Category Archives: Media

Ketika Tulisan dimuat di Kompas Cetak

afreezAda kabar yang nyaris saya lupa tuliskan di blog ini. Postingan saya di Kompasiana yang berjudul Liburan Cerdas di era 2.0 dimuat di Kompas Cetak di rubrik Kompasiana Freez, tepat di tanggal cantik, edisi 12 Desember 2012 (12-12-12). Karena untuk edisi cetak, ada proses editing dan judulpun disesuaikan dengan tema besar soal liburan keluarga.

Bagi saya, ini sebuah mimpi lama yang saya pupuk sejak masa kuliah, dan akhirnya baru bisa mewujud sekian tahun kemudian. Bagi seorang penulis, tulisan bisa dimuat di Kompas edisi cetak adalah sesuatu. Apalagi jika tulisan kita dimuat di halaman opini Kompas, lebih dari sesuatu.

Kompas cetak memang memiliki standar khusus bagi kontributor tulisannya. Tidak sembarang orang bisa memajang karyanya di Kompas cetak. Karena sangat ketat seleksinya, sejak dulu jumlah penulis Halaman opini Kompas terbilang sedikit. Hanya berkisar dari orang itu ke itu saja. Meski belakangan Kompas berubah, dengan banyak membuka diri dengan tulisan yang lebih populer, namun tetap Kompas memiliki standar yang tak bisa diturunkan.

Mimpi memang harus dirawat dan diupayakan. Setelah ini saya akan buat mimpi-mimpi baru terkait dengan dunia kepenulisan yang saya geluti. Siapa tahu tahun depan bisa menghasilkan sebuah buku sendiri, setelah buku keroyokan dulu dengan sesama blogger Multiply.

Upload Photo Pakai Gickr

Gara-gara lihat postingan jalan-jalannya Ndoro Kakung ke Shanghai jadi pengen nyobain Gickr. Bukan Flickr lho, tapi Gickr. Beda dengan Flickr yang cuma majang foto, Gickr bisa menampilkan foto dalam bentuk slideshow di blog kita. Slideshow di bawah ini adalah hasil utak-atik foto lama saat jalan ke Kota Tua, Jakarta Utara, 3 tahun silam.

gif maker
gif maker at gickr.com

gif maker
gif maker

Yang menarik dari Gickr, kita juga bisa terhubung dengan koleksi foto di flickr, picasa maupun video di youtube.

Ternyata keren juga. Tampilan gambar Blog jadi gak ngebosenin. hehe…

Duh Indovision!

“Dear indovision, kenapa sejak kemarin petang indovision di rumah kami tak tayang. Di layar tertulis This card is not authorised. CA STBID is 3873 2320 8778 4689 Smart Card is 0000 2330 3118 (6). ID Pelanggan : 401 0000 83478″

Sepotong surat keluhan itu saya kirim lewat email hari sabtu pagi. Email itu saya tujukan pada call center operator tv berbayar terbesar di Indonesia, Indovision karena layanan Indovision tidak beroperasi di rumah sejak jum’at petang. Surat elektronik itu “terpaksa” saya kirim karena hotline service 24 jam Indovision sangat sulit dihubungi.

Terpaksa, karena sejak Sabtu subuh saya terus kontak melalui 3 nomer hotline berbeda, tapi hasilnya nihil. Dan baru pada sekitar pukull 12.45 bisa bicara dengan petugas callcenter.

Setelah saya sampaikan keluhan kemudian petugas mengecek kerusakan di control room mereka, hasilnya menurut petugas, layanan Indovision saya diputus karena bermasalah dalam tagihan. Saya tak terima, karena saya sudah membayar tagihan sebelumnya yang cukup besar. sebagai akumulasi kesalahan sistem tagihan Indovision.

Tagihan itu sendiri aneh, saya langganan paket super galaxy dengan harga promo 50 persen. Tiba-tiba tagihan diakumulasi dengan jumlah yang fantastis. Saya keberatan karena tagihan tidak sesuai promo. Petugas CS Indovision malah menyalahkan saya yang mendaftar promo setengah harga namun tak memasukkan surat keterangan dari HRD tempat saya bekerja.

Saya katakan, saya ikut promo ini karena syaratnya ringan, cukup melampirkan copy ID pegawai. Sales yang menawarkan paket ini tak pernah sedikitpun menyinggung soal surat keterangan HRD. Aneh begitu ada tagihan dan jumlahnya fantastis mereka seenaknya bilang itu kesalahan saya.

Bulan lalu saya dapat tagihan 548.707. Jumlah itu berkurang jauh dari tagihan awal. Saya lunasi tagihan itu dan bulan ini saya punya tagihan hanya 129.500 saja. Mengapa tiba-tiba diputus karena dianggap bermasalah dalam tagihan? Ini baru tanggal 17 Desember, kalaupun saya belum membayar itu belum jatuh tempo.

Yang saya tak habis mengerti bagaimana tim CS Hotline Indovision melayani keluhan pelanggan? Email yang saya kirim tak satupun berbalas. Begitu juga dengan sms. Yang lebih parah adalah Hotline service susah dihubungi. Kalaupun nyambung, saya tak sekalipun bisa bicara dengan petugas. Selalu berhadapan dengan mesin penjawab otomatis dan diminta menunggu lama dan diakhiri dengan kata “maaf customer officer kami sedang sibuk”.

Karena cara konvensional tak ampuh, saya kemudian menghubungi melalui akun twitter @Indovision_TV. Lumayan cepat tanggapannya. Dan kurang dari sejam Indovision di rumah kembali normal. Namun itu hanya berlangsung sesaat, dua jam kemudian kembali “pingsan” hingga hari Minggu. Dan kembali saya harus menempuh perjalanan panjang untuk menyampaikan keluhan. Sepanjang Sabtu malam tak satupun twit saya ditanggapi, begitupun dengan telepon yang selalu gagal bicara dengan CS officernya.

Pelajaran terbesar dari kasus ini adalah membangun hotline service yang tangguh tidak selesai dari sekedar niat. Nomer CS hotline, sms, maupun alamat email yang ditempel di tiap decoder di rumah pelanggan tentunya bukan pajangan penghias decoder belaka.Harus ada sistem integral dengan petugas yang memiliki sense terhadap pelanggan. Mengapa mencantumkan nomor sms yang bisa dihubungi jika ternyata sms itu tak dijawab. Mengapa pula mempunyai alamat email kalau tak ada tanggapan keluhan pelanggan.

Di era teknologi informasi seperti sekarang customer tak bisa dianggap hanya sebagai bagian catatan jumlah pelanggan.Dia harus dimaintain, dimanusiakan. Customer, siapapun dia punya hak penuh atas layanan terbaik. Karena kepuasan customer akan menjadi iklan gratis bagi customer lainnya dari mulut ke mulut. Sementara ketidak pedulian terhadap customer akan membuat sebuah brand laksana menggali kuburnya sendiri.

Logo Mirip, Ada Apa TransCorp dan Kompas Tv?

Trans corp, lini bisnis media tv dari CT Corp kemarin merayakan hari ulang tahunnya yang ke-10. Sebuah acara pagelaran musik dikemas “wah” sebagai pertanda mereka memasuki usia satu dasawarsa. Dalam rentang masa ini, trans corp (dengan 2 stasiun Tv, Trans tv serta trans7) kehadirannya lumayan memukau pemirsa tv tanah air.

Saya tak akan membahas program-program andalan kedua tv tersebut. Saya justru penasaran dengan logo baru Trans corp yang kemarin diperkenalkan kepada khalayak. Coba amati, sekilas logo ini mirip dengan logo Kompas Tv milik Kompas-Gramedia grup. Efek warna-warni dalam hurup “A” logo Trans Corp mirip dengan huruf “K” Kompas Tv.

13240053451870288834

logo Trans Corp

Nah, kalau di bawah ini adalah logo Kompas Tv yang lebih dulu hadir dan dikenal publik.Coba tarik kedua sisi huruf “K” di logo ini, akan jadi huruf “A”. Persis dengan logo Trans Corp!

13240054101726720424

Logo Kompas Tv

Pagi ini di twitter juga bermunculan timeline yang mempertanyakan “kemiripan” ini. Coba simak beberapa diantaranya:

@putra_GPV: @KompasTV memang inspirasi Indonesia yah sampe logonya aja ditiru sama tetangga sebelah… Hahaha…

@freddy_sbotipi Logo baru transcorp yang baru kok mirip Kompastv ya???

@wisnunununu Transcorp logo A nya mirip K Kompas Tv, semakin tua malah semakin payaaahhh.

Soal “kemiripan” ini pagi tadi saya tanyakan ke seorang teman yang ada di redaksi Trans7. Melalui BBM dia jawab dengan enteng kemiripan itu sebuah kebetulan saja. Karena menurutnya, logo Trans Corp sudah ada sejak Mei 2011. Atau bisa saja konsultan logonya sama, katanya.

Hmm…. Mungkinkah sebuah kelompok usaha sebesar Trans Corp dengan sadar menggunakan logo perusahaannya yang mirip dengan perusahaan lain? Apalagi sama-sama pemain di bidang tv broadcasting ? Ataukah ada udang dibalik logo ini untuk ke depannya? Entahlah.

Jadi, benarkah logo Trans Corp mencontek logo Kompas tv? Silakan nilai sendiri sodara-sodara.

Ketika Tulisan Pepih Nugraha di Copy Paste

Berita Warta Kota yang isinya copas itu (foto: Syaifuddin)

Masih ingat dengan kejadian copy paste yang sempat ramai dan membuat suasana panas di Kompasiana beberapa waktu lalu. Ternyata copas bukan hanya dilakukan para blogger yang kerap disebut jurnalis amatiran, tapi juga dilakukan oleh jurnalis beneran. Bahkan ini dilakukan media besar yang juga keluarga Kompas Gramedia.

Hari ini harian Warta Kota menurunkan laporan peringatan 80 tahun Jakob Oetama, pendiri kelompok Kompas Gramedia yang juga menaungi Warta Kota. Laporan di halaman satu itu diberi judul “Jakob Oetama: Selalu Bersyukur”. Sekilas tak ada yang aneh dengan isi laporan ulang tahun tokoh pers yang ketokohannya lintas media tersebut. Laporan itu diawali pernyataan Agung Adiprasetyo, CEO KKG mengenai JO yang mampu membawa KKG sebagai grup besar dan menaungi 100 ribu orang karyawan dan keluarganya.

Masalah baru muncul, di bawah pernyataan Agung, hampir semua isi berita itu adalah tulisan jurnalis senior Pepih Nugraha, mantan admin Kompasiana. Saya ingat benar karena kemarin (27 Sept) membaca tulisan Pepih di Kompas.com. Bahkan saya juga teringat akan kalimat terakhir tulisan Pepih seperti ini “Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa Newspaper menjadi Newsbrand tersebut”. Saya baca berulang kali laporan WK, tak ada sepatah katapun yang menyebut sumber dari Kompas.com apalagi nama wartawannya Pepih Nugraha.

Tak hanya di WK berita soal Jakob Oetama yang bersumber dari tulisan Pepih “disadap” habis. Di tribunnews.com pun demikian. Hanya bedanya di tribunnews.com disebut sumber berita dari Kompas.com.

Ini memang copas “resmi” yang terjadi dalam satu grup. Mungkin ini bisa dimaafkan. Dan bisa jadi KKG punya aturan main sendiri yang membolehkan copas satu grup tanpa menyebut sumber. Namun saya sendiri terusik dengan tindakan WK yang tak mengindahkan etika ini. Bagi saya, copas tetaplah pencurian hasil karya orang lain. Dan jelas ini bertentangan dengan cita-cita Jakob Oetama yang selalu menjunjung etika dalam berjunalistik.

Enak sekali ya asal comot tulisan orang! Sementara penulis/wartawan yang menuliskan butuh pemikiran dan kerja keras untuk melahirkan tulisan, walau sesederhana apapun tulisan itu.

——–

Ini tulisan Pepih Nugraha yang dimuat di Kompas.com. saya ambil dari komen blognya Julianto Simanjuntak:

Selasa, 27 September 2011 ini Jakob Oetama genap berusia 80 tahun. Pencapaian usia panjang ini patut disyukuri oleh keluarga dan kerabat dekat khususnya, serta karyawan Kompas Gramedia umumnya, mengingat pada usia sepuluh windu ini Jakob masih tetap dalam kondisi sehat dengan pikiran yang tetap cemerlang. Tidak dapat dipungkiri, fisik Jakob menuju ringkih, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran dan pandangannya; selalu muda, segar dan mencerahkan. Saat Jakob berbicara di depan para karyawan Kompas Gramedia dalam berbagai kesempatan, khidmat selalu didapat. Bukan karena semata-mata penghormatan kepada sosok pendiri perusahaan yang mengakar ini, lebih karena tutur kata dan bicaranya selalu bernas, berisi, dan baru (novel).

Memulai karir sebagai guru sekolah menengah pertama di Jakarta awal tahun 1950-an, Jakob terjun ke dunia jurnalistik saat ia menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956, berlanjut mendirikan majalah Intisari tahun 1963. Bersama PK Ojong, dua tahun kemudian Jakob menerbitkan Harian Kompas untuk pertama kalinya 28 Juni 1965. Sepeninggal Ojong, Jakob meneruskan Harian Kompas sehingga mencapai puncak kejayaannya di bisnis harian cetak, hingga saat ini.

Jakob adalah orang yang merasakan benar pasang-surutnya Harian Kompas, khususnya setelah Kompas mengalami pemberangusan pada masa Soeharto berkuasa tahun 1978. Pemberangusan Harian Kompas memberi pelajaran tersendiri, sekaligus konsekuensi kehati-hatian yang tinggi yang tercermin lewat judul berita yang tidak provokatif. Pihak luar menyebut sinis Kompas tengah mempraktikkan “jurnalisme kepiting”, jurnalisme yang menunggu kesempatan mencapit tetapi diam jika terkena hardikan. Rupanya gaya yang menjadi sindirin pihak luar itulah yang terus dipraktikkan Jakob sebab baginya menyelamatkan ribuah karyawan dan keluarganya jauh lebih berarti daripada memenuhi selera gagah-gagahan, tetapi hanya sekali hidup setelah itu mati.

Jakob pada usianya yang mencapai 80 tahun hari ini, tetap semangat bekerja karena falsafah yang ditanamkannya adalah “bekerja adalah ibadah”, sebagai perluasan makna “Ora et Labora”. Maka tidak aneh jika Jakob tetap menyampaikan pidato tanpa teksnya yang bernilai saat syukuran lahirnya KompasTV beberapa pekan lalu. Jakob sendirilah yang menancapkan tonggak baru di lingkungan Kompas-Gramedia, bahwa Kompas tidak lagi sebuah “Newspaper”, tetapi sudah mewujud menjadi “Newsbrand”. Artinya, sebagaimana selalu ditekankan Jakob, konten Kompas tidak melulu hadir dalam bentuk print (cetak), tetapi juga dalam bentuk online, video, dan sejumlah aplikasi seperti iPad, PlayBook atau Android. Pada usianya yang ke-80, Jakob masih berkesempatan menyaksikan metamorfosa “Newspaper” menjadi “Newsbrand” tersebut. (PEP)

Kontroversi Adzan Beriklan Tv One

Tayangan adzan di tv selama bulan suci Ramadhan menjadi sebuah acara yang paling ditunggu oleh pemirsa. Acara ini menjadi penanda saat berbuka puasa bagi kaum muslim yang menjalankan ibadah puasa. Selama ini banyak stasiun tv mengemas tayangan berdurasi sekitar 4 menitan itu dalam format yang seragam. Biasanya memperlihatkan aktivitas keluarga yang berkumpul jelang waktu berbuka puasa.

Perbedaan mungkin hanya pada plot cerita atau penggunaan talent yang kadang menggunakan artis penyanyi, pemain sinetron, pelawak atau model terkenal. So far tak ada yang berbeda. Pemirsa pun tak terlalu ambil pusing dengan tayangan ini, karena sifatnya hanya penanda waktu datangnya saat berbuka.

Namun jika anda pemirsa televisi jeli dengan adzan Magrib yang ditayangkan di tv One sejak awal Ramadhan, tentunya akan berpikir lain. Ini bukan adzan Magrib biasa. Saya menilai ini adalah sebuah thriller iklan yang ditempeli back sound Adzan Magrib.

Adzan (iklan) itu sendiri bercerita mengenai seorang penjahit pakaian yang meniti usaha dari kecil. Saat miskin ia sempat dimaki-maki oleh seorang pelanggan yang dari tampilan busananya dikategorikan sebagai orang “berada”.

Kemudian adegan berpindah ke sebuah Bank. Si penjahit terlihat meminjam modal untuk membesarkan usahanya di sebuah bank syariah. Usahanya pun maju, ini terlihat dari lansekap perusahaan garmen dengan mesin jahit modern yang dimiliki tokoh tadi.

Setelah meminjam modal, penjahit tadi kemudian bisa mempunyai rumah megah dan juga mobil, yang lagi-lagi hasil meminjam dana di bank yang sama. Dan di ujung Adzan (iklan) pemirsa diperlihatkan moral cerita, ternyata si penjahit dan pelanggan yang marah-marah di awal sekarang bertetangga. Mereka kemudian berpelukan, seolah menunjukkan perdamaian dari kisah masa lalu.

Kalau plot cerita ini dibuat sinetron mungkin menarik, tapi apa jadinya jika sepanjang tayangan iklan (adzan) itu pemirsa disuguhi tebaran produk sponsor? Saya menilai tayangan ini tak etis. Mencampur adukkan tayangan ajakan beribadah dengan produk komersial.Parahnya, tak ada secuil pun adegan adzan (iklan) ini yang menunjukkan kegiatan ibadah puasa atau shalat.

Dari sisi ide, mungkin ini adalah terobosoan baru. Karena konsep semacam ini belum pernah ada sebelumnya. Dari segi jangkauan khalayak pemirsa, ini juga menarik. Menempatkan iklan di waktu yang sangat ditunggu-tunggu jutaan orang saat Ramadhan, jelas tepat.

Yang tidak tepat dan tidak etis adalah penempatan iklan di tayangan tersebut. Adzan seolah hanya menjadi latar suara (back sound) saja. Apa bedanya misalnya dengan penayangan tarian modern yang menggunakan backsound adzan?

Di Youtube dan media sosial lainnya berkembang wacana mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang tayangan adzan beriklan ini. Entah apakah karena desakan ini, KPI akhirnya melayangkan surat yang meminta TV One menarik adzan beriklan tersebut. Apakah TV One akan patuh? Kita lihat saja…

http://www.youtube.com/watch?v=2yg-apnKtF8

On The Spot Trans7 Program Bajakan?

Sudah lama saya geram menyaksikan program tv On The Spot yang tayang di Trans7 saban Senin-Jum’at jam 18.30 WIB. Tangan sudah gatal mau bikin postingan mengenai hal ini setelah lihat Linimasa di twitter banyak tweeps yang mengecam acara ini.

Buat yang belum pernah nonton, acara ini semula adalah kumpulan video klip yang diramu dengan sedikit informasi bombastis yang aneh tapi nyata. Dulunya program ini menghadirkan dua orang host, kalau tak salah salah satunya artis cilik Umay atau Amel.

Putar lagu mungkin sudah biasa dan banyak kita temukan di stasiun tv lain di negeri ini. Makanya Trans7 memberinya bobot lain dengan menyampurkan informasi kedalam deretan lagu-lagu populer.

Sayangnya konsep ini jadi keliatan aneh, kalau mau putar lagu ya putar lagu saja. Tapi kalau mau buat program informasi ya pisahkan dari lagu-lagu tadi.

Akhirnya seperti yang sekarang bisa kita lihat. Konsepnya jadi lebih sederhana, hanya menampilkan informasi sensasional tanpa memutar musik sama sekali. Bahkan kehadiran host pun kemudian dihilangkan.

Informasi yang tampil pasti diembel-embeli dengan yang serba 7 sesuai dengan nama stasiun tvnya. Entah itu 7 peristiwa alam teraneh, 7 pelangi terindah, atau 7 tsunami yang mengguncang dunia.

Tidak hanya yang sensasional, kadang mereka juga menampilkan tema sesuai headline berita surat kabar atau TV. Misalnya saat demam pernikahan Kate-william, mereka munculkan 7 pernikahan termahal. Pokoknya, dikait-kaitkan dengan situasi terkini.

Gambarnya? Ya dari youtube. Jika stok gambar tak memadai mereka akan ulang-ulang gambar yang minim demi durasi. Benar-benar program low budget. Tinggal bikin script, gambar sudah bercerita sendiri.

Selesai dan sesimpel itukah? Tidak.

Justru konten acara inilah yang menuai kritik banyak kalangan. Sepanjang acara Trans7 dengan sadar menggunakan footage untuk melengkapi narasi full dari Youtube, situs video sharing milik Google.

Lucu aja melihat video yang diunggah pembuatnya melalui Youtube sekedar untuk berbagi atau sharing, kemudian digunakan sebuah stasiun tv komersial. Bukan hanya satu dua video, tapi sepanjang acara selama setengah jam, video yang ditampilkan murni unduhan dari Youtube.

Apakah etis? Saya rasa tidak. Karena pastinya ada hak kekayaan intelektual yang dilecehkan. Bukan hanya Youtube atau Google, namun yang paling penting adalah para pengunggah video itu sendiri. Enak banget sumber dari Youtube digunakan untuk menjaring iklan, di program prime time pula.

Kalau saya representasi Youtube atau Google, akan saya gugat penggunaan semua bahan Youtube sebagai pengail iklan di acara tersebut. TV-nya kaya raya, sementara Youtube dan pengunggahnya tak mendapat apa-apa.

Adakah hal semacam ini bisa dikategorikan sebagai pencurian? Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mesti bicara soal ini. Ini menginjak-injak HAKI.

Memang tidak ada unsur pornografi atau konten yang meresahkan masyarakat, namun justru pengambilan sumber footage itulah yang jadi permasalahan.

Saya kira tak cukup etis rasanya mengambil milik orang lain dan hanya ditulisi “courtesy of Youtube”. Terlalu simpel. Menggampangkan.

Saya tidak begitu yakin ada perjanjian (agreement) antara Trans7 dengan Youtube dalam hal ini. Apa kata dunia jika melihat program macam ini. TV seharusnya adalah ladangnya kreativitas, bukan ladang pembajakan hasil karya orang lain.

Belakangan, kesuksesan On The Spot kemudian diikuti program sejenis bernama Hot Spot. Bedanya ini ditayangkan Global TV di siang hari. Ini biasa dalam industri tv yang sangat kejam kompetisinya. Sebuah program bakal ditiru habis oleh pesaingnya. Kadang kalau beruntung bisa mencuri rating-share. Tapi jika apes, capcai deh….

#tulisan 15 dari 365

MasterChef Indonesia Nanggung

Saya coba sedikit mereview tayangan reality show kompetisi memasak MasterChef Indonesia. Acara ini mulai tayang hari Minggu lalu di RCTI.

Sebagai penggemar acara cooking show, saya punya ekspektasi yang cukup tinggi saat mendengar kabar RCTI bakal memproduksi tayangan tersebut. Tentunya berharap bakal melihat banyak yang seru karena yang berlaga adalah ‘orang kita’ sendiri.

Kedekatan budaya dan kuliner nusantara yang kaya menjadi alasan mengapa saya menunggu tayangan ini. Saya berharap bakal mendapat ilmu kuliner dan tentunya hiburan.

Ekspektasi boleh dong. Apalagi sebelumnya saya selalu mengikuti MasterChef USA (MC USA) dan Junior MasterChef Australia (JMCA). Di MC USA, selain melihat kompetisi memasak dari peserta yang umumnya bukan berlatar belakang koki, tayangan ini menarik karena menampilkan chef handal macam Gordon Ramsay. Gordon Ramsay dikenal sebagai koki cukup lama jam terbangnya. Salah satu cooking show yang melambungkan namanya adalah Hells Kitchen. Berkat acara ini, Ramsay tidak hanya dikenal sebagai koki, tapi juga selebriti masak.

Ramsay juga dikenal sebagai si raja tega. Ia kerap melontarkan cacian jika peserta MC USA melakukan kesalahan ataupun membuat sajian yang tak sesuai standar. Meski demikian, Ramsay menjadi salah satu daya pikat MC USA. Ia menjadikan acara  ini hidup dan nikmat diikuti tiap episodenya.

Kritikan, pujian ia sampaikan dengan caranya yang to the point. Caranya kadang membuat peserta kaget, namun kemudian mengiyakan sebab bakal diikuti dengan pemberian tips n’ trik memasak yang praktis. Peserta senang, pemirsapun mendapat ilmu yang langka.

Lain halnya dengan Junior MasterChef Australia (JMCA). Tayangan ini meski mengadaptasi program sejenis untuk koki dewasa, namun sajiannya benar-benar menghibur dan penuh pesan-pesan edukasi.

Peserta tentunya anak-anak dengan rentang usia 8-13 tahun, datang dari berbagai belahan Australia. Meski anak-anak, jangan remehkan kemampuan memasak mereka. Saya sendiri terbengong-bengong dengan cara para peserta memasak dan mempresentasikan dengan cara yang jauh mendahului usianya.

Peserta bukan hanya diminta memasak mie rebus atau nasi goreng, tapi mereka juga diminta memasak hidangan utama restoran yang kadang cukup rumit.

Selain kepolosan para peserta anak-anak, JMCA cukup berhasil sebagai tayangan karena didukung para chef handal sebagai juri dan pembawa acaranya. Ada 4 juri yang masing-masing punya keunikan tersendiri yakni Gary Mehigan, George Calombaris, Matt Preston dan Anna Gare.

Kendati keempatnya adalah koki handal, namun di acara ini mereka tak pernah sekalipun menjatuhkan mental peserta jika peserta salah menterjemahkan perintah atau hasil presentasinya kurang memuaskan. Mereka selalu mengambil sisi lain yang positif dari hidangan karya para bocah ajaib ini. Pendek kata mereka adalah juri yang supportif terhadap peserta.

Poin positif acara Junior MasterChef Australia menurut saya adalah bagaimana membangun kepercayaan diri anak-anak dalam mengerjakan sesuatu. Kebetulan yang dilakukan adalah aktivitas memasak. Namun pastinya tujuan akhirnya adalah support dalam berbagai hal.

Satu lagi, acara ini tidak mengeksplore kesedihan. Tak ada air mata bercucuran jika salah satu peserta gagal ke babak selanjutnya. Kalaupun ada airmata, tak akan didramatisir hanya demi meningkatkan rating-share.

Balik ke MasterChef Indonesia. Belum banyak yang bisa dipaparkan dari tayangan ini, karena baru satu episode. Tapi dari satu episode ini sudah terlihat, ternyata mengadaptasi sebuah program tv tidak gampang. Pemilihan Vindek, Juna serta Marinka sebagai juri sepertinya perlu ditimbang lagi. Mereka bertiga meski punya segudang prestasi sebagi koki, namun sangat tidak menarik di tv. Penampilannya kaku, tidak atraktif, dan bicara sangat terpaku pada naskah.

Ekpspresi dan spontanitas seperti yang ditampilkan pada Junior MasterChef Australia ataupun MasterChef USA belum terlihat. Bisa jadi mungkin karena ini tayangan pertama, serba nervous. Karena Juna atau Vindek bukan seorang Gordon Ramsay yang familiar dengan sorot lampu dan kamera.

Satu lagi yang harus menjadi catatan tim produksi MasterChef Indonesia adalah kemasan acaranya. Kemasannya membosankan, tidak ada kejutan, tidak ada bangunan drama yang bisa memaksa pemirsa stay tune di tempat hingga acara ini selesai. Jika kemasan dan presentasi acaranya ‘hanya’ seperti ini, saya khawatir acara ini tak akan mampu memikat pemirsa. Dan pengalaman mengadaptasi tayangan manca negara yang gagal bakal terulang, setelah terjadi pada Indonesia Idol ataupun Indonesian Got Talent.

Sayang sekali jika program tv yang tentunya menghabiskan biaya mahal ini bakal ditinggalkan pemirsa. RCTI dan juga Fremantle Media harusnya belajar dari cara presentasi program tv Indonesia Mencari Bakat di Trans TV yang sukses besar itu. Bahkan program tersebut malah menenggelamkan program Indonesia Got Talent yang merupakan program adaptasi dari American Got Talent dari sisi pencapaian rating-share serta penerimaan pemirsa.

Tak ada salahnya belajar lagi pengemasan program dari mereka yang sudah ahlinya.

#Tulisan 10 dari 365

 

Sales Telkom yang Ngaco

Setelah menunggu ide jatuh dari langit, akhirnya dapat juga ide buat postingan blog siang ini. Sebagai blogger yang punya mood temporer, agak susah juga mencari sela waktu untuk nulis, meski sudah bertelad melahirkan postingan #365tulisan2011. Libur membuat waktu agak luang.

Saya jadi ingin posting mengenai Telkom, ya itu tuh BUMN besar di negeri ini yang konon merupakan BUMN paling untung di jagat Indonesia. Ide terlintas gara-gara sempat ditelpon tim marketing PT.Telkom yang kerajinan. Dalam rentang kurang dari 3 jam ditawari pasang paket Speedy, layanan internet di rumah produk PT.Telkom.

Andai saja di rumah belum pasang Speedy tentunya saya pasti terbujuk oleh rayuan tim marketing Telkom. Dengan agak kesal saya katakan sudah pasang Speedy. Bahkan sudah lebih dari 2 tahun!

Penawaran yang aneh. Apa perusahaan sekaliber Telkom tidak punya data base pelanggan yang akurat, sehingga harus menghabiskan waktu kerja para salesnya dengan menawarkan promo Speedy pada masyarakat yang sudah tercatat sebagai pelanggan?

Padahal kalau mereka profesional, ingat profesional, garis bawahi itu, mereka bakal bisa mendapatkan customer baru yang yang lebih banyak. Mestinya data base pelanggan mereka berikan pada para sales sehingga tidak menghabiskan waktu menawarkan produk pada pelanggan sendiri.

Yang paling menggelikan ini adalah penawaran Speedy yang keempat kalinya saya terima melalui telepon. Artinya tak ada sistem yang memprotect data pelanggan yang sudah pernah dihubungi. Jika produk yang ditawarkan berbeda, it’s OK. Tapi ini sami mawon.

Kalau petinggi Telkom membaca, semoga mereka sadar harus kembali menatar para salesnya agar bekerja lebih terarah dan punya target yang jelas.

Oya, di telepon yang terakhir saya sempat tertawa mendengar tawaran sales Telkom yang meminta saya putuskan paket yang sekarang dan menggantinya dengan yang lebih murah. Ini lebih aneh lagi. Pakai ilmu marketing apapun ini gak sinkron. Mestinya mereka merayu customer agar mengambil paket yang lebih tinggi atau lebih komplet dong. Bukan malah merayu agar kita menurunkan paket langganan.

Cara jualan seperti ini bakalan diketawain sama pakar marketing seperti Hermawan Kertajaya. Trust me!

#tulisan 7 dari 365

Norman dan Kekuatan Media Sosial

Jangan remehkan media sosial. Bagi mereka yang masih beranggapan media sosial adalah kegiatan main-main, sepertinya harus meralat dan membuang jauh-jauh anggapan itu.

Briptu Norman Kamaru adalah contoh nyata betapa dahsyatnya pengaruh media sosial bagi kehidupan seseorang. Sebulan yang lalu nyaris tak ada yang mengenal keberadaan seorang aparat polisi berpangkat Brigadir Satu (Briptu) bernama Norman Kamaru. Norman yang berasal dari kesatuan Brimob, bertugas di Gorontalo, nun  di Sulawesi sana.

Jauhnya lokasi Norman dari pusat kekuasaan dan keriuhan di Ibukota Jakarta ternyata mampu ditembus media sosial. Lewat situs Youtube, nama Norman kemudian meng-Indonesia, bahkan mendunia. Ia dikenal berkat video lypsinc Bollywood-nya yang menirukan gaya bintang Bollywood Shah Ruk Khan. Dalam hitungan detik, namanya dikenal banyak orang. Bahkan di twitter, nama Norman sempat menjadi trending topic.

Kemunculan Norman kemudian menjadi luar biasa lantaran diikuti kabar bakal dikenai sanksi oleh institusi Polri karena dianggap lalai dalam tugas. Simpati pun kemudian bermunculan di dunia maya. Hastag WeLoveBriptuNorman menjadi penanda dan menjadi pemersatu warga dunia maya. Norman dicinta karena Norman menghibur, memberi kesegaran diantara kabar tak sedap soal pembobolan dana nasabah Malinda Dee, penipuan oleh si cantik Selly atau pro-kontra gedung baru DPR.

Pekan ini menjadi hari tersibuk bagi briptu Norman. Setelah ditodong wawancara berbagai media melalui saluran telepon, iapun siap menjadi selebriti. Kamis siang ia tiba di Jakarta untuk bertemu Kapolri. Secara marathon ia kemudian bakal tampil di sejumlah stasiun TV untuk tampil di sejumlah program acara hiburan, mulai dari Bukan 4 Mata di Trans7 sampai Tarung Dangdut di MNCTV.

Tinggal menunggu waktu Briptu Norman tampaknya bakal menyusul sukses Shinta-Jojo atau Udin Sedunia di dunia hiburan. Karena Briptu Norman berasal dari institusi Polri agak sulit jika ia kemudian berkarier di dunia hiburan. Namun paling tidak, aksi Briptu Norman di Youtube sudah menuai simpati jutaan orang. Aksi Norman memberi bukti bahwa Polisi ternyata tak segarang seragam yang dikenakannya. Institusi Polri butuh citra lembut seperti itu, dan bila Polri pandai memaintain ini bisa dijadikan pencitraan yang baik bagi Polri.

#Tulisan 6 dari 365