang, tak cukup selesai di tangan polisi secara hukum. Beruntung kedua pihak yang berseteru kemudian menyadari persoalan ini mesti diselesaikan dan dicari akar persoalannya. Dan melalui media kita bisa lihat kedua pihak terus berupaya ‘menjaga’ para siswa dari kemungkinan tawuran susulan.

Saya yang kebetulan alumni SMAN 70 pernah juga merasakan kehilangan seorang teman akibat tawuran. Di penghujung 80-an seorang kawan menjadi korban penusukan siswa sebuah sekolah kejuruan. Kasus ini memang berbeda dengan yang dialami Alawy beberapa pekan ini. Karena kawan saya meregang nyawa 2 tahun kemudian, lantaran karat dari benda tumpul yang pernah bersarang di kepalanya membuat infeksi.

Saat itu berita kematian kawan saya tadi tak sampai mendapat sorotan media cetak maupun tv sehingg kasus ini tak jadi pembicaraan nasional. Tapi apapun itu saya pribadi benci dengan tawuran. Tak ada untungnya. Malah banyak ruginya. Badan luka-luka, masuk rumah sakit, dan bisa berujung di kamar mayat.

Ayo sudahi tawuran. Siapapun kalian tak akan keren kalau tawuran. Masih banyak hal yang bisa dilakukan dengan enerji masa muda. Tak perlu tawuran. Sudahi, jangan menambah daftar korban tewas hanya karena tindakan konyol yang tak perlu.

2,292 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Suatu kali saat pulang kampung di Nganjuk, Jawa Timur saya terperangah dengan siaran radio lokal. Bukan soal isinya yang menurut saya biasa saja, tapi penggunaan bahasanya yang sangat mirip dengan radio lokal di Jakarta, tempat saya tinggal sehari-hari. Sebutan gue, elu, nyokap, bokap, jadi idiom yang disebut terus menerus saat siaran oleh sang penyiar.

Jujur saya kaget. Kalau begini, apa bedanya radio daerah dengan radio di Jakarta? Mulai dari lagu, gaya bahasa penyiar hingga cara berguraunya pun mirip dengan gaya gaul anak Jakarta. Saya yang pulang kampung berniat mendapat sesuatu yang khas daerah jadi tak merasakan keunikan tersebut. Apa yang saya dengar sama persis, bahkan kadang cenderung berlebihan jika dibandingkan dengan gaya siaran radio di Jakarta. Telinga saya jadi menyerap sesuatu yang aneh, mendengar gaya bahasa slang Betawi dengan dialek medok Jawa. Campur aduk lah kedengarannya.

Usut punya usut, ternyata salah satu penyebabnya adalah adanya jaringan radio ibukota yang beroperasi hingga pelosok nusantara. Dari sisi bisnis memang keberadaan jaringan radio (radio network) merupakan sesuatu yang menggiurkan. Mereka meluaskan jangkauan mulai dari ibukota hingga ke pelosok. Ini juga sekaligus ‘mengimpor’ banyak hal yang sedang menjadi tren di ibukota, mulai dari teknologi, modal hingga itu tadi, gaya berbahasa.

Mungkin para penyiar radio daerah merasa bangga bisa bergaya bahasa persis seperti rekan mereka dalam satu jaringan radio. Tapi mereka agaknya lupa, apa yang mereka lakukan sesungguhnya justru ‘membunuh’ keragaman bahasa daerah tempat mereka berada sendiri. Karena para penyiar ini justru bangga dengan bahasa Indonesia berdialek Betawi yang mereka gunakan. Mereka pelan-pelan secara tak langsung tak lagi menggunakan bahasa daerah tempat mereka tinggal.

Dampaknya? Selain makin menjauhkan para penyiar tadi dengan bahasa daerahnya, yang paling parah adalah terpaan siaran radio itu yang membuat masyarakat perlahan meninggalkan bahasa daerahnya sendiri. Ini tak bisa dibiarkan! Harusnya keberadaan radio daerah dipantau sedemikian rupa untuk memelihara keberagaman budaya lokal. Karena keberagaman inilah yang membentuk satu Indonesia. Radio berjaringan tak salah, yang salah jika menyamakan semua gaya bahasanya menjadi hanya satu, gaya bahasa kota, sehingga identitas lokal pun menghilang.

Saya jadi ingat dengan artikel di situs VOA berjudul “Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah” yang berisi kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah di Indonesia lantaran jarang digunakan. Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono dalam tulisan itu memperkirakan di penghujung abad 21, jumlah bahasa daerah akan menyusut, yang semula 746 bahasa daerah, menjadi hanya 75 bahasa daerah saja. Wah! Kalau ini benar, maka kondisinya sudah SOS.

Seperti dilansir VOA, Sugiyono mengatakan, salah satu penyebab makin tidak populernya bahasa daerah adalah karena alasan urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Mereka yang menikah dengan etnis lain dan pindah ke kota, punya kecenderungan bakal meninggalkan bahasa daerahnya dan lebih memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.

Saya sendiri tidak anti perkawinan antar etnis. Justru perkawinan antar etnis menurut saya perlu untuk meningkatkan keberagaman dan pemahaman antar etnis yang di beberapa daerah masih rendah. Namun harusnya perkawinan antar etnis tidak mematikan keberadaan bahasa daerah itu sendiri. Harusnya kedua pihak yang menikah justru menyuburkan pemakaian bahasa daerah pada anak-anak mereka.

Coba bayangkan, alangkah indahnya jika sebuah keluarga yang merupakan hasil perkawinan antar etnis Sunda dan Makasar mengajarkan kedua bahasa daerah pada anak-anaknya. Anak-anak akan punya ketrampilan berbahasa yang lebih kaya. Tidak hanya satu bahasa Indonesia, namun juga bahasa ayah dan ibunya.

Lalu bagaimana agar bahasa daerah tetap lestari dan digunakan di negeri ini? Peran seorang ibu sangat jelas dalam mengajarkan ketrampilan berbahasa. Tak usah mencari contoh jauh-jauh, saya sendiri bisa dan mengerti bahasa Jawa karena ibu saya kerap mengajak bercakap dalam bahasa Jawa sejak kecil. Dan itu hanya dilakukan dalam lingkup rumah saja. Jika bertemu dengan orang dari etnis lain, kita selalu menggunakan bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia sebagai jembatan komunikasi.

Setelah besar kemampuan berbahasa Jawa saya tidak lantas hilang meski bapak-ibu saya berurbanisasi dari pelosok Jawa Timur ke ibukota. Dan ini adalah hasil proses panjang yang dilakukan ibu saya di rumah. Cara ini bisa dicontoh siapapun, dengan satu atau dua etnis dalam satu rumah.

Kenapa kita tak mulai dari dari sekarang? Jika bahasa daerah kita yang beragam punah, yang rugi tentu kita sendiri. Bangsa yang besar dari keberagaman suku, budaya dan bahasa ini akan hilang keunikannya jika bahasa daerah menghilang dari bumi Indonesia. Setuju bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan, tapi jangan pernah lupakan akar budaya kita masing-masing. Banggalah dengan bahasa daerah kita masing-masing, karena dengan itu ke-Indonesiaan kita makin tampak.

*gambar diambil dari sini

7,176 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Saya tuntaskan janji saya untuk melakukan updating kasus perkosaan yang menimpa bayi berusia 8 bulan, Nurfadilah (bayi NF) di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sore tadi lewat twitter saya beroleh izin @justsilly untuk ikut menyebarluaskan penggalangan dana bagi bayi NF yang dinamai gerakan #charity4Nurfadilah. @justsilly sangat gembira dan mempersilakan saya menampilkan informasi mengenai gerakan ini beserta orang-orang Read More →

3,693 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Post Navigation