Mencapai usia 70 tahun bagi seorang muslim atau muslimah adalah usia bonus. Sebab Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan umat muslim wafat di usia 63 tahun. Ibunda kami, Sopiyah mencapainya 8 Agustus 2014 kemarin. Alhamdulillah di usia ini ibunda masih diberi kesehatan, mampu berpuasa full saat Ramadhan lalu dan masih bisa mendampingi kami anak-cucunya hingga Read More →

2,535 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

14 Desember 1996. Saya menikahi Siti Komsiah di desa Cengkok, Nganjuk Jawa Timur pada sebuah petang yang dingin selepas hujan lebat. Waktu itu saya hanyalah lelaki nekat yang menikah tanpa modal materi. Dengan gaji hanya 500 ribu sebulan dari sebuah perusahaan agency kecil, saya beranikan diri menikahinya. Sebuah keputusan yang dinilai nekat oleh sebagian orang. Read More →

3,645 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Rumah. Punya hunian sendiri adalah impian bagi semua pasangan muda. Begitu pula yang terjadi pada saya saat memutuskan menikah di usia 26 tahun. Saat menikah kami benar-benar merintis hidup dari nol. Pekerjaan saya di sebuah agency kecil hanya cukup untuk hidup sendiri. Tapi saya dan istri sepakat menikah dengan segala resiko yang bakal kami hadapi.

Kami punya prinsip yang simpel, jika semasa hidup membujang saya bisa menghidupi diri sendiri, tentunya kalau berdua dengan istri rejeki pasti mengalir. Prinsip ini bukan pembenaran kondisi keuangan saya yang masih apa adanya, namun lebih karena saya percaya rejeki, hidup dan mati semuanya sudah diatur oleh Allah SWT. Yang penting kita hidup digaris yang benar, halal dan tak merugikan orang lain.

Sebagaimana pasangan muda lainnya, kami juga punya mimpi ingin punya tempat tinggal sendiri, tidak menumpang di rumah ortu. Sempat tercetus keinginan jadi kontraktor, tapi ditentang oleh Bapak almarhum.

“Selama kalian belum bisa beli sendiri, jangan pindah dari rumah Bapak. Daripada uang digunakan untuk ngontrak, lebih baik ditabung. Kalau sudah terkumpul dan cukup untuk DP, silakan tentukan sikap,” begitu argumen bapak.

Di satu sisi ternyata ada benarnya juga pernyataan ‘keras’ bapak tersebut. Saya diminta realistis mengelola keuangan, jangan hanya karena gengsi harus punya rumah akhirnya terpaksa pinjam sana sini. Yang bapak inginkan adalah kita bisa menabung dulu baru berfikir soal hunian.

Sebuah sikap yang sederhana dari seorang bapak pada anaknya. Saya belajar banyak mengenai hal itu dari Bapak. Untungnya waktu itu saya menuruti kemauan Ortu dan tetap tinggal bersama mereka. Mimpi mengontrak sementara saya benamkan dalam-dalam. Allah pasti punya rencana lain ‘menahan’ saya di kediaman bapak.

Berburu Rumah

Namun tidak mudah mewujudkan keinginan punya hunian, apalagi melihat harga rumah yang selangit di Jakarta. Tiap kali ada pameran rumah di JCC atau mall di sekitar Jakarta, sayapun aktif berburu informasi, mencari lokasi dan info harga terkini.

Entah sudah berapa banyak developer kami datangi, sudah berapa lembar brosur kami kumpulkan dari berbagai pameran. Kesimpulannya cuma satu: mumet melihat harga-harga yang ditawarkan. Gila, apa bisa kami beli hunian di Jakarta dengan kondisi keuangan yang ada?

Agak putus asa juga waktu itu. Beberapa kawan senasib sering bercanda dan mengatakan, “Dengan gaji segini, susah dah punya rumah sendiri. Apalagi di Jakarta yang harganya selangit. Mimpi kali ye..”

Tapi sudahlah, mungkin Jakarta memang bukan buat saya, mengingat harga rumah yang tak terjangkau kantung saya pribadi. Kalaupun saya masih menumpang di rumah ortu, itung-itung menemani mereka. Apalagi setelah anak pertama lahir, rumah ortu semarak oleh celotehan dan tangis anak saya yang juga menjadi cucu pertama Bapak-ibu.

Belum bisa beli rumah bukan berarti pencarian kami akan rumah surut. Perburuan pun kami perluas. Kami realistis, rumah impian tak harus berlokasi di Jakarta, tapi bisa juga di kawasan lain di jabodetabek. Meski bukan Jakarta, toh masih nempel dengan Jakarta, begitu kami sering menghibur diri.

Kamipun blusukan ke Bogor, Bekasi hingga Tangerang. Dan titik balik terjadi saat kami memutuskan untuk membeli rumah kakak ipar di kawasan Kranggan Bekasi dan pindah dari rumah bapak. Padahal awalnya kami malas menerima tawaran itu dengan alasan tidak familiar dengan kawasan perumahannya.

Karena tak mau mengecewakan tawaran kakak ipar, akhirnya saya dan istri iseng melakukan survey ke lokasi. Meski sempat nyasar sana sini, kami akhirnya sampai juga di rumah yang ditawarkan kakak. Rumahnya tak seberapa besar, cuma tipe 21.

Soal tipe rumah saya tak terlalu bermasalah. Toh kami waktu itu adalah keluarga kecil dengan satu anak. Ukuran rumah segitu pasti cukuplah.

Yang menyenangkan, ternyata lokasinya tak jauh-jauh amat dari Jakarta. Bahkan jika lewat jalan tol Jagorawi, cuma butuh sekitar satu jam dari rumah ortu di kawasan Joglo.

Bagaimana soal harga karena merupakan titik kritis yang kerap menjadi persoalan bagi saya. Kakak ipar menjual rumah itu kepada kami seharga 35 juta rupiah, dan kami hanya diminta bayar sebisanya. Waini….

Saya yang cuma punya duit cash 25 juta rupiah akhirnya langsung setuju. Sisanya? Untuk melunasi sisa pembayaran rumah, kakak ipar tak mematok berapa rupiah saya harus cicil tiap bulannya. Ini enaknya. Saat ada rejeki, kami bisa membayar seratus-dua ratus ribu rupiah per bulan. Namun, ketika kebutuhan meningkat dan tak ada sisa uang untuk mencicil, kami minta izin kakak ipar untuk tak mencicil sementara.

Beruntungnya kami, kakak ipar selalu mengamini penundaan pembayaran yang kami ajukan. Bukan bermaksud ingkar, tapi kami hanya berusaha selalu jujur mengungkapkan kondisi keuangan kami sebenarnya. Yang penting kami selalu komit untuk membayar cicilan meski tersendat.

Singkat cerita, kami berhasil melunasi sisa pembayaran rumah selama 3 tahun. Legalah kami, rumah itu akhirnya sah kami miliki. Sampai kapan pun kami tak akan pernah melupakan kisah mendapatkan rumah pertama kami. Meski berukuran kecil dan kini tinggal kenangan, namun rumah itu penuh dengan perjuangan.

Begitulah akhirnya kami punya rumah sendiri setelah 3 tahun menikah. Ternyata hidup ini penuh misteri. Di saat kita kesulitan dan tak tahu harus berbuat apa, pertolongan dari Allah tanpa kita sadari hadir melalui tangan kakak ipar.

Berburu Rumah Kedua

Nah, rumah yang saya tinggali sekarang adalah rumah kedua. Ceritanya perburuannya pun tak kalah seru dari rumah pertama.

Ceritanya bermula saat kami menyadari rumah pertama kami sudah cukup sesak. Penambahan anggota keluarga tak kami barengi dengan penyediaan ruangan yang layak. Karena cuma tipe 21, kami kesulitan melakukan perluasan rumah. Jalan satu-satunya adalah menjadikan rumah kami vertikal. Setelah berhitung dan konsultasi dengan ortu dan kakak, kami disarankan untuk tidak meningkat rumah karena anggarannya sangat besar. Lebih baik beli rumah baru yang berukuran lebih besar, begitu saran mereka.

Saya tak langsung mengiyakan saran tersebut. Kebayang betapa repotnya mencari rumah yang sesuai ukuran namun dengan harga yang terjangkau kantung kami.

Kamipun kasak-kusuk ke tetangga sebelah kanan-kiri, menanyakan apakah rumah mereka mau dijual. Saya menawarkan diri untuk pertama dikabari. Ternyata kedua tetangga juga sama, menunggu saya menjual rumah untuk perluasan rumah masing-masing. Ooo….

Akhirnya cerita perburuan rumah pun kami lakukan lagi. Beda dari yang pertama, kali ini kami rajin berhubungan dengan agen penjualan rumah maupun developer. Umumnya perburuan kami lakukan dengan menelepon terlebih dahulu. Lebih simpel dan hemat tenaga dan waktu. Jika sesuai harapan baru kami janjian untuk cek lokasi.

Dan tiap akhir pekan atau saat saya libur di hari kerja, saya susuri sejumlah lokasi perumahan untuk mencari tahu rumah yang murah namun lega. Sulit ternyata, kalaupun ukurannya cocok dengan keinginan kami, harganya tak bersahabat. Sebaliknya, jika harganya terjangkau ternyata ukurannya kurang sesuai harapan.

Kini kami tinggal di rumah kedua yang jauh lebih lega dibanding rumah pertama. Jika rumah pertama ada bantuan kakak ipar, sebaliknya di rumah kedua kami mulai berani berhutang dengan Bank. Namun itu juga penuh pertimbangan. Meski berat di awal, Insya Allah tahun depan cicilan rumah kami lunas. Yiha…..

2,147 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Lebaran yang berbeda. Sejak menikah tahun 1996 silam, tiap tahun jadi momen spesial saat Lebaran tiba. Mulai dari adanya anggota keluarga baru, istri, anak, adik ipar hingga ponakan. Kegembiraan adalah tema tiap Lebaran di keluarga besar kami. Celotehan anak-anak, rebutan mainan, antrian angpao, hingga suasana sungkem dengan orang tua selalu jadi saat yang menyenangkan. Namun Read More →

2,366 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Sudah sepekan kami ditinggalkan bapak pergi menghadap Illahi Rabbi. Sebuah kenyataan yang tak mudah kami hadapi. Apalagi bapak pergi menjelang hari Raya Iedul Fitri, hari di mana biasanya kami selalu berkumpul bersama. Bagi saya pribadi, kepergian bapak pekan lalu begitu cepat, amat mendadak malah. Masuk rumah sakit hari selasa, dan menghadap Allah di hari keenam Read More →

2,089 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Kemarin menjadi hari spesial bagi saya bersama istri, Siti Komsiah. 16 Tahun sudah kami menjalani biduk rumah tangga. Perjalanan pernikahan selama 16 tahun bagi saya adalah sebuah prestasi. Bukan sekedar catatan pertambahan angka belaka. Bagi kami setiap hari adalah momen berharga tempat kami belajar saling memahami, melengkapi, berbagi, dan menghargai.

Saya merasa tidak mudah berjalan seiring bersama selama 16 tahun. Banyak sekali suka, duka, tawa, dan tangis yang kami alami. Sering kali kami dihadapkan pada kegembiraan yang membuat kami tertawa. Lain waktu kami harus menelan pil pahit kekecewaan dan juga kesedihan. Suka duka adalah bunga kehidupan, karenanya kami selalu hadapi bersama.

Jika ada yang bertanya apakah setelah 16 tahun menikah masih perlu belajar memahami pasangan? Saya bisa menjawab iya dan itu perlu. Karena saling memahami tidak akan pernah selesai, masing-masing pasangan kita berkembang, karenanya pemahaman harus terus diupayakan. Memahami itu menyelami pribadi masing-masing. Tak pernah ada kata putus, selama kita bernafas.

Lalu, apakah saya sudah menjadi suami sempurna? Sejujurnya, belum. Saya masih jauh dari sosok itu. Banyak pe-er yang harus saya kerjakan. Salah satu yang terus saya upayakan adalah bisa adil membagi waktu bagi anak dan istri. Karena pekerjaan, seringkali kami berseberangan waktu. Saya libur, anak istri sekolah dan bekerja. Begitu juga sebaliknya. Kadang ini jadi friksi, tapi lebih banyak jadi solusi dengan menggantikan waktu yang terbuang di saat lain. Untuk yang satu ini, saya hanya bisa bilang kalian semua sangat pengertian.

Selama kurun waktu 16 tahun, alhamdulillah kami dianugerahi 3 anak yang kini beranjak besar. si Sulung Muhammad Ihsan Ramadhan, kini kelas 3 SMP, Nabila Khairunnisa bersiap menghadapi ujian kelas 6 SD, sementara si bungsu Nisrina Fatin Humaida masih di kelas 3 SD. Ketiga malaikat kecil itu kini mengisi hari-hari kami. Rumah kami tak pernah surut riuhnya dari suara, tawa, dan aksi saling ledek diantara mereka. Ketiga bocah ini adalah permata keluarga yang kelak menjadi penerus keluarga di masa datang.

Di pundak mereka kami berharap banyak, mereka akan menjadi diri mereka sendiri yang berbakti pada Allah, kedua orang tua, sopan, ramah dan menyayangi sesama. We love you kids!

Semoga kami bisa diberi kepercayaan dan amanah untuk terus mencatatkan kebersamaan lagi, lagi dan lagi. Benar kata Arswendo, Harta yang paling berharga adalah keluarga. Kalau materi? Itu yang utama. hehehe…

3,393 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Bapak dan Ibuku


Menunaikan ibadah haji bagi umat muslim adalah salah satu rukun Islam yang mesti dilakukan bagi mereka yang mampu. Mampu bisa diartikan secara finansial ataupun kesiapan mental. Secara financial mungkin calon haji dari Indonesia adalah kalangan paling sabar. Sebab ongkos naik haji yang cukup tinggi, terus naik sesuai nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

Karenanya banyak cara yang ditempuh umat muslim Indonesia demi bisa berangkat haji ke tanah suci. Mulai dari menabung mengumpulkan rupiah demi rupiah, menjual harta benda berupa tanah hingga rumah. Pendek kata jika sudah tiba waktunya, harta dunia tak ada artinya dibandingkan panggilan ibadah haji.

Bagi kedua orang tua saya pergi haji adalah barang mewah. Bapak saya selama aktif sebagai karyawan kecil sebuah BUMN selalu punya mimpi suatu saat bisa pergi berhaji. Namun berbeda dengan rekan-rekannya yang bisa menyisihkan gaji untuk tabungan haji, tabungan bapak selalu kalah dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Bahkan simpanan keluarga berupa sepetak tanah yang pernah dimiliki bapak terpaksa dilego demi membiayai kuliah saya di sebuah PTN di Bandung.

Menyesalkah bapak saat itu tak kunjung punya modal yang pas untuk berhaji? Secara langsung tak pernah ada rona kecewa meski tak bisa menabung demi membiayai perjalanan ibadah ke tanah suci. Bagi bapak biaya pendidikan bagi kami, 3 anaknya juga sama pentingnya dengan perjalanan haji.

Bapak tetap bekerja dengan giat dan memberi teladan yang baik bagi kami anak-anaknya dengan menunjukkan kerajinan, keseriusan dan kesungguhan dalam bekerja. Jarang sekali bapak telat masuk kantor. Bahkan kerap kerja lembur di akhir pekan demi memperoleh tambahan biaya hidup bagi kami sekeluarga. Meski lelah bapak tak sekalipun mengeluh.

Selain lembur di kantor, bapak juga berupaya mencari tambahan penghasilan dengan coba-coba berwirausaha sebagai peternah burung puyuh. Sayangnya usaha ini tak lama. Karena tak cukup waktu usaha ini pun tutup. Setelah itu bapak juga sempat membeli bajaj yang dibawa narik seorang kerabat. Tak jarang bapak juga mengemudikan sendiri bajajnya untuk sekedar menambah asap dapur di rumah.

Pengabdian bapak di kantor dan usaha kerasnya menghidupi kami ternyata dicatat Allah sang Maha Melihat. Diujung masa baktinya sebagai pegawai, tak disangka bapak memperoleh berkah berangkat ibadah haji ke tanah suci tanpa sedikitpun keluar uang. Rupanya ketekunan dalam ibadah dan prestasi dalam bekerja menjadi catatan sendiri pihak manajemen. Dan perjalanan ibadah haji ke tanah suci di tahun 2004 adalah bukti nyata dari do’a-do’a panjang yang dipanjatkan bapak selama ini.

Setelah bapak berhaji, ada pula peristiwa yang membuat saya terharu. Begitu pensiun dan mendapat uang hasil pengabdian di tempat kerja selama lebih dari 25 tahun, bapak langsung ingat pada sang belahan jiwanya, yang tak lain adalah ibu saya. Sebagian uang pensiun pun dipersembahkan bagi ibu yang belum berangkat haji. Semula ibu menolak karena ingin uang tersebut digunakan sebagai biaya hidup di hari tua saja. Namun bapak memaksa, karena hanya dengan cara itulah bapak membalas rasa terima kasihnya pada ibu yang telah menemaninya selama ini, merawat dan membesarkan ketiga anak tanpa pernah menuntut balas.

Ibu berangkat ke tanah suci di tahun 2006 dengan perjuangan yang tak kalah serunya. Saat itu ibu nyaris batal berhaji lantaran kuota haji untuk DKI Jakarta sudah penuh dan ibu masuk daftar tunggu 3-4 tahun ke depan. Rasa cemas dan bingung sempat melanda keluarga kami. Namun lagi-lagi tangan Allah SWT bermain dalam hal ini. Ibu diberi jalan berhaji dengan pindah domisili ke Bengkulu tempat domisili adiknya. Dari Bengkulu ibu yang ditemani adik iparnya berangkat haji dari embarkasi Padang Sumatera Barat.

Agak riskan juga melepas ibu berhaji, karena pasti melelahkan dan menguras daya tahan fisiknya yang mulai menua. Coba saja bayangkan, dari Jakarta ibu harus ke Bengkulu terlebih dahulu karena ikut rombongan haji dari provinsi Bengkulu. Dan dari situ kemudian menuju kota Padang Sumatera Barat sebelum diberangkatkan ke tanah suci.
Jalan memutar yang lumayan melelahkan.

Namun Alhamdulillah selama di tanah suci ibu nyaris tak memperoleh halangan apapun terkait kesehatannya. Padahal sebelum berhaji, ibu punya keluhan penyakit reumatik di kakinya yang lumayan akut. Jika digunakan jalan atau duduk terlalu lama maka akan terjadi pembengkakan. Syukur selama di tanah suci ibu jadi sehat wal afiat. Mondar-mandir di masjidil haram tak membuat penyakitnya kambuh. Dan kondisi ini berlangsung hingga ibadah selesai dan ibu kembali ke tanah air.

2,666 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Post Navigation