Pintu Masuk Kuburan Londa (foto dokpri)

Pintu Masuk Kuburan Londa (foto dokpri)

Kubur Batu, Londa. Setelah melihat langsung prosesi upacara kematian Rambu Solo yang unik di desa Parinding, Rantepao, destinasi berikutnya yang wajib kunjung di Tana Toraja adalah kuburan. Tepatnya kuburan batu.

Berkunjung ke kuburan batu masih satu rangkaian dengan wisata kematian khas Toraja. Seperti dalam postingan sebelumnya, bagi warga Toraja kematian itu bermakna keagungan, memiliki arti lebih penting dari kehadiran atau kelahiran. Sebab kematian akan mendekatkan manusia pada surga.

Dalam Rambu Solo hal itu tergambar dari ‘pesta’ yang digelar secara besar-besaran, melibatkan banyak kerabat dari berbagai daerah, serta penyembelihan hewan kerbau dan babi yang jumlahnya cukup banyak. Banyaknya hewan yang disembelih juga menunjukkan seberapa banyak dana yang dikeluarkan untuk prosesi tersebut yang berujung pada seberapa tinggi ‘derajat’ sebuah keluarga. Ini belum termasuk biaya lain-lainnya, jika menilik jumlah hari yang digunakan ada yang sampai berminggu-minggu lama prosesinya.

Setelah memahami Rambu Solo, belum lengkap rasanya jika kunjungan tak diakhiri dengan menjenguk kuburan batu, tempat ‘akhir’ dari rangkaian prosesi Rambu Solo.

Londa adalah salah satu lokasi pemakaman yang berada di perbukitan. Kuburan dalam konsep Toraja sangat berbeda dari pemakaman yang selama ini dikenal kebanyakan orang Indonesia.

Kuburan atau pemakaman di Londa tidak ditanam di dalam tanah. Jasad sengaja diletakkan di gua batu yang berbeda-beda ketinggian dan letaknya. Konon semakin tinggi letak kuburan seseorang maka makin tinggi pula derajat orang tersebut.

Siapkan Nyali

Untuk mencapai lokasi pemakaman kuburan batu di Londa tidaklah sulit. Lokasi ini cukup populer dan semua masyarakat di Rantepao tahu lokasi ini. Jika ingin berwisata kematian sebaiknya memang menggunakan mobil karena jarak satu tempat ke tempat lain cukup jauh. Kendaraan umum seperti angkot tidak mencapai kawasan pelosok. Satu-satunya yang bisa digunakan adalah ojek.

Sebagai tempat pemakaman, Londa tidak seseram yang dibayangkan banyak orang. Jika pemakaman di tanah Jawa bernuansa sepi dengan tanaman kamboja menghiasi areal pemakaman, maka di sini berbeda. Tak ada suasana mistis apalagi seram. Dari luar, bukit batu tempat persemayaman jasad tampak seperti bukit batu biasa.


Meski tak seseram pemakaman di Jawa, tapi nyali tetap mesti dipersiapkan. Banyak hal tak terduga yang bakal tersaji di hadapan kita.

Tiba di lokasi 2 warga lokal langsung mendatangi rombongan kami. Mereka adalah para pemandu atau guide yang bakal menemani eksplorasi ke dalam bukit batu atau gua. Satu orang membawa lampu petromak yang menjadi sumber penerangan selama di dalam gua. Sementara satu orang lainnya menjadi guide yang menjelaskan mengenai kuburan batu.

Melewati pintu masuk menuju bukit batu, sebuah pemandangan ‘horor’ mulai ada di depan mata. Jajaran peti mati dalam berbagai ukuran diletakkan begitu saja di bukit batu. Tak jauh dari situ ada jejeran boneka khas Toraja yang melambangkan jasad orang yang meninggal dan dikuburkan di tempat ini. Hmm…..

Sebelum masuk ke dalam gua pemandu akan bertanya apa ada anggota rombongan yang takut kegelapan atau takut ruang sempit. Karena gelap dan sempit akan menjadi kondisi yang akan dialami di dalam gua.

Masuk ke dalam gua perasaan campur aduk, antara penasaran dan sedikit ngeri. Maklum masuk ke kuburan euy. Ke pemakaman yang jasadnya dipendam dalam tanah saja kerap memunculkan rasa takut, apalagi ini. Semua jasad diletakkan begitu saja di dalam gua batu.

Namun ada pula yang ditempatkan dalam peti, ada pula yang disandarkan di dinding gua. Beberapa tulang belulang manusia terlihat berserakan di sini. Tak terhitung pula tengkorak yang juga berjajar di sudut gua. Untuk menjelajah seisi gua pengunjung mesti berhati-hati, dinding gua yang sempit membuat pengunjung mesti bergantian melewati lorong demi lorong. Kontur tanah berbatu di dalam gua juga menjadikan gerakan pengunjung serba terbatas.

Untuk mengambil gambar pun mesti bergantian agar mendapat angle terbaik.

Ada Rokok diantara Tengkorak (foto dokpri)

Ada Rokok diantara Tengkorak (foto dokpri)

Meskipun gua yang kami kunjungi merupakan sebuah kuburan namun tampilannya sangat jauh dari kuburan pada umumnya. Lebih tepat jika disebut sebagai museum. Kesan sebagai kuburan hanya berasa dari gelapnya suasana di dalam gua.

Oiya, selama berada di dalam gua pemandu juga berpesan agar kami menjaga lisan dan tindakan. Meski tak memberi contoh ada apa, namun kami langsung paham mengapa ada warning semacam itu.

Satu lagi, yang unik meski jasad hanya dibaringkan dalam gua, namun gua sama sekali tak memunculkan aroma tak sedap. Tak sedikitpun kami mencium bebauan yang menusuk hidung.

Wisata menyambangi kuburan batu di Londa ini memberi kesan mendalam bagi saya. Secara tak langsung memperkaya pemahaman saya mengenai perbedaan budaya di negeri ini. Toraja membuka mata saya betapa indah dan beragamnya Indonesia.

2,333 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

 

11351316_1062022710494000_3679250779155178830_n

Saya adalah traveller kambuhan. Sejak dulu jalan-jalan tanpa perencanaan apapun. Seringnya memang travelling sambil tugas liputan. Baru 3 tahun terakhir kegiatan travelling saya lebih terencana. Banyak sudah kota di Indonesia yang saya jejaki, tapi ada satu kota yang membuat penasaran, dan kota itu adalah Makassar. Kota di ujung selatan Pulau Sulawesi ini memang belum pernah saya jelajahi sekalipun. Padahal kota ini konon kondang akan kekayaan alam dan budaya. Apalagi meski belum pernah ke Makassar selama ini saya sudah akrab dengan produk kulinernya, seperti Sop Konro, Es Pisang Ijo, sampai kue Jalangkote. Sluurrppp…

Irwan, Orang Yang Ingin Saya Temui….

Selain soal keindahan kota, budaya dan kulinernya, ada alasan kuat mengapa saya ingin bertandang ke Makassar. Saya punya kawan lama, tepatnya kawan SD. Namanya Irwan, kami pernah satu SD di Jakarta. Sejak lulus SD di tahun 80-an, saya putus kontak dengannya. Padahal dulu saat masih kecil kami sering bermain bersama. Seringkali sepulang sekolah saya main ke rumahnya yang tak jauh dari sekolah kami di Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

Setelah putus kontak sejak SD, tahun 2010-an saya kembali terhubung dengan sahabat saya itu lagi. Tapi belum kopi darat kita. Perjumpaan kami melalui perantara social network Facebook. Ya, dari FB lah saya bersilaturahmi kembali dengan kawan lama yang sudah menetap di Makassar, kota kelahirannya. Itulah mengapa saya sangat ingin sekali bertemu dengan sahabat saya ini, menyambung silaturahmi yang sempat putus puluhan tahun.

Yang Ingin Saya Lakukan Bersamanya

Ada beberapa hal yang saya bayangkan bakal saya lakukan bersama sahabat saya Irwan di Makassar. Melepas kangen dan bertukar cerita bisa kami laukan di tepian pantai Losari. Tentunya sambil mencicipi kuliner khas Makassar yang banyak ditemui di sini.

Saya juga penasaran hunting kuliner di Makassar bersama sahabat saya Irwan. Saya akan minta dia mengantar saya berkeliling kota mencicipi kelezatan Coto Makassar, sop saudara, es palu butung, pisang epe, atau es pisang hijau. Meski beberapa diantaranya sudah pernah saya coba di Jakarta, merasakan kuliner khas Makassar langsung di ‘pusat’nya tentu memiliki sensasi berbeda.

Selain itu saya juga ingin mengunjungi Taman Nasional Bantimurung di kabupaten Maros. Meski bukan di kota Makassar, taman nasional ini jadi salah satu destinasi yang wajib kunjung jika mengunjungi Sulawesi Selatan. Keindahan panorama dan koleksi kupu-kupunya membuat saya penasaran sejak lama.

Itinerary Perjalanan

Saya rencanakan kunjungan saya ke Makassar hari Jumat 12 Juni 2015 untuk menemui sahabat saya Irwan. Sengaja tanggal tersebut saya ambil karena kebetulan masa perkuliahan di kampus sudah selesai di awal bulan Juni. Untuk perjalanan dari Jakarta ke Makassar dan sebaliknya saya bakal menggunakan maskapai bertarif murah Citilink.

Mengapa Pilih Citilink?

Citilink adalah maskapai yang selama ini saya andalkan untuk menjelajah rute-rute terbaik di tanah air. Selain tarifnya terjangkau, pelayanannya pun selama ini selalu menyenangkan. Yang paling saya senang adalah waktu keberangkata dan kedatangan yang selalu On time. Bagi saya yang punya banyak aktivitas soal waktu adalah harta yang sangat berharga, kehilangan waktu berarti kehilangan banyak kesempatan.

Terakhir saya sempat berwisata bersama keluarga ke pulau Bali menggunakan Citilink. Dan kami sekeluarga merasa puas dengan layanan Citilink. Apalagi saat di pesawat kami kerap dibuat senyum-senyum gimana gitu..saat awak pesawat sebelum terbang maupun mendarat kerap melontarkan pantun yang lucu-lucu. Sungguh pengalaman menyenangkan yang tak tergantikan.

Berikut adalah screenshoot pemesanan tiket Citilink lewat mobile app Traveloka :

 

 

Screenshot_2015-05-25-20-14-40_20150525221818396

Screenshot_2015-05-25-20-13-37

 

Oiya, selain memesan tiket pesawat, melalui mobile app Traveloka saya juga memesan kamar hotel Red Planet untuk tinggal selama di Makassar.

 

Screenshot_2015-05-25-20-16-19

Screenshot_2015-05-25-20-17-39

 

Mengapa memilih hotel Red Planet? Karena ini merupakan chain hotel bintang tiga yang memiliki reputasi bagus di Makassar. Selain di sejumlah kota di Indonesia, jaringan hotel ini juga bisa dijumpai di Thailand dan Jepang. Apalagi dengan memesan melalui mobile App Traveloka, saya mendapatkan tarif terbaik yang cukup miring. Lumayan… lagi-lagi menghemat kantong.

Kesan Menggunakan App Traveloka

Memesan tiket pesawat maupun hotel menggunakan mobile app Traveloka ternyata cukup mudah. Dengan sekali sentuh semua proses bisa selesai dalam hitungan menit. Tak perlu repot membuka PC atau laptop di rumah atau kantor. Cukup menggunakan smartphone di genggaman, maka proses pemesanan pun selesai. Saran saya, segeralah install mobile app Traveloka di Smartphone-mu dan rasakan banyak kemudahan bertransaksi dan memesan tiket pesawat maupun hotel semudah membuat status di social media.

Mobile app Traveloka punya desain antarmuka yang simpel, dengan dominasi warna biru. Untuk melakukan pemesanan tiket pesawat maupun hotel sangat mudah. Semua tinggal disentuh dan ikuti petunjuk yang diberikan. Dijamin tak akan tersesat. Dan yang lebih penting, memesan tiket pesawat maupun kamar hotel melalui mobile app Traveloka dapat jaminan harga termurah. Gimana gak mengasyikkan, bisa travelling dengan tenang dan uang yang masih tersisa di kantong bisa digunakan untuk beli oleh-oleh.

2,555 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini